NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. Ujian Formasi

Sinar matahari pagi di akhir pekan bersinar lebih garang, memancarkan hawa panas yang langsung menyengat pelataran tengah barak pelatihan Barat. Dua ratus calon Tamtama yang terbagi dalam empat puluh regu kini telah berkumpul membentuk barisan raksasa yang mengelilingi sepuluh area pembatas tali tampar besar. Hari ini bukan lagi tentang penyelarasan banjar yang membosankan atau sekadar mendengarkan instruksi bintara, melainkan hari penentuan bagi legitimasi setiap regu baru melalui Ujian Formasi Kelompok tingkat menengah yang dipimpin langsung oleh jajaran perwira garnisun Trowulan.

Atmosfer di lapangan utama terasa sangat menekan dan berat. Di tepi pelataran, beberapa bintara senior telah menyiapkan puluhan pasang perisai kayu jati berlapis kulit lembu yang ukurannya jauh lebih besar dan tebal dibandingkan perlengkapan latihan harian sebelumnya. Ujian kali ini dirancang murni untuk melihat bagaimana sebuah regu kecil mampu mempertahankan keutuhan barisan mereka saat menerima tekanan benturan dari regu lawan, sekaligus menguji ketajaman siasat sang komandan dalam mengarahkan gerak tombak kelompok.

Mada berdiri di posisinya yang biasa di barisan paling belakang Regu Serigala, memegang gagang tombak kayunya dengan dua tangan yang sengaja dibuat agak kaku. Poni rambut panjangnya yang berantakan menjuntai menutupi sebagian keningnya yang mulai dibasahi oleh cucuran keringat fajar. Ia memosisikan tubuh jangkungnya sedikit menekuk ke bawah, memberikan kesan bahwa ia sedang merasa sangat tegang menghadapi kompetisi besar ini.

(Ujian formasi kelompok ini adalah panggung yang sengaja disiapkan oleh Kudamerta untuk menyaring benih-benih ksatria pilihan. Di bawah analisis taktis mata sakral Niti Sastra milikku, sepuluh area lingkaran ini dipenuhi oleh pusaran energi yang sangat acak dari berbagai regu baru. Aku harus memastikan Regu Serigala meraih kemenangan mutlak untuk menjaga posisi aman kami di dalam barak, namun gerakanku sendiri harus tetap terlihat seperti sebuah kebetulan yang beruntung.)

Di barisan paling depan Regu Serigala, Ragajaya tampak berdiri tegak sambil terus memutari tombak kayunya di udara untuk mengusir rasa tegang di lengannya. Wajah pemuda pesisir itu terlihat sangat serius, dengan rahang yang mengatup rapat menatap ke arah bagan pengundian yang sedang dipersiapkan oleh bintara pencatat di depan panggung kehormatan. Di sampingnya, Jaka Wulung dan Lembu Sora sudah menaikkan perisai bambu mereka, sementara Wiranata berdiri di tengah sambil terus memperhatikan pergerakan regu-regu lawan di sekeliling mereka.

"Dengarkan seluruh Regu!" teriak bintara kepala dari atas panggung, suaranya yang parau menggema membelah lapangan utama. "Peraturan Ujian Formasi hari ini sangat ketat dan tidak mengenal belas kasihan! Dua regu akan dimasukkan ke dalam satu lingkaran arena untuk bertarung dalam formasi rapat benturan perisai! Regu yang formasinya pecah terlebih dahulu, anggotanya keluar dari garis tali pembatas, atau seluruh senjatanya terlepas dari genggaman, maka detik itu juga mereka dinyatakan kalah dan harus menerima pembersihan barak total selama satu bulan penuh!"

Suara ketukan gong perunggu kecil berdentang keras, menandai dimulainya proses pengundian kelompok. Ketika bintara pencatat meneriakkan nomor urut untuk arena nomor empat, atmosfer di sekitar Regu Serigala mendadak berubah menjadi sangat dingin.

"Arena nomor empat! Regu Serigala dari barak hunian nomor empat melawan Regu Rajawali dari kelompok taruna bangsawan!"

Mendengar pengumuman tersebut, Lembu Sora langsung menarik napas panjang dengan wajah yang sedikit memucat. Di seberang lapangan, Raden Daniswara bersama empat taruna bangsawan terkuat lainnya yang tergabung dalam Regu Rajawali langsung melangkah maju memasuki lingkaran arena nomor empat dengan sikap tubuh yang sangat pongah dan penuh kemenangan. Zirah kulit mereka yang bersih mengilat tampak memancarkan aroma minyak cendana mahal, berkontras tajam dengan pakaian katun Regu Serigala yang berdebu.

"Ternyata takdir membawa tikus-tikus tanah ini kembali ke depan tombakku," ejek Raden Daniswara sambil mengambil posisi kuda-kuda depan yang sangat kokoh di tengah lingkaran. Hawa murni aliran apinya yang berwarna merah jingga tipis mulai menyala di sekitar pundaknya, memancarkan tekanan hawa panas yang mengintimidasi udara di sekitar mereka. "Ragajaya! Kali ini tidak ada parit lumpur labirin atau semak belukar tempat kalian bisa bersembunyi! Di atas tanah datar ini, Regu Rajawali milikku akan menghancurkan perisai anyaman bambu murahan kalian dalam sepuluh hitungan napas pertama!"

Ragajaya tidak membalas provokasi tersebut dengan kata-kata, namun ia langsung menghentakkan kaki kanannya ke tanah liat, menyalakan sisa-sisa hawa murni air kebiruannya untuk membentuk barisan pertahanan depan bersama Jaka Wulung. "Jaka Wulung, Lembu Sora, rapatkan perisai di bagian tengah! Wiranata, jaga jalur tusukan kanan! Mada, tetap di belakang dan jangan berani melangkah keluar dari garis punggungku!"

Mada segera menundukkan kepalanya, menampilkan wajah polosnya yang tampak sangat ketakutan sambil meremas gagang tombaknya dengan tangan gemetar palsu. "S-siap, Tuan Ragajaya. Hamba akan memegang perisai hamba sekencang mungkin agar tidak terlempar oleh hawa panas Raden Daniswara."

Gong!

Gong tanda pertempuran di arena nomor empat dimulai berdentang dengan keras.

Begitu suara gong meredam, Raden Daniswara langsung meledakkan komando serangannya dengan sangat agresif. Regu Rajawali bergerak maju dalam formasi tusukan lurus yang sangat rapat, menggunakan perisai jati mereka yang berat untuk menggencet garis depan Regu Serigala. Kombinasi hawa murni api dari Daniswara dan Lembu Wana menciptakan gelombang tekanan yang sangat kuat, memaksa Jaka Wulung dan Lembu Sora terengah-engah menahan benturan perisai di bagian tengah.

"Dorong mereka keluar garis!" teriak Lembu Wana sambil menghentakkan perisainya ke arah dada Jaka Wulung.

Brak! Brak! Brak!

Suara benturan kayu jati dan anyaman bambu terdengar sangat solid memenuhi arena nomor empat. Di bawah tekanan yang begitu agresif dari kelompok bangsawan, formasi bertahan yang dirancang oleh Ragajaya mulai mengalami titik jenuh yang prematur. Karena terlalu bernafsu menahan serangan Daniswara di bagian tengah, kuda-kuda kaki Ragajaya menjadi terlalu mundur ke belakang, membuat jarak di antara barisan depan dan sayap kanan Wiranata menjadi renggang dan menciptakan sebuah celah kosong yang cukup berbahaya.

Melihat munculnya celah tersebut, salah seorang anggota Regu Rajawali bertubuh tinggi kurus segera melepaskan tusukan tombak kayunya secara serong, mengincar area lambung kanan Wiranata yang sedang terbuka lebar tanpa perlindungan perisai.

"Wiranata, awas lambung kananmu!" teriak Jaka Wulung yang tidak bisa bergerak membantu karena seluruh tubuh besarnya sedang ditahan oleh dinding perisai Lembu Wana.

Situasi Regu Serigala berada di ujung tanduk kekalahan mutlak. Jika Wiranata berhasil dipukul jatuh atau dipaksa keluar dari lingkaran tali tampar, keutuhan formasi mereka akan hancur berantakan dalam hitungan tiga pulsa nadi ke depan.

Mada yang berada di barisan belakang segera melihat lubang taktis tersebut menggunakan ketajaman mata sakral Niti Sastra miliknya. (Ragajaya benar-benar buta dalam membaca pergeseran berat formasi lawan. Dia terlalu fokus pada duel pribadinya dengan Daniswara hingga melupakan keselamatan lambung Wiranata. Aku harus menutup celah ini sekarang juga sebelum perwira penilai meniup peluit kekalahan kami, namun tindakanku harus terlihat seperti sebuah kepanikan yang tidak sengaja.)

Mada segera menggeser langkah kakinya yang jangkung, merendahkan tubuhnya dan berteriak ketakutan dengan suara yang sengaja dibuat agak melengking cemas. Ia melompat maju ke depan dengan gerakan yang tampak sangat kasar, canggung, dan tidak seimbang seolah-olah ia sedang kehilangan keseimbangan karena kakinya terpeleset oleh debu lapangan kering.

Tubuh besar Mada meluncur bebas tepat ke arah ruang kosong di antara Wiranata dan anggota Regu Rajawali yang sedang menusuk. Gerakan jatuh Mada yang berantakan itu membuat perisai bambu di lengan kirinya secara sangat natural menabrak bagian tengah batang tombak kayu lawan yang sedang meluncur lurus.

Plak!

Benturan perisai Mada dilakukan tanpa adanya pendaran hawa murni sedikit pun, namun karena kepadatan struktur otot alaminya yang luar biasa tebal, dampak benturan kasar itu memberikan efek kejutan yang sangat fatal bagi arah tusukan lawan. Tombak kayu taruna bangsawan tersebut mendadak melenceng jauh ke arah kiri, meluncur bebas melewati ruang kosong di bawah ketiak Wiranata tanpa menyentuh kulit sedikit pun.

Namun, sandiwara Mada tidak berhenti di sana. Di saat tubuh jangkungnya terjerembap jatuh ke atas tanah liat di dekat kaki Wiranata, bagian pangkal tombak kayunya yang melengkung secara tidak sengaja terayun ke arah belakang, mengetuk tepat pada titik simpul saraf pergelangan kaki kiri taruna bangsawan tersebut yang sedang bertumpu dengan goyah karena momentum tusukannya yang gagal.

"Aduh!" jerit taruna bangsawan tinggi kurus tersebut ketika ia merasakan pergelangan kakinya seperti menghantam sebongkah batu hitam purba yang tertanam di dalam tanah.

Sirkulasi energi di kakinya mendadak lumpuh seketika. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan sepenuhnya, melayang ke depan dan jatuh terhempas dengan sangat keras keluar dari batas lingkaran tali tampar arena nomor empat, dengan posisi wajah yang mendarat terlebih dahulu di atas tumpukan pasir luar. Tombak kayunya terlepas dari genggaman dan patah menjadi dua bagian setelah menghantam tiang pembatas.

Jatuhnya salah satu anggota Regu Rajawali ke luar garis pembatas mendadak mengubah arah angin pertempuran di arena nomor empat. Formasi rapat pertahanan dinding perisai yang semula dibangun kokoh oleh Daniswara kini mendadak renggang dan kehilangan keseimbangan di bagian sayap kiri mereka.

Wiranata yang menyadari celah kemenangan telah terbuka lebar di depan matanya tidak membuang waktu lagi. Ia langsung menggunakan seluruh tenaganya untuk meneriakkan komando serangan balik kepada Jaka Wulung dan Lembu Sora.

"Jaka Wulung! Lembu Sora! Sayap kiri mereka kosong! Dorong perisai kalian ke arah depan tengah sekarang juga!" teriak Wiranata dengan lantang.

Mendengar aba-aba Wiranata, Jaka Wulung dan Lembu Sora segera menghentakkan kaki kanan mereka secara bersamaan, mengerahkan seluruh sisa kekuatan fisik kasar mereka untuk menghantam dinding perisai Lembu Wana yang kini kehilangan tumpuan samping.

Brak!

Hantaman balik dari Regu Serigala mendarat dengan sangat telak. Lembu Wana yang bertubuh pendek kekar itu terengah mundur tiga langkah, kehilangan pijakannya dan jatuh terduduk di atas tanah liat sebelum akhirnya ikut terdorong keluar dari lingkaran tali pembatas bersama dua rekan taruna bangsawan lainnya yang panik melihat runtuhnya formasi mereka.

Raden Daniswara berdiri seorang diri di tengah lingkaran dengan wajah yang sangat pucat pasi bercampur rasa malu yang luar biasa mendalam. Ia melihat seluruh anggotanya telah terkapar di luar garis pembatas, sementara tombak kayu pilihan miliknya kini telah berhenti tepat satu jengkal di depan dada Ragajaya yang masih berdiri dengan napas terengah-engah memegang senjatanya.

"Pertarungan selesai! Pemenang arena nomor empat, Regu Serigala dari barak hunian nomor empat!" teriak bintara penguji sambil melambaikan selembar kain merah tanda kemenangan tinggi-tinggi ke udara.

Sorak-sorai riuh rendah dan tepuk tangan penuh kekaguman langsung pecah dari arah para penonton dan perwira menengah di tepi lapangan luar. Namun, Mada tetap konsisten dengan sandiwara raganya. Ia perlahan bangkit berdiri dari tanah liat dengan tubuh yang dipenuhi oleh debu kering, memegangi sikut tangan kanannya sambil meringis kesakitan palsu dan memasang wajah seorang pemuda desa yang merasa sangat ketakutan melihat jatuhnya para taruna bangsawan tersebut.

"Maaf... maafkan hamba, Raden Daniswara," seru Mada dengan suara yang dibuat bergetar rendah sambil berjalan mundur mendekati barisannya kembali. "Hamba benar-benar tidak sengaja terpeleset tadi. Tali tampar ini terlalu tebal sehingga kaki desa hamba selalu tersandung sendiri jika melangkah terlalu cepat. Mohon jangan hukum hamba untuk membersihkan dapur utama Barat."

Raden Daniswara tidak membalas ucapan Mada. Ia memungut patahan tombak kayunya dengan tangan yang gemetar hebat menahan amarah, lalu melangkah keluar lingkaran tanpa mengucapkan sepatah kata pun, diikuti oleh para pengikutnya yang berjalan menunduk menahan rasa malu yang luar biasa besar karena telah dikalahkan oleh regu yang dianggap paling lemah di seluruh angkatan baru.

Ragajaya menurunkan tombak kayunya dengan pandangan mata yang sangat rumit menatap ke arah Mada yang sedang sibuk membersihkan perisai bambunya dari debu tanah liat. (Bagaimana mungkin anak desa yang tampak bodoh ini bisa selalu mendatangkan keberuntungan yang menyelamatkan regu kita di setiap momen paling kritis? Apakah benar ada manusia yang dikaruniai takdir seaneh itu, atau ada sesuatu yang sedang disembunyikannya dari pandangan mataku?) Kecurigaan Ragajaya kian hari kian menebal, menciptakan jurang pembatas yang semakin jelas di antara dirinya dan Mada.

Namun, jauh di atas panggung kehormatan sutra kuning, Senopati Kudamerta perlahan duduk kembali di kursi jatinya dengan sebuah senyuman tipis yang sangat misterius tersungging di sudut bibirnya yang berjanggut putih. Jenderal sepuh itu mencatat nama prajurit nomor nol empat puluh tujuh di dalam benaknya dengan tinta yang semakin tebal, semakin yakin bahwa ujian formasi kelompok hari ini telah memberikan jawaban mutlak mengenai kualitas sejati dari sang harimau muda yang sedang bersembunyi di dalam kegelapan barak hunian nomor empat kompleks pelatihan Barat.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!