"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 // MBKCM
Saskia mengaduk sisa teh hangatnya yang mulai mendingin dengan sendok plastik, lalu menatap Kiana dengan mata yang berkaca-kaca. Keheningan sempat menyelimuti meja makan kaki lima itu sebelum akhirnya Saskia mengembuskan napas pasrah.
"Baiklah, Kia. Kalau itu memang alasanmu, aku mendukung keputusanmu," ujar Saskia, suaranya terdengar sedikit serak. "Tapi tetap saja, aku sedih banget. Artinya kita harus berpisah setelah sekian lama."
Kiana menggenggam punggung tangan sahabatnya, mencoba menyalurkan kekuatan. "Jangan sedih, Sas. Kita kan masih satu negara, lagian jarak Jakarta-Bandung itu dekat, kok. Cuma butuh waktu beberapa jam saja."
"Tetap saja beda, Kia! Biasanya kan kita tinggal di tempat yang sama, di kosan yang sama. Kalau malam-malam aku bosan atau kamu lagi mual begini, aku tinggal ketuk pintumu. Nanti kalau kamu di Bandung, aku sama siapa?" keluh Saskia sambil mengerucutkan bibirnya, menyeka sudut matanya yang mulai basah.
Kiana tersenyum lembut, meski hatinya sendiri terasa berat. "Kita masih bisa sering ketemu, Sas. Kalau kamu punya waktu libur, kamu bisa pulang ke Bandung. Dan kalau aku sedang luang, aku juga bisa berkunjung ke Jakarta. Lagipula, zaman sekarang sudah canggih, kita bisa teleponan atau video call setiap hari. Aku tidak akan menghilang dari hidupmu."
Saskia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan rasa sedihnya. "Iya deh, iya. Nanti kalau kamu sudah sampai di Bandung dan dapat tempat tinggal, aku langsung bilang ke ibuku. Biar ibuku bisa sesekali menjengukmu dan membawakan makanan enak untuk si kembar."
"Terima kasih banyak ya, Sas. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap Kiana tulus.
"Sudah ah, jangan bikin aku makin cengeng pagi-pagi begini," seru Saskia sambil bangkit berdiri dari kursi plastiknya. "Bang, jadi semuanya berapa?"
"Tiga porsi bubur komplit sama dua porsi biasa, plus sate dan teh hangat, totalnya jadi enam puluh lima ribu, Neng," sahut abang penjual bubur dengan ramah.
Saskia segera mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan membayarkannya. Setelah urusan sarapan selesai, mereka berdua berjalan kaki kembali menuju kosan. Waktu sudah menunjukkan jam tujuh lewat, dan mereka harus bergegas bersiap-siap agar tidak terlambat masuk kerja.
Sesampainya di kamar kos, Kiana tidak membuang waktu lagi. Dengan tekad yang sudah bulat, dia membuka laptopnya dan membuat email pengunduran diri secara kilat. Jari-jarinya menari di atas keyboard, merangkai kalimat permohonan maaf dan terima kasih yang resmi, lalu langsung mengirimkannya ke alamat email resmi Butik Elegance.
***
Pukul delapan lebih tiga puluh menit, Kiana dan Saskia sudah tiba di butik. Belum sempat Kiana menaruh tasnya di loker karyawan, suara lantang Bu Ambar sudah memanggil namanya dari arah meja depan.
"Kiana! Kiana Mahira, tolong ke ruangan saya sebentar ya," panggil Bu Ambar dengan raut wajah yang tampak terkejut sekaligus bingung.
Kiana menoleh ke arah Saskia, yang hanya bisa memberikan anggukan kecil penuh simpati. "Masuklah, Kia. Hadapi saja," bisik Saskia pelan.
Kiana melangkah perlahan menuju ruangan manajer dan mengetuk pintu sebelum masuk. Begitu dipersilahkan duduk, Bu Ambar langsung memutar layar komputernya ke arah Kiana, menampilkan draf email resign yang baru saja dikirimkan gadis itu satu jam yang lalu.
"Kiana, apa-apaan ini? Kenapa mendadak sekali?" tanya Bu Ambar dengan dahi berkerut dalam. "Kamu benar-benar ingin resign dari Elegance?"
Kiana mengangguk dengan sopan, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil. "Benar, Bu Ambar. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena mengajukan ini secara mendadak. Ada urusan keluarga yang sangat mendesak di Bandung, dan saya harus menetap di sana mulai besok."
Bu Ambar menghela napas panjang, bersandar pada kursi kerjanya dengan raut wajah penuh penyesalan. "Aduh, Kia... sayang sekali, loh. Kamu tahu sendiri kan, performa kerjamu selama dua tahun bergabung dengan Elegance ini sangat bagus? Kamu itu salah satu karyawan teladan di sini. Padahal bulan depan, saya sudah berencana mengajukan kenaikan gaji dan bonus insentif untukmu ke manajemen pusat."
Kiana tersenyum tipis, merasa terharu dengan apresiasi atasannya. "Terima kasih banyak atas kebaikan dan bimbingan Ibu selama ini. Tapi saya sudah memikirkan ini semua dengan matang, Bu. Keputusan saya sudah bulat untuk pulang kampung."
Melihat ketegasan di mata Kiana, Bu Ambar akhirnya tidak bisa memaksa lebih jauh. "Baiklah kalau begitu. Karena kamu sudah memikirkannya, surat resign-mu saya setujui hari ini. Kebetulan hak gajimu bulan ini sudah ditransfer kemarin, jadi hari ini akan menjadi hari terakhirmu memberi pelayanan di Butik Elegance. Tolong selesaikan sisa pekerjaanmu dengan baik sampai sore nanti, ya."
"Baik, Bu Ambar. Terima kasih banyak," ucap Kiana sambil membungkuk hormat sebelum melangkah keluar dari ruangan.
.
.
Di belahan tempat lain di pusat kota Jakarta, tepatnya di dalam aula utama sebuah hotel bintang lima yang megah, suasana tampak luar biasa riuh. Puluhan awak media dengan kamera dan mikrofon sudah memenuhi ruangan untuk menghadiri konferensi pers besar mengenai rencana pertunangan antara Ardan Arkatama dan Dania Abraham yang akan dilaksanakan lusa.
Lampu kilat kamera terus menyala bergantian, mengabadikan momen saat kedua calon mempelai berjalan memasuki panggung utama. Dania Abraham tampil sangat anggun dengan gaun formal berwarna putih gading setelan yang dibelinya di Butik Elegance kemarin siang. Senyum cerah sama sekali tidak lepas dari wajah cantiknya sembari tangannya terus menggandeng erat lengan kokoh Ardan. Di depan kamera, mereka berdua benar-benar tampak seperti pasangan serasi dari kalangan papan atas yang sempurna.
Di barisan kursi paling depan, Kakek Wirya Arkatama terlihat duduk dengan gagah. Kondisi kesehatannya hari ini tampak sangat sehat dan bugar, wajah tuanya memancarkan rasa senang dan bangga yang luar biasa karena akhirnya cucu tunggal kebanggaannya bisa sampai ke titik ini, siap melanjutkan dinasti keluarga mereka.
Namun, di tengah gemerlapnya lampu kamera, ekspresi wajah Ardan justru berbanding terbalik. Meskipun dia sesekali melempar senyum tipis yang dipaksakan demi formalitas di depan awak media, sorot mata elangnya tampak kosong dan dingin. Pikirannya sama sekali tidak berada di dalam aula hotel mewah itu. Pikirannya masih tertinggal di gang sempit kosan Kiana, terus-menerus dihantui oleh kalimat pilu dan isakan menyedihkan dari gadis yang dia hinakan semalam.
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah yang tak kalah besar dan megah dari mansion utama Arkatama, suasana justru terasa sangat sunyi dan penuh intrik. Di dalam ruang keluarga yang bernuansa klasik, Arya Arkatama dan istrinya, Widya, sedang duduk bersantai di sofa kulit sembari menyesap teh hangat dari cangkir porselen mahal.
Mata mereka berdua tertuju lurus pada layar televisi besar yang sedang menampilkan siaran langsung konferensi pers keponakan mereka, Ardan, yang sedang diwawancarai oleh para wartawan.
Arya meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan dentingan pelan, lalu menyunggingkan senyum sinis yang penuh kelicikan. "Lihatlah anak itu, bersandiwara begitu rapi di depan kamera seolah-olah dia adalah pria paling beruntung di dunia."
Widya ikut terkekeh, menyilangkan kakinya dengan anggun. "Biarkan saja mereka menikmati panggungnya hari ini, Pa. Toh, lusa semua kebahagiaan palsu itu akan runtuh."
"Tentu saja," sahut Arya dengan mata yang berkilat penuh ambisi jahat. "Sebentar lagi, sesuatu yang jauh lebih besar dan akan mempermalukan harga diri seorang Ardan Arkatama akan mencuat ke publik. Aku sudah mempersiapkan semuanya."
Widya menoleh, menatap suaminya dengan antusias. "Maksud Papa, soal dokumen itu?"
"Ya. Tepat sebelum acara pertunangan itu benar-benar terjadi lusa, aku akan menyuruh orang untuk mengunggah dan menyebarkan berita valid beserta bukti medis soal kemandulannya ke seluruh media massa," ujar Arya dengan nada puas, seolah kemenangan sudah berada di genggamannya. "Bayangkan saja bagaimana hancurnya nama baik Ardan dan keluarga Abraham saat publik tahu bahwa pewaris tunggal Arkatama Group ternyata mandul seumur hidup. Dia akan semakin down, frustrasi, dan para pemegang saham pasti akan mendesak Kakek Wirya untuk mencopot posisinya sebagai CEO."
"Rencana yang sangat sempurna, Pa," puji Widya dengan senyum lebar, matanya berbinar serakah. "Begitu Ardan jatuh dan disingkirkan, seluruh aset perusahaan dan takhta kekuasaan Arkatama Group otomatis akan jatuh ke tangan kita."
Arya mengangguk setuju, lalu mengambil ponselnya. "Benar. Dan begitu momen itu tiba, aku akan langsung menghubungi dan menyuruh Selvia untuk segera pulang ke Indonesia. Dia harus melepaskan karier konyolnya di sana dan bersiap untuk meneruskan takhta Arkatama."
"Ah, anak itu... kadang aku tidak habis pikir kenapa dia lebih memilih berjalan di atas catwalk di depan kilatan kamera di Paris daripada mengurusi bisnis keluarga," keluh Widya saat mengingat putri tunggal mereka, Selvia Nandrika Arkatama, yang selama ini menolak ikut campur dalam persaingan harta dan lebih memilih menjadi model papan atas di Prancis.
"Makanya, kali ini dia tidak boleh menolak lagi," tegas Arya dengan rahang mengeras. "Menjadi penguasa di Arkatama Group jauh lebih berharga dan terhormat daripada sekadar menjadi pajangan baju di Paris. Kali ini, posisi Ardan pasti akan runtuh, dan jalan untuk putri kita sudah terbuka lebar."