Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 — Komandan Vesna
Fajar menyingsing dengan kabut tebal yang menyelimuti lembah tempat benteng Dravos berdiri, seolah alam sendiri memberikan penutup alami untuk operasi yang akan segera dimulai.
Kelompok kedua, dipimpin Tetua Falken, telah bergerak menuju posisi mereka di sisi barat benteng sejak sebelum fajar, bersiap untuk memulai gangguan yang akan mengalihkan perhatian penjaga.
Sementara itu, Kael, Seraphina, dan Theron merayap mendekati saluran drainase yang telah mereka identifikasi sehari sebelumnya, bergerak dengan hati-hati melalui bebatuan dan semak berduri yang menutupi jalur pendekatan mereka.
"Ini dia," Theron berbisik ketika mereka akhirnya mencapai mulut terowongan drainase, sebuah lubang gelap berdiameter cukup besar untuk dilalui satu orang dengan merunduk.
"Baunya tidak terlalu menyenangkan," Kael berkomentar pelan, mengintip ke dalam kegelapan terowongan yang membawa aroma lembap dan sedikit busuk.
"Aku sudah mencium yang lebih buruk," Seraphina menjawab dengan seringai kecil, mengingat pengalaman mereka bersama di Death Forest.
Mereka mulai merayap masuk, Theron memimpin karena dia yang paling familiar dengan struktur bawah tanah berdasarkan informasi terbatas yang berhasil dikumpulkan Tetua Elena.
Terowongan itu gelap dan sempit, memaksa mereka bergerak dengan hati-hati untuk menghindari suara yang bisa menarik perhatian.
Setelah sekitar sepuluh menit merayap dalam kegelapan, mereka mendengar suara ledakan jauh di kejauhan—tanda bahwa kelompok Tetua Falken telah memulai gangguan mereka sesuai rencana.
"Waktu kita mulai berjalan," Seraphina berbisik, mempercepat langkah mereka.
Terowongan akhirnya bercabang menjadi beberapa jalur, dan Theron berhenti sejenak untuk mempertimbangkan arah yang harus mereka ambil berdasarkan ingatannya tentang informasi dari medali pelacak.
"Ke kanan," dia akhirnya memutuskan.
"Seharusnya menuju ke area penjara bawah tanah."
Mereka mengikuti jalur itu, dan setelah beberapa menit lagi, mulai terdengar suara langkah kaki dan percakapan samar dari depan—tanda bahwa mereka mendekati area yang dijaga.
Kael memberikan sinyal untuk berhenti, mengintip dengan hati-hati ke depan.
Dua penjaga berdiri di persimpangan lorong, mengenakan zirah hitam dengan lambang yang sama seperti yang pernah Kael lihat pada medali Theron—lambang pengikut Dravos.
"Dua penjaga," Kael berbisik kepada yang lain.
"Aku akan menangani mereka secepat mungkin, tanpa suara."
Dia bergerak dengan kecepatan dan presisi yang telah dia latih sepanjang bulan-bulan terakhir, menyerang dari bayangan sebelum kedua penjaga itu sempat menyadari kehadirannya.
Dengan gerakan cepat, dia melumpuhkan keduanya dengan pukulan tepat di titik vital yang membuat mereka jatuh pingsan tanpa sempat mengeluarkan suara.
"Bersih," Kael berbisik, memberikan sinyal kepada Seraphina dan Theron untuk melanjutkan.
Mereka melewati lorong itu dan menemukan diri mereka di area yang jelas merupakan penjara bawah tanah—deretan sel-sel batu dengan pintu besi berkarat, sebagian besar tampak kosong meski beberapa menunjukkan tanda-tanda penghuni yang lebih baru.
"Lyanna!" Theron memanggil dengan bisikan tegang, matanya menyapu setiap sel yang mereka lewati.
Dari salah satu sel di ujung lorong, terdengar suara lemah menjawab. "Kakak? Apakah itu... apakah itu benar kau?"
Theron berlari ke arah suara itu, menemukan sosok gadis muda dengan rambut cokelat gelap yang kusut, wajahnya kotor namun matanya berbinar dengan harapan yang tiba-tiba muncul kembali.
"Lyanna," Theron berbisik dengan suara bergetar penuh emosi, meraih jeruji sel dengan tangan gemetar.
"Aku di sini. Aku datang untuk membawamu pulang."
Air mata mulai mengalir di wajah Lyanna. "Aku tahu kau akan datang. Aku selalu tahu."
Kael segera memeriksa mekanisme kunci sel itu, mencoba mencari cara tercepat untuk membukanya tanpa menimbulkan suara berlebihan. "Ini terkunci dengan sihir, bukan hanya kunci fisik biasa."
Seraphina mendekat, memeriksa kunci sihir itu dengan mata terlatihnya sebagai vampir kuno yang telah lama familiar dengan berbagai jenis sihir kuno. "Aku bisa membukanya, tapi butuh waktu beberapa menit untuk menembus lapisan pelindungnya dengan aman."
"Lakukan secepat mungkin," Kael berkata, matanya terus mengawasi lorong di belakang mereka untuk memastikan tidak ada penjaga lain yang mendekat.
Seraphina mulai bekerja, tangannya bergerak dengan gerakan rumit di sekitar kunci sihir itu sementara dia mengucapkan mantra pelan dalam bahasa kuno yang tidak dikenali Kael.
Perlahan, cahaya merah mulai muncul di sekitar tangannya, menyerap dan menetralkan energi pelindung kunci itu satu lapis demi satu lapis.
"Hampir selesai," dia berbisik setelah beberapa menit yang terasa sangat panjang bagi mereka semua.
Namun sebelum dia bisa menyelesaikan prosesnya, suara langkah kaki berat mulai terdengar dari lorong yang berlawanan arah dengan yang mereka lalui sebelumnya—jauh lebih banyak dari sekadar dua penjaga biasa.
"Seseorang datang," Kael berbisik tegang, mempersiapkan pedangnya. "Banyak orang."
Dari kegelapan lorong itu, muncul sesosok wanita tinggi mengenakan zirah gelap dengan aura kekuatan yang jauh melampaui penjaga biasa yang telah mereka temui sebelumnya, diikuti oleh setidaknya sepuluh prajurit bersenjata lengkap di belakangnya.
[Komandan Vesna — Tangan Kanan Dravos.]
[Perkiraan kekuatan: Soul Formation Realm.]
"Well, well," Komandan Vesna berkata dengan senyum dingin yang mengerikan, matanya menatap langsung ke arah Seraphina dengan pengenalan yang jelas.
"Sudah lama sekali, Seraphina Veyra. Aku tidak menyangka akan melihatmu berkeliaran bebas lagi setelah seribu tahun."
Seraphina menegang mendengar namanya disebut dengan familiar seperti itu, matanya menyipit mencoba mengenali sosok di hadapannya. "Kau... aku mengenalmu."
"Tentu saja kau mengenalku," Vesna menjawab dengan seringai yang semakin lebar.
"Aku salah satu yang membantu menyegelmu seribu tahun lalu, atas perintah Tuan Dravos yang mulia."
----
Pengakuan itu menghantam Seraphina seperti gelombang kejut, ingatan-ingatan yang telah lama terkubur mulai muncul kembali dengan jelas—wajah wanita ini, meski kini terlihat lebih tua dan lebih keras, adalah salah satu dari sekutu tepercayanya sendiri seribu tahun lalu, seseorang yang pernah dia percaya sepenuhnya sebelum pengkhianatan besar itu terjadi.
"Vesna," Seraphina berbisik, suaranya bergetar dengan campuran kemarahan dan rasa sakit hati yang mendalam.
"Kau salah satu penjaga terpercayaku. Bagaimana bisa kau berkhianat?"
"Berkhianat?" Vesna tertawa dingin, suaranya bergema di sepanjang lorong penjara bawah tanah itu.
"Aku hanya memilih pihak yang lebih menjanjikan masa depan, Seraphina. Dravos menawarkan visi tentang dunia di mana vampir tidak lagi bersembunyi dalam bayangan, sementara kau hanya menawarkan kompromi yang lemah dengan ras-ras yang memandang kita sebagai monster."
"Visi yang dia tawarkan hanyalah kehancuran dan penindasan!" Seraphina membalas dengan kemarahan yang mulai memuncak.
"Berapa banyak nyawa yang sudah dikorbankan untuk ambisi kosong itu?"
"Nyawa yang dikorbankan demi tujuan yang lebih besar bukanlah pengorbanan sia-sia," Vesna menjawab dengan nada dingin yang menunjukkan betapa dalamnya dia telah tenggelam dalam ideologi Dravos.
"Tapi cukup nostalgia untuk hari ini. Aku punya tugas untuk memastikan kalian tidak berhasil membebaskan tawanan ini."
Dia memberikan sinyal kepada pasukannya, dan sepuluh prajurit bersenjata itu mulai bergerak maju dengan formasi yang jelas terlatih untuk pertarungan kelompok.
"Seraphina, selesaikan membuka kunci itu," Kael berkata cepat, melangkah maju untuk menghadapi ancaman yang mendekat.
"Theron, lindungi dia. Aku akan menahan mereka."
"Kau tidak bisa menghadapi mereka semua sendirian," Theron memperingatkan, meski dia tahu situasinya membutuhkan pembagian tugas yang cepat dan efektif.
"Aku tidak berencana menghadapi mereka semua," Kael menjawab dengan senyum tipis yang menyembunyikan ketegangan di baliknya.
"Hanya cukup lama untuk memberi waktu bagi Seraphina menyelesaikan pekerjaannya."
Dia melesat maju, menghunus pedangnya dengan Tebasan Seribu Prajurit yang telah dia kuasai dengan baik, menyerang formasi prajurit itu dengan kecepatan dan presisi yang mengejutkan mereka.
[Adaptation terhadap Formasi Pertarungan Kelompok: 12%.]
Prajurit-prajurit itu, meski terlatih, tidak siap menghadapi kombinasi kecepatan dan kekuatan yang dibawa Kael.
Satu per satu, mereka mulai tumbang, meski jumlah mereka yang banyak membuat Kael harus terus bergerak tanpa henti untuk menghindari dikepung dari berbagai sisi sekaligus.
Vesna mengamati pertarungan itu dengan mata menyipit, mulai menyadari bahwa pemuda di hadapannya bukanlah lawan biasa.
"Kau punya bakat yang menarik," katanya, mulai melangkah maju untuk bergabung dalam pertarungan secara langsung.
"Tidak heran Tuan Dravos begitu tertarik dengan darahmu."
Dia menyerang dengan kecepatan yang jauh melampaui prajurit biasa, tangannya yang dialiri energi gelap menyambar ke arah Kael dengan kekuatan yang mengingatkannya pada Theron ketika masih di bawah kendali Dravos, namun jauh lebih terkontrol dan mematikan.
[Peringatan: Soul Formation Realm terdeteksi. Perbedaan kekuatan signifikan.]
Kael merasakan perbedaan kekuatan itu dengan jelas saat serangan pertama Vesna berhasil menembus pertahanannya, mengirimkan rasa sakit tajam yang jauh lebih intens dari apa pun yang pernah dia rasakan dalam pertarungan sebelumnya.
"Kael!" Seraphina berteriak khawatir, meski tangannya tetap fokus menyelesaikan proses membuka kunci sihir yang hampir selesai.
"Aku baik-baik saja," Kael berkata melalui gigi yang terkatup menahan rasa sakit, meski Absolute Regeneration bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk mengimbangi kerusakan yang diterimanya.
[Absolute Regeneration bekerja ekstra keras.]
[Adaptation terhadap teknik Vesna: 18%.]
Vesna melancarkan serangan lain, dan kali ini Kael berhasil menghindar dengan lebih baik, mulai memahami pola pergerakan energi gelapnya yang mirip dengan yang pernah dia rasakan dari Theron, meski jauh lebih matang dan terkontrol.
"Tepat pada waktunya!" Seraphina tiba-tiba berseru, dan suara klik keras terdengar saat kunci sel akhirnya terbuka sepenuhnya.
Theron segera masuk, menarik Lyanna keluar dari sel dengan pelukan erat penuh emosi.
"Kita harus pergi sekarang," katanya, meski matanya menatap khawatir ke arah pertarungan Kael melawan Vesna yang semakin intens.
"Bawa dia pergi melalui jalur yang sama," Kael berkata di sela-sela pertarungannya, "aku akan menyusul secepat mungkin!"
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian melawannya!" Seraphina membalas tegas, mulai bergerak untuk bergabung dalam pertarungan meski dia tahu kekuatannya belum sepenuhnya pulih.
"Seraphina," Vesna berkata dengan seringai yang semakin lebar melihat kedatangannya, "sudah lama aku menantikan kesempatan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya selesai seribu tahun lalu."
Pertarungan berubah menjadi dua lawan satu, dan meski Vesna masih memiliki keunggulan kekuatan mentah, kombinasi antara adaptasi cepat Kael dan pengalaman tempur Seraphina yang mulai kembali sepenuhnya membuat keseimbangan pertarungan mulai bergeser.
Namun di tengah pertarungan sengit itu, sebuah suara dingin dan berwibawa tiba-tiba menggema di sepanjang lorong penjara, membuat semua orang yang hadir membeku sesaat.
"Cukup, Vesna," suara itu berkata, dan dari ujung lorong, sesosok pria tinggi dengan jubah hitam elegan melangkah keluar dari bayangan, matanya yang merah menyala menatap langsung ke arah Kael dan Seraphina dengan campuran minat dan kepuasan yang mendalam.
"Akhirnya," Dravos berkata dengan senyum yang mengerikan, "kita bertemu langsung, Kael. Dan Seraphina sayangku, sudah lama sekali."