GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Malam Penuh Kemewahan dan Intrik
Tiga hari berlalu begitu cepat, dan akhirnya malam yang dinanti-nanti sekaligus ditakutkan pun tiba. Langit malam itu tampak bersih dan cerah, dihiasi oleh ribuan bintang yang berkelap-kelip, namun bagi Aditya dan Luna, malam itu terasa jauh lebih gelap dan berat dari biasanya, seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka dari balik kegelapan.
Di dalam kamar tidur yang luas dan mewah di kediaman Aditya, Luna berdiri di depan cermin besar yang menjulang tinggi, menatap pantulan dirinya sendiri dengan hati yang berdebar kencang. Malam ini, ia tampak sangat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan gaun malam berwarna emas pucat yang indah dan elegan, dengan potongan yang anggun namun sopan, membalut tubuh rampingnya dengan sangat sempurna. Kain gaun itu berkilau lembut setiap kali bergerak, seolah terbuat dari ribuan butiran cahaya kecil. Rambut hitam panjangnya disusun rapi menjadi sanggul rendah yang cantik, membiarkan leher jenjang dan bahunya terlihat indah namun tetap berkesan sederhana dan tidak berlebihan. Hiasan perhiasan yang ia kenakan pun sangat sedikit dan sederhana, hanya sepasang anting mutiara dan kalung kecil berlian yang berkilau lembut, menambah kesan anggun dan tulus pada penampilannya.
Luna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia merasa sangat gugup, seolah ia sedang bersiap untuk masuk ke dalam sebuah medan perang yang nyata. Ia tahu, malam ini ia tidak hanya akan menghadapi orang-orang asing yang berkuasa dan berpengaruh, tetapi juga orang-orang yang memiliki hubungan darah dengannya, orang-orang yang bisa menjadi keluarga atau musuh terbesarnya di masa depan.
Pintu kamar perlahan terbuka, dan muncullah sosok Aditya yang membuat napas Luna seakan tertahan sejenak. Aditya mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan mahal, pas sekali dengan bentuk tubuhnya yang tegap dan atletis. Jas itu membuatnya terlihat semakin tampan, gagah, dan sangat berwibawa, memancarkan aura kekuasaan dan kepercayaan diri yang begitu kuat dan menawan. Ia berjalan perlahan mendekati Luna, matanya tak lepas menatap wajah kekasihnya dengan pandangan yang penuh kekaguman dan cinta yang mendalam.
"Kamu terlihat sangat cantik dan mempesona malam ini, Sayang... Seperti seorang putri yang baru saja turun dari istana di awan," puji Aditya dengan suara lembut dan penuh ketulusan, lalu ia berdiri tepat di samping Luna dan menatap pantulan mereka berdua di cermin dengan senyum bahagia.
Pipi Luna seketika memerah merona mendengar pujian itu, rasa gugup dan takutnya sedikit demi sedikit mulai memudar tergantikan oleh rasa aman dan bahagia yang selalu ia rasakan setiap kali berada di dekat Aditya. Ia menoleh dan menatap wajah kekasihnya itu dengan senyum malu-malu namun penuh cinta.
"Kamu juga terlihat sangat tampan dan gagah malam ini, Aditya... Aku jadi merasa sangat beruntung dan bangga bisa berdiri di sampingmu," jawab Luna pelan.
Aditya tersenyum lebar, lalu ia membalikkan tubuh Luna agar berhadapan dengannya, dan memegang kedua tangan gadis itu dengan lembut namun tegas. Ia menatap mata Luna dalam-dalam, seolah ingin menanamkan rasa percaya diri dan kekuatan ke dalam hati dan pikiran kekasihnya itu.
"Dengar aku baik-baik, Sayang. Malam ini, kita akan menghadapi banyak orang hebat, berkuasa, dan penuh intrik. Di sana, setiap senyum bisa jadi menyembunyikan kebencian, dan setiap kata manis bisa jadi memiliki makna yang tersirat dan berbahaya. Tapi ingatlah satu hal yang paling penting: kamu adalah Luna yang aku kenal, wanita yang tulus, baik hati, dan penuh keberanian. Jangan pernah merasa rendah diri atau takut pada siapa pun, karena kamu memiliki harga diri dan nilai yang jauh lebih tinggi daripada apa pun yang ada di dunia ini. Kita akan berjalan masuk ke sana dengan kepala tegak, percaya diri, dan penuh kewaspadaan. Dan apa pun yang terjadi, apa pun yang kita lihat atau dengar, jangan pernah lepaskan tanganku. Kita akan selalu bersama, dan aku akan selalu melindungimu dengan sekuat tenagaku," ucap Aditya dengan nada yang serius namun penuh kasih sayang, suaranya begitu menenangkan dan meyakinkan hingga rasa cemas yang sempat memenuhi hati Luna seakan hilang lenyap seketika.
Luna mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca namun penuh keyakinan dan cinta. "Aku mengerti, Aditya. Aku janji akan berhati-hati, akan tenang, dan akan selalu berpegang padamu. Aku siap, Aditya. Ayo kita pergi."
Aditya tersenyum puas, lalu mengecup punggung tangan Luna dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. "Baguslah, Sayang. Ayo kita pergi. Malam ini, kita akan mulai menulis lembar baru dari sejarah hidup kita."
Mereka pun berjalan beriringan keluar dari kamar, menuju mobil mewah yang sudah siap menunggu di halaman depan. Perjalanan menuju kediaman keluarga Tanudjaya terasa begitu singkat namun juga terasa begitu panjang dan penuh ketegangan. Sepanjang jalan, tangan mereka terus bergandengan erat, saling memberikan kekuatan dan ketenangan satu sama lain.
Tak lama kemudian, mobil mereka pun sampai di tujuan. Di hadapan mata mereka, berdiri sebuah kediaman yang begitu megah, luas, dan indah, bak sebuah istana yang diambil langsung dari cerita dongeng. Lampu-lampu yang terpasang di sekeliling bangunan itu memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan mewah, menerangi taman yang luas dan dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang indah dan harum. Suara musik orkestra yang lembut dan elegan terdengar samar-samar dari dalam, menciptakan suasana yang begitu mewah dan berkelas.
Aditya turun terlebih dahulu dari mobil, lalu dengan sopan membukakan pintu untuk Luna dan membimbing gadis itu turun dengan lembut. Saat mereka berjalan beriringan menuju pintu utama, semua mata yang ada di sana seolah tertuju hanya kepada mereka berdua. Kehadiran mereka begitu serasi, begitu mempesona, dan memancarkan aura yang begitu kuat dan anggun, seolah mereka adalah sepasang pangeran dan putri yang sedang berjalan masuk ke dalam istana raksasa ini.
Sesampainya di dalam, suasana yang ada di sana semakin terasa mewah dan menakjubkan. Ruang resepsi yang luas itu dipenuhi oleh ratusan orang yang berpakaian sangat rapi, mewah, dan berkelas, yang merupakan orang-orang penting, tokoh masyarakat, pengusaha sukses, dan keluarga-keluarga besar yang berpengaruh di negeri ini. Namun, di balik kemegahan dan keramahan yang tampak di permukaan itu, Luna bisa merasakan adanya ketegangan yang samar, persaingan yang tersembunyi, dan rasa curiga yang mengambang di udara. Semua orang tersenyum dan tertawa, namun mata mereka terlihat tajam dan penuh perhitungan, seolah setiap percakapan dan gerak-gerik memiliki makna dan tujuan tertentu.
"Tenang saja, Sayang. Tetaplah tersenyum dan bersikaplah tenang dan sopan, seperti biasa. Jangan biarkan siapa pun melihat bahwa kamu sedang gugup atau takut," bisik Aditya pelan di samping telinga Luna, seolah membaca pikiran dan perasaan kekasihnya itu.
Luna mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang dan mengembuskan napasnya perlahan, berusaha menenangkan diri dan memantapkan hati. Ia tersenyum lembut dan anggun, berusaha menampilkan sikap yang tenang dan percaya diri seperti yang diajarkan oleh Aditya.
Tak lama kemudian, suara musik orkestra perlahan mereda, dan suasana di dalam ruangan menjadi sedikit lebih hening dan terhormat. Dari arah tangga besar di tengah ruangan, muncullah tiga sosok yang tampak begitu berkuasa, berwibawa, dan menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir. Itulah mereka... tiga pewaris utama dan pemegang kendali keluarga besar Tanudjaya: Reynold, Julian, dan Clarissa.
Jantung Luna seakan berhenti berdetak sejenak saat matanya menangkap sosok-sosok itu. Ia merasakan aliran darahnya berdesir hebat, campuran antara rasa takut, rasa kagum, dan rasa penasaran yang luar biasa besar.
Yang berjalan paling depan adalah Reynold Tanudjaya. Pria itu tampak sudah berusia sekitar lima puluh tahunan, namun masih terlihat sangat tegap, gagah, dan berwibawa. Ia mengenakan setelan jas yang sangat rapi dan formal, dengan rambut yang disisir rapi ke belakang dan raut wajah yang sangat serius, kaku, dan dingin. Matanya yang tajam menatap ke sekeliling ruangan dengan pandangan yang penuh otoritas dan kekuasaan, seolah ia adalah raja yang sedang mengawasi seluruh kerajaannya. Gerak-geriknya sangat terukur, sopan, namun terasa sangat jauh dan sulit didekati.
Di sebelah kanannya berjalan Julian Tanudjaya, pria yang terlihat jauh lebih muda, sekitar usia empat puluh tahunan. Ia memiliki wajah yang sangat tampan dan memikat, dengan senyum yang selalu terukir di bibirnya dan tatapan mata yang cerdas serta tajam. Ia berjalan dengan santai namun penuh percaya diri, sesekali melambai atau tersenyum kepada para tamu yang hadir, menampilkan pesona dan keramahan yang begitu memikat. Namun, di balik senyumnya yang manis itu, Luna bisa menangkap adanya kilatan mata yang penuh perhitungan, ambisi, dan kelicikan yang tersembunyi dengan sangat rapi.
Dan di sebelah kiri Reynold, berjalan Clarissa Tanudjaya, satu-satunya wanita di antara mereka bertiga. Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun, dengan wajah yang halus namun memiliki garis rahang yang tegas dan kuat. Ia mengenakan gaun malam berwarna merah darah yang sangat indah dan berani, membuatnya tampak begitu mempesona namun juga sangat menakutkan dan berwibawa. Ia berjalan dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas, menatap ke sekeliling dengan pandangan yang dingin, kosong, dan sulit ditebak. Tidak ada satu pun ekspresi emosi yang terlihat di wajahnya, seolah ia adalah patung yang indah namun dingin dan tanpa perasaan. Aura yang dipancarkannya begitu kuat dan misterius, membuat siapa saja yang melihatnya merasa segan dan enggan untuk mendekat.
"Itulah mereka, Luna... Itulah tiga orang yang saat ini memegang kendali penuh atas kekuasaan dan kekayaan keluarga Tanudjaya," bisik Aditya pelan di samping telinga Luna, suaranya terdengar serius dan penuh kewaspadaan. "Perhatikan baik-baik karakter dan sikap mereka, karena hal itu akan sangat berguna bagi kita di masa depan."
Luna mengangguk perlahan, matanya terus menatap ketiga sosok itu dengan penuh perhatian dan rasa ingin tahu yang besar. Ia merasa ada ikatan yang tak terlihat yang menghubungkan dirinya dengan orang-orang itu, ikatan darah dan asal-usul yang membuat hatinya terasa berat dan penuh emosi yang campur aduk.
Saat ketiga pemimpin keluarga Tanudjaya itu akhirnya sampai di lantai dasar dan menyapa para tamu, Aditya pun menggandeng tangan Luna dan berjalan maju mendekati mereka. Langkah kaki Luna terasa begitu berat dan lambat, seolah ia sedang berjalan menuju momen paling penting dan menentukan dalam seluruh hidupnya. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga rasanya hampir meledak di dalam dada.
"Selamat malam, Tuan Reynold, Tuan Julian, dan Nona Clarissa. Saya Aditya Pratama, dan ini adalah pasangan saya, Luna. Kami merasa sangat terhormat bisa diundang dan hadir di acara yang begitu megah dan indah ini," sapa Aditya dengan nada yang sopan, tenang, dan penuh percaya diri, seolah ia sama sekali tidak merasa tertekan atau takut di hadapan ketiga orang yang begitu berkuasa itu.
Reynold menoleh dan menatap Aditya dengan pandangan yang tajam dan mengamati dari atas ke bawah, seolah sedang menilai siapa sosok pemuda di hadapannya ini. Ia mengangguk pelan dengan raut wajah yang masih tetap serius dan dingin.
"Selamat malam, Tuan Pratama. Kami juga sangat senang bisa menyambut kehadiran perwakilan dari keluarga Pratama, keluarga yang sangat terhormat dan berpengaruh di negeri ini," jawab Reynold dengan nada yang formal, kaku, dan penuh kesopanan namun terasa sangat dingin dan berjarak.
Sementara itu, Julian tersenyum lebar dan ramah, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aditya dan kemudian menoleh ke arah Luna dengan pandangan yang penuh rasa ingin tahu dan kekaguman yang terang-terangan.
"Ah, keluarga Pratama! Tentu saja saya sangat mengenal nama itu. Senang sekali bisa bertemu denganmu, Aditya. Dan selamat malam, Nona Luna... Kamu terlihat sangat cantik dan mempesona malam ini. Sungguh sebuah keberuntungan besar bagi Aditya bisa memiliki pasangan seindah dan seanggun dirimu," ucap Julian dengan nada yang manis, ramah, dan menggoda, matanya menatap Luna dengan tatapan yang tajam dan menyelidik, seolah ia sedang mencoba mencari tahu siapa sebenarnya gadis cantik di hadapannya ini dan dari mana asalnya.
Pipi Luna memerah mendengar pujian itu, namun ia berusaha tetap tenang dan bersikap sopan. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat dan ucapan terima kasih. "Selamat malam, Tuan Julian. Terima kasih banyak atas pujian dan sambutannya."
Namun, yang paling membuat hati Luna berdebar dan merasa aneh adalah saat pandangannya bertemu dengan pandangan Clarissa Tanudjaya. Wanita itu menatap Luna dengan tatapan yang sangat tajam, dalam, dan menyelidik, seolah ia sedang melihat menembus jauh ke dalam jiwa dan raga Luna. Tatapan itu begitu intens dan kuat hingga membuat bulu kuduk Luna serentak meremang seketika, dan rasanya seolah seluruh rahasia dan identitasnya telah terbaca dan diketahui oleh wanita dingin itu. Clarissa tidak tersenyum, tidak menyapa, dan tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun matanya terus menatap Luna dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa kaget, rasa penasaran, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa dipahami oleh Luna.
"Selamat malam..." sapa Luna pelan dengan suara yang sedikit bergetar, memberanikan diri menyapa wanita yang begitu misterius dan menakutkan itu.
Clarissa masih terus menatap Luna dalam waktu yang terasa begitu lama dan menegangkan, sebelum akhirnya perlahan ia menganggukkan kepalanya sedikit, dan dengan suara yang rendah, dingin, namun terdengar begitu jelas dan berwibawa, ia menjawab:
"Selamat malam, Nona Luna... Wajahmu terlihat sangat asing namun sekaligus sangat familier bagiku... Seolah aku pernah melihat wajah yang sama persis denganmu puluhan tahun yang lalu..."
Kalimat sederhana namun penuh makna dan misteri itu membuat darah Luna seketika membeku di dalam pembuluh darahnya. Ia menatap Clarissa dengan mata yang terbelalak kaget dan tak percaya. Kata-kata wanita itu begitu tajam dan langsung ke sasaran, seolah ia benar-benar mengetahui sesuatu yang besar dan rahasia tentang asal-usul Luna. Aditya pun langsung merasakan ketegangan yang meningkat drastis, ia segera mempererat genggamannya di tangan Luna dan melangkah sedikit ke depan, seolah ingin melindungi kekasihnya itu dari pandangan tajam dan kata-kata Clarissa yang penuh teka-teki.
"Apakah ada sesuatu yang salah dengan penampilan pasangan saya, Nona Clarissa?" tanya Aditya dengan nada yang sopan namun terdengar tegas dan penuh peringatan, matanya menatap tajam ke arah Clarissa.
Clarissa hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang samar, dingin, dan penuh rahasia, lalu ia mengalihkan pandangannya dari Luna dan menatap Aditya dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Tentu saja tidak, Tuan Pratama. Jangan terlalu berlebihan menanggapi kata-kataku. Aku hanya merasa penasaran saja, karena Nona Luna memiliki raut wajah yang sangat khas... Sangat mirip dengan seseorang yang dulu sangat dekat dengan keluarga kami," jawab Clarissa dengan nada yang santai namun masih terasa menyimpan sesuatu yang tersembunyi.
Suasana di antara mereka berempat menjadi hening dan penuh ketegangan yang terasa begitu berat dan nyata. Luna merasa seolah ia sedang berdiri di atas tanah yang sangat licin dan berbahaya, di mana satu langkah yang salah bisa membuatnya jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Kata-kata Clarissa begitu menyentuh titik paling rahasia dan paling berbahaya dalam hidupnya, dan Luna sama sekali tidak tahu apakah wanita itu benar-benar tahu sesuatu, atau hanya sekadar menebak dan ingin menguji reaksi mereka.
Reynold yang melihat adanya ketegangan di antara mereka pun segera angkat bicara dengan nada yang tegas dan dingin, memotong percakapan yang mulai terasa aneh dan berbahaya itu.
"Sudahlah, Clarissa. Jangan bicara hal-hal yang tidak perlu. Mari kita teruskan menyapa tamu-tamu yang lain," ucap Reynold dengan nada perintah yang tegas, lalu ia menoleh kembali ke arah Aditya dan Luna. "Maafkan sikap adikku ini, Tuan Pratama, Nona Luna. Beliau memang memiliki sifat yang agak unik dan suka berandai-andai. Sekarang, mohon nikmati pesta dan jamuan yang telah kami sediakan. Semoga kalian merasa betah dan senang di sini."
"Terima kasih banyak, Tuan Reynold. Kami akan menikmati malam ini dengan sebaik-baiknya," jawab Aditya dengan sopan, lalu ia dan Luna pun perlahan melangkah mundur dan menjauh dari sana, namun hati mereka berdua masih berdebar kencang dan penuh ketegangan yang belum mereda.
Saat mereka sudah cukup jauh dan berada di sudut ruangan yang agak sepi, Luna pun segera menatap Aditya dengan wajah yang pucat dan penuh rasa kaget serta cemas.
"Aditya... Apakah kamu mendengar apa yang dikatakan Clarissa tadi? Dia bilang wajahku mirip dengan seseorang yang dulu dekat dengan keluarga mereka... Apakah dia tahu siapa aku sebenarnya? Apakah dia tahu rahasia kita?" tanya Luna dengan suara yang bergetar dan penuh kekhawatiran yang luar biasa besar.
Aditya menghela napas panjang, lalu menatap ke arah tiga sosok keluarga Tanudjaya yang masih berdiri menyapa para tamu di seberang ruangan dengan tatapan yang penuh perhitungan dan kewaspadaan. Ia mengerutkan keningnya, memikirkan makna di balik kata-kata Clarissa yang begitu misterius dan menakutkan itu.
"Aku tidak yakin, Sayang... Kata-katanya begitu samar namun begitu tajam dan tepat sasaran. Dia mungkin memang hanya sekadar merasa wajahmu mirip dengan seseorang, kemungkinan besar mirip dengan Nenek Sinta atau Ibu Laras, karena memang darah mereka mengalir di tubuhmu. Tapi ada kemungkinan lain yang lebih berbahaya: dia mungkin memang sudah mengetahui sesuatu, atau setidaknya dia mulai curiga dan sedang mencoba menguji kita. Clarissa Tanudjaya adalah sosok yang sangat cerdas, tajam, dan penuh rahasia. Kita harus sangat berhati-hati terhadap wanita itu, Sayang. Dia mungkin adalah orang yang paling berbahaya dan sekaligus orang yang paling memegang kunci kebenaran di antara mereka bertiga."
Luna mengangguk pelan, rasa cemas dan takutnya perlahan kembali merayap masuk ke dalam hatinya. Ia menyadari bahwa malam ini baru saja dimulai, dan bahaya serta intrik yang ada di tempat ini ternyata jauh lebih besar dan lebih rumit daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kehadiran mereka di sana ternyata langsung menarik perhatian orang-orang paling berkuasa dan berbahaya di keluarga itu, dan mereka kini terjebak di tengah permainan politik dan kekuasaan yang begitu rumit dan berbahaya.
Namun, saat ia merasakan genggaman tangan Aditya yang begitu kuat dan hangat, rasa takutnya perlahan mulai berkurang dan berganti dengan rasa percaya diri. Ia tahu, selama ia bersama Aditya, ia tidak akan pernah sendirian, dan mereka akan mampu menghadapi apa pun yang datang menerjang ke arah mereka.
"Apapun yang terjadi, Aditya... kita akan tetap bersama, kan?" tanya Luna pelan, menatap mata kekasihnya dengan penuh harap dan cinta.
Aditya tersenyum lembut dan penuh kasih sayang, lalu ia mengecup kening Luna dengan penuh rasa sayang dan keyakinan.
"Tentu saja, Sayang. Kita akan selalu bersama, selamanya. Tidak ada satu pun yang bisa memisahkan kita, dan tidak ada bahaya yang bisa mengalahkan kita selama kita bersatu. Mari kita lanjutkan malam ini dengan hati-hati dan waspada. Kita masih harus melihat dan mengetahui banyak hal lagi di tempat ini."
Malam itu masih sangat panjang, dan banyak kejutan serta rahasia yang masih menanti untuk terungkap. Di tengah kemewahan dan keindahan pesta keluarga Tanudjaya itu, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan nasib mereka pun perlahan mulai berputar ke arah yang penuh bahaya namun juga penuh kejutan yang tak terduga.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷