NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pencegatan di Ruang OSIS dan Runtuhnya Tembok Es

Dua hari sejak pertengkaran di taman belakang, Alfian benar-benar menghilang dari radar Amira.

Bukan berarti cowok itu membolos sekolah. Alfian tetap masuk, tetap menjadi kapten basket yang memimpin latihan, dan tetap menjadi koordinator OSIS yang sibuk.

Hanya saja... ia memastikan bahwa radiusnya selalu berada sepuluh meter di luar jangkauan Amira.

Pesan WhatsApp Amira hanya dibaca tanpa balasan.

Saat mereka berpapasan di koridor, Alfian akan membuang muka dan berjalan melewati Amira seolah gadis itu tak kasat mata.

Mode kulkas dua pintu itu telah kembali mengudara, namun kali ini jauh lebih dingin dan membekukan.

Di sisi lain, Fino justru semakin gencar mendekati Amira dengan cara yang sangat halus.

Cowok itu selalu membawakan susu stroberi, menawarkan bantuan membawa buku, dan tersenyum ramah setiap kali mereka bertemu.

"Mir, lo pucat banget. Mending lo ke UKS aja deh," tegur Rara saat jam pelajaran terakhir.

Amira menggeleng pelan, meletakkan pulpennya dengan lemas.

"Gue nggak sakit fisik, Ra. Gue cuma capek main kucing-kucingan sama cowok batu itu," keluh Amira frustrasi.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Amira tidak langsung pulang.

Ia membulatkan tekad. Hari ini, ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini sebelum Alfian benar-benar membangun kembali benteng esnya secara permanen.

Berbekal informasi dari Rio yang berhasil ia suap dengan sepotong roti kantin, Amira melangkah mantap menuju lantai dua.

"Dia lagi sendirian di ruang OSIS, Mir. Ngecek proposal Pensi. Hati-hati, orangnya lagi mode kayak harimau kelaparan," pesan Rio tadi siang.

Sesampainya di depan pintu ruang OSIS yang sedikit tertutup, Amira menarik napas panjang.

Kriet.

Amira mendorong pintu itu perlahan, lalu melangkah masuk dan langsung mengunci pintunya dari dalam dengan bunyi klik yang nyaring.

Di ujung ruangan, Alfian sedang duduk di kursi kebesarannya.

Tumpukan map berserakan di atas meja. Kemeja seragamnya sedikit kusut, dan dasinya sudah dilonggarkan.

Mendengar bunyi kunci pintu, Alfian mendongak.

Mata hitam legamnya membelalak sesaat melihat siapa yang berani mengunci diri bersamanya di ruangan ini.

Namun dalam hitungan detik, ekspresi terkejut itu kembali berubah menjadi topeng datar yang tak tertembus.

"Ngapain lo ke sini?" tanya Alfian dingin, kembali menunduk menatap proposal di tangannya.

"Ruang OSIS bukan tempat buat main."

Amira tidak menjawab.

Gadis itu berjalan mendekati meja Alfian, lalu tanpa ba-bi-bu, ia merampas map proposal itu dari tangan sang kapten dan melemparnya ke atas meja.

Brak!

"Aku ke sini buat ngomong sama pengecut yang bisanya cuma lari dari masalah," tembak Amira tanpa ampun.

Rahang Alfian mengeras.

Cowok itu menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Amira dengan tatapan meremehkan.

"Pengecut??? Gue cuma sadar diri dan ngasih jalan buat lo balik ke pangeran masa kecil lo," balas Alfian sinis.

"Gue udah nepatin janji gue buat mundur. Kurang baik apa gue sama lo berdua?"

"Siapa yang suruh kamu mundur?!" bentak Amira, suaranya mulai bergetar menahan emosi yang menumpuk selama dua hari ini.

"Siapa yang suruh kamu ngambil keputusan sendiri buat perasaanku, Alfian?!"

Alfian bangkit berdiri, mengebrak meja dengan kedua tangannya.

"Karena gue tahu lo bingung, Amira!" balas Alfian tak kalah keras, suaranya menggema di ruangan yang kedap suara itu.

"Lo nangis di taman karena lo ngerasa bersalah sama Fino! Dan gue... gue adalah alasan lo ngerasa bersalah!"

Mata Alfian mulai memerah, menyiratkan luka yang sangat dalam.

"Kalau bukan karena luka di kepala gue... kalau bukan karena ingatan gue yang hilang, Fino nggak perlu menderita sendirian selama ini. Dan lo... lo bisa langsung ketemu dia tanpa harus terjebak sama cowok brengsek kayak gue."

Keheningan seketika menyelimuti ruang OSIS.

Napas Alfian memburu, dadanya naik turun meluapkan rasa insecure yang selama ini ia tutup-tutupi dengan arogansi.

Amira menatap wajah cowok itu dengan hati yang hancur.

Ternyata, ego sang kapten telah hancur sepenuhnya oleh rasa bersalah pada saudara kembarnya.

Amira melangkah maju memutari meja, mengikis jarak di antara mereka.

Alfian berniat mundur, namun di belakangnya hanya ada dinding dan rak piala.

"Kamu pikir dengan menjauh, kamu nyelesaiin masalah?" tanya Amira melembut, mendongak menatap wajah pucat Alfian.

"Kamu pikir dengan ngerelain aku buat Fino, rasa bersalah kamu bakal hilang?"

Alfian membuang muka, tak sanggup menatap mata bulat yang selalu berhasil melumpuhkan akal sehatnya itu.

"Setidaknya Fino bakal bahagia. Dan lo... lo bisa nepatin janji masa kecil lo," bisik Alfian parau.

"Tapi aku nggak bahagia, Alfian!" tegas Amira, suaranya sedikit melengking menahan tangis.

Alfian tersentak, kembali menatap wajah Amira.

"Iya, aku ngerasa bersalah sama Fino. Aku sedih dengar masa lalunya. Tapi bukan berarti aku mau nepatin janji itu cuma atas dasar kasihan!" lanjut Amira tanpa henti.

Gadis itu meraih kedua tangan Alfian yang mengepal di sisi tubuhnya, lalu menggenggamnya erat-erat.

"Cinta masa kecilku sama Fino udah selesai, Al. Berakhir di bawah pohon mangga itu," ucap Amira penuh keyakinan.

"Orang yang aku cari mungkin Sky. Tapi orang yang aku temuin... orang yang bikin aku marah, cemburu, panik, dan deg-degan... itu kamu."

Tangan Alfian yang berada dalam genggaman Amira mulai bergetar.

"Jadi berhenti ngambil keputusan sendiri, Kapten," bisik Amira, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Berhenti sok jadi pahlawan kesiangan yang rela berkorban. Karena kalau kamu benar-benar pergi... aku yang bakal hancur."

Pertahanan Alfian runtuh seutuhnya.

Benteng es yang ia bangun selama dua hari ini luluh lantak oleh air mata dan pengakuan tulus gadis di hadapannya.

Tanpa mempedulikan apa pun lagi, Alfian menarik tangannya dari genggaman Amira, lalu langsung merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.

Sangat erat. Terlalu erat hingga Amira nyaris tak bisa bernapas.

Alfian membenamkan wajahnya di perpotongan leher Amira, menghirup dalam-dalam aroma gadis yang menjadi kelemahannya itu.

"Maafin gue," bisik Alfian dengan suara yang luar biasa serak dan rapuh.

"Maafin gue, Amira. Gue cuma... gue takut. Gue takut banget Fino berhasil ngambil lo dari gue."

Amira membalas pelukan itu tak kalah erat, mengusap punggung tegap sang kapten untuk menenangkannya.

"Kamu kapten basket paling arogan yang pernah aku kenal. Sejak kapan kamu jadi penakut begini?" kekeh Amira di sela tangisnya, mencoba mencairkan suasana.

Alfian mengangkat kepalanya sedikit, menatap wajah Amira dari jarak yang sangat dekat.

Sisa air mata masih menghiasi pipi gadis itu.

Dengan sangat lembut, ibu jari Alfian mengusap air mata tersebut.

"Sejak gue sadar... kalau ternyata gue nggak bisa hidup normal tanpa lo berisik di dekat gue," jawab Alfian jujur, tanpa sisa gengsi sedikit pun.

Amira tersenyum lebar, membuat matanya menyipit bahagia.

Melihat senyum itu, Alfian tak bisa lagi menahan diri.

Cowok itu menundukkan kepalanya, dan untuk pertama kalinya, Alfian mendaratkan sebuah kecupan ringan dan sangat singkat di dahi Amira.

Hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat lutut Amira lemas seketika.

Deg.

"A-Alfian..." cicit Amira dengan mata membelalak dan wajah semerah stroberi.

Alfian menarik wajahnya kembali, mengukir senyum miring andalannya yang sudah lama tak terlihat.

"Gue udah narik omongan gue," bisik Alfian posesif, menatap bibir dan mata Amira bergantian.

"Jadi mulai sekarang, lo resmi jadi tanggung jawab gue. Kalau lo berani lirik cowok buaya atau kembaran gue itu lagi... gue bakal benar-benar ngunci lo di ruang OSIS ini selamanya."

Amira mencibir, meski senyum tak bisa hilang dari wajahnya.

"Dasar kulkas posesif!"

Sore itu, ruang OSIS menjadi saksi bisu kembalinya sang kapten arogan, namun kali ini dengan sebuah kepastian yang tak akan bisa digoyahkan oleh masa lalu mana pun.

Namun, dari celah jendela kaca ruang OSIS yang tirainya sedikit terbuka...

Sepasang mata teduh sedari tadi memperhatikan semuanya dalam diam.

Fino berdiri di luar koridor.

Tangannya memegang sekotak susu stroberi yang kini sudutnya penyok karena diremas terlalu kuat.

Senyum hangat yang selalu menghiasi wajahnya telah pudar tanpa sisa.

Melihat bagaimana Amira balas memeluk saudara kembarnya dengan begitu erat, Fino tahu, ia baru saja kalah dalam peperangan ini.

Cowok itu membuang napas panjang yang terasa sangat berat, lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan koridor itu dalam kesunyian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!