Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Hidangan makan siang di saung lesehan itu telah usai, menyisakan dua cangkir teh hangat yang masih menguapkan aroma melati yang menenangkan. Suasana canggung yang sempat membayang di awal pertemuan kini telah menguap sepenuhnya, berganti menjadi kehangatan percakapan dua sahabat lama yang kembali menemukan ritme kebersamaan mereka.
Rafli menggeser cangkirnya pelan, menatap Husna dengan pandangan penuh perhatian. Ingatan masa mudanya tak hanya tertuju pada sosok Husna seorang, tetapi juga pada hangatnya suasana rumah keluarga Husna yang dulu sering ia kunjungi sewaktu masih duduk di bangku kuliah.
"Oiya, Na..." ujar Rafli memulai percakapan baru dengan nada suara yang halus. "Bagaimana kabar Om dan Tante? Maksudku, Papa dan Mamamu... Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar mereka. Apakah beliau berdua sehat-sehat saja di rumah?"
Husna tersenyum hangat saat mendengar pertanyaan itu. Mengingat kedua orang tuanya selalu berhasil menerbitkan kedamaian tersendiri di dalam dadanya.
"Alhamdulillah, Rafli," jawab Husna ramah. "Papa dan Mama sehat walafiat. Sekarang beliau berdua lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menikmati masa tua. Papa masih suka merawat tanaman di halaman belakang, sedangkan Mama tetap sibuk dengan kegiatan pengajian dan berkumpul dengan tetangga. Kalau kamu main ke rumah, beliau berdua pasti senang sekali. Mama bahkan masih sering menanyakan kabar teman-teman kuliahku dulu."
Rafli mengangguk-angguk lega, meresapi rasa syukur yang terpancar dari wajah Husna. "Alhamdulillah kalau Papa dan Mamamu sehat. Beliau berdua dari dulu memang selalu ramah dan hangat. Aku masih ingat betul betapa Mamamu selalu menyuguhkan teh dan camilan setiap kali aku dan teman-teman datang untuk mengerjakan tugas kelompok di rumahmu."
"Mama memang sangat menyukai suasana rumah yang ramai oleh anak-anak muda," kekeh Husna pelan.
Rafli kemudian memperbaiki posisi duduknya, teringat pada satu sosok penting lainnya di dalam keluarga Husna. Sosok laki-laki tegas yang dulu sangat melindungi Husna di masa-masa sekolah dan kuliah.
"Lalu... bagaimana kabar Mas Rian?" tanya Rafli penasaran. "Kakak satu-satunya yang kamu miliki itu, sekarang bagaimana kabarnya, Na? Terakhir kali aku dengar berita beberapa tahun lalu, nama Mas Rian sudah sangat harum sebagai seorang pengacara senior yang menangani banyak kasus besar."
Husna mengangguk pelan seraya tersenyum bangga. Bicara tentang Mas Rian berarti berbicara tentang benteng pertahanan paling kokoh di dalam hidup Husna selain kedua orang tuanya.
"Mas Rian luar biasa, Rafli," cerita Husna dengan mata berbinar tulus. "Kariernya di dunia hukum memang semakin mantap. Sekarang dia mengelola firma hukumnya sendiri dan memegang posisi sebagai pengacara senior. Hampir seluruh waktunya habis untuk menangani kasus-kasus hukum yang rumit, mendampingi klien, dan mengajar di beberapa seminar hukum."
"Mas Rian dari dulu memang punya karakter yang sangat kuat dan wawasan hukum yang tajam," puji Rafli jujur. "Tapi... bagaimana dengan kehidupan pribadinya, Na? Apakah Mas Rian sudah berkeluarga?"
Husna tertawa kecil, sedikit menggelengkan kepalanya membayangkan sikap sang kakak yang terkadang sangat keras kepala jika sudah berurusan dengan kehidupan pribadi.
"Sampai saat ini Mas Rian masih memilih untuk melajang, Rafli," ungkap Husna santai. "Beliau belum mau menikah. Mas Rian tipe orang yang sangat idealis dan terfokus total pada kariernya. Menurut dia, selama belum menemukan pasangan yang benar-benar sefrekuensi dan siap menerima dedikasi waktunya di dunia hukum, dia tidak mau memaksakan diri untuk menikah hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain. Papa dan Mama awalnya sempat mendesak, tapi akhirnya beliau berdua pasrah dan menghargai jalan hidup yang dipilih Mas Rian."
"Luar biasa," komentar Rafli terkagum-kagum. "Mas Rian memang selalu punya prinsip yang teguh. Dia paham betul apa yang dia inginkan dalam hidupnya dan tidak terpengaruh oleh tekanan luar."
"Betul," sahut Husna. "Dan jujur saja, keberadaan Mas Rian sebagai pengacara senior sangat membantuku saat ini. Seluruh berkas pemisahan harta distributor bahan bangunan dan proses gugatan ceraiku kemarin ditangani langsung di bawah pengawasan ketat Mas Rian. Dia memastikan mantan suamiku tidak bisa menyentuh sepeser pun hak anak-anak dan aset perusahaanku."
"Syukurlah kalau begitu," tutur Rafli penuh rasa lega. "Dengan adanya Mas Rian yang menjaga dari sisi hukum dan Devan-Deka yang menjaga dari sisi emosional, kamu berada di tangan orang-orang yang sangat menyayangimu."
Setelah mendengar kabar keluarga Husna, kini giliran Husna yang menatap Rafli dengan raut wajah rindu dan sarat akan kenangan masa lalu. Jemari Husna mengusap pinggiran cangkir tehnya, lalu pandangannya menatap lurus ke arah mata sahabatnya itu.
"Sekarang giliran aku yang bertanya, Rafli," ucap Husna dengan nada suara yang melembut. "Bagaimana kabar orang tuamu? Terutama... Bunda?"
Mendengar kata 'Bunda' terucap dari bibir Husna, raut wajah Rafli mendadak berubah menjadi sangat syahdu. Ada binar kehangatan sekaligus rasa haru yang melintas di matanya.
"Dulu aku sangat dekat dengan Bunda, Rafli," lanjut Husna dengan kenangan yang mengalir jernih di kepalanya. "Beliau adalah sosok ibu yang sangat lembut, penuh perhatian, dan selalu menyambutku dengan pelukan hangat setiap kali aku main ke rumahmu. Keberadaan Bunda dulu selalu berhasil membuatku merasa nyaman."
Rafli tersenyum mengaburkan rasa haru di dadanya. Ia menyandarkan siku di atas meja, menatap Husna dengan pandangan terima kasih atas ingatan indah itu.
"Bunda juga sangat menyukaimu, Husna," bisik Rafli pelan. "Bahkan sampai tahun-tahun terakhirnya, Bunda masih suka secara tidak sengaja menyebut namamu kalau kami sedang bernostalgia membicarakan masa-masa kuliahku dulu. Beliau selalu menganggapmu seperti anak perempuannya sendiri karena kamu ramah dan sangat sopan."
Kening Husna berkerut halus menangkap adanya nada tersirat dari ucapan Rafli. "Tahun-tahun terakhirnya? Rafli... apakah Bunda...?"
Rafli mengangguk pelan dengan senyuman tulus yang berpasrah. "Iya, Na. Bunda sudah berpulang ke Rahmatullah sekitar tiga tahun yang lalu karena sakit sepuh. Begitu juga dengan Ayah yang menyusul Bunda satu tahun setelahnya."
Husna tertegun sejenak. Rasa terkejut dan duka mendalam seketika menyelimuti hatinya. Ia tidak menyangka sosok wanita lembut yang pernah melingkupinya dengan kasih sayang ibu itu telah tiada tanpa sempat ia temui untuk yang terakhir kali.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." bisik Husna lirih. Tangannya terangkat menangkup dada. "Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya, Rafli. Maafkan aku... aku benar-benar tidak tahu berita duka ini."
"Tidak apa-apa, Husna. Kamu tidak perlu minta maaf," balas Rafli menenangkan. "Saat itu kan kita sedang terputus komunikasi total. Aku sudah merelakan kepergian Bunda dan Ayah dengan tenang. Beliau berdua berpulang dalam keadaan husnul khatimah, didampingi oleh seluruh anak dan cucunya. Hanya saja, mendengar kamu masih mengingat kebaikan Bunda hari ini... rasanya membuat hatiku sangat tersentuh."
"Mana mungkin aku melupakan kebaikan Bunda, Rafli," tutur Husna lembut dengan binar mata yang berkaca-kaca. "Bunda adalah sosok wanita yang luar biasa anggun. Cara beliau bertutur kata dan memperlakukan orang lain selalu menjadi inspirasi bagiku. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya untuk Bunda dan Ayahmu."
"Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin," sahut Rafli mengaminkan doa tulus sahabatnya itu.
Keheningan yang hangat kembali tercipta di antara mereka. Angin sore bertiup perlahan, menggoyangkan dedaunan pohon kelapa di sekitar saung dan menciptakan riak kecil di permukaan air kolam. Duka masa lalu telah berganti menjadi rasa ikhlas, sementara ingatan-ingatan indah masa muda menjadi jembatan yang menghubungkan kembali dua hati yang dulu pernah terpisah oleh jarak dan kesalahpahaman.
Rafli menatap Husna yang sedang memandang ke arah kolam ikan. Ada rasa kagum yang tak pernah padam di dalam dadanya. Wanita di hadapannya ini telah melewati berbagai badai kehidupan kehilangan orang tua sahabat, pengkhianatan rumah tangga, hingga perjuangan membesarkan anak-anak namun tetap berdiri tegak dengan keanggunan dan martabat yang utuh.
"Terima kasih ya, Husna," ujar Rafli mendadak, membuat Husna menoleh kembali padanya.
"Terima kasih untuk apa, Rafli?"
"Terima kasih karena sudah bersedia hadir siang ini, mau mendengarkan cerita masa laluku, dan tetap mengingat Bundaku dengan begitu indah," jawab Rafli tulus. "Pertemuan hari ini benar-benar menyembuhkan banyak hal yang sempat mengganjal di hatiku selama bertahun-tahun."
Husna tersenyum manis, senyuman hangat yang memancarkan ketenangan jiwa.
"Aku yang berterima kasih, Rafli. Berbincang bersamamu membuatku sadar bahwa masa lalu tidak selalu berisi luka. Ada kenangan indah dan persahabatan tulus yang ternyata masih tetap utuh, meskipun sempat terhalang oleh waktu."
Matahari mulai sedikit bergeser ke barat, memancarkan sinar keemasan yang menimpa saung tempat mereka duduk. Di sore yang tenang itu, Husna dan Rafli tahu bahwa kisah mereka belum sepenuhnya usai. Lembaran baru telah terbuka, bukan lagi sebagai dua anak muda yang ragu dan canggung, melainkan sebagai dua insan matang yang siap melangkah saling mendukung dalam kedamaian.
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
bagus dan banyak pelajaran ny
yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,
terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
bukan
kartu hitam black card
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
lanjuut kak ,,
akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,