NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Ulang Tahun (1)

##

"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ...."

Reyhan yang sedang makan kotak bekal di area karyawan, mendongak untuk melihat siapa pelaku yang sedang menyanyikannya lagu ulang tahun. Dia terkekeh, saat melihat teman-teman satu shift nya yang ada 5 orang membawa sebuah kue, berjalan ke arahnya.

Ini mereka benar-benar sedang merayakan hari ultahnya? Tumben sekali.

"Selamat ulang tahun Rey, aku sengaja bikin kue ini untuk kamu. Aku sampai bergadang semalam. Semoga kamu suka," ujar Sinta mendekat sembari membawa kue ulang tahun. "Aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu, untuk hal-hal yang kamu inginkan, untuk mimpi-mimpi yang kamu mau raih semoga terwujud."

"Iya, sorry Rey, gue gak kasih kado. Lagi boke nih, dirampok pacar. Selamat ulang tahun Bro, selamat memasuki usia 20 yaitu dewasa. Beban hidup lo makin banyak," ujar Ucok sambil ngakak.

Reyhan terkekeh saja. Mau sebanyak apa lagi yah, beban hidup dia? Apa akan bertambah lagi? Ini saja rasanya dia sudah ngos-ngosan menanggung beban hidup. Kemarin, dia lihat di aplikasi toktok yang fyp perkara banyak orang yang memilih menikah muda, daripada terlambat. Dia ketawa saja, terus ikut komen.

Nikah muda itu enak, kalau lo terlahir dari keluarga kaya. Gak usah kerja, masih bisa puas main tapi ada yang kekepin tiap malam, terus duit ngalir dari ortu. Beda yah, kalau lo semua miskin, jangan mau deh karena yang ada lu yang udah melarat tapi bawa anak orang hidup melarat. Mending bayar 20 ribu, buat puasin nafsu lu di area rel kereta api banyak yang mangkal, daripada nikah.

Setelah berkomentar itu, dia dihujat karena banyak yang tidak setuju, kaum-kaum yang masih menganggap menikah muda itu indah. Dia ketawa saja, malas meladeni biar alam saja nanti yang bekerja membuat mereka bisa merasakannya sendiri.

"Ngelamun mulu, ayo tiup lilin!"seru salah satu temannya yang lain.

"Ayo Rey, sekalian buat doa harapan," ujar Sinta masih memegang kue ulang tahunnya.

Reyhan mengangguk. "Ok." Kemudian dia memejamkan mata, berdoa yang kadang menurut dia tidak masuk akal karena berdoa di depan kue. Apa ini tidak termasuk musyrik, yah?

Tuhan, semoga kedepannya lebih baik. Saya punya banyak uang biar bisa bahagiain Ayana, biar gadis itu tidak terus hidup susah sama saya. Kasih pekerjaan yang gajinya sebulan udah bisa beli rumah. Amin.

Setelah itu, Reyhan membuka mata dan meniup lilinnya. Disusul oleh tepuk tangan teman-temannya.

"Rey, lo minta dapat momongan gak?" tanya Ucok yang langsung menghentikan tawa semua orang di sana.

"Ada-ada aja, minta nikah dulu baru minta momongan," seru Sinta yang baru sadar dari terkejutnya.

"Ngaco emang si Ucok, kalau isi otaknya selangkangan yah gini,"ujar yang lainnya.

"Nikah dulu Cuk, baru kawin!"

"Jangan samakan dengan gaya hidup lo yang udah kaya gaya renang!"

"Lah, emang itu anak udah nikah. Wajar dong, kalau sekarang lagi kawin mulu terus punya anak," jawab Ucok yang kembali membuat semua orang syok.

"Si--apa yang udah nikah?" tanya Sinta dengan suara bergetar.

"Rey, acungkan tangan! Udah saatnya lo jangan ngaku perjaka mulu!" seru Ucok semakin membuat semua orang syok.

Reyhan tertawa. "Kapan gue ngaku-ngaku perjaka, anjir! Gue bukan artis yang harus klarifikasi kalau udah nikah."

"Rey, ini bohong kan, kalau kamu udah nikah?" Sinta mundur ke belakang dengan wajah syok. Kuenya hampir jatuh, untung ada orang lain yang mengambilnya.

"Rey, lo udah nikah kapan?"

"Kok, gak undang kita? Padahal pas pertama kerja, lo bilang masih jomblo!"

Reyhan yang diberondong pertanyaan jadi bingung harus menjawab yang mana dulu. Dia menatap Ucok yang sedang ketawa meledeknya. Ini nih, yang tidak dia suka, kalau status pernikahan dia diumbar pasti akan jadi banyak pertanyaan.

Siapa yang juga tidak penasaran bila lelaki dua puluh tahun sudah menikah. Kebanyakan orang pasti berpikir hal mustahil, karena masih muda terus miskin, malah menambah beban hidup saja jika menikah. Jika tidak nekat atau kecelakaan yang hamil duluan yang terpaksa harus menikah, baru mungkin menikah muda.

"Udah beberapa bulan ini," jawab Reyhan canggung. "Emang gak ramean, cuman keluarga aja."

"Sorry, tekdung Rey?"

Reyhan menggeleng. "Enggak kok, biar lebih enak aja kemana-mana gak ada fitnah. Kan, udah halal enak yah mau main berdua sampai malam juga, kan udah jadi tanggung jawab kita bukan orangtuanya lagi."

Reyhan rasanya mau bertepuk tangan dengan keluwesan mulutnya dalam berbohong merangkai kata. Sangat terdengar dewasa sekali pasti. Dia bisa saja langsung menjadi panutan seorang lelaki dewasa sebelum waktunya, lelaki bertanggungjawab, romantis dan idaman. Padahal, kenyatannya dia ampas, kalau tidak terjadi insiden penggerebekan itu, mungkin dia juga masih menjadi salah satu orang yang akan menentang pernikahan usia masih muda.

Sekali lagi, pernikahan itu bukan perkara aku cinta kamu terus kita bersatu, semuanya akan selesai. Pernikahan itu adalah awal dari sebuah kehidupan baru, babak baru yang akan terjadi sangat lama bahkan mungkin sampai seumur hidup.

Bayangkan, seumur hidup harus tinggal satu atap dengan satu orang yang sama. Jika kita asal menikah karena tuntutan umur atau orang lain, menghabiskan hidup dengan orang yang sama dalam jangka waktu yang lama, jelas saja pasti akan merasa bosan. Walaupun, menikah dengan orang yang rasa kita tepat, usia yang matang dan pekerjaan yang mapan, tidak menjamin juga pernikahan akan bertahan selamanya. Semuanya tergantung kesiapan mental, kita sudah bisa belajar apa arti tanggungjawab. Jika nanti, sekalipun kita merasa bosan, kita akan mencari cara untuk menghilangkan rasa bosan itu karena kita harus bertanggungjawab dengan komitmen kita diawal.

"Lain kali, bawa ke sini. Mau lihat istri lo gimana. Anak bungsu kita semua, sudah dewasa. Bangga gue."

"Iya, Rey, kamu sudah dewasa," ujar Ucok yang sepertinya setengah meledek karena dia adalah orang yang tahu asal mula pernikahan ini bisa terjadi.

"Rey, cewek yang waktu itu istri kamu?" tanya Sinta dengan muka yang sudah terlihat pucat.

Reyhan mengangguk. "Iya, gue waktu itu ngaku pacar." Kemudian dia terkekeh tak enak karena tahu perasaan Sinta kepadanya.

"Aku ...."

"Ya udah, mending potong kuenya. Kita makan kue aja!" sela salah teman kerjanya yang lain.

(Males cari nama, guys) wkwk

"Gak!" teriak Sinta sembari mengambil kuenya dari teman kerjanya. "Kue ini gak jadi buat Reyhan."

"Sin," seru temannya yang lain.

"Kenapa? Aku yang bikin kuenya. Aku juga yang berhak ngambil kue ini kembali." Kemudian Sinta terisak, menatap Reyhan tajam. "Kamu jahat!"

Setelah itu, Sinta berlari sembari membawa kue pergi ke luar. Terdengar suara isakan dia yang semakin keras.

Semua orang terdiam, seperti bingung dengan apa yang terjadi. Lalu, setelah ini bagaimana? Kuenya sudah dibawa pergi.

"Gue jahat, yah?" tanya Reyhan, dia meringis merasa bersalah tapi kan, dari awal dia tidak pernah memberikan harapan?

"Udah lah, namanya juga cewek wajar sepertinya itu."

"Woi, kok lama amat! Ini banyak pelanggan, pada balik sini! Kue jatah gue bawa!" teriak Adam dari dalam minimarket. Memang tadi dia kalah suit, jadi terpaksa dia yang harus stand by di minimarket. Mana mungkin semua orang pergi, membiarkan minimarket kosong.

"Adam ngamuk, ayo cabut!"

"Kita bawain ee kucing aja buat dia," usul Ucok yang diangguki oleh semua orang sambil tertawa.

Setelah itu, mereka masuk ke dalam minimarket untuk kembali bekerja.

"Susah jadi cowok ganteng kaya gue, banyak yang suka," gumam Reyhan pada dirinya sendiri sambil tersenyum bangga.

Reyhan dan Ayana baru saja turun dari motor setelah pulang kerja, tiba-tiba dia melihat kedua teman kucrutnya dan Ara ada di depan kosannya.

"Selamat ulang tahun A Reyhan, semoga panjang umur, sehat selalu dan banyak rizkinya. Ayo, tiup lilinnya!"

Ara langsung mendekatkan kue di depan Reyhan untuk ditiup lilinnya. "Ayo A, tiup. Jangan lupa berdoa dulu."

Reyhan masih bingung, melihat kedua temannya.

"Tadi Ara bersikeras ajak kita ke sini mau kasih kue ultah buat lo. Dia bikin sendiri katanya," jawab Bima seakan tahu arah pertanyaan Reyhan lewat tatapannya.

Reyhan mengangguk mengerti. "Ok."

"Ayo, tiup A!" desak Ara lagi terlihat bersemangat.

Karena dia ingin menghargai usaha Ara, Reyhan akhirnya meniup lilinnya setelah berdoa. Dia merasa dejavu "Makasih."

"Selamat ulang tahun lagi yah, A."

Reyhan tersenyum. "Makasih Ara, biasanya gue gak pernah rayakan ulang tahun dapat kue gini, jadi ngerasa aneh."

"Jadi, ini kue ulang tahun pertama Aa seumur hidup?" tanya Ara bersemangat.

Reyhan tersenyum, kemudian menggeleng. "Bukan juga. Tadi di tempat kerja ada yang kasih juga. Walau diambil lagi." Lanjut Reyhan dalam hati.

"Ayana belum kasih?" tanya Ara tiba-tiba sadar ada Ayana di belakang dia.

Reyhan menoleh, melihat gadis itu di belakangnya, kemudian meraih tangan Ayana agar berada di sisinya.

"Ayana--"

Ayana menepis tangan Reyhan pelan. "Aku mau ke kamar mandi, dari tadi nahan pipis di jalan. Pamit semuanya."

Reyhan melihat Ayana, entah kenapa dia merasakan sesuatu yang mengganjal. Apa dia sudah membuat gadis itu marah? Padahal, saat di motor, Ayana masih semangat bercerita tapi barusan dia melihat gadis itu muram. Kenapa? Reyhan bertanya-tanya.

"Rey, udah dipake kado kita?" tanya Dion memecah suasana.

"Sialan!" maki Reyhan, dia baru ingat kejadian semalam Ayana yang menemukan kondom itu. Dia malu sekali.

"Enak?" Kali ini, Bima yang bertanya menggoda.

"Mati lo berdua!"

"Emangnya apa A, kadonya?" tanya Ara tiba-tiba menghentikan tawa teman-teman Reyhan itu.

"Tanya mereka aja," jawab Reyhan melihat Bima sombong. Dia tahu betapa Bima sangat menjaga Ara dari pergaulan bebas.

Bima terlihat kikuk. "Biasa urusan cowok. Cewek gak boleh tahu."

"Apaan sih, sok tiba-tiba misterius gitu."

"Mau tahu gak apaan?" tanya Dion yang langsung digeplak Bima. "Iya-iya, enggak. Gak jadi, soalnya ini urusan cowok kecuali kamu mau terima cinta Aa."

"Gak jelas." Ara mendelik tak suka. "Aku suka sama orang lain."

Melihat perdebatan dua orang itu, Reyhan menghela nafas berat. "Lo semua masih pada mau di sini?"

"Kenapa, lo ngusir?" tanya Bima.

"Capek banget berdiri, mau rebahan."

"Iya aku capek, bawa kue gini. Bawa, A Dion." Ara langsung menyerahkan kuenya ke Dion yang untung bisa langsung diterima cowok itu. "Kita langsung ke rumah A Bima, bibi udah masak."

"Hah?" Reyhan jelas tak mengerti. Melihat kedua temannya meminta jawaban lagi.

"Pas tahu lo lagi ulang tahun, ibu langsung masak katanya mau ikut rayakan juga. Ayo ke sana, ajak istri  lo sekalian," jawab Bima kembali tahu maksud tatapan Reyhan.

Reyhan mengangguk. "Repot-repot banget, padahal gue udah biasa gak dirayakan."

"Kata ibu, sekalian hitung-hitung syukuran pernikahan lo. Dia juga mau ketemu dan kenal istri lo."

Reyhan tersenyum, mungkin ini alasan dia mau berteman dengan Bima karena keluarganya memang sebaik itu. Dia dan Dion yang tidak pernah merasakan hangatnya keluarga, bisa mendapatkan kasih sayang itu sama seperti keluarganya itu memperlakukan Bima.

Beda dengan orangtuanya, bahkan tidak ada panggilan sama sekali di hari ulangtahunnya. Sebenarnya dia sudah biasa, tapi ada orang lain yang ingat dan merayakannya, tiba-tiba dia menjadi merasa sedih.

"Sebentar, gue ajak Ayana dulu. Duduk dulu sana di bangku. Gue mau mandi, bentar banget!"

Reyhan pergi masuk ke dalam meninggalkan tiga orang itu di luar. Mana mungkin juga dia menyuruh mereka masuk, karena dia sekarang sudah hidup berdua tidak seperti dulu yang membebaskan kedua temannya masuk bahkan menginap.

"Ay," panggil Reyhan saat melihat Ayana baru keluar dari kamar mandi terlihat segar.

Ayana hanya melirik Reyhan sebentar, kemudian mengabaikannya karena sudah sibuk duduk bermain ponsel.

Reyhan masih tidak mengerti, apa yang sudah terjadi? Apa salahnya?

"Ibu Bima, kamu pasti kenal, ngajak kita makan di rumahnya, dia udah masak sengaja rayakan ultah aku sekalian syukuran kecil-kecilan pernikahan kita kataknya."

"Ya udah," jawab Ayana bahkan sama sekali tidak melihat Reyhan.

"Kenapa sih? Pas pulang ada temen-temen aku, kamu kelihatan badmood." Reyhan mulai membuka kaosnya, kemudian celana panjangnya menyisakan boxer.

"Gak papa, capek aja," jawab Ayana datar, kembali tak melihat Reyhan sama sekali.

"Gak papa itu berarti gak papa kan?" Reyhan meraih handuk. "Ok, nanti kita ngobrol lagi setelah aku mandi. Anak-anak udah nunggu di luar itu, kamu siap-siap."

Reyhan tak mendengar jawaban Ayana karena dia sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi.

"Orang lain aja kamu kasih tahu ulang tahun kamu, tapi aku yang katanya istri kamu malah gak tahu sama sekali."

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!