NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2 - Air Sungai Mengantarku Pulang

Di stasiun pusat Ibu Kota, manusia datang dan pergi seperti ombak yang tak pernah surut. Penumpang berjalan dengan langkah tergesa-gesa, saling menyalip di antara gerbong yang baru saja berhenti. Di tengah kerumunan itu, Intan Larasati menyeret sebuah koper besar sambil menenteng tas jinjing berukuran jumbo, penuh dengan barang-barang yang ia bawa dari kampung halamannya di selatan — pakaian musim, oleh-oleh, dan segudang kebutuhan kuliah yang menurut ibunya "selalu perlu dibawa." Sesekali ia berhenti, menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan langkahnya yang berat.

Perjalanan darat yang ditempuh sejak subuh benar-benar menguras tenaga. Dari Cilacap ia menumpang kereta ekonomi yang gerbongnya penuh sesak sepanjang perjalanan; yang ia ingat hanyalah jendela kereta yang berlumur uap, punggung-punggung penumpang yang saling bersandar, dan tangannya yang pegal memeluk tasnya sendiri. Kini, setelah berjam-jam berada di atas roda, ia harus menukar sesaknya gerbong dengan sempitnya koridor kereta komuter kota. Berdesakan dengan ribuan orang sembari membawa barang seramai itu, nyaris membuatnya sulit bernapas.

Setibanya di depan asrama mahasiswi, Intan ambruk di lantai lorong seperti karung yang tak berdaya. Kedua lututnya gemetar, napasnya memburu, dan setiap otot terasa pegal seakan baru diremas-remas oleh seseorang. Ia masih berbaring di lantai dingin itu ketika derap kaki masuk menampakkan kamar yang menjadi tempat tinggalnya selama tiga tahun terakhir.

Kamar asrama itu sempit dan agak pengap. Ada tiga dipan berjajar, tiga meja belajar yang penuh coretan tugas, sebuah lemari kayu yang pintunya selalu macet bila dibuka tergesa-gesa, dan satu jendela persegi yang menghadap ke gang kampus. Dindingnya ditempeli foto-foto liburan serta pengingat jadwal yang sudah menguning; di sini, selama tiga tahun, tiga gadis yang berasal dari tiga daerah berbeda tumbuh menjadi sahabat yang saling menghafal sifat masing-masing. Tidak banyak ruang, tetapi bagi Intan, ruangan ini adalah rumah kedua.

Belum sempat ia benar-benar menenangkan diri, pintu kamar didorong terbuka kembali. Dua sosok masuk sambil bergandengan tangan, tertawa-tawa riang, dan nyaris tersandung tumpukan koper di lantai.

"Cewek bau, masa kau pindahkan seluruh rumah ke asrama?" sapa Yasmin Kusumawardhani dengan lolipop yang masih mencuat di mulutnya. Ia mengedipkan mata, pura-pura terkejut melihat barang-barang yang berserakan.

Silviana Wijayanti, teman sekamar yang satunya, ikut menengadahkan kepala melihat tumpukan barang tersebut, lalu berseru mengejek: "Di tahun terakhir, orang biasanya sibuk mengemasi barang untuk pindah keluar dari asrama. Kau malah kebalikannya — menyeret barang sebanyak ini masuk. Apa kata asrama kita, masih belum cukup sesak?"

Menghadapi desakan kedua temannya, Intan memohon ampun dengan suara cengeng khasnya. "Ya ampun, biarkan aku tinggal dua hari saja. Begitu kutemukan rumah yang cocok, aku langsung pindah. Sungguh, aku tidak akan merepotkan kalian! Aku berjanji!"

Kedua temannya menatap sekalian tumpukan barang itu; alih-alih marah, keduanya justru terlihat tergelitik. Meski ribut terus, gadis-gadis ini selalu tahu kapan harus berhenti menggoda dan menjejali mereka dengan pertanyaan yang tidak penting.

Yasmin mengangkat sebelah alis, menghentikan aktivitas menghisap lolipopnya. Ia duduk mendekat di samping Intan, wajahnya berubah serius. "Jujurlah, kau ini berencana hidup berdua dengan kekasihmu, kan? Tidak apa-apa. Gadis yang paling pendiam di kelas ini malah paling cepat pamer. Nanti kalau kalian sudah sah dan menggelar resepsi, jangan lupa undang kami semua. Kalau teman-teman yang lain sudah pulang, akan kuobrolkan baik-baik dengan mereka, pasti kami buat kau melayani sampai dompetmu kering."

Yasmin terus mengoceh di sampingnya, makin lama makin semangat. Intan memerah seisi wajah, tak tahu ke mana harus menyembunyikan mukanya, dan hanya bisa mengiba-iba. Pada akhirnya, karena didesak terus oleh Yasmin, Intan mengalah dan berjanji mentraktir mereka minum di kedai es campur.

Kedai-kedai es campur di Jalan Mahasiswa di luar kampus memang bukan tempat yang istimewa. Karena terletak di kawasan lorong universitas, harganya tidak terpaut jauh dari kedai lain; satu gelas masih sanggup digenggam oleh kantong mahasiswa. Beberapa gelas es campur, bagi Intan, masihlah terjangkau meski harus berhemat sedikit hari itu.

Mereka bertiga meninggalkan asrama dan berjalan lurus menuju Jalan Mahasiswa. Di sana, pelajar dan wisatawan lalu lalang silih berganti. Banyak di antara mereka membawa kantong besar dan kecil seperti Intan, tetapi kebanyakan adalah mahasiswa baru yang baru pertama kali menjejakkan kaki di kota itu; jarang ada yang setua Intan mengangkut barang sebanyak dirinya. Ia merasa sedikit aneh, tetapi adegan itu sekaligus mengingatkannya betapa ia sudah lama meninggalkan sensasi menjadi mahasiswa baru.

Mereka sudah tiga tahun berteman, dan Yasmin serta Silviana tahu betul latar belakang keluarga Intan yang sederhana, bahkan cenderung miskin. Kendati Intan yang berdiri untuk membayar, keduanya tidak lantas mencomot es campur yang paling mahal; mereka memilih yang paling biasa, sekadar untuk menikmati sore tanpa membuat teman mereka bangkrut. Tiga gelas es campur dipesan, lalu mereka mencari tempat duduk di sudut kedai dekat jendela yang tembus pandang ke luar.

Yasmin menyeruput es campurnya beberapa kali, lalu bertanya dengan nada setengah kesal, "Kau benar-benar berencana meninggalkan kami semua dan tinggal bersama Vino?"

Intan tampak meminta maaf dengan kikuk. "Sebenarnya aku juga ingin terus bersama kalian. Tetapi kalian tahu, proyek itu kami kembangkan bersama. Vino berkata, tinggal serumah akan menghemat banyak waktu, dan kami sudah sepakat nikah segera setelah ijazah keluar. Jadi…"

Silviana mengerutkan dahinya, melirik tajam pada Yasmin, lalu membela Intan. "Sudahlah, ini hal yang baik. Kalau Intan sudah memutuskan, jangan kau rusuh dengan ocehanmu terus-menerus. Kita lihat saja nanti, kalau sampai Intan risih mendengar omonganmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku? Yasmin menahan amarah. Suaranya berubah keras. Kalau Vino memang serumah itu baiknya, mengapa aku sampai sekarang belum pernah melihatnya? Hari ini hari pertama laporan masuk. Coba lihat tumpukan barang Intan — gadis ini menyeret semuanya sendirian. Pacar macam apa yang tidak layak disuruh repot barang-barang kekasihnya sendiri? Intan, dengarkan nasihatku. Jangan sampai laki-laki itu mempermainkanmu sebelum ada ikatan resmi. Aku sudah berkata, lho."

"Yasmin!" Cukup bicaramu? Silviana meraung marah. Dua perempuan itu seketika beradu mulut, kedua tangan mereka terkepal; perang sengit antara keduanya pun dimulai tepat di depan meja.

Intan yang duduk di seberang berubah ekspresi. Pikirannya melayang jauh ke satu setengah jam sebelum ia turun dari kereta.

Waktu itu, sebelum kereta merapat di stasiun, ia sempat menelepon Vino untuk memintanya menjemput di pintu peron. Suara di ujung telepon terdengar sedikit gugup. Intan yang peka sejak kecil langsung menangkapnya, tetapi ia tidak menyinggungnya. Sebaliknya, Vino yang ragu-ragu menjawab bahwa tidak usah, dan Intan yang selalu mengerti keadaan akhirnya mengalah, menyeret sendiri semua barangnya menembus stasiun yang ramai.

Sejenak, terlintas dalam benaknya benih keraguan: adakah Vino berubah pikiran, tidak lagi mencintainya? Namun baru saja ia tiba di depan asrama, telepon Vino masuk menanyakan kabar. Ia berkata pekerjaannya sudah kelar dan bisa datang menjemput sekarang. Intan kembali menyalahkan dirinya — betapa bodohnya ia meragukan ketulusan Vino. Begitulah pikirannya bergelut bolak-balik sampai Yasmin dan Silviana pulang.

Ia tidak mengira Yasmin akan mengorek kegelisahan yang paling dalam itu dengan begitu terang-terangan di hadapannya, seperti menyingkap luka yang selama ini dibalutnya rapat-rapat.

Mungkin karena kebisuan Intan, Yasmin dan Silviana lama-kelamaan merasa bosan bertengkar. Rasa khawatir pada Intan perlahan mengalahkan nafsu mereka berdebat, dan suasana pun menjadi sunyi. Yasmin yang selalu periang tidak tahan berada dalam suasana hambar seperti ini; ia melirik kedua temannya, memilih tidak memedulikan mereka, dan mengalihkan pandangan ke lelaki-lelaki tampan yang lewat di balik jendela. Silviana yang hafal betul tabiat Yasmin hanya mengerucutkan bibir, mengaduk-aduk es campurnya dengan sedotan, lalu menyeruputnya beberapa kali seolah melampiaskan gengsi.

"Ah! Lihat itu!"

Seruan kaget Silviana memecah keheningan. Seluruh isi mulutnya yang penuh es campur menyembur keluar, dan Intan yang duduk tepat di seberangnya, tanpa diduga, menerima semuanya. "Intan, maaf! Sebentar, kuambilkan tisu, biar kugosok," ucap Silviana buru-buru berdiri, mencondongkan tubuh untuk menyodorkan tisu.

Tenggelam dalam kegiatan menyeka itu, Silviana baru menyadari ada yang tidak beres: Intan menatap ke luar jendela bagaikan kehilangan jiwa, dan Yasmin — biang goda itu — justru terdiam kaku. Silviana lantas menoleh mengikuti arah pandang mereka. Pemandangan di seberang jalan membuat pupil matanya mengecil, mulutnya menganga membentuk huruf "O".

"Apa aku ini silau?" Silviana mengerdipkan mata beberapa kali untuk memastikan ia tidak melihat setan. Setelah yakin matanya normal, amarahnya meledak. Tisu di tangannya dilempar begitu saja, dan ia berteriak geram, "Ayo hajar si pengkhianat dan si jalang itu!"

Yasmin tersentak dari lamunannya dan langsung mengiyakan. Sebelum Intan sempat menyadari apa yang terjadi, kedua temannya sudah menyerbu keluar kedai.

Mungkin karena semua berlangsung begitu mendadak, atau mungkin karena rasa rendah diri yang mengakar di dalam hatinya, Intan tiba-tiba merasa gentar. Ia tidak berani keluar menghadapi peristiwa itu; ia hanya duduk mematung, menatap kosong ke arah yang berbeda dari keributan.

Di luar sudah terdengar riuh. Silviana menyerbu laksana badai dan menyiramkan segelas es campur tepat ke tubuh Vino Ardhana. Gadis yang berdiri di sampingnya ikut terkena percikan; ia menjerit kaget sekaligus murka. Suasana di depan kedai menjadi kacau-balau.

Vino yang akhirnya sadar melotot dan memaki-maki, "Kalian dua perempuan gila ini mau apa!"

"Vino, buka matamu lebar-lebar! Silviana bertolak pinggang, wajahnya memerah karena emosi. Kalau hari ini aku belum melampiaskan amarah demi Intan dan merobek-robek tubuhmu, namaku bukan Silviana lagi!"

Yasmin di sisinya ikut berteriak lantang kepada semua orang yang lewat. "Kalian lihat! Ini Vino, mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Informatika. Sudah punya kekasih yang sah, masih gandeng-gandengan dengan perempuan lain. Suka bermain perempuan, perilakunya busuk! Aku benar-benar malu disebut seangkatannya. Hancurkan kalau kalian mau, dasar pengkhianat tak tahu malu!"

Perempuan yang berdiri di samping Vino berhenti di tempatnya, lalu memaki dengan dada membusung, "Kalian gila! Aku memakai baju bermerek, kalau belepotan kalian harus ganti rugi! Kalian ini mau membela anak dari keluarga melarat macam Intan? Biarkan dia bercermin dulu. Di mana pantasnya ia untuk Vino? Ia bahkan tak pantas memikul sepatuku! Kusampaikan dengan jujur: Vino sudah lama putus dengannya. Kami sudah saling diperkenalkan dengan keluarga. Kami berdualah yang akan menikah. Bukan begitu, Vino?"

Vino menoleh kepada Shinta Maharani. Amarah di matanya seketika berubah menjadi kelembutan. "Shinta, dengar dulu. Kau pulanglah dulu, ganti bajumu. Nanti kuajak belanja sepuasmu. Biarkan urusan ini kuselesaikan."

Shinta yang terang-terangan tidak mau menurut. Ia menoleh ke kiri-kanan, melihat banyak mahasiswa yang sedang menunjuk-nunjuk mereka. Ditambah lagi penampilannya saat itu memang mengenaskan, akhirnya ia hanya bisa menghentakkan kaki kesal, mendengus dingin, lalu berlalu dengan kepala tegak seperti seekor merak yang sombong.

"Bah! Emangnya apa itu, perempuan perebut laki-laki orang?" suara Yasmin terdengar kembali lantang.

Shinta yang baru saja menjauh menoleh sekali lagi, melayangkan pandangan tajam, lalu mempercepat langkahnya menghilang.

Tanpa Shinta di sisi, Vino tidak lagi merasa ada yang menghalangi. Ia meludah ke tanah dan berkata dengan nada kejam, "Jangan kira aku tidak berani memukul perempuan!"

"Oh, aku takut sekali! Yasmin menyilangkan kedua tangannya di dada. Pukul kalau kau berani! Silakan, pukul sekuat-kuatnya! Aku ingin melihat seberapa busuk pengkhianat ini ternyata!"

Sikap menantang Yasmin itu membuat Vino panas hingga melompat-lompat. "Baik!" Kalau memang kau berani, tunggulah! Ia menggertak, lalu menatap sekeliling. Selain dua perempuan itu, tidak ada satu pun orang yang ia kenal di tempat ini. Lega rasanya. Vino pun berbalik, melarikan diri tanpa menoleh ke belakang. Kendati penampilannya segagah itu, hatinya kalut; ia tahu benar bahwa dua perempuan seperti mereka bukanlah lawan yang bisa diserobot begitu saja.

"Jangan kabur kalau berani! Dasar pengkhianat!" teriak Yasmin di belakangnya; rasanya semua amarahnya tuntas sudah.

Silviana menarik lengan Yasmin sambil menghentakkan kaki. "Sudahlah, masuk kita temui Intan." Gadis itu pasti tenggelam dalam kesedihan sekarang! Barulah Yasmin teringat bahwa mereka meninggalkan Intan sendirian di kedai. Keduanya buru-buru berbalik dan masuk kembali.

Namun, di bangku dekat jendela yang tembus pandang itu, tidak ada siapa-siapa lagi.

"Aduh!" Ke mana gadis itu pergi? Yasmin menatap Silviana dengan wajah terkejut.

Silviana panik, tapi masih sanggup berpikir. "Jangan menunggu begitu saja. Hubungi yang lain sekarang juga, ceritakan keadaan di sini, dan minta mereka pulang mencari bersama. Intan orangnya sangat perasa. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak tahu ia akan bersedih sampai di mana. Lebih baik jangan sampai terjadi apa-apa!"

"Cih!" Jangan bicara sembarangan, mulut sialan! Yasmin memaki sambil segera menyerbu keluar kedai.

Intan yang ditunggu-tunggu kedua temannya itu justru sedang berjalan dalam keadaan linglung. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana akhirnya ia sampai di bawah gedung asrama putra tempat Vino tinggal. Telepon genggamnya berdering terus-menerus. Suara itu akhirnya menyadarkannya dari lamunan. Intan memindahkan telepon ke mode senyap, lalu menutup matanya dan menangis tersedu-sedu di bawah balkon yang berdebu. Ia mengangkat wajahnya ke gedung asrama yang tinggi itu, menghitung lantai tempat kamar Vino berada.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Vino masih meludahkan sumpah serapah karena kejadian tadi. Ia mandi, berganti pakaian bersih, lalu segera menghubungi Intan dengan setumpuk alibi yang telah disiapkan dengan rapi. Saat panggilan tersambung, ia tertegun.

"Vino, urusanmu sudah selesai? Aku baru saja selesai belanja. Mau keluar sekarang?"

Suara Intan di ujung telepon terdengar riang dan segar. Vino mengembuskan napas lega; ia mengira kedua gadis gila itu belum sempat memberi tahu Intan apa pun. Suaranya kembali santai, dihiasi senyuman, "Sudah selesai. Kita keluar sekarang, ya. Oh, iya — tadi ada perselisihan kecil antara dua teman sekamarmu. Sepertinya ada kesalahpahaman. Kalau nanti mereka bercerita kepadamu, jangan kau percaya begitu saja. Nanti kujelaskan semuanya."

"Baiklah! Sampai ketemu nanti. Ajak aku boncengan naik sepedamu!"

Suara gadis di ujung telepon terdengar sedikit kebingungan, tetapi juga berhati-hati. Vino yang tengah bergembira menyetujui tanpa berpikir panjang.

Setelah telepon diputuskan, Intan dengan cepat menghapus air matanya dan menyusun kembali roman wajahnya. Tidak lama kemudian Vino tiba di depan asrama dengan mengayuh sepeda. Angin menerbangkan rambutnya; pembawaannya yang tenang dan agak angkuh, ditambah wajahnya yang tampan, membuat siapa pun mengerti mengapa bahkan Shinta pun bisa tersihir olehnya.

"Kalau dipikir-pikir, bukan hal yang buruk juga bahwa gadis sesederhana aku ini bisa membuatnya jatuh hati." Intan mencemooh dirinya sendiri dalam hati.

Ia mengatur wajahnya untuk tampil sebaik mungkin, mengangkat kepala menyambut Vino, lalu duduk di boncengan sepeda mengikuti isyarat kekasihnya. Sepanjang perjalanan, sesekali Vino menyelidiki dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, tetapi Intan berpura-pura tidak tahu menahu. Setelah dua tiga kali mencoba, Vino menyerah; ia mulai percaya bahwa Intan sungguh-sungguh belum mengetahui apa pun. Ia membawanya ke taman kota di tepi sungai.

Taman itu lengang di sore hari. Beberapa orang tua duduk-duduk di bangku kayu, menyaksikan anak-anak bermain sepeda di lintasan yang berdebu. Di tengah taman, sungai mengalir lebar dan tenang, permukaannya berkilau diterpa cahaya senja yang perlahan menguning. Intan menyusuri jalan setapak sambil sesekali menunduk; langkahnya pelan, seakan ingin menunda percakapan yang sejak tadi mengganjal dadanya.

Mereka duduk berdua di rumput yang tumbuh liar di tepian sungai. Angin sore membelai permukaan air, membuat cahaya matahari terpantul berkelip-kelip. Setelah hening sebentar, Intan memberanikan diri bertanya, "Vino, kapan kita akan mencari rumah?"

Vino sempat tertegun, lalu menjawab dengan ragu, "Intan, sebenarnya aku ingin segera pindah. Tetapi proyek kita baru saja mendapat kendala. Klien minta beberapa bagian direvisi dan waktunya sangat mepet. Kupikir sekarang ini kita tidak punya banyak waktu untuk mencari rumah. Bagaimana kalau proyek ini kita selesaikan dulu? Begitu uang pelunasan masuk, mencari rumah akan jauh lebih mudah. Nanti aku punya uang cukup, apa yang kau mau bisa kau beli sesukamu. Bagaimana?"

Intan menundukkan bulu matanya, sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Vino mengerutkan dahi, merasa gadis itu rewel, lalu menasihati, "Kau harus paham, ini klien pertama yang susah payah kita negosiasikan. Kalau kerja sama ini tidak tuntas dengan baik, semua perjuangan kita selama ini akan sia-sia. Kau…"

"Baik, aku menuruti saja." Suara Intan terdengar lembut.

"Apa?" Vino tertegun. Ia tidak mengira Intan akan semudah itu mengiyakan; semua kalimat yang telah ia siapkan menjadi tidak terpakai. Setelah itu ia merasa lega, berdiri, dan berkata, "Bagus! Kau pikir-pikir saja dulu, ya. Aku ambilkan sepedanya sekarang. Tunggu di sini."

Begitu punggung Vino berlalu, wajah Intan seketika berubah gelap.

Intan merapatkan kedua tangannya; genggamannya mengeras pada kalung yang sejak tadi melingkar di lehernya. Bertahun-tahun ia percaya pada rencana-rencana bahagia itu, pada janji-janji tentang rumah, proyek, dan masa depan yang dijalani berdua. Tetapi pengkhianatan itu telah mengoyak semua keyakinannya. Ia membayangkan Ibu yang terbaring lemah di kampung, menunggu kabar baik yang tak pernah datang; untuk pertama kalinya, kemarahan yang tertimbun di dasar hatinya bangkit menjadi sebuah keputusan. Dengan tangan yang gemetar, ia melepaskan kalung itu dari lehernya dan menggenggamnya erat-erat, bersiap menjalani sandiwara yang diwajibkan laki-laki yang telah menipunya.

Ketika Vino kembali dengan sepedanya, ia mendapati Intan berjongkok tepat di bibir sungai. "Sedang apa kau?"

Intan tersentak, berdiri dengan roman wajah yang kisruh, lalu berkata dengan nada cemas, "Vino, kalung yang kau berikan waktu itu tidak sengaja jatuh ke dalam air. Tolong bantu aku mencarinya. Aku ingin mengambilnya kembali."

Hati Vino serentak menjadi dingin. Ditelannya air ludahnya susah-susah. Sungai sebesar itu, entah seberapa dalam dasarnya; mana mungkin ia menemukan sebuah kalung? Ia hendak menolak dengan nalurinya, tetapi begitu melihat mata Intan yang sudah berkaca-kaca nyaris menangis, segala penolakan itu tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa meletakkan sepedanya dan pura-pura ikut mencari.

Begitu Vino mendekati tepi air, Intan berdiri diam-diam di belakangnya. Saat lelaki itu lengah, dengan sekuat tenaga ia mendorong punggung Vino hingga terjungkal ke dalam sungai. Namun karena dorongan yang terlalu bersemangat, Intan pun ikut terpeleset dan terseret masuk mengikuti gerak tubuh Vino.

Wisatawan di sekitar taman terkejut dan berteriak minta tolong. Intan yang jatuh ke air berjuang mati-matian karena naluri bertahan hidup; dalam pergolakan itu, kakinya menendang-nendang dan sejumlah tendangan mendarat tepat di tubuh Vino yang menggelepar di bawahnya. Namun arus sungai terlalu kuat; satu demi satu tenaganya terkuras, dan akhirnya kedua tubuh itu tenggelam ke dalam air yang gelap.

Sebelum kesadaran terakhirnya lepas, Intan mendengar suara-suara riuh berteriak minta tolong dari tepian.

Yang tidak ia ketahui, air sungai yang menelannya itu sedang mengantarkannya pulang ke sebuah pagi yang akan mengubah segalanya.

1
Putry Chan
sebenarnya tadi itu apa ya
Kartika Candra Buwana: nanti akan tau deh
total 1 replies
Putry Chan
rumah ini beneran udh tua ya gak da yang tempatin juga banyak debu nya
Putry Chan
Kakek nya sudah tidak ada tapi kenangan itu masih ada sampai saat ini
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!