IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Aroma Asing di Kemeja Suamiku
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Salju turun deras di luar jendela penthouse mereka, membungkus kota New York dalam selimut putih yang senyap. Brooklyn duduk sendirian di ruang keluarga, menunggu Liam yang belum juga pulang meski jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Sejak malam ulang tahun yang berakhir dengan hadiahnya teronggok di tempat sampah, sesuatu dalam diri Brooklyn telah berubah. Ia tidak lagi menunggu dengan harapan seperti dulu, melainkan menunggu karena kebiasaan—kebiasaan seorang istri yang, meski hatinya telah mati rasa, masih merasa perlu memastikan suaminya pulang dengan selamat.
Suara kunci berputar di pintu depan akhirnya terdengar sekitar pukul setengah dua pagi. Brooklyn bangkit dari sofa, melangkah menuju lorong untuk menyambut Liam seperti biasa, meski kali ini tanpa senyuman yang dipaksakan.
Namun begitu Liam melangkah masuk, sesuatu langsung menarik perhatian Brooklyn.
Kemejanya kusut parah, dua kancing teratas terlepas, dan dasinya tergantung longgar di lehernya, hampir seperti tidak pernah dikencangkan sejak pagi. Namun yang paling mengganggu Brooklyn bukanlah penampilan berantakan itu—melainkan aroma yang menempel jelas di kemeja Liam. Sebuah wangi parfum floral yang manis, jelas bukan milik pria mana pun, dan pasti bukan aroma yang pernah Brooklyn kenakan.
"Kau baru pulang dari mana?" tanya Brooklyn pelan, suaranya terdengar datar meski hatinya mulai berdebar dengan firasat yang tidak menyenangkan.
Liam melirik sekilas ke arahnya, matanya sedikit sayu—entah karena alkohol, entah karena kelelahan, atau mungkin keduanya. "Rapat dengan klien," jawabnya singkat, melangkah melewati Brooklyn menuju kamar tidurnya.
Brooklyn tidak mengejar pertanyaan itu lebih jauh malam itu. Namun pikirannya terus dipenuhi kecurigaan yang sulit ia abaikan.
...***...
Beberapa jam sebelumnya...
Di sebuah bar elegan di kawasan Tribeca, jauh dari kantor Whitmore Group tempat Liam seharusnya menghadiri rapat malam itu, Liam duduk di meja bar sambil menikmati gelas ketiga scotch miliknya. Cahaya temaram bar itu memberikan suasana yang jauh lebih santai dibandingkan ruang rapat formal yang penuh tekanan.
Seorang wanita cantik berambut cokelat panjang duduk di kursi sebelahnya, tersenyum menggoda sambil sesekali menyentuh lengan Liam dengan jari-jarinya yang lentik. Wanita itu bernama Vivian, seorang model paruh waktu yang kebetulan bertemu Liam di bar itu beberapa minggu lalu, dan sejak saat itu mereka beberapa kali bertemu diam-diam.
"Kau tampak lelah malam ini," ucap Vivian sambil tersenyum, suaranya lembut dan menggoda. "Pernikahan itu benar-benar membebanimu, ya?"
Liam tertawa pahit, meneguk sisa scotch di gelasnya. "Kau tidak tahu setengah dari yang sebenarnya terjadi."
"Kalau begitu," Vivian mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinga Liam, "kenapa tidak melupakan sejenak semua beban itu malam ini?"
Liam menatap wanita di hadapannya, pikirannya kacau oleh campuran alkohol, kelelahan, dan kekosongan yang terus menghantuinya sejak Helena pergi. Ia tahu ini salah. Ia tahu status pernikahannya seharusnya menghalanginya dari godaan semacam ini. Namun malam itu, kelelahan emosionalnya jauh mengalahkan logikanya.
Mereka berakhir di apartemen Vivian yang tidak jauh dari bar tersebut, menghabiskan sisa malam bersama dalam pelukan yang hampa dari cinta sejati, hanya pelarian sesaat dari kepedihan yang terus Liam rasakan sejak pernikahannya yang tidak pernah ia inginkan dimulai.
Ketika ia akhirnya bangun beberapa jam kemudian dan menyadari waktu telah menunjukkan hampir tengah malam, Liam bergegas mengenakan kembali pakaiannya yang berantakan, pikirannya dipenuhi rasa bersalah yang samar-samar mulai muncul, meski dengan cepat ia coba abaikan.
Ia tidak menyadari bahwa aroma parfum Vivian telah menempel begitu jelas di kemejanya, sebuah jejak yang akan segera terungkap di hadapan istrinya sendiri.
...***...
Keesokan paginya, ketika Brooklyn mengumpulkan pakaian kotor Liam untuk dicuci seperti rutinitas biasa, ia kembali mencium aroma parfum asing itu, kali ini jauh lebih jelas karena kemeja tersebut belum dicuci sama sekali. Tangannya gemetar ketika ia memeriksa kemeja itu lebih teliti, menemukan noda lipstik samar di kerah kemeja—bukti yang tidak bisa lagi ia sangkal.
Hatinya yang selama ini berusaha ia lindungi dengan tembok ketidakpedulian, kini terasa hancur berkeping-keping oleh kenyataan pahit yang baru saja terungkap di hadapannya.
Malam harinya, ketika Liam pulang dari kantor, Brooklyn sudah menunggunya di ruang keluarga dengan kemeja bernoda itu tergeletak di atas meja kaca.
"Kau perlu menjelaskan ini," ucap Brooklyn, suaranya bergetar antara amarah dan kepedihan yang sudah terlalu lama ia tahan.
Liam melirik kemeja itu sekilas, ekspresinya berubah waspada sesaat sebelum kembali menjadi dingin dan defensif. "Itu bukan urusanmu."
"Bukan urusanku?" Brooklyn berdiri, matanya mulai berkaca-kaca namun ia menahan diri sekuat tenaga agar tidak menangis di hadapan Liam. "Aku istrimu, Liam! Tentu saja ini urusanku! Kau tidur dengan wanita lain, dan kau bilang itu bukan urusanku?"
"Aku tidak berutang penjelasan apa pun padamu!" bentak Liam, suaranya mulai meninggi, matanya dipenuhi amarah yang bercampur dengan rasa bersalah yang enggan ia akui. "Pernikahan ini hanya kontrak bisnis, Brooklyn! Aku tidak pernah berjanji untuk setia padamu!"
"Kontrak atau bukan, kau tetap suamiku di hadapan hukum dan masyarakat!" balas Brooklyn, kesabarannya yang selama ini ia jaga akhirnya mulai runtuh sepenuhnya. "Bagaimana perasaanku jika ini sampai terdengar oleh keluarga kita? Bagaimana dengan reputasi—"
"Diam!"
Bentakan Liam menggema begitu keras di ruangan itu, membuat Brooklyn tersentak mundur. Namun kali ini, amarah Liam tidak berhenti hanya pada kata-kata. Dengan gerakan cepat yang tidak sempat diantisipasi Brooklyn, tangan Liam terangkat dan mendarat keras di pipi kirinya.
Suara tamparan itu bergema di ruangan yang sunyi, diikuti oleh keheningan yang mencekam.
Brooklyn terhuyung ke samping, tangannya refleks memegangi pipinya yang memerah dan terasa panas membakar. Matanya membelalak lebar, bukan hanya karena rasa sakit fisik yang menjalar di wajahnya, melainkan karena keterkejutan yang jauh lebih dalam—keterkejutan bahwa pria yang selama ini hanya menyakitinya dengan kata-kata kini telah melangkah lebih jauh, melukainya secara fisik untuk pertama kalinya.
Ruangan itu hening untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Liam sendiri tampak terkejut dengan tindakannya, tangannya masih terangkat di udara, matanya menatap telapak tangannya sendiri seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Namun alih-alih meminta maaf, kesombongan dan amarah yang masih membara dalam dirinya membuat Liam justru semakin defensif.
"Ini semua salahmu!" bentaknya, suaranya masih bergetar oleh amarah yang belum sepenuhnya reda. "Jika saja kau tidak terus memaksaku, jika saja kau berhenti bersikap seolah kita pasangan sungguhan, semua ini tidak perlu terjadi!"
Brooklyn menatap Liam dengan mata yang dipenuhi air mata yang akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi, namun kali ini, di balik air mata itu, ada sesuatu yang baru—sebuah kilatan kemarahan dingin yang belum pernah terlihat sebelumnya di mata wanita yang selama ini dikenal lembut dan penyabar.
"Kau baru saja memukulku," ucapnya pelan, suaranya bergetar namun penuh ketegasan yang mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. "Kau selingkuh, dan sekarang kau memukulku, lalu menyalahkanku atas semua ini?"
Liam terdiam, tidak menemukan kata-kata untuk membalas pertanyaan itu. Untuk sesaat, ada secercah penyesalan yang muncul di matanya, namun dengan cepat ia tepis jauh-jauh, tidak ingin mengakui kesalahannya di hadapan Brooklyn.
"Kembalilah ke kamarmu," ucapnya akhirnya, suaranya lebih pelan namun masih dingin. "Kita bicarakan ini lain kali."
Brooklyn menatap Liam untuk terakhir kalinya malam itu, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri, tangannya masih memegangi pipi yang masih terasa panas dan berdenyut nyeri. Namun rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan luka yang jauh lebih dalam yang kini menganga di hatinya—luka dari pengkhianatan, dari kekerasan, dan dari kesadaran pahit bahwa pernikahan ini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.