Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: SERANGAN FAJAR BU AMBAR
Keheningan di bawah meja marmer itu terasa makin pekat, hanya diisi oleh suara napas yang memburu dan detak jantung yang berkejaran. Posisi mereka bener-bener tidak aman untuk kesehatan iman. Bima yang menindih Anaya bisa merasakan betapa mungilnya tubuh sang sekretaris di bawah kungkungannya, sementara Anaya cuma bisa meremas ujung karpet beludru, berharap lampu kantor segera menyala sebelum dirinya mendadak kena serangan jantung.
"Pak Bima... Bapak gak apa-apa, kan? Gak gegar otak, kan?" cicit Anaya memecah keheningan, mencoba mengalihkan fokus dari berat tubuh Bima yang terasa begitu nyata.
Bima berdeham pelan, berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawa CEO-nya yang sudah berserakan di atas karpet. Pria itu perlahan menegakkan tubuhnya, bertumpu pada kedua lutut dan tangannya, lalu mundur perlahan demi memberikan ruang untuk Anaya bernapas.
"Saya gak apa-apa, Anaya. Fisik saya ini terlatih, jatuh begini doang gak akan bikin otak jenius saya mendadak eror," sahut Bima, suaranya masih terdengar agak serak, namun nada narsisnya yang legendaris perlahan mulai kembali.
Saat Bima bergerak menjauh, lampu darurat di sudut ruangan tiba-tiba menyala dengan redup, memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Suasana di antara mereka berdua mendadak berubah menjadi sangat kikuk. Anaya buru-buru bangkit berdiri, merapikan kulot krem dan blusnya yang sudah kusut masai akibat drama berguling tadi. Rambutnya yang agak berantakan disampirkan ke belakang telinga dengan gerakan canggung.
Bima juga ikut berdiri, mengancingkan kembali satu per satu kancing kemeja navy-nya yang terbuka, meski pandangan matanya sesekali masih melirik ke arah Anaya yang salah tingkah. Pria itu melirik gelas wiskinya yang untungnya tidak tumpah di atas meja. Efek alkohol yang tadi sempat membuatnya impulsif kini mulai terasa membuat kepalanya sedikit pening.
"Ya sudah, draf revisinya kita pending sampai hari Senin saja," ujar Bima sambil memijat pangkal hidungnya. "Kamu pulang sekarang. Naik taksi daring saja, biar biayanya diganti kantor dua kali lipat."
Anaya mengerutkan dahi, menatap bosnya dengan heran. "Bapak sendiri gak pulang? Gak mau sekalian bareng ke depan, Pak?"
Bima mendengus pelan, menatap Anaya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya gak bisa mengantar kamu malam ini, Anaya. Kepala saya agak pusing karena wiski tadi. Daripada kita berdua berakhir di kantor polisi karena saya menyetir dalam kondisi setengah mabuk, mending kamu aman di dalam taksi."
Mendengar perhatian terselubung itu, jantung Anaya kembali memberikan letupan kecil yang menyebalkan. "Oh... ya sudah kalau begitu. Saya pamit duluan ya, Pak. Bapak jangan lupa minum air putih yang banyak biar gak pusing pas bangun besok."
Tanpa menunggu balasan dari Bima, Anaya langsung menyambar tasnya dan melesat keluar dari ruangan CEO dengan langkah seribu, menyisakan Bima yang menatap kepergiannya sambil mengulum senyum tipis.
Senin pagi pun tiba dengan begitu cepat. Sinar matahari yang cerah menyiram gedung Bimantara Tower, membawa atmosfer sibuk yang biasa. Anaya melangkah masuk ke dalam area kubikelnya dengan setelan kerja yang rapi, mencoba melupakan kejadian gila di hari Jumat malam kemarin.
Baru saja dia meletakkan tasnya di atas meja, seorang kurir khusus dari kediaman utama keluarga Bimantara datang menghampirinya sambil membawa sebuah paper bag mewah yang berukuran cukup besar.
"Pagi, Mbak Anaya. Ini ada titipan paket dari Ibu Ambar khusus untuk Pak Bima. Katanya harus langsung diantarkan ke meja beliau pagi ini juga," ujar sang kurir ramah.
"Oh, dari Bu Ambar? Baik, Mas, terima kasih ya," sahut Anaya sambil menerima paket tersebut.
Begitu kurir itu pergi, indra penciuman Anaya langsung menangkap aroma rempah yang sangat kuat dan menggoda dari dalam paper bag. Karena penasaran, Anaya melongokkan kepalanya ke dalam tas dan menemukan sebuah wadah termos sup premium. Di bagian tutup termos, terdapat sebuah label nama menu yang ditulis langsung oleh koki pribadi rumah utama: "Sup Kerang Dara Madu - Spesifik Penambah Stamina dan Vitalitas Pria."
Mata Anaya seketika melebar sempurna. "Hah?! Sup kerang penambah stamina pria?! Bu Ambar ngapain ngirimin ginian pagi-pagi buta ke kantor?!" gumam Anaya dengan wajah yang mendadak menegang menahan tawa sekaligus heran.
Tak hanya termos sup, di dalam tas itu juga terselip sebuah amplop kecil berwarna merah muda dengan tulisan tangan rapi khas Bu Ambar. Rasa penasaran Anaya yang setinggi langit membuatnya diam-diam mengintip isi catatan di dalam amplop yang tidak dilem tersebut.
Bima, anak Mama yang paling mama sayangi.
Ini Mama kirimin sup kerang khusus buat kamu. Dimakan ya, biar stamina kamu jos dan gak loyo pas kerja! Oh iya, satu lagi... buruan halalin Anaya, gak usah pakai lama! Mama udah DP gedung buat tahun depan, lho. Jangan sampai kamu lambat bertindak terus Anaya malah dicomot cowok berotot dengan moge itu!.
Anaya langsung membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak histeris di tengah kubikel. Pipinya mendadak panas seperti habis dipanggang.
Ya Tuhan... Bu Ambar ini ada-ada aja. Berita di lobi hari Sabtu kemarin ternyata udah sampai ke telinga calon ibu mertua—eh maksudnya Ibu Besar! batin Anaya panik setengah mati.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan malu, Anaya merapikan kembali surat itu, lalu membawa paper bag tersebut masuk ke dalam ruangan Bima.
Tok! Tok!
"Masuk," sahut suara bariton dari dalam.
Anaya mendorong pintu dan melihat Bima sudah duduk rapi dengan kemeja abu-abu yang disetrika licin, tampak segar dan tampan seolah tidak pernah terjadi drama mabuk wiski dua malam lalu. "Pagi, Pak Bima. Ini ada kiriman paket dari Ibu Ambar."
Bima mendongak, menatap paket yang diletakkan Anaya di atas mejanya dengan dahi berkerut. "Kiriman apa pagi-pagi begini?"
"Sup kerang penambah stamina pria, Pak. Kata Ibu, Bapak butuh asupan biar gak loyo," jawab Anaya dengan nada sesantai mungkin, meski sudut bibirnya sudah berkedut menahan tawa melihat ekspresi Bima yang mendadak cengo.
Bima langsung menyambar amplop merah muda yang menyembul dari dalam tas, lalu membaca catatan dari ibunya. Bukannya malu atau salah tingkah seperti orang normal pada umumnya, sebuah senyuman licik dan penuh kemenangan perlahan justru terbit di wajah tampan sang CEO. Mata elangnya berkilat jenaka saat menatap wajah Anaya yang berpura-pura sibuk melihat draf jadwal di tabletnya.
"Oh... jadi Mama saya sudah tahu soal 'cowok moge' itu ya?" sindir Bima sengaja memancing reaksi Anaya. Pria itu melipat suratnya kembali dengan gerakan santai. "Bagus deh. Berarti Mama saya instingnya kuat untuk mengamankan aset berharga masa depan anaknya."
Anaya mendengus pelan, meletakkan tabletnya di atas meja. "Aset apa sih, Pak? Ibu Ambar itu cuma salah paham gara-gara gosip lambe turah mbak-mbak kantor."
Bima menegakkan posisi duduknya, menumpu kedua tangannya di atas meja sambil menatap Anaya lekat-lekat. "Saya gak peduli itu salah paham atau bukan, Anaya. Yang jelas, perintah Mama saya itu mutlak dan tidak bisa diganggu gugat."
Pria itu berdeham sedikit, mengembalikan nada suaranya menjadi santai namun penuh penekanan. "Mama saya menyuruh saya ajak kamu ke rumah utama nanti malam. Beliau mau ngadain makan malam bersama, mungkin sekalian mengklarifikasi soal isu 'cowok moge' yang bikin tensi darah saya naik malam sabtu kemarin."
Anaya terkejut, matanya mengerjap panik. "Hah? Makan malam di rumah utama nanti malam, Pak? Tapi saya—"
"Tidak ada penolakan, Sekretaris Anaya," potong Bima cepat dengan gaya diktator narsisnya yang khas. "Ini perintah langsung dari Ibu Ambar, bukan dari saya. Kalau kamu menolak, kamu sendiri yang harus menjelaskan ke Mama saya kenapa kamu menolak."
Anaya menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang risiko yang akan dia terima. Menolak Bu Ambar sama saja dengan cari penyakit, karena wanita paruh baya itu sangat menyayanginya selama lima tahun ini dan terkenal sangat persisten kalau sudah punya keinginan.
"Ya... ya sudah, Pak. Saya ikut nanti malam. Tapi dengan syarat, Bapak jangan ngomong yang aneh-aneh di depan Ibu ya!" ancam Anaya sambil menunjuk Bima dengan pulpennya.
Bima terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat renyah dan sukses membuat bulu kuduk Anaya meremang indah. "Tergantung situasi, Anaya. Kalau sup kerang dari Mama ini beneran manjur meningkatkan stamina saya pagi ini, bisa jadi pembicaraan nanti malam akan langsung loncat ke draf pemilihan tanggal pernikahan kita."
"PAK BIMA!" teriak Anaya kesal dengan wajah yang sudah berubah sewarna buah stroberi matang, sementara Bima justru tertawa puas menyaksikan sekretarisnya yang lagi-lagi berhasil dia buat kelimpungan sejak fajar menyingsing.
-
-
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...