Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
"Dokter bedah berhasil menghentikan pendarahannya dan menstabilkan tekanan di otaknya, Mbak," suara suster di seberang telepon terdengar begitu melegakan, bagai oase di tengah gurun sahara. "Proses operasinya berjalan lancar. Saat ini Mas Romeo sedang dipindahkan ke ruang pemulihan sebelum dibawa kembali ke ICU untuk observasi ketat."
Air mata Aluna menetes tanpa bisa dibendung lagi. Kali ini bukan air mata duka atau rasa malu, melainkan air mata kelegaan yang amat sangat. Bahunya yang tegang perlahan meluruh. Kedua tangannya menggenggam ponsel itu erat-erat di depan dadanya.
"Terima kasih, Suster... Terima kasih banyak..." bisik Aluna dengan suara serak berselimut tangis bahagia. "Apakah... apakah Kak Romeo sudah sadar?"
"Mas Romeo masih dalam pengaruh obat bius total, Mbak. Kemungkinan baru akan siuman dalam dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam ke depan. Tapi masa kritis utamanya sudah lewat," jelas suster itu ramah. "Mbak Aluna bisa datang untuk mendampinginya saat jam kunjung sore nanti."
"Baik, Suster. Saya pasti datang. Terima kasih banyak."
Aluna mematikan sambungan telepon. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding pembatas kayu di balik tirai, memejamkan mata erat-air mata terus mengalir membasahi pipinya yang polos tanpa riasan. Beban seberat gunung yang menindih dadanya selama empat hari terakhir perlahan terangkat. Kakaknya selamat. Romeo bertahan hidup.
Di luar tirai, suara dentang kuas yang berdenting di tepi wadah kaleng terhenti. Hayden berdiri bergeming di depan kanvas raksasanya. Pria itu mendengar seluruh percakapan telepon itu. Kilatan tegang yang sempat mampir di matanya kini menguap, berganti kembali menjadi tatapan dingin dan tak tersentuh.
"Sudah selesai menangisnya?" suara Hayden mengudara dari balik tirai, memutus momen kelegaan Aluna. Suaranya datar, tanpa nada simpati sedikit pun. "Waktuku terus berjalan, Aluna."
Aluna mengusap air matanya cepat-cepat menggunakan telapak tangannya. Ia menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali sisa-sisa ketegaran dan harga dirinya yang sempat terkoyak.
Ia membenahi gaun sutra putih tanpa lengan yang kini melekat di tubuhnya. Bahan kainnya yang lembut meliuk mengikuti lekuk tubuhnya, terasa dingin di kulit. Aluna menyanggul rambut panjangnya ke atas seperti yang diinstruksikan Hayden, memperlihatkan leher jenjang dan bahunya yang mulus.
Dengan langkah kaki bertelanjang yang mantap, Aluna menyibak tirai pembatas dan melangkah keluar.
Hayden yang sedang memegang palet kayu refleks mendongak. Langkahnya terhenti sejenak.
Pemandangan di hadapannya mendadak mengubah atmosfer studio yang sunyi. Aluna tidak lagi terlihat seperti gadis cengeng berkaos kebesaran yang berlutut di lorong rumah sakit. Di bawah sorotan cahaya alami yang jatuh dari atap kaca, Aluna tampak begitu murni sekaligus rapuh. Gaun putih polos itu membingkai kulit pucatnya dengan sangat indah. Meski matanya masih sedikit sembap dan kemerahan sisa menangis, sorot matanya memancarkan keberanian yang begitu tajam.
Hayden memicingkan mata, menyembunyikan keterpukauannya di balik kerutan kening yang dingin.
"Naik ke podium," perintah Hayden datar, memalingkan pandangannya kembali ke kanvas kosong di hadapannya.
Aluna tidak membantah. Ia melangkah mendekati podium kayu berbalut kain beludru hitam di tengah ruangan, lalu menaikinya.
"Duduk di kursi kayu itu," petunjuk Hayden lagi. "Miringkan tubuhmu tiga perempat ke arah kiri. Biarkan tangan kananmu bertumpu di sandaran kursi, dan tatap lurus ke arah kanvas ini."
Aluna mengikuti setiap instruksi dengan patuh. Ia duduk tegak, memiringkan posisinya, dan mengunci tatapannya tepat pada manik mata Hayden yang berada di balik kanvas.
"Jangan bergerak. Jangan mengubah posisi wajahmu sedikit pun," ucap Hayden dingin sembari mengangkat kuas pertamanya, mencelupkannya ke dalam campuran cat minyak warna cokelat tua dan hitam.
*
Keheningan yang pekat merayapi seluruh sudut studio perbukitan itu. Hanya terdengar gesekan lembut bulu kuas yang menari di atas kain kanvas kasar, serta helaan napas teratur dari mereka berdua. Angin sore yang berembus di luar menggoyangkan ranting-ranting pohon pinus, membiarkan bayangan dedaunan berbianglala di atas lantai semen.
Satu jam berlalu.
Tubuh Aluna mulai terasa pegal dan kaku. Duduk tanpa bergerak dalam satu posisi yang sama selama puluhan menit bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang tak pernah dilatih menjadi model. Otot-otot punggung dan lehernya berdenyut nyeri, namun Aluna enggan menyerah. Setiap kali rasa lelah menggoda tubuhnya untuk bersandar, ia mengingat raut wajah Hayden yang selalu meremehkannya. Ia menolak untuk memberikan Hayden alasan lagi untuk mengejeknya.
Hayden di balik kanvas terus menggoreskan warna demi warna. Matanya yang tajam bergerak cepat, bergantian antara menatap kanvas dan menguliti setiap detail wajah Aluna. Pria itu menyadari betapa gigihnya Aluna menahan rasa pegal pada tubuhnya. Bibir gadis itu terkatup rapat, dan punggungnya tetap tegak lurus meski ada getaran halus di jemarinya.
"Kamu boleh bernapas, Aluna. Kamu bukan patung batu," ujar Hayden tiba-tiba, memecah keheningan tanpa menghentikan goresan kuasnya.
Aluna menghembuskan napas panjang yang sempat ia tahan, namun posisinya tetap tidak berubah sedikit pun. "Aku tahu aturanmu. Kau bilang aku tidak boleh bergerak."
"Aku bilang jangan mengubah posisi, bukan melarangmu bernapas," balas Hayden dingin. "Kalau kamu pingsan karena kehabisan oksigen, itu hanya akan membuang-buang waktuku."
Aluna menelan ludah, mengatur deru napasnya agar lebih rileks. "Kakakku... operasinya berhasil," ucap Aluna pelan, tidak bisa menahan kebahagiaan yang membuncah di dadanya untuk diutarakan. "Dokter bilang pendarahannya sudah berhenti."
Goresan kuas Hayden terhenti sejenak di udara. Matanya melirik dari samping kanvas, menatap Aluna.
"Aku tahu," sahut Hayden singkat.
Aluna sedikit mengernyitkan kening. "Kau... kau tahu?"
"Dokter bedah yang memimpin operasi Romeo adalah kepala tim spesialis dari rumah sakit milik relasi keluargaku," jawab Hayden datar, kembali melanjutkan goresan catnya. "Aku yang meminta mereka menerjunkan tim terbaik untuk membedah kepala kakakmu. Mereka mengabari sekretarisku begitu operasi selesai."
Aluna terpaku. Jantungnya berdesir aneh. Di balik kata-kata kasarnya, sikap diktatornya, dan tatapannya yang penuh prasangka, Hayden ternyata memastikan sendiri bahwa Romeo mendapatkan penanganan terbaik yang bisa dibeli dengan uang.
"Kenapa kau melakukan itu?" bisik Aluna, suaranya melunak tanpa sadar. "Kau sangat membenciku, dan kau selalu mencaci Kak Romeo karena memanjakanku. Tapi kenapa kau sampai sejauh ini membantunya?"
Hayden menurunkan kuasnya. Ia melangkah keluar dari balik kanvas raksasa itu, berjalan perlahan mendekati podium tempat Aluna duduk. Langkah kakinya yang tenang terasa intimidatif saat jarak di antara mereka kian terkikis.
Hayden berhenti di tepi podium, mendongak sedikit untuk menatap Aluna yang duduk di atas kursi.
"Aku tidak membenci Romeo," kata Hayden, suaranya rendah dan dalam, bergema di ruangan yang sunyi. "Romeo adalah satu-satunya orang yang mendukung mimpi ku menjadi seniman. Saat semua orang meragukan ku, termasuk keluarga ku. Dia pria yang jujur dan pekerja keras."
Hayden memiringkan kepalanya, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Aluna.
"Yang tidak kusukai adalah caranya mendidikmu," lanjut Hayden tanpa ragu. "Dia menciptakan dunia fantasi yang begitu indah untukmu, membentengimu dari semua kotoran dan rasa sakit di luar sana. Dia membuatmu berpikir bahwa dunia ini adalah tempat bermain yang ramah untuk seorang putri."
Hayden mengulurkan tangannya. Jemari tangannya yang panjang dan ternoda sedikit bekas cat minyak mengusap dagu Aluna dengan lembut namun tegas, memaksa gadis itu tetap menatapnya.
"Dan lihat apa yang terjadi saat benteng itu runtuh hanya dalam semalam," bisik Hayden, tatapannya membakar tepat di depan wajah Aluna. "Kamu hancur. Kamu hampir menjual dirimu pada pria-pria asing hanya karena kamu tidak tahu cara lain untuk bertahan hidup."
Aluna merasakan desakan napas Hayden yang hangat menyapu kulit wajahnya. Jantungnya berdegup kencang—bukan lagi karena takut, melainkan karena getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan jemari Hayden di dagunya terasa begitu panas di tengah dinginnya studio.
Aluna memberanikan diri menepis pelan tangan Hayden dari dagunya, mempertahankan sisa jarak di antara mereka.
"Mungkin dulu aku memang gadis manja yang tak berguna seperti yang kau pikirkan," jawab Aluna dengan suara bergetar namun sarat akan keteguhan. "Tapi malam ini aku berdiri di sini. Aku tidak melari dari kenyataan, dan aku tidak mengemis bantuanmu secara cuma-cuma. Aku membayar tiap sen uangmu dengan harga diriku di studio ini. Jadi berhenti memandangku seolah aku ini korban yang menyedihkan."
Hayden memandangi tangan Aluna yang baru saja menepisnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat miring, membentuk senyuman tipis yang sangat samar—senyuman pertama yang memancarkan rasa ketertarikan yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Sikap penentang ini jauh lebih cocok untukmu daripada tangisan cengengmu yang tadi malam," gumam Hayden pelan, memutar tubuhnya dan kembali melangkah menuju tempat melukisnya.
Pria itu kembali mengambil kuas dan paletnya, menatap Aluna dari balik kanvas dengan binar mata yang kini berubah. Binar yang tidak lagi hanya melihat seorang objek lukis atau adik dari sahabatnya, melainkan melihat seorang wanita yang perlahan mulai menyalakan api di dalam hatinya yang dingin.
"Sesi pertama selesai pukul lima sore nanti," ujar Hayden kembali dengan nada formal dan dinginnya. "Setelah itu, kau boleh pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Romeo."
Aluna membenarkan posisinya di atas kursi, menyandarkan jemarinya pada kayu dingin, lalu menatap lurus ke arah Hayden. "Terima kasih, Hayden."
"Simpan terima kasihmu untuk besok," balas Hayden tanpa menoleh dari kanvasnya. "Karena perjalananmu untuk melunasi utang padaku... baru saja dimulai."
*
*
*
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna