BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Aidan Jutek
“Aarghh..!” Saras terpekik. Kaget melihat hand phonenya terlepas jatuh.
HUUPP! Gerak refleks Aidan bekerja dengan cepat. Aidan berhasil menangkap hand phone Saras yang nyaris jatuh ke sungai.
“Hhh… Alhamdulillah.” Saras lega.
“Ini hand phonemu…” Aidan menyerahkan hand phone itu ke Saras.
“Terima kasih sayang… Kamu sudah nyelamatin hand phoneku.”
“Hati-hati dong!” Aidan cemberut. “Jaga barang yang bener!
“Iya.. maafin aku ya.” Saras tersenyum manis.
Aidan sebenarnya masih mau marah.
“Aku janji jaga barang lebih hati-hati.” Saras kembali tersenyum manis.
Aidan luluh juga melihat senyum manis di wajah cantik itu. Ia mulai tersenyum lagi.
Saras lega. Sebenarnya ia ketakutan mengira Aidan bakal marah besar.
“Supaya hand phone gak jatuh, mending aku minta tolong orang motretin kita.”
“Nah, mendingan gitu.” Aidan setuju.
Lalu Saras meminta tolong ke seorang gadis berambut blonde bertubuh gemuk yang melintas di dekatnya untuk memotret dirinya dan Aidan. Gadis blonde itu mengangguk.
“Ayo sayang, foto.”
Aidan tak kesal lagi. Ia mendekati Saras. Saras menatap suaminya mesra. Pengantin baru itu terlihat sangat romantis di kamera.
KLIK! KLIK! KLIK!
Gadis blonde bertubuh gemuk itu memotret beberapa kali!
“Tolong fotoin lagi ya…” Saras berkata dalam bahasa Inggris. Cewek itu paham dan mengangguk.
Saras dan Aidan kembali berfoto, Tapi dengan sudut pengambilan yang berbeda. Mereka berfoto dengan back ground kota tua Lucerne di belakang mereka.
KLIK! KLIK! KLIK!
Kembali gadis itu memotret.
Saras dan Aidan berterima kasih kepada gadis itu. Apalagi Saras sangat suka dengan hasil foto yang dibuat si gadis gemuk.
“Foto-fotonya bagus banget. Sungai, jembatan dan view nya keren. Langsung aku upload ke insta gram dan face book aku ah.” Saras bersemangat.
Saras lantas membuka aplikasi media sosialnya di hand phone. Ia asik dengan hand phonenya sehingga tidak terlalu memperhatikan kala hand phone Aidan berbunyi. Aidan menerima telpon yang masuk itu. Sebuah telpon dari Indonesia.
Alis Aidan terangkat. Ia kaget mendengarkan suara di seberang bicara di hand phonenya.
“Apaaa…?!”
Aidan mendengar ayahnya di telepon menceritakan teror misterius dan keharusan menransfer uang 10 Milyar. Buru-buru Aidan menjauh dari istrinya agar bisa bicara lega ke Papanya di telepon.
“Setan! Jadi dia mengejar terus! Berani-beraninya, orang itu memeras kita!” Maki Aidan.
Pak Argajaya di Jakarta gusar menelpon Aidan di Swiss. “Orang ini sudah meledakkan mobil Papa Aidan. Dan dia akan meledakkan rumah kita jika uang 10 Milyar gak papa transfer.”
Aidan berpikir. “Mobil papa yang meledak aja harganya 2 milyar. Kalau rumah meledak nilainya 70 Milyar.”
“Ya itulah. Dia tau kita punya uang banyak! Makanya dengan enteng dia minta 10 Milyar!”
Wajah Aidan keruh. Ia berpikir agak lama baru menjawab. “Orang itu dalam posisi menang, Pa. mau gak mau papa harus menransfer uang yang dia minta!”
“Hhuhh…!” Pak Argajaya mendengus kesal.
“Tapi Papa tenang aja.”
“Tenang gimana?” Pak Argajaya dongkol. “Papa bakal kehilangan uang 10 milyar kok disuruh tenang?!”
Aidan berkata dengan suara dingin. “Papa gak usah beban. Suruh direktur keuangan kita menghubungi pejabat bank buat menransfer uang itu! Biarkan orang itu senang dulu. Nanti dia pasti akan kaget dan menangis bombay karena kita pasti akan mendapatkan uang kita kembali!”
Pak Argajaya mencerna kalimat anaknya. Alisnya berkerut.
“Kamu yakin?”
“Aku yakin! Papa harus yakin sama aku!” Suara Aidan tenang.
Pak Argajaya sedikit tenang. Ia tau Aidan cerdas dan bisa diandalkan.
“Nanti kalau Aidan sudah balik ke Jakarta, akan Aidan buru orang itu. Kita tangkap dan kita paksa dia mengembalikan uang kita!” Wajah Aidan mengeras. “Kita akan buat orang itu mati pelan-pelan karena sudah berani memeras orang yang lebih jahat darinya!”
Sementara itu Saras sudah selesai mengupload fotonya ke media sosial. Ia mencari-cari Aidan.
Dilihatnya Aidan di tepian sungai Reusse. Di dekat kumpulan angsa yang berenang dengan anggun di air sungai. Tapi Aidan tak memperhatikan angsa-angsa itu karena sibuk menelpon.
“Kirain kamu kemana.” Saras menyapa. “Telpon dari siapa sih? Kok kayaknya serius banget?!”
Wajah Aidan berubah ketus. “Apa tanya-tanya?!” ia menatap jutek ke Saras.
DEEGG!
Saras kaget dijutekin demikian. Nada suara Aidan tak sedap didengar.
Melihat wajah Aidan yang jengkel, Saras tau ia tak boleh bertanya lebih jauh. Bahkan menegur Aidan pun Saras tak berani. Ia takut salah bicara.
Dibiarkannya Aidan masih menelpon. Saras menjauh sambil mengamati Aidan di kejauhan.
Pikiran Saras bertanya-tanya.
Ada apa? Siapa pula yang menelponnya sehingga wajah Aidan sedemekian kesalnya saat bicara di telpon?
*
“YESS…!”
Nerissa tersenyum senang. Ia memeluk Lia, kakaknya.
“Uang 10 milyar itu sudah ditransfer ke rekeningku, Kak.”
Lia ikut tersenyum senang.
“Itu uang kakak semua.” Nerissa berkata sambil senyum lebar ke kakaknya. “Kakak mau pakai buat beli apa atau mau diapain uang itu terserah. Aku hanya menyimpan uangnya sementara di rekeningku.”
“Kau boleh mengambil uang itu separuhnya, Nerissa.” Sahut Lia tulus. “Kau yang membuat Argajaya mau menransfer uang itu. Semuanya berkat usahamu. Aku bisa bebas dari sekapan Argajaya juga karena kau yang membebaskan.”
“Enggak, Kak. Aku cuma mau nolong Kak Lia. Uang itu tetap sepenuhnya milik Kakak.”
“Dari kecil kau urakan dan bengal. Tapi aku tau, hatimu baik, Nerissa.” Lia memeluk adiknya. “Kau harus mau menerima sebagian uang itu!”
“Heh! Gak usah mikirin aku, Kak. Usahaku kan sudah mulai jalan meski masih kecil-kecilan. Aku cuma belagak kekurangan uang, biar Argajaya mengira dia diperas penjahat kere dan bod*h!”
Lia tersenyum. “Ha ha ha. Argajaya tidak tau kalau dia berhadapan dengan adik iparnya sendiri yang cerdas….”
“Nah, sekarang lebih baik kakak mulai gunakan sebagian uang itu untuk kebaikan kakak sendiri. Kakak perlu ke salon dan baju yang bagus, supaya kakak gak kelihatan seperti orang gila lagi!”
Lia tertawa. “He he he he, aku normal kan?!”
Nerissa tersenyum. “Cara tertawa kakak pun masih seperti orang liar kehilangan kendali. Tapi tenang, setelah ke salon dan membeli baju di mall termewah di Jakarta, kakak akan sama kerennya seperti aku. Dan kalau sudah konsultasi rutin ke psikiater, kakak pasti akan kembali normal dan cantik lagi…!”
Lia terkekeh lagi. “Kau sungguh adikku yang manis dibalik tubuhmu yang kini gagah seperti lelaki…”
*
Matahari sudah tak panas lagi. Hari sudah sore kala 2 buah mobil sedan berwarna hitam mulus meluncur ke arah kawasan Puncak, Jawa Barat.
Melewati kebun teh dengan kelokan jalan yang menanjak dan berliku, mobil terus melaju ke arah Cipanas. Dari pertigaan Cipanas mobil belok kanan. Terus menyusuri jalan utama.
Di sebuah kelokan ada jalan yang tidak terlalu lebar, sebuah jalan kampung berbatu. Mobil berbelok menyusuri jalanan itu. Melewati beberapa rumah penduduk yang padat di bagian dekat jalan. terus masuk ke dalam. Kini semakin sedikit rumah di jalan itu.
Setelah sekitar 1 kilometer menyusuri jalan berbatu tampak sebuah gerbang besar di kiri jalan.
Mobil sedan paling depan membunyikan klakson.
Dua orang security membukakan gerbang dari dalam. Lalu kedua mobil sedan masuk melewati gerbang.
Terus masuk sekitar 100 meter dari gerbang barulah kedua mobil berhenti di depan sebuah villa peristirahatan yang besar dan megah.
Pak Argajaya keluar dari mobil depan. Diikuti Heru si sopir. Dari belakang tampak Sam boss security dan 3 anak buahnya.
Dua orang pelayan lelaki dan satu orang ibu keluar dari dalam rumah. Mereka mengangguk hormat ke Pak Argajaya.
“Selamat sore Tuan…”
Pak Argajaya tak membalas sapaan itu. “Gak usah sok hormat! Aku jengkel karena kalian membuat istriku lepas dari rumah ini!”
BERSAMBUNG…..
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
emang dl gak pernah gituan gitu??