NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Wusss.

Angin pagi berhembus melewati koridor lantai dua SMA Garuda.

Suasana kelas sebelas IPS dua sudah sangat riuh meskipun bel masuk belum berbunyi.

Beberapa murid tampak berkerumun di meja Bagas.

"Kalian udah baca berita pagi ini belum?" tanya Bagas dengan nada heboh.

"Berita apaan sih, Gas? Ada artis cerai lagi?" tebak Reno sambil mengunyah permen karet.

"Bukan artis, bodoh, tapi berita soal peretas tingkat dewa!" sahut Bagas sambil menunjukkan layar ponselnya.

"Nih, baca sendiri tajuk beritanya."

Reno dan beberapa murid lain langsung mendekatkan kepala mereka ke layar ponsel Bagas.

"Perusahaan teknologi raksasa Nusantara Jaya Tech dibobol oleh peretas anonim bernama Blank." Reno membaca tajuk berita itu dengan suara keras.

"Gila, perusahaan sebesar itu bisa dibobol?" tanya seorang siswi dengan wajah tidak percaya.

"Bukan cuma dibobol, si Blank ini kabarnya bawa kabur uang dua puluh lima juta rupiah tanpa bisa dilacak sama sekali," jelas Bagas dengan mata berbinar kagum.

"Polisi siber aja sampai turun tangan, tapi mereka kehilangan jejaknya di server luar negeri."

Tommy melangkah masuk ke dalam kelas tepat saat Reno sedang membacakan berita tersebut.

Ia berjalan dengan kepala menunduk seperti biasa menuju bangkunya di sudut belakang.

"Eh, Tom, lo tahu berita soal hacker Blank ini gak?" panggil Bagas tiba-tiba.

"Hacker itu apa, Gas?" tanya Tommy dengan wajah polos tanpa dosa.

"Hacker itu tukang retas komputer, masa gitu aja lo gak tahu sih?" jawab Reno sambil mendengus kesal.

"Otak lo isinya cuma angin doang ya, Tom?" ejek Bagas yang langsung disambut tawa seisi kelas.

"Maaf, Gas, aku jarang nonton berita," ucap Tommy sambil duduk dan meletakkan tasnya.

Di dalam hatinya, Tommy tertawa sangat keras melihat wajah kagum Bagas terhadap sosok Blank.

"Kalau saja Bagas tahu siapa Blank sebenarnya, dia pasti sudah pingsan," batin Tommy geli.

Identitas rahasianya rupanya sudah masuk ke berita nasional, dan ini berarti ia harus lebih berhati-hati.

Ia tidak bisa lagi pergi ke warnet Berkah Net karena polisi mungkin mulai memantau aktivitas mencurigakan di area publik.

"Tugas kelompok sejarah kumpulkan besok ya, jangan lupa!" Suara Nadin tiba-tiba terdengar lantang dari depan kelas.

Ketua kelas yang cantik dan pintar itu berjalan menghampiri meja Tommy dengan membawa selembar kertas fotokopi.

"Tom, ini bagian materi yang harus lo kerjain buat kelompok kita," ucap Nadin sambil menyodorkan kertas itu.

"Aku harus ngerjain apa, Din?" tanya Tommy sambil menerima kertas tersebut.

"Lo baca teks di kertas itu, terus jawab lima pertanyaan di bagian bawahnya."

"Nanti sore lo kasih jawabannya ke gue biar bisa gue ketik dan masukin ke makalah utama."

Tommy melihat lima pertanyaan itu sekilas dan langsung menyadari adanya sesuatu yang janggal.

"Baik, Din, nanti sore aku kerjakan," jawab Tommy sambil tersenyum canggung.

"Awas aja kalau jawaban lo ngawur lagi kayak biasanya," ancam Nadin dengan tatapan tajam.

"Iya, Din, aku usahakan yang terbaik," balas Tommy patuh.

Nadin mengangguk pelan lalu berbalik kembali ke bangkunya.

Saat Nadin sudah menjauh, mata Tommy memindai kelima pertanyaan itu dengan sangat teliti.

Berkat ingatan fotografisnya, ia langsung mengenali pertanyaan nomor tiga.

"Jelaskan dampak ekonomi dari blokade laut Belanda terhadap inflasi lokal," gumam Tommy di dalam hatinya.

Ini adalah pertanyaan yang sama persis dengan soal analisis nomor empat puluh di ujian sejarah kemarin.

Soal yang sengaja ia jawab dengan benar untuk mencapai nilai enam puluh.

"Gadis ini rupanya sedang memasang perangkap untukku," batin Tommy sambil tersenyum tipis.

Jika Tommy menjawab pertanyaan ini dengan sangat analitis dan cerdas seperti di lembar ujiannya, Nadin pasti akan tahu bahwa Tommy menyembunyikan kecerdasannya.

Namun jika Tommy menjawabnya dengan sangat bodoh, Nadin akan semakin curiga bagaimana mungkin Tommy bisa menjawab soal UTS itu dengan benar.

"Dia memaksaku ke sudut yang sempit," pikir Tommy.

Ia melirik ke arah Dito yang duduk diam di bangku depannya.

"Tapi Nadin lupa kalau aku punya bidak catur lain di kelas ini," gumam Tommy pelan.

Kringgg!

Bel tanda masuk berbunyi dan pelajaran pertama pun dimulai.

Waktu terasa berjalan cepat hingga akhirnya bel pulang sekolah membebaskan para murid dari rasa bosan.

Tommy tidak langsung pulang ke rumah, melainkan naik angkutan umum menuju pusat perbelanjaan elektronik di tengah kota.

Suasana pusat elektronik itu sangat ramai dengan suara musik yang saling bersahutan dari berbagai toko.

Tommy berjalan menyusuri lorong-lorong sempit mencari toko komputer bekas yang terpercaya.

Ia tidak bisa membeli komputer baru yang mewah karena uangnya harus dihemat.

"Bang, ada prosesor i7 generasi kedelapan kondisi bekas tapi masih normal?" tanya Tommy kepada seorang penjaga toko berkacamata.

"Ada, Dek, mau dirakit sekalian atau beli pretelan?" tawar penjaga toko tersebut.

"Pretelan saja, Bang, tolong siapkan juga RAM enam belas giga dan motherboard yang kompatibel ya."

Penjaga toko itu sedikit terkejut mendengar pesanan Tommy yang sangat spesifik untuk anak SMA.

"Paham komputer juga kamu ternyata, tunggu sebentar ya," ucap penjaga itu sambil masuk ke gudang belakang.

Dengan sisa uang lima belas juta di rekening virtualnya, Tommy menghabiskan sekitar empat juta rupiah untuk membeli semua komponen yang ia butuhkan.

Mulai dari unit catu daya, kartu grafis bekas, hingga monitor LED dua puluh empat inci.

Ia meminta penjaga toko mengemas semuanya ke dalam satu kardus besar yang kuat.

Setelah membayar menggunakan uang tunai hasil tarik tunainya kemarin, Tommy segera pulang dengan menumpang ojek.

Setibanya di rumah, ibunya sedang pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan ringan yang akan dijual esok hari.

Tommy mengangkat kardus besar itu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

Bruk!

Ia meletakkan kardus itu di lantai dan mulai mengeluarkan komponen komputer satu per satu.

"Sistem, bantu aku merakit ini dengan efisiensi maksimal," batin Tommy.

Meskipun ia tidak memiliki keahlian perakitan komputer dari sistem, IQ-nya yang mencapai seratus delapan membuatnya bisa membaca buku panduan dengan sekali kedip.

Otaknya langsung memahami alur kabel, penempatan pin, dan sistem pendingin udara yang optimal.

Tak! Klik! Srak!

Tangan Tommy bergerak lincah menyatukan semua komponen itu ke dalam casing hitam bekas yang ia beli.

Hanya dalam waktu empat puluh menit, sebuah komputer berspesifikasi lumayan tinggi sudah berdiri di atas meja belajarnya.

Wunggg.

Lampu indikator menyala biru terang saat Tommy menekan tombol daya.

Suara kipasnya terdengar sangat halus, jauh berbeda dengan mesin tua di warnet langganannya.

"Sempurna," gumam Tommy dengan senyum puas.

Ia menghubungkan komputernya ke jaringan internet nirkabel dari ponsel murahnya.

Dengan bantuan keahlian kriptografi, ia langsung membuat dinding api pribadinya sendiri berlapis-lapis.

"Sekarang aku tidak perlu lagi keluar rumah untuk menjadi Blank," batin Tommy.

Setelah komputernya siap, Tommy mengambil kertas tugas dari Nadin.

Ia mengambil pulpen dan mulai menulis jawaban untuk kelima pertanyaan tersebut.

Tentu saja, ia menulisnya dengan gaya bahasa yang berantakan dan pemahaman yang sangat cetek.

Untuk pertanyaan nomor tiga yang merupakan jebakan Nadin, Tommy sengaja menulis jawaban yang benar-benar konyol.

"Dampak ekonominya adalah rakyat jadi susah makan dan harus berhutang ke lintah darat," tulis Tommy di kertas itu.

Jawaban yang sangat emosional dan tidak ilmiah sama sekali.

Keesokan paginya di sekolah, Tommy menyerahkan kertas tugas itu kepada Nadin sebelum bel masuk berbunyi.

"Ini tugasku, Din, sudah selesai semua," ucap Tommy sambil meletakkan kertas itu di meja Nadin.

Nadin langsung mengambil kertas itu dan membaca jawabannya dengan mata memicing tajam.

Raut wajah ketua kelas itu perlahan berubah menjadi kekecewaan dan kecurigaan yang memuncak.

"Tom, bisa jelaskan apa maksud jawaban nomor tiga ini?" tanya Nadin dengan nada dingin.

"Kenapa, Din? Salah ya?" jawab Tommy sambil menggaruk kepalanya.

"Bukan cuma salah, ini bodoh sekali!" bentak Nadin pelan agar tidak didengar murid lain.

"Di UTS kemarin, lo bisa jawab soal tentang blokade ekonomi dengan sangat rinci dan sempurna."

"Kenapa sekarang jawaban lo malah kayak anak SD begini?" desak Nadin menatap tajam ke mata Tommy.

Tommy sudah menyiapkan ekspresi panik dan gugup yang sangat meyakinkan berkat skill manipulasinya.

"I-itu... sebenarnya pas UTS kemarin aku nyontek, Din," jawab Tommy dengan suara pelan dan kepala tertunduk malu.

Nadin terbelalak kaget mendengar pengakuan jujur yang tidak terduga itu.

"Lo nyontek?" tanya Nadin tidak percaya. "Sama siapa?"

"Sama aku, Din," potong sebuah suara dari arah belakang Tommy.

Dito berdiri di sana dengan wajah sedikit menunduk sambil meremas ujung kemeja seragamnya.

"Maksud lo apa, To?" Nadin beralih menatap Dito dengan dahi berkerut.

"Pas UTS kemarin, kertas catetanku sempat jatuh ke lantai waktu aku mau ambil penghapus," jelas Dito dengan suara bergetar yang sangat pas dengan karakternya.

"Tommy kebetulan melihat catetanku dan menyalin beberapa jawaban darinya sebelum aku ambil lagi."

Dito menatap Nadin dengan pandangan memohon.

"Tolong jangan laporkan aku ke Pak Budi, Din, aku tidak sengaja menjatuhkannya."

Nadin terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan masuk akal tersebut.

Ia menatap Dito yang penakut, lalu menatap Tommy yang terlihat bodoh dan pasrah.

Logikanya langsung menyusun kepingan teka-teki itu dengan sangat mulus.

"Jadi begitu rupanya," gumam Nadin di dalam hatinya sambil menghela napas panjang.

"Pantas saja jawaban Tommy yang benar adalah jawaban tingkat tinggi semua."

"Dia tidak sengaja menyalin bagian analisis dari catatan Dito, sementara soal dasar yang gampang ia kerjakan sendiri dengan otaknya yang bodoh."

Rasa curiga yang selama ini mengganjal di hati Nadin seketika luntur menjadi rasa kasihan dan sedikit jengkel.

"Lain kali lo belajar yang bener dong, Tom, jangan ngandelin nyontek terus," omel Nadin dengan nada yang sudah lebih kendur.

"Iya, Din, maafkan aku," ucap Tommy dengan wajah menyesal.

"Dan lo, To, hati-hati kalau simpan barang pas ujian," Nadin memperingatkan Dito sebelum kembali duduk di bangkunya.

Tommy dan Dito saling bertukar pandang sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tommy memberikan isyarat kedipan mata yang sangat cepat sebelum kembali ke bangkunya sendiri.

"Kerja bagus, Dito," batin Tommy memuji sekutu pertamanya itu.

Tadi pagi sebelum masuk kelas, Tommy sudah mencegat Dito dan memintanya mengikuti skenario ini jika Nadin bertanya.

Dito yang merasa berutang budi pada Tommy langsung menyanggupinya tanpa banyak tanya.

Ting!

Suara sistem berbunyi jernih di telinga Tommy saat ia duduk di kursinya.

[MISI TERSEMBUNYI SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil menggagalkan jebakan intelektual dan menciptakan alibi sempurna menggunakan saksi palsu.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +3 poin.]

[Poin Sistem bertambah +20 PS.]

[IQ Saat Ini: 108 Kategori: Rata-rata Atas]

[Poin Sistem Saat Ini: 80 PS]

Tommy tersenyum sangat tipis melihat peningkatan statusnya.

Ia berhasil mengelabui murid terpintar di kelas sekaligus menjaga identitas rahasianya tetap aman.

Dengan IQ seratus delapan, otaknya kini sudah berada di atas batas normal manusia rata-rata.

Namun ia tahu bahwa musuh sesungguhnya bukanlah Nadin yang hanya ingin mencari tahu kebenaran.

Musuh sesungguhnya adalah dunia luar yang kini mulai memburu sosok peretas bernama Blank.

"Biarkan mereka mencariku," batin Tommy sambil memutar pulpen di jari-jarinya.

"Semakin mereka mencariku, semakin banyak panggung yang bisa aku gunakan untuk mengeruk keuntungan."

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!