Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Darah di tengah penerobosan
Ye Chan sudah menempuh hampir dua puluh li ketika langkahnya terhenti. Angin pegunungan berhembus kencang, menerbangkan ujung jubahnya.
Ia memutar tubuh ke arah belakang.
Kota Sungai Abu sudah lenyap dari pandangan. Gerbang batunya bahkan tidak lagi terlihat di cakrawala.
Hanya bentangan tanah merah yang membelah lebatnya hutan pinus. Gesekan dedaunan kering terdengar di telinganya.
Ye Chan menyipitkan mata. Alisnya bertaut rapat.
Tangannya meraba ke dalam lipatan jubah, menyentuh permukaan cincin penyimpanan.
Di dalamnya tersimpan kotak kayu berisi Pill Penerobosan Inti pemberian Zhan Ya.
Ia terdiam sesaat menatap debu jalanan. Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku mulai terlalu mudah menoleh ke belakang," gumamnya pelan.
Ia kembali melangkah maju. Namun, baru beberapa langkah terayun, langkahnya mendadak kaku.
Perasaan ganjil mencengkeram dadanya. Kegelisahan tipis menekan tanpa aba-aba.
Sensasi itu tidak berasal dari tubuhnya. Aliran Qi di sekeliling hutan pun tampak tenang.
Ye Chan kembali berhenti tanpa menoleh.
"... Zhan Ya," desisnya lirih.
Tangannya mengepal erat. Naluri kultivator kerap menipu, tetapi mengabaikannya sama saja mengundang maut.
Ye Chan memutar tumitnya. Langkah kakinya berubah cepat, menapak tanah berkerikil menuju arah kota yang ditinggalkannya.
***
Dua perempat jam sebelum derap langkah itu berbalik arah, bau anyir darah telah tercium di jalur luar kota. Debu tanah teraduk kasar oleh benturan tenaga dalam.
Zhan Ya menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Jubah tempur pada bahu kirinya robek, menampakkan luka merah di kulit pucatnya.
Di belakang langkahnya, Yuen Fang terjerembap di tanah berbatu.
"Guru!" serunya serak sambil berusaha menumpu badannya.
Zhan Ya mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh. "Tetap di situ. Jangan bergerak."
Yuen Fang menggertakkan gigi dan membasahi bibirnya yang kering. Rasa nyeri menekan dadanya.
Tujuh orang berdiri mengepung jalan setapak itu. Enam mengenakan jubah kelabu seragam.
Pria tertua berdiri di barisan depan dengan jubah tetua sekte. Tingkat kultivasinya berada pada Pembentukan Inti Awal.
Tiga pengikut di belakangnya memiliki tingkatan setara. Sisanya berada pada tahap Pengumpulan Qi Atas.
Zhan Ya membuang sisa darah di mulutnya. "Cepat katakan tujuan kalian."
Tetua berjubah kelabu mengangkat dagunya angkuh.
"Zhan Ya, atas nama sekte, kau harus ikut bersama kami."
"Urusan apa?" tanggap Zhan Ya dingin.
"Memberikan keterangan perihal Ye Chan."
Tatapan Zhan Ya mengeras bagai batu cadas.
"Ia sudah pergi jauh. Kalian terlambat."
"Kami tahu arah perginya," balas tetua itu enteng. "Tapi kami tidak perlu mengejarnya."
Ia mengarahkan telunjuknya lurus ke wajah Zhan Ya. "Karena kaulah yang menyembunyikan pria itu."
Yuen Fang memaksakan diri berdiri. "Master tidak menyembunyikan siapa pun!"
Salah seorang pendekar kelabu tertawa mengejek.
"Bocah ingusan dilarang membuka suara di sini."
Gelombang Qi ditembakkan ke arah Yuen Fang, memaksanya terhuyung mundur.
Zhan Ya bergerak cepat memotong hembusan energi itu. Qi miliknya bergolak liar menyapu debu jalanan.
"Sentuh muridku sekali lagi," ancam Zhan Ya rendah. "Kupastikan kalian pulang tanpa kepala."
Tetua kelabu menyipitkan mata saat merasakan benturan hawa membara itu.
"Puncak Pembentukan Inti. Menarik."
Ia melambaikan tangan kanannya. Enam pendekar kelabu langsung bergerak membentuk formasi bersudut tujuh.
Formasi Penahan Nadi.
Teknik itu dirancang khusus membebani jalur meridian. Mereka berniat menangkapnya hidup-hidup.
"Yuen Fang," bisik Zhan Ya tanpa menoleh. "Begitu formasi retak, larilah ke arah sungai."
Yuen Fang mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku tidak akan meninggalkan Guru."
"Ini perintah!" sergah Zhan Ya tegas. "Percayalah padaku."
Muridnya terdiam kaku lalu mengangguk patuh.
Ketujuh kultivator menyerbu serentak. Zhan Ya melesat mendahului serangan.
Bum!
Telapak tangannya menghantam dada seorang murid Pengumpulan Qi, melempar tubuhnya menabrak pohon.
Sebelum sabetan senjata tiba, Zhan Ya memutar tubuh. Sikunya menghantam rahang penyerang kedua hingga terdengar bunyi retak.
Tiga bilah pedang menusuk serentak dari arah belakang.
Zhan Ya memutar haluan Qi untuk menahan benturan senjata.
Tanah di bawah kakinya retak berkeping-keping. Zhan Ya terdorong mundur tiga langkah dengan bibir kembali berdarah.
Jaring formasi itu kian menekan dantiannya. Aliran energinya terasa semakin berat.
Tetua kelabu melihat celah tersebut. "Hantam dia sekarang!"
Tiga pendekar Pembentukan Inti Awal menerjang serentak.
Zhan Ya menggertakkan gigi menahan sakit. Qi di dalam dantiannya meledak dahsyat menyapu jalanan bagai badai.
Ketiga penyerangnya terpental ke semak belukar. Formasi itu hancur berantakan.
Zhan Ya menarik napas memburu. "Yuen Fang, lari sekarang!"
Yuen Fang melesat cepat ke dalam hutan, mematuhi perintah tanpa menoleh lagi.
Namun, suara ledakan kedua terdengar mengguncang pelarian mereka. Pepohonan tumbang berserakan.
Zhan Ya berhenti di tepi jurang kecil, merentangkan tangan menahan laju muridnya.
Hamparan kabut putih tebal mengurung seluruh lembah. Udara berubah dingin menusuk tulang.
Jalan pelarian mereka telah dikepung perangkap lain.
"Guru..." panggil Yuen Fang dengan suara gemetar.
Zhan Ya menggenggam erat tangan muridnya.
"Dengarkan. Jika terjadi sesuatu, jangan pernah mencariku lagi."
Matanya itu memerah menahan tangis. "Guru, aku tidak mau—"
"Jangan buat pengorbananku sia-sia!" potong Zhan Ya dingin.
Sebilah pedang hitam mendadak menembus tirai kabut.
Zhan Ya menarik muridnya ke belakang secepat kilat.
Sring!
Mata pedang itu menggores lengan kanannya, meneteskan darah segar ke tanah basah.
Sosok berjubah hitam melangkah keluar dari balik kabut. Wajahnya tertutup topeng kain.
Hawa keberadaannya jauh lebih menindas. Tahap Pembentukan Inti Menengah.
Pria bertopeng itu mengacungkan pedangnya. "Serahkan pria itu."
Zhan Ya melangkah maju menghalangi muridnya. "Tidak akan."
Pria itu menghentakkan kaki hingga tanah retak. "Kalau begitu mati bersama muridmu."
Zhan Ya mencabut pedangnya, bersiap menghadapi pertarungan hidup dan mati.
Dentuman benturan pedang itu memicu getaran tak kasat mata yang merambat menembus belantara.
Jauh di lintasan berbatu, Ye Chan mendadak menghentikan larinya.
Getaran tajam menusuk langsung ke pusat jiwanya. Giok Kehampaan yang berakar di sana berdengung hebat.
Alat batin itu menangkap luapan energi Pembentukan Inti Menengah yang bergolak di kejauhan.
Ye Chan mendongak menatap langit yang kian suram. Tatapannya berubah sedingin es abadi.
Ia merogoh cincin penyimpanan dan mengeluarkan kepingan giok komunikasi pemberian Zhan Ya.
Permukaan giok itu tampak retak halus.
Krek!
Batu hijau itu hancur menjadi serpihan debu di genggamannya.
Ye Chan mematung menatap debu di telapak tangannya. Riak Qi di sekeliling tubuhnya mendidih liar.
"Zhan Ya..." desisnya dengan rahang terkatup rapat.
Tidak ada sahutan selain desau angin dingin.
Ye Chan meremas debu giok itu hingga menjadi bubuk halus.
Ledakan tenaga murni meletup dari telapak kakinya, melontarkan tubuhnya melesat ke depan.
Laju geraknya berlipat ganda kencang. Pepohonan tumbang tersapu gelombang angin yang diciptakannya.
Dan di ujung cakrawala, dentuman keras kedua mengguncang lembah hutan.