NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:327
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XV

  Setelah meninggalkan kedai makan milik Mu Chen, Luna segera melangkah menuju kedai makan lain yang letaknya tak jauh dari sana. Perutnya memang sudah sangat lapar, dan tenaganya belum pulih sepenuhnya. Ia memesan makanan dalam porsi besar, lalu menyantapnya dengan sangat lahap, seolah-olah sudah berhari-hari tak menelan apa pun. Tak peduli pandangan orang lain yang melihatnya, baginya saat ini makan adalah satu-satunya hal yang penting untuk memulihkan tenaganya.

Setelah perutnya terasa kenyang dan terisi penuh, ia kembali berjalan menyusuri jalanan kota yang semakin sepi. Langkahnya pelan dan tanpa tujuan. Ia sadar sepenuhnya, kini ia tak lagi punya tempat untuk pulang, tak punya rumah, tak ada sanak saudara, dan tak ada satu pun orang yang mau menerima keberadaannya. Ia persis seperti orang yang tak bertuan, hidup mengembara tanpa akar dan tempat berpijak, sama persis seperti seorang gelandangan yang tak memiliki apa-apa di dunia ini.

Berjalan terus hingga ia sampai di pinggir sebuah sungai yang airnya mengalir tenang, menjauh dari keramaian kota. Suasana di sana terasa sepi, sejuk, dan jauh lebih damai. Luna pun duduk di atas sebatang pohon kayu besar, yang berada tepat di tepi sungai itu.

Ia duduk, kemudian menatap aliran air yang terus bergerak mengalir, menghilang ke arah yang tak diketahui. Wajahnya masih sedingin biasa, tak ada satu pun ekspresi yang terlukis, tak ada tangisan, tak ada keluhan, dan tak ada kata-kata yang terucap dari mulutnya. Ia hanya diam, membiarkan pandangannya terkunci pada air sungai yang terus berjalan tak henti itu, sama seperti nasibnya yang seakan terus terbawa arus kehidupan yang keras dan tak pernah berpihak padanya. Di dalam kesunyian itu, ia hanya terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri yang dalam dan gelap.

  Saat matahari mulai terbenam, Luna beranjak dari tepi sungai lalu berjalan mencari tempat beristirahat. Namun dari satu penginapan ke penginapan lain, semuanya penuh, tak ada satu pun kamar kosong yang tersisa. Ia pun terus melangkah tanpa tujuan, sampai di sebuah tempat sepi yang agak gelap.

Di sana, matanya menangkap sosok wanita muda yang sedang berusaha melindungi anak kecil di belakang tubuhnya. Itu adalah Anran dan Lulu, orang yang dulu merawat dan menyelamatkan nyawanya. Namun keadaan mereka saat ini dalam bahaya. Lebih dari sepuluh orang penjahat mengelilingi mereka, wajah mereka garang dan penuh niat jahat.

Awalnya Anran bertarung dengan sangat gesit dan lincah, nyaris mampu mengalahkan mereka seorang diri. Namun salah satu penjahat dengan cerdik memanfaatkan celah, menyambar dan menggendong Lulu paksa. Ujung pisau tajam langsung ditempelkan di leher anak kecil itu.

“Jangan bergerak! Kalau kau berani melangkah satu langkah lagi, anak ini akan ku habisi sekarang juga!” ancam penjahat itu.

Wajah Anran seketika pucat, ketakutan luar biasa menguasai dirinya. Ia langsung menjatuhkan senjatanya. “Jangan! Tolong.. tolong jangan sakiti dia!”

Melihat Anran tak berdaya, para penjahat lain langsung menghajarnya dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Tubuh Anran itu kini penuh memar dan berdarah, namun ia tak berani melawan sedikit pun demi keselamatan Lulu.

“Cepat serahkan semua uang yang kau bawa! Kalau tidak, kami pastikan kau dan anak ini mati di sini!” bentak ketua penjahat itu.

Dari kejauhan, Luna melihat semuanya dengan tenang, bahkan senyum sinis perlahan terukir di bibirnya. Ia menarik napas panjang, seolah baru saja menemukan hiburan yang menyenangkan, lalu melangkah santai menghampiri keributan itu.

“Kalian ini sungguh membosankan ya.. Tidak punya pekerjaan lain kah? Kenapa tidak mencari uang dengan cara yang pantas saja, daripada harus mengganggu wanita dan anak kecil begini?” ucap Luna dengan nada datar namun penuh ejekan.

Para penjahat seketika menoleh, marah mendengar ucapan itu. “Dasar wanita gila! Pergilah jika kau tidak mau mati bersama mereka!”

Salah satu dari mereka langsung menghunus pedang dan menyerang dengan gerakan cepat. Namun dengan gerakan cepat, Luna menahan pergelangan tangan itu, lalu memelintirnya dengan keras sampai terdengar bunyi tulang yang patah dan pedang itu terlepas jatuh ke tanah.

“Ah, sakit…" teriak penjahat itu.

"Bagaimana,.. sakit sekali kan?” tanya Luna sambil tersenyum lebar, matanya menyala dengan sorot yang aneh dan mengerikan. “Kalian ini sungguh menyedihkan, kalian ini hanya berani menyerang menggunakan benda tajam, oh, no..no.. tanpa pedang ini kalian sama sekali tidak berguna.” ejek Luna.

Ia lalu menunduk sedikit, mengambil pedang yang jatuh itu sambil tertawa kecil yang terdengar melengking dan tak wajar.

“Tapi tidak apa-apa… aku sudah lama sekali tidak menggunakan nya. Rasanya tangan ini sangat ingin sekali merasakan darah kalian. Wah, mungkin hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan, bukan?” ucapnya dengan nada cerah namun penuh ancaman, persis seperti orang yang sedang membayangkan hal yang paling indah di dunia.

Tanpa menunggu jawaban, Luna langsung bergerak. Pertarungan satu lawan sepuluh itu berlangsung sangat singkat namun mengerikan. Gerakannya cepat, kasar, dan sangat brutal. Pedang di tangannya menari ke kiri dan kanan, setiap ayunan pasti membawa luka yang dalam. Darah memercik ke mana-mana, disertai jeritan kesakitan yang memilukan. Anran dan Lulu hanya bisa memeluk satu sama lain, gemetar hebat ketakutan melihat betapa kejam dan mengerikannya sosok yang dulu mereka tolong itu.

Tak lama kemudian, seluruh penjahat itu sudah tergeletak tak bernyawa di tanah. Luna berdiri tegak, pedang di tangannya masih meneteskan darah merah segar. Ia perlahan berbalik menatap Anran dan Lulu. Senyum jahat yang lebar masih melekat di wajahnya, matanya bersinar tajam dan kosong, persis seperti orang yang kehilangan kewarasan.

Ia mengangkat ujung pedang itu, mengambil sedikit darah yang masih menempel di pedangnya, kemudian perlahan mengoleskan cairan merah itu tepat di pipinya sendiri.

“Lihatlah… masih sangat hangat dan segar..,” ucapnya pelan, nada bicaranya lembut namun membuat bulu kuduk kedua orang itu merinding. Anran makin erat memeluk Lulu yang terus menjerit ketakutan, tubuhnya gemetar tak terkendali.

Namun tiba-tiba senyum mengerikan itu menghilang, berganti dengan tatapan yang sedikit lebih tenang namun tetap dingin dan mengancam.

“Tenang saja… tenanglah,” ucapnya santai sambil mengibaskan pedangnya agar darah terlempar. “Aku tidak akan membunuh kalian. Aku tidak membunuh orang yang menyelamatkan ku. Aku tidak begitu kejam. Sekarang kalian pergilah… cepat pergi sebelum aku berubah pikiran.”

Anran tak menunggu waktu sedetik pun. Ia segera menggendong Lulu sekuat tenaga, lalu berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu, hatinya berdegup kencang karena ngeri melihat sosok yang berdiri di sana, ia bukan lagi manusia, melainkan iblis yang ingin membalas dendam.

Sementara itu, Luna masih berdiri sendirian di tengah genangan darah, tersenyum puas menatap pedangnya, bergumam sendiri dengan nada rendah.

“Ah… ternyata rasanya belum hilang juga. Ternyata membunuh memang hal yang paling menyenangkan di dunia ini…”

Di Rumah..

  Sesampainya di rumah, Mu Chen langsung menghampiri Anran dan Lulu dengan wajah bingung dan sedikit cemas. Ia melangkah mendekat, lalu bertanya dengan nada penasaran.

“Ke mana saja kalian berdua? Bukankah seharusnya kalian sudah sampai di rumah sejak tadi sore? Kenapa baru pulang sekarang dan kenapa wajahmu terlihat begitu pucat dan ketakutan begini?”

Anran yang baru saja menurunkan Lulu dari gendongannya, langsung terduduk di kursi, napasnya masih terasa berat dan belum tenang. Ia segera menceritakan segala hal yang baru saja dialaminya kepada kakaknya Mu Chen.

“Kak… sungguh hal tadi itu begitu mengerikan,” ucap Anran dengan suara bergetar, matanya terbelalak lebar saat bayangan kejadian itu terlintas kembali di benaknya. “Wanita itu tiba-tiba muncul… wanita yang dulu pernah ada di sini. Dia benar-benar tidak waras, Kak, sungguh gila! Kau tahu, belasan penjahat bertubuh besar dan kuat itu berhasil dikalahkannya seorang diri dengan begitu mudahnya. Bahkan hanya dengan satu kali tebasan saja, tubuh mereka langsung roboh dan terkapar berlumuran darah. Aku… aku yakin dia bukan manusia, Kak. Dia itu iblis yang menyamar menjadi manusia!”

Mu Chen mendengarkan setiap kata adiknya itu dengan saksama, keningnya semakin berkerut mendengar penuturan adiknya. Ia pun teringat pertemuannya sendiri dengan Luna di kedai makan tadi siang.

“Tapi aneh sekali…” gumam Mu Chen pelan, wajahnya tampak bingung dan penuh tanda tanya. “Tadi siang aku juga bertemu dengannya di kedai makan kita. Saat itu, bukankah dia baru saja sembuh, namun dia bahkan rela turun tangan dan melawan beberapa orang penjahat hanya demi menolong seorang wanita dan anak kecil yang sama sekali tak ia kenalnya. Saat itu aku berpikir, mungkin sifatnya tidak seburuk yang aku kira. Tapi sekarang… kau bilang dia dengan mudah membunuh banyak orang tanpa rasa bersalah sedikit pun?”

Anran mengangguk cepat, wajahnya masih tampak ketakutan. “Dia tersenyum, Kak! Dia tersenyum lebar saat membunuh mereka semua.. Kau tahu kak.. bahkan dia mengoleskan darah mereka ke pipinya sendiri! Aku takut sekali, rasanya jantungku mau copot melihat tatapan matanya yang kosong dan mengerikan itu.”

Mu Chen mengusap pelan kepala Lulu yang masih menangis karena trauma, lalu menghela napas panjang. Ia dan Anran saling pandang, keduanya sama-sama merasa bingung, dan tak mampu memahami sosok wanita bernama Luna itu. Di satu sisi ia bisa berbuat baik dan menolong orang, namun di sisi lain ia bisa menjadi sosok pembunuh yang kejam dan tak punya hati nurani sama sekali.

“Wanita ini… benar-benar penuh misteri dan sulit untuk dimengerti, Aku benar-benar tak tahu lagi harus berpikir apa tentang dirinya.” ucap Mu Chen pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!