Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Mas Afif... pake icon love dong!
_ Afif _
Wajahnya itu, tanpa sadar ada rekahan senyum yang mengembang dari bibir, berseri seperti mentari pagi. Meski sebenarnya, ada sedikit rasa malu.
Mas, tadi pagi aku liat ada penampakan raja kingkong...
"Astaghfirullah..." gumamnya tertawa kecil, ayunan langkahnya yang baru beberapa meter dari parkiran mobil khusus dosen memancing atensi orang-orang yang terlintasi olehnya.
Jelas. Tentu saja. Absolute. Tak terbantahkan. Sosok dosen kalem, terkesan dingin dan jarang mengumbar senyum seperti dirinya ini, kini tengah tersenyum hangat menyamai mentari siang ini, suatu keajaiban.
"Pagi pak."
"Pagi."
Ia berdehem saat menyadari jika mereka melipat bibirnya menatap dirinya jenaka.
Afif segera mengontrol air mukanya yang terasa geli karena obrolan singkat nan absurd Lova yang seolah-olah menjadi semacam--mood boosternya pagi ini. Apakah ia sudah mencemari penglihatan istri kecilnya itu? Ah rasanya tidak, akan ia anggap itu pemanasan, pembiasaan, adaptasi.
Dan--mas Lova sekolah dulu, assalamualaikum...gestur salim takzimnya yang terasa layaknya gerakan slow motion terputar bak kaset yang di-rewind. Tentu saja suara lembut nan manja Lova rasanya cukup membuat hatinya diliputi perasaan berwarna merah muda, sedikit manis seperti putik bunga. Apakah ini menandakan sinyal-sinyal ia jatuh cinta duluan pada Lova? Gampangan sekali!
Ruangan ber-AC menyambutnya begitu sampai dan masuk lebih dalam ke gedung Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), letaknya di lantai 1 gedung Aljamiah. Yeah! Ia senang dengan letak ruangan dosen berada di lantai rendah tak perlu effort lebih untuknya mencapai ruangannya, dimana tempatnya ada di satu ruang bersama 4 kubikel dosen lain. Sebenarnya universitas tempatnya mengabdi ini memiliki 3 gedung kampus berbeda.
"Wah, ini pengantin baru ngga mau ambil cuti? Rajinnya buat mencetak anak bangsa berkualitas, terus cetak adonannya kapan?!" goda Iman yang sepertinya baru sampai juga disana.
Afif hanya menyunggingkan senyuman tipis tanpa mau mengatakan apapun.
Namun kemudian, seorang rekan lain membuka pintu kaca dimana ia baru saja masuk, "mas Afif, barakallah! Maaf saya ngga bisa datang kemarin."
Afif mengangguk, "wah, sayang banget ya, pak. Tapi ngga apa-apa minta do'anya saja..." jawabnya memantik senyum dari senior. Betul, diantara para dosen yang ada di fakultas ini, di gedung ini, ada dirinya yang termasuk ke dalam deretan dosen muda disini, dengan gelar magister yang telah diraihnya.
"Oh pasti itu. Do'a biar cepet-cepet punya penerus...mas Afif kemasan sachet kalo kata istri saya mah." Pak Drajat tertawa sehingga ekor matanya berlipat-lipat saat ia menyipit, ahh! efek usia yang menua...tunggu apakah ia pun sama?
"Pasti dong pak!" Iman menyambar, "harus sudah punya 3. Jangan sampai nanti dipanggil Abah Anom sama anak...eh tapi istri Afif masih muda, loh pak!"
"Iya Fif?" seolah takjub tak percaya dan ingin mendengar cerita lebih panjang pak Drajat sudah menarik kursi di kubikel pak Arta dan duduk di depan kubikelnya.
Harus jawab apa pertanyaannya, "iya pak. masih 18 tahun."
"Waduhhh, daun muda itu Fif... selamat --selamat, beruntung wong Afif nya juga masih ganteng lah, keliatan umur dua puluhan lah..."
Iman terkekeh, "dua puluh tambah empat belas ya, Fif!" godanya.
Hahahahah, dan mereka tertawa untuk itu termasuk Afif sendiri.
"Terbawa awet muda nanti. Ya ngga apa-apa, wajar, dimaklumi...lelaki menikah usia tiga puluhan masih disebut normal, yang penting sudah punya pekerjaan buat menafkahi, siap mental. Siap mental buat bimbing, buat sabar kalau perempuannya nanti mendadak tantrum."
Dan obrolan itu berakhir dengan dua tiket honeymoon plus akomodasi hotel dan transportasi dari pak Drajat, yang kebetulan sekali sang istri seorang penyedia jasa tur dan wisata di Yogyakarta.
**Ustadz Afif**
*Take a picture 📷*
*Ada waktu libur agak panjang kapan? Lumayan. Rejeki pernikahan*.
Ramainya suasana jam istirahat kedua tak menutupi suara dentingan dan getaran ponsel di saku seragam, Lova yang menikmati camilannya notice dengan itu.
Alisnya berkedut demi melihat itu, meski kemudian ia mendadak berdebar, tiket liburan atau----
Sadar dengan fokus Lova yang beralih pada ponsel, Alika mengamati wajah Lova layaknya pakar mikro ekspresi, "mas suami?" tanpa mencondongkan wajah bermaksud untuk mengintip Alika memilih langsung bertanya, jika kemarin ia masih bisa kurang ajar, maka kini ia cukup paham untuk menjaga privasi Lova.
"Hm."
"Cieee---" kikiknya menusuk potongan buah lalu menyuapkannya ke dalam mulut, "apa katanya? Jangan lupa makan, istriku...begitu?" godanya dan Hahahahah! Lova justru cengengesan karena sikap lebay yang Alika pikirkan tentu bukan Afif banget! Tidak ada dalam kamus sang suami. Dan Lova cukup sangsi jika Afif akan seperti ekspektasi Alika, romantis, sweet, lebay, jangan berharap.
"Engga lah!" tanpa diminta Lova justru menunjukan pesan Afif ke depan Alika memancing alis temannya itu untuk berkerut membaca dua lembar tiket, yang jelas-jelas adalah tiket wisata.
"Ya ampun! Tiket liburan, Va?" ia antusias diangguki Lova, "aaa honey----" Alika segera menutup mulutnya sadar dengan nada yang kelepasan, "honeymoon."
Wajah Lova mendadak malu sendiri, "kayanya."
"Iiiiiii!" Alika menggigit kuku jari tangan, gemas, "ini nih bedanya antara anak muda sama yang udah Mateng! Udah ngga perlu lah gombal-gombal bikin muak, aksi Va...aksi! Jangan sampai dilepas, Va! Yang begini definisi so sweet."
Wajah Lova mendadak panas sampai ke kuping-kuping, menurunkan ponselnya dan kembali meneliti layar ponselnya demi membaca tulisan Yogyakarta.
**Dealova**
*Minggu besok kayanya mas, libur dari hari kamis kan? tanggal merah*.
Tapi tunggu, "Va..."
"Hm?"
"Kok namanya masih ustadz Afif sih, ganti dong...yayang kek, mas bojo, my husband, atau yang agak agak islami gitu my hubby."
Pffttt! Lova meledakan tawanya jadi geli sendiri. Dan yeah! Benar, ia bahkan tidak merubah nama kontak Afif di ponselnya, rasanya masih terasa---geli.
"Ganti lah Va, mau kugantiin? Sini? Langkah awal Va, langkah awal melupakan yang lama menggantinya dengan yang halal..."
Di tengah serunya godaan Alika untuk Lova, beberapa anak datang ke kelas Lova, membuat semua yang ada di luar maupun di dalam notice dengan kedatangan mereka.
"Ada Emir ngga?!" itu Yuda, yang berjalan bersama Afnan dan Hakim demi mencari Emir.
"Hay Lova!" sapa Yuda menarik turunkan alisnya, sementara Afnan yang wajahnya datar saja itu bergegas mengalihkan pandangannya dari Lova, berdiri di dekat gawang pintu memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celana berusaha sibuk mengedarkan mata ke dalam kelas mencari Emir dan semua pengalihannya dari Lova.
Alika berdehem, "Va, cepet ganti namanya....ketik, yang halal..." ucapnya mencoba memutus eye contact Lova dari Afnan, "oh iya..."
*Mas Afif*...ketik Lova.
"Kok gitu doang, pake loveee dong belakangnya, atau sama depannya!" kritik Alika lagi, "kok jadi mendadak hilang sih Va, sisi romantismu? Ayo...ayo...show the love pada orang yang tepat, mencintai orang yang memang harus dicintai."
"Hahahah, iya bawel!" tawa Lova.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny