Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Pemandangan sederhana. Tetapi entah kenapa membuat dada Usman terasa aneh. Namun pagi ini untuk pertama kalinya ada ketenangan yang terasa hidup kembali di ndalem mereka. Dan pusat ketenangan itu adalah perempuan yang kini sedang duduk bershalawat tanpa sadar dirinya diperhatikan.
“Ais… Aisyah Amira.” Suara Usman terdengar pelan dari belakangnya.
Amira langsung menoleh dengan mata sedikit membesar. Habibi yang ada dalam pelukannya ikut bergerak kecil, tetapi tetap tenang. Untuk beberapa detik, Amira hanya memandangi Usman dengan bingung. Karena lelaki itu baru saja memanggil nama kecilnya. Nama yang hampir tidak pernah dipakai siapa pun lagi sejak ia pindah dari kampung.
“Ais.” Hanya orang-orang dekat masa kecilnya yang biasa memanggil begitu. Bahkan Mirza lebih tak tahu panggilan itu.
“Kyai?” suara Amira pelan penuh heran.
Usman tampak seperti baru sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia ucapkan. Sorot matanya berubah sedikit canggung. Lalu lelaki itu berdeham pelan sebelum berkata, “Kamu… dari kampung Mlati, kan?”
Amira mengangguk perlahan. “Iya.” Dadanya mulai terasa aneh. Karena cara Usman menatapnya sekarang berbeda. Seperti sedang memastikan sesuatu.
“Kakekmu,” Usman berhenti sejenak, “Ustad Hasyim?”
Kali ini Amira benar-benar kaget. “Iya…”
Angin pagi berembus pelan melewati halaman ndalem, sementara Habibi sudah tertidur tenang dalam pelukan Amira.
Usman menatap Amira beberapa detik lebih lama. Tatapannya tidak lagi sekadar dingin atau menjaga jarak seperti biasanya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang seperti sedang mencari potongan masa lalu. “Kamu tbrnar idak kenal aku?”
Amira langsung bingung. Keningnya sedikit berkerut. Tatapannya memperhatikan wajah lelaki di depannya lebih lama. Rahang tegas itu. Sorot mata tenang itu. Dan entah kenapa ada rasa familiar yang samar. Namun Amira tetap tidak mampu mengingatnya.
Usman kembali bertanya pelan, “Kamu benar-benar lupa padaku?” Nada suaranya rendah, ada sedikit nada kecewa tipis yang sulit dijelaskan.
Amira menggigit bibirnya pelan. “Maaf, Kyai…” ucapnya jujur. “Saya merasa pernah melihat anda sebelumnya, tapi…” Ia menggeleng kecil. “Saya benar-benar lupa.”
Beberapa detik Usman hanya diam. Lalu lelaki itu mengembuskan napas kecil sambil menunduk sekilas. “Tidak apa kalau kamu belum ingat saya." Kyai Usman menunduk sebentar.
Amira masih memandangi Usman dengan bingung. Ia benar-benar tidak ingat pernah dekat dengan lelaki itu. Mungkin memang pernah bertemu. Tetapi rasanya mustahil sampai sedekat yang dikatakan Usman. Apalagi Amira merasa masa kecilnya biasa saja.
Tidak ada sesuatu yang cukup penting untuk diingat oleh seorang kyai muda seperti Usman. Namun sebelum Amira sempat berpikir lebih jauh, Habibi bergerak kecil dalam pelukannya lalu merengek pelan. Refleks perhatian Amira langsung teralihkan. Ia mengusap punggung bayi itu lembut sambil menimangnya lagi.
Sementara dalam hati, Amira mulai menerka-nerka sendiri. Mungkin dulu mereka pernah berkenalan saat ia ikut lomba MTQ. Amira sendiri tidak terlalu yakin. Dan terus terang ia sedang terlalu lelah memikirkan banyak hal.
Kepalanya masih penuh luka tentang rumah tangganya. Tentang gugatan cerai. Tentang hidupnya yang berubah total hanya dalam hitungan hari. Jadi soal masa lalu dengan Usman Amira memilih tidak terlalu ambil pusing.
“Oh ya sudah…” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil canggung. “Mungkin saya memang lupa, Kyai.”
Usman terdiam beberapa detik mendengar jawaban itu. Tatapannya sulit dibaca. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi akhirnya ditahan sendiri. “Ya,” jawabnya akhirnya pendek. “Mungkin.”
Suasana kembali hening. Amira sibuk menenangkan Habibi yang mulai menguap kecil. Sementara Usman berdiri memandangi keduanya beberapa saat lebih lama sebelum akhirnya berpamitan pergi.
Namun saat lelaki itu berjalan menjauh entah kenapa dadanya terasa tidak tenang. Karena ternyata hanya dirinya yang masih mengingat masa lalu itu dengan jelas.
***
Malam itu Usman berada sendirian di kamarnya. Lampu meja menyala redup, menerangi wajah lelaki itu yang tampak lelah setelah seharian mengurus pesantren. Namun pikirannya tidak tenang.
Perlahan ia membuka laci paling bawah meja kayunya. Lalu mengambil sebuah kotak tua yang sudah mulai pudar warnanya. Kotak itu, kotak yang dahulu diberikan oleh almarhum istrinya, Alya.
Usman membukanya pelan. Di dalamnya tersimpan benda-benda kecil yang sudah sangat lama ia kenal. Pulpen kecil berbentuk bunga. Pita warna biru. Tasbih mungil. Pun jilbab. Buku doa anak-anak. Semua itu dulu hadiah darinya. Untuk seorang gadis kecil bernama Aisyah Amira.
Napas Usman tertahan sesaat. Jemarinya menyentuh satu per satu benda itu perlahan. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Amira kecil selalu tersenyum lebar menerima hadiah darinya. Gadis kecil cerewet yang selalu mengikutinya ke mana-mana setiap ia datang ke rumah Ustad Hasyim.
Tetapi kemudian Amira tiba-tiba pindah. Tanpa pernah pamit. Tanpa meninggalkan kabar apa pun. Dan beberapa bulan setelahnya, Alya menyerahkan kotak ini padanya.
“Ais menitipkan ini,” kata Alya waktu itu pelan. “Katanya sudah enggak pantas menerima pemberian dari Mas.” Kalimat sederhana.
Namun cukup membuat hati Usman terasa jatuh. Karena saat itu untuk pertama kalinya ia sadar perasaannya pada gadis kecil itu ternyata tumbuh terlalu jauh.
Setelah itu Usman mencari kabar Amira diam-diam. Susah payah. Lewat kenalan lamanya. Lewat teman-teman yang ngaji pada Kakek Amira. Bahkan beberapa kali sengaja bertanya ketika safari dakwah ke daerah sekitar Mlati. Sampai akhirnya ia mendapatkan kabar itu. Aisyah Amira bertunangan. Dengan lelaki bernama Mirza.
Malam itu Usman lama terdiam di kamarnya. Dan sejak hari itu ia berhenti mencari. Padahal saat itu usianya sudah hampir tiga puluh tahun.
Banyak yang bertanya kenapa ia belum menikah. Banyak keluarga mulai khawatir, apalagi ia pewaris tunggal pondok. Namun tidak ada yang tahu hatinya diam-diam sudah terisi seseorang sejak lama. Hanya saja orang itu pergi tanpa pernah tahu apa pun.
Usman memejamkan mata pelan. Lalu tatapannya jatuh pada foto kecil Alya yang juga tersimpan di kotak itu. Alya perempuan baik yang akhirnya ia nikahi. Saudara jauhnya sendiri. Perempuan yang menerima dirinya dengan tulus meski tahu hati Usman tidak pernah benar-benar utuh saat menikahinya.
Dan ironisnya Alya juga orang yang paling tahu tentang Amira. Karena sebelum meninggal, istrinya itu pernah berkata pelan padanya, “Mas… mungkin Ais memang bukan jodohmu waktu itu.”
Dada Usman terasa sesak mengingat semuanya. Kini setelah bertahun-tahun berlalu Amira justru kembali hadir di rumahnya. Namun bukan sebagai gadis kecil yang dulu mengikutinya sambil tertawa. Melainkan perempuan yang datang membawa luka dan kehancuran rumah tangga.Usman masih memandangi isi kotak itu dalam diam.
Malam semakin larut. Namun kenangan-kenangan lama justru terasa semakin hidup di kepalanya. Perlahan lelaki itu mengambil sebuah pita biru kecil yang warnanya sudah memudar. Pita itu dulu pernah dipakai Amira kecil untuk mengikat rambutnya.