Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Wusss.
Angin pagi berhembus melewati koridor lantai dua SMA Garuda.
Suasana kelas sebelas IPS dua sudah sangat riuh meskipun bel masuk belum berbunyi.
Beberapa murid tampak berkerumun di meja Bagas.
"Kalian udah baca berita pagi ini belum?" tanya Bagas dengan nada heboh.
"Berita apaan sih, Gas? Ada artis cerai lagi?" tebak Reno sambil mengunyah permen karet.
"Bukan artis, bodoh, tapi berita soal peretas tingkat dewa!" sahut Bagas sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Nih, baca sendiri tajuk beritanya."
Reno dan beberapa murid lain langsung mendekatkan kepala mereka ke layar ponsel Bagas.
"Perusahaan teknologi raksasa Nusantara Jaya Tech dibobol oleh peretas anonim bernama Blank." Reno membaca tajuk berita itu dengan suara keras.
"Gila, perusahaan sebesar itu bisa dibobol?" tanya seorang siswi dengan wajah tidak percaya.
"Bukan cuma dibobol, si Blank ini kabarnya bawa kabur uang dua puluh lima juta rupiah tanpa bisa dilacak sama sekali," jelas Bagas dengan mata berbinar kagum.
"Polisi siber aja sampai turun tangan, tapi mereka kehilangan jejaknya di server luar negeri."
Tommy melangkah masuk ke dalam kelas tepat saat Reno sedang membacakan berita tersebut.
Ia berjalan dengan kepala menunduk seperti biasa menuju bangkunya di sudut belakang.
"Eh, Tom, lo tahu berita soal hacker Blank ini gak?" panggil Bagas tiba-tiba.
"Hacker itu apa, Gas?" tanya Tommy dengan wajah polos tanpa dosa.
"Hacker itu tukang retas komputer, masa gitu aja lo gak tahu sih?" jawab Reno sambil mendengus kesal.
"Otak lo isinya cuma angin doang ya, Tom?" ejek Bagas yang langsung disambut tawa seisi kelas.
"Maaf, Gas, aku jarang nonton berita," ucap Tommy sambil duduk dan meletakkan tasnya.
Di dalam hatinya, Tommy tertawa sangat keras melihat wajah kagum Bagas terhadap sosok Blank.
"Kalau saja Bagas tahu siapa Blank sebenarnya, dia pasti sudah pingsan," batin Tommy geli.
Identitas rahasianya rupanya sudah masuk ke berita nasional, dan ini berarti ia harus lebih berhati-hati.
Ia tidak bisa lagi pergi ke warnet Berkah Net karena polisi mungkin mulai memantau aktivitas mencurigakan di area publik.
"Tugas kelompok sejarah kumpulkan besok ya, jangan lupa!" Suara Nadin tiba-tiba terdengar lantang dari depan kelas.
Ketua kelas yang cantik dan pintar itu berjalan menghampiri meja Tommy dengan membawa selembar kertas fotokopi.
"Tom, ini bagian materi yang harus lo kerjain buat kelompok kita," ucap Nadin sambil menyodorkan kertas itu.
"Aku harus ngerjain apa, Din?" tanya Tommy sambil menerima kertas tersebut.
"Lo baca teks di kertas itu, terus jawab lima pertanyaan di bagian bawahnya."
"Nanti sore lo kasih jawabannya ke gue biar bisa gue ketik dan masukin ke makalah utama."
Tommy melihat lima pertanyaan itu sekilas dan langsung menyadari adanya sesuatu yang janggal.
"Baik, Din, nanti sore aku kerjakan," jawab Tommy sambil tersenyum canggung.
"Awas aja kalau jawaban lo ngawur lagi kayak biasanya," ancam Nadin dengan tatapan tajam.
"Iya, Din, aku usahakan yang terbaik," balas Tommy patuh.
Nadin mengangguk pelan lalu berbalik kembali ke bangkunya.
Saat Nadin sudah menjauh, mata Tommy memindai kelima pertanyaan itu dengan sangat teliti.
Berkat ingatan fotografisnya, ia langsung mengenali pertanyaan nomor tiga.
"Jelaskan dampak ekonomi dari blokade laut Belanda terhadap inflasi lokal," gumam Tommy di dalam hatinya.
Ini adalah pertanyaan yang sama persis dengan soal analisis nomor empat puluh di ujian sejarah kemarin.
Soal yang sengaja ia jawab dengan benar untuk mencapai nilai enam puluh.
"Gadis ini rupanya sedang memasang perangkap untukku," batin Tommy sambil tersenyum tipis.
Jika Tommy menjawab pertanyaan ini dengan sangat analitis dan cerdas seperti di lembar ujiannya, Nadin pasti akan tahu bahwa Tommy menyembunyikan kecerdasannya.
Namun jika Tommy menjawabnya dengan sangat bodoh, Nadin akan semakin curiga bagaimana mungkin Tommy bisa menjawab soal UTS itu dengan benar.
"Dia memaksaku ke sudut yang sempit," pikir Tommy.
Ia melirik ke arah Dito yang duduk diam di bangku depannya.
"Tapi Nadin lupa kalau aku punya bidak catur lain di kelas ini," gumam Tommy pelan.
Kringgg!
Bel tanda masuk berbunyi dan pelajaran pertama pun dimulai.
Waktu terasa berjalan cepat hingga akhirnya bel pulang sekolah membebaskan para murid dari rasa bosan.
Tommy tidak langsung pulang ke rumah, melainkan naik angkutan umum menuju pusat perbelanjaan elektronik di tengah kota.
Suasana pusat elektronik itu sangat ramai dengan suara musik yang saling bersahutan dari berbagai toko.
Tommy berjalan menyusuri lorong-lorong sempit mencari toko komputer bekas yang terpercaya.
Ia tidak bisa membeli komputer baru yang mewah karena uangnya harus dihemat.
"Bang, ada prosesor i7 generasi kedelapan kondisi bekas tapi masih normal?" tanya Tommy kepada seorang penjaga toko berkacamata.
"Ada, Dek, mau dirakit sekalian atau beli pretelan?" tawar penjaga toko tersebut.
"Pretelan saja, Bang, tolong siapkan juga RAM enam belas giga dan motherboard yang kompatibel ya."
Penjaga toko itu sedikit terkejut mendengar pesanan Tommy yang sangat spesifik untuk anak SMA.
"Paham komputer juga kamu ternyata, tunggu sebentar ya," ucap penjaga itu sambil masuk ke gudang belakang.
Dengan sisa uang lima belas juta di rekening virtualnya, Tommy menghabiskan sekitar empat juta rupiah untuk membeli semua komponen yang ia butuhkan.
Mulai dari unit catu daya, kartu grafis bekas, hingga monitor LED dua puluh empat inci.
Ia meminta penjaga toko mengemas semuanya ke dalam satu kardus besar yang kuat.
Setelah membayar menggunakan uang tunai hasil tarik tunainya kemarin, Tommy segera pulang dengan menumpang ojek.
Setibanya di rumah, ibunya sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan ringan yang akan dijual esok hari.
Tommy mengangkat kardus besar itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Bruk!
Ia meletakkan kardus itu di lantai dan mulai mengeluarkan komponen komputer satu per satu.
"Sistem, bantu aku merakit ini dengan efisiensi maksimal," batin Tommy.
Meskipun ia tidak memiliki keahlian perakitan komputer dari sistem, IQ-nya yang mencapai seratus delapan membuatnya bisa membaca buku panduan dengan sekali kedip.
Otaknya langsung memahami alur kabel, penempatan pin, dan sistem pendingin udara yang optimal.
Tak! Klik! Srak!
Tangan Tommy bergerak lincah menyatukan semua komponen itu ke dalam casing hitam bekas yang ia beli.
Hanya dalam waktu empat puluh menit, sebuah komputer berspesifikasi lumayan tinggi sudah berdiri di atas meja belajarnya.
Wunggg.
Lampu indikator menyala biru terang saat Tommy menekan tombol daya.
Suara kipasnya terdengar sangat halus, jauh berbeda dengan mesin tua di warnet langganannya.
"Sempurna," gumam Tommy dengan senyum puas.
Ia menghubungkan komputernya ke jaringan internet nirkabel dari ponsel murahnya.
Dengan bantuan keahlian kriptografi, ia langsung membuat dinding api pribadinya sendiri berlapis-lapis.
"Sekarang aku tidak perlu lagi keluar rumah untuk menjadi Blank," batin Tommy.
Setelah komputernya siap, Tommy mengambil kertas tugas dari Nadin.
Ia mengambil pulpen dan mulai menulis jawaban untuk kelima pertanyaan tersebut.
Tentu saja, ia menulisnya dengan gaya bahasa yang berantakan dan pemahaman yang sangat cetek.
Untuk pertanyaan nomor tiga yang merupakan jebakan Nadin, Tommy sengaja menulis jawaban yang benar-benar konyol.
"Dampak ekonominya adalah rakyat jadi susah makan dan harus berhutang ke lintah darat," tulis Tommy di kertas itu.
Jawaban yang sangat emosional dan tidak ilmiah sama sekali.
Keesokan paginya di sekolah, Tommy menyerahkan kertas tugas itu kepada Nadin sebelum bel masuk berbunyi.
"Ini tugasku, Din, sudah selesai semua," ucap Tommy sambil meletakkan kertas itu di meja Nadin.
Nadin langsung mengambil kertas itu dan membaca jawabannya dengan mata memicing tajam.
Raut wajah ketua kelas itu perlahan berubah menjadi kekecewaan dan kecurigaan yang memuncak.
"Tom, bisa jelaskan apa maksud jawaban nomor tiga ini?" tanya Nadin dengan nada dingin.
"Kenapa, Din? Salah ya?" jawab Tommy sambil menggaruk kepalanya.
"Bukan cuma salah, ini bodoh sekali!" bentak Nadin pelan agar tidak didengar murid lain.
"Di UTS kemarin, lo bisa jawab soal tentang blokade ekonomi dengan sangat rinci dan sempurna."
"Kenapa sekarang jawaban lo malah kayak anak SD begini?" desak Nadin menatap tajam ke mata Tommy.
Tommy sudah menyiapkan ekspresi panik dan gugup yang sangat meyakinkan berkat skill manipulasinya.
"I-itu... sebenarnya pas UTS kemarin aku nyontek, Din," jawab Tommy dengan suara pelan dan kepala tertunduk malu.
Nadin terbelalak kaget mendengar pengakuan jujur yang tidak terduga itu.
"Lo nyontek?" tanya Nadin tidak percaya. "Sama siapa?"
"Sama aku, Din," potong sebuah suara dari arah belakang Tommy.
Dito berdiri di sana dengan wajah sedikit menunduk sambil meremas ujung kemeja seragamnya.
"Maksud lo apa, To?" Nadin beralih menatap Dito dengan dahi berkerut.
"Pas UTS kemarin, kertas catetanku sempat jatuh ke lantai waktu aku mau ambil penghapus," jelas Dito dengan suara bergetar yang sangat pas dengan karakternya.
"Tommy kebetulan melihat catetanku dan menyalin beberapa jawaban darinya sebelum aku ambil lagi."
Dito menatap Nadin dengan pandangan memohon.
"Tolong jangan laporkan aku ke Pak Budi, Din, aku tidak sengaja menjatuhkannya."
Nadin terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan masuk akal tersebut.
Ia menatap Dito yang penakut, lalu menatap Tommy yang terlihat bodoh dan pasrah.
Logikanya langsung menyusun kepingan teka-teki itu dengan sangat mulus.
"Jadi begitu rupanya," gumam Nadin di dalam hatinya sambil menghela napas panjang.
"Pantas saja jawaban Tommy yang benar adalah jawaban tingkat tinggi semua."
"Dia tidak sengaja menyalin bagian analisis dari catatan Dito, sementara soal dasar yang gampang ia kerjakan sendiri dengan otaknya yang bodoh."
Rasa curiga yang selama ini mengganjal di hati Nadin seketika luntur menjadi rasa kasihan dan sedikit jengkel.
"Lain kali lo belajar yang bener dong, Tom, jangan ngandelin nyontek terus," omel Nadin dengan nada yang sudah lebih kendur.
"Iya, Din, maafkan aku," ucap Tommy dengan wajah menyesal.
"Dan lo, To, hati-hati kalau simpan barang pas ujian," Nadin memperingatkan Dito sebelum kembali duduk di bangkunya.
Tommy dan Dito saling bertukar pandang sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tommy memberikan isyarat kedipan mata yang sangat cepat sebelum kembali ke bangkunya sendiri.
"Kerja bagus, Dito," batin Tommy memuji sekutu pertamanya itu.
Tadi pagi sebelum masuk kelas, Tommy sudah mencegat Dito dan memintanya mengikuti skenario ini jika Nadin bertanya.
Dito yang merasa berutang budi pada Tommy langsung menyanggupinya tanpa banyak tanya.
Ting!
Suara sistem berbunyi jernih di telinga Tommy saat ia duduk di kursinya.
[MISI TERSEMBUNYI SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil menggagalkan jebakan intelektual dan menciptakan alibi sempurna menggunakan saksi palsu.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +3 poin.]
[Poin Sistem bertambah +20 PS.]
[IQ Saat Ini: 108 Kategori: Rata-rata Atas]
[Poin Sistem Saat Ini: 80 PS]
Tommy tersenyum sangat tipis melihat peningkatan statusnya.
Ia berhasil mengelabui murid terpintar di kelas sekaligus menjaga identitas rahasianya tetap aman.
Dengan IQ seratus delapan, otaknya kini sudah berada di atas batas normal manusia rata-rata.
Namun ia tahu bahwa musuh sesungguhnya bukanlah Nadin yang hanya ingin mencari tahu kebenaran.
Musuh sesungguhnya adalah dunia luar yang kini mulai memburu sosok peretas bernama Blank.
"Biarkan mereka mencariku," batin Tommy sambil memutar pulpen di jari-jarinya.
"Semakin mereka mencariku, semakin banyak panggung yang bisa aku gunakan untuk mengeruk keuntungan."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇