NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seni berantakan

​Embun sisa semalam masih membekas di jok motor Ninja hitam milik Naren saat ia menarik gas menyusuri aspal Bandung yang mulai memanas. 

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. 

Matahari pagi menyengat tengkuk, memaksa keringat mulai merembes di balik kaos hitam yang ia kenakan di dalam jaket kulitnya. 

Di gerbang sekolah, sebuah mobil pick-up tua berwarna putih kusam sudah terparkir. Bak belakangnya penuh dengan kardus-kardus mi instan dan jeriken minyak goreng yang disusun rapi—susunan yang ia kerjakan sendiri sampai punggungnya pegal dua hari lalu.

​Abyan berdiri di samping bak mobil, sedang berusaha melempar-lempar kunci motornya ke udara. 

Ting. Hap.

​"Bos! Telat lima menit lo!" teriak Abyan saat Naren mematikan mesin motor. 

Ceklek.

​"Belum jam delapan," sahut Naren datar. Ia melepas helm, menyugar rambutnya yang lepek karena keringat.

 Ia menatap ke arah lobi sekolah. Sosok tinggi semampai dengan rok abu-abu yang sangat kaku baru saja muncul dari balik pintu kaca. Agnesa.

Naren tetap duduk di atas motornya, menyandarkan siku pada setang.

 Agnesa berjalan mendekat, membawa papan jalan jepit yang penuh dengan kertas catatan. Venzo mengekor di belakangnya, membawa tas berisi botol-botol air mineral. 

Agnesa berhenti tepat dua meter di depan motor Naren, menciptakan batas imajiner yang tegas antara area parkir motor geng dan otoritas OSIS.

​"Semua sudah masuk ke bak?" tanya Agnesa tanpa basa-basi. 

Matanya menyapu bak mobil pick-up.

​"Udah. Sesuai manifes lo," Naren menunjuk dengan dagu.

​"Bagus. Mahendra mana? Dia bilang mau ikut mengawal pakai mobil sekolah," Agnesa menoleh ke kanan dan ke kiri.

​"Mahendra katanya tadi perutnya mules, Nes. Kayaknya kebanyakan makan seblak level mematikan semalam," Abyan menyahut sambil nyengir. 

"Jadi tim pengawal cuma kita-kita aja nih."

​Agnesa mengernyitkan dahi. Ia melihat ke arah Naren, lalu ke arah mobil pick-up tua itu. 

"Siapa yang menyetir pick-up-nya?"

​"Gue," jawab Naren singkat. Ia turun dari motor, berjalan menuju pintu kemudi. 

Kriet.

 Suara pintu mobil yang berkarat itu terdengar ngilu di telinga.

​"Kamu punya SIM A?" Agnesa bertanya dengan nada interogasi.

Naren tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil lebih lebar, menatap jok kursi yang robek dan memperlihatkan busa kuningnya.

 "Lo mau baksos atau mau razia lalu lintas?"

Agnesa terdiam, bibirnya terkatup rapat. Ia memutar pulpen di tangannya dengan cepat.

​"Saya hanya memastikan keamanan logistik. Ini tanggung jawab OSIS," bela Agnesa.

​"Ya udah, lo ikut di depan kalau mau mastiin. Abyan sama Arion biar bawa motor di belakang," Naren masuk ke kursi kemudi.

Agnesa berdiri diam di samping pintu penumpang. Ia menatap interior mobil yang berdebu dan berbau solar itu, lalu menatap Naren yang sedang memasang sabuk pengaman. 

Ia merapikan roknya sejenak, memegang ujung pintu, namun tidak segera masuk. Ada jeda panjang di mana ia hanya memperhatikan gerakan tangan Naren yang memutar kunci kontak.

 Vruum... bat... bat... vruuumm! 

Mesin tua itu menderu, mengeluarkan asap tipis.

​"Nes, mending lo ikut Naren aja. Gue mau balapan sama angin nih," Abyan sudah menghidupkan motornya. 

Brrrruuum!

​"Venzo, kamu bawa motor Mahendra ya?" perintah Agnesa.

​"Siap, Nes," Venzo mengangguk, lalu beranjak menuju parkiran.

​Agnesa akhirnya naik ke kursi penumpang. 

Bugh. Pintu ditutup.

 Di dalam kabin yang sempit, aroma bensin, debu, dan parfum jeruk milik Agnesa bertabrakan dengan hebat.

Udara di dalam kabin terasa pengap. Kaca jendela tidak bisa ditutup rapat, menyisakan celah yang membiarkan suara bising jalanan masuk.

 Di dashboard mobil, ada sebuah pajangan hula-hula kecil yang kepalanya sudah copot, bergoyang-goyang mengikuti getaran mesin. 

Naren memutar radio. Suara statis yang berisik keluar. Krrrzzzt... Ia segera mematikannya.

​"Mobil ini... aman?" Agnesa bertanya sambil memegang pegangan di atas pintu dengan sangat erat.

​"Aman. Cuma berisik aja," jawab Naren.

 Ia mulai menjalankan mobil. 

Crat.

 Ia memindah gigi persneling dengan gerakan kasar.

​Mereka mulai keluar dari gerbang sekolah. Di belakang, tiga motor anak ZENTRIX mengikuti seperti iring-iringan sirkus.

 Abyan sesekali melakukan standing kecil yang membuat Agnesa mendesis kesal.

​"Teman-teman kamu itu tidak bisa sopan sedikit di jalan?"

​"Emang gitu anaknya. Nggak usah dipikirin."

Naren melihat spion, memperhatikan bayangan Abyan yang tertawa-tawa di atas motor.

 Ia teringat waktu SMP, saat ia pertama kali belajar menyetir mobil ini di lapangan kosong dekat ruko. Waktu itu ayahnya—ayah kandungnya—masih ada. 

Ayahnya selalu bilang kalau menyetir itu bukan soal seberapa cepat, tapi soal seberapa paham kita sama mesinnya.

 Sekarang ayahnya sudah tidak ada, dan dia harus berbagi kabin ini dengan seorang cewek yang dunianya penuh dengan rumus kalkulus dan rencana ke Oxford. 

Lucu juga, pikirnya.

 Hidup itu kadang kayak persneling mobil ini; sering macet pas mau dipindah ke gigi yang lebih tinggi.

​"Tangan kamu masih sakit?" Naren bertanya tanpa menoleh. Mata elangnya fokus ke jalanan yang mulai padat.

​Agnesa melihat jempolnya. Plester kelinci itu masih menempel, meski pinggirannya sudah mulai menghitam karena debu.

 "Sudah lebih baik. Kamu... sering membawa mobil ini?"

​"Kadang. Kalau ada kiriman barang ke markas."

​"Markas. Kamu selalu menyebut ruko itu markas. Seperti sedang perang saja."

​"Emang lagi perang," sahut Naren pelan.

​Agnesa menoleh. "Perang melawan apa?"

​"Ekspektasi orang."

​Agnesa terdiam. Ia memutar-mutar papan jalannya.

Agnesa tidak membalas ucapan Naren. Ia justru mulai merapikan tumpukan kertas di papan jalannya yang sebenarnya sudah sangat rapi. 

Ia menata klip kertasnya agar lurus, menyelaraskan sudut-sudut kertas dengan pinggiran papan. 

Tangannya bergerak dengan presisi, namun pandangannya kosong menatap dashboard mobil yang kotor.

​"Oxford itu... bulan apa berangkatnya?" Naren memecah sunyi.

​"Kalau semuanya lancar, Agustus akhir," jawab Agnesa. "Tapi masih banyak tes yang harus saya lalui."

​"Lo pasti lulus. Lo kan pinter."

​"Pinter saja tidak cukup, Naren. Ada standar yang harus saya penuhi. Standar Papa."

​Mobil berhenti di lampu merah. Naren melepaskan tangannya dari kemudi, membiarkan mesin bergetar hebat di bawah mereka.

 Dug, dug, dug, dug.

Naren sedikit memiringkan duduknya, menghadap ke arah Agnesa. 

Jarak mereka di dalam kabin sangat dekat. Ia bisa melihat butiran keringat kecil di pelipis Agnesa. Naren mengulurkan tangannya, tapi bukan ke arah Agnesa.

 Ia mengambil sebuah kain lap kusam di atas dashboard, lalu mulai mengelap debu di depan Agnesa dengan gerakan pelan.

​"Nggak usah tegang gitu. Mobilnya nggak bakal meledak," kata Naren.

​"Saya tidak tegang karena mobilnya," Agnesa membela diri, meski jari-jarinya masih mencengkeram pegangan pintu.

​"Terus karena apa? Karena gue?"

​Agnesa menoleh cepat. Matanya bertemu dengan mata Naren. "Jangan terlalu percaya diri, Naren Aksara."

​"Gue nggak percaya diri. Gue cuma nanya."

​Lampu berubah hijau. Naren kembali memindahkan gigi. 

Krak. Mobil melonjak sedikit sebelum melaju.

​"Aduh!" Agnesa terantuk sandaran kursi.

​"Sori. Koplingnya agak keras."

​"Ini... mobil ini butuh diservis, Naren. Benar-benar tidak efisien," keluh Agnesa, meski nada suaranya tidak lagi sekaku tadi.

​"Nggak ada duit buat servis. Duitnya buat beli bensin motor anak-anak."

​"Itu yang saya maksud dengan tidak efisien. Prioritas kamu berantakan."

​"Berantakan itu seni, Agnes. Lo harus coba sesekali."

​Agnesa mendengus. "Tidak, terima kasih. Hidup saya sudah cukup rumit tanpa harus ditambah dengan 'seni berantakan' versi kamu."

​Mereka memasuki kawasan panti asuhan di pinggiran kota. Jalanannya mulai menyempit dan berbatu.

 Gluduk, gluduk. 

Mobil pick-up itu bergoyang hebat. Kardus-kardus di belakang berderit.

​"Pelan-pelan, Naren! Mi instannya hancur nanti!" Agnesa berseru panik.

​"Tenang. Udah gue ikat kenceng."

​Naren memutar kemudi dengan lincah, menghindari lubang-lubang besar. Ia tampak sangat menguasai mobil tua itu, seolah mobil itu adalah perpanjangan dari tangannya sendiri.

Saat melewati lubang yang cukup dalam, tubuh Agnesa terlempar ke arah Naren. Bahu mereka berbenturan. 

Bugh. 

Agnesa merasakan kerasnya otot bahu Naren di balik jaket kulitnya yang dingin. Ada aroma tembakau yang samar bercampur dengan bau sabun yang sama dengan kemarin. 

Agnesa segera menarik diri, merapikan rambutnya yang berantakan, dan menatap ke luar jendela dengan napas yang sedikit lebih cepat.

​"Sori," gumam Naren.

​"Nggak apa-apa."

​Mereka sampai di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. 

Anak-anak kecil mulai berlarian keluar saat melihat iring-iringan motor Abyan dan mobil pick-up Naren.

​"Woy! Paket datang!" Abyan berteriak sambil turun dari motornya. 

Plak. Ia menepuk bak mobil.

​Naren mematikan mesin. Keheningan mendadak terasa aneh setelah deru mesin yang bising tadi.

​"Ayo turun," ajak Naren.

​Agnesa membuka pintunya. Ia ragu sejenak melihat tanah yang sedikit becek karena hujan semalam. 

Naren sudah turun duluan, ia berjalan memutari mobil dan berdiri di samping pintu Agnesa.

Naren mengulurkan tangannya, telapaknya terbuka menghadap ke atas. 

Agnesa menatap tangan itu selama beberapa detik. Ada bekas oli di bawah kuku Naren, dan kulit telapak tangannya tampak kasar. 

Agnesa tidak menyambut tangan itu. Ia justru melompat turun sendiri, mendarat dengan sedikit goyah di atas tanah becek. Sepatu pantofelnya yang bersih kini ternoda lumpur cokelat.

​"Sepatu lo kotor," kata Naren.

​"Tidak apa-apa. Bisa dibersihkan," jawab Agnesa.

 Ia melihat sepatunya dengan tatapan datar, seolah noda itu adalah variabel yang sudah ia prediksi.

​Naren berjalan ke belakang mobil, mulai membuka tali pengikat bak. Abyan, Arion, dan Venzo sudah mulai mengangkut kardus-kardus.

​"Nes, lo bagian bagian administrasi aja sama ibu panti. Biar kuli-kuli ini yang kerja," Abyan nyengir sambil memanggul dua kardus mi instan.

​"Saya akan membantu menghitung," kata Agnesa.

Agnesa berjalan menuju kantor panti asuhan. 

Naren memperhatikannya dari belakang. Ia melihat rok Agnesa yang terkena sedikit cipratan lumpur di bagian bawah. Naren berhenti menarik tali, ia berkedip sekali, lalu kembali bekerja dengan gerakan yang lebih cepat.

​Kegiatan baksos berlangsung dinamis. 

Suara tawa anak-anak panti pecah saat Abyan mulai melakukan trik sulap gagal dengan tutup botol air mineral. 

Venzo dengan tenang mencatat setiap barang yang masuk, sementara Arion membantu menyusun barang di gudang panti.

​Naren paling banyak bekerja. Ia mengangkut jeriken minyak yang berat itu sendirian. Keringat mengucur deras di wajahnya, membuat kaos hitamnya menempel di tubuhnya.

​"Naren, minum dulu," Agnesa mendekat, menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibuka tutupnya.

​Naren berhenti, mengambil botol itu, dan meminumnya hingga separuh. 

Gluk, gluk, gluk. 

Sisa air menetes dari sudut bibirnya, jatuh ke kemejanya.

​"Makasih."

​"Kamu... tidak capek?"

​"Biasa aja."

​Naren melihat Agnesa yang sedang memegang pulpen di atas papan jalannya.

 Di tengah keramaian panti asuhan, Agnesa tampak seperti anomali. Dia terlalu bersih, terlalu rapi, tapi matanya terlihat lebih hidup saat melihat anak-anak panti berebut snack.

​"Lo suka anak kecil?" tanya Naren.

​"Mereka jujur," jawab Agnesa singkat. "Tidak seperti orang dewasa yang penuh dengan... syarat."

Seorang anak kecil berumur sekitar lima tahun mendekati Agnesa, menarik-narik ujung roknya dengan tangan yang kotor bekas cokelat.

 Agnesa membeku sejenak. Ia melihat rok mahalnya, lalu melihat wajah polos anak itu. Agnesa berjongkok, mengabaikan lututnya yang menyentuh lantai gudang yang berdebu, dan memberikan sebuah pulpen berwarna-warni dari sakunya kepada anak itu.

​Naren melihat itu dari kejauhan. Ia tidak tersenyum, tapi cengkeramannya pada jeriken minyak berikutnya sedikit melonggar.

​Pukul sepuluh pagi. Semua logistik sudah tersalurkan. Ibu panti mengucapkan terima kasih berkali-kali.

​"Ayo balik. Keburu siang, panas," ajak Naren.

​Mereka kembali ke mobil pick-up. Perjalanan pulang terasa lebih santai. Getaran mobil tidak lagi membuat Agnesa panik.

​"Naren," panggil Agnesa saat mereka sudah setengah jalan.

​"Hm?"

​"Tentang Oxford... saya sebenarnya takut."

​Naren terdiam. Ia memindahkan gigi persneling dengan sangat lembut kali ini.

 "Takut kenapa? Takut nggak punya temen sejenis gue di sana?"

​Agnesa tersenyum kecil—senyum yang benar-benar nyata untuk pertama kalinya. 

"Mungkin. Saya takut kalau saya di sana hanya karena keinginan Papa, bukan keinginan saya sendiri."

​"Ya udah, nggak usah pergi kalau gitu."

​"Tidak semudah itu, Naren."

​"Emang nggak mudah. Tapi hidup lo kan punya lo, bukan punya Papa lo."

Naren menepuk-nepuk setir mobilnya yang sudah pecah-pecah kulitnya. Ia seolah sedang memberikan semangat pada benda mati itu agar terus berjalan. 

Pandangannya tetap lurus ke jalan raya yang mulai macet di depan gerbang sekolah.

​"Besok-besok, kalau lo mau 'berantakan' dikit, kasih tahu gue," kata Naren saat mobil memasuki area parkir sekolah.

​"Untuk apa?"

​"Gue tunjukin caranya."

​Agnesa turun dari mobil. 

Sepatunya kotor, roknya ada noda lumpur, dan rambutnya sudah tidak lagi terikat sempurna. Tapi saat ia berjalan menuju gedung sekolah, langkahnya terasa lebih ringan.

​Naren memperhatikan Agnesa dari dalam kabin. 

Ia mengambil papan jalan Agnesa yang tertinggal di jok penumpang.

 Ada sebuah coretan kecil di pojok kertas catatan: sebuah gambar kelinci kecil yang sangat mirip dengan plester di jempolnya.

​Naren mendengus, menyimpan papan jalan itu di dashboard.

​"Kelinci ya..." gumamnya.

​Ia menghidupkan rokoknya yang tadi pagi sempat ia kantongi, menghisapnya dalam-dalam, dan membiarkan asapnya memenuhi kabin mobil tua itu sebelum ia kembali ke dunianya yang berisik di ruko markas ZENTRIX.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Kamu ingin saya marahi?"

​"Lucu aja liat muka lo kalau lagi marah. Kayak kucing mau bersin."

​Naren Senang Dimarahi Agnesa? Yuk Ikuti Kelanjutan Hubungan Mereka di Bab 11: Kendali yang Lenyap

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!