NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyetrika Air Mata

Vroom.

Suara deru mesin mobil sport Adrian yang memasuki pelataran rumah . Pria itu pulang jauh lebih awal dari biasanya.

Akal sehat Kayla langsung ditarik kembali dari dasar jurang kehancuran. Dengan tangan yang bergetar hebat hingga selembar kertas di genggamannya berbunyi kresek, Kayla buru-buru merapikan kembali dokumen hitam itu. Dia memasukkan map pengalihan 15% saham untuk Valerie dan susunan acara Gala Tahunan itu ke tempat semula, di laci paling bawah meja kerja ek milik Adrian.

Klik.

Laci itu tertutup rapat tepat saat suara langkah kaki berat Adrian terdengar menaiki anak tangga luar. Kayla buru-buru memundurkan langkah, menyeka sudut matanya yang basah dengan ujung daster, lalu keluar dari ruang kerja dengan jantung yang bertalu-talu di balik dadanya.

Suasana di meja makan malam itu terasa begitu mencekik. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal. Di kepala Kayla, angka 15% dan nama Valerie Amanda terus berputar seperti kaset rusak, meremukkan seluruh harga dirinya hingga tak bersisa.

Wijaya Corp bisa berdiri sebesar ini karena otaku, Mas... batin Kayla, menatap kosong pada piringnya yang hanya berisi beberapa suap nasi yang sama sekali tidak disentuh.

Dulu, saat Adrian masih merangkak dari bawah, Kayla yang begadang setiap malam. Kayla yang merapikan seluruh laporan keuangan yang berantakan, memutar otak untuk memotong pajak secara legal, dan menyusun strategi investasi hingga perusahaan itu dilirik oleh konglomerat besar. Semua kemampuan geniusnya sebagai lulusan terbaik akuntansi dia dedikasikan untuk kesuksesan Adrian.

Namun sekarang, setelah pundi-pundi rupiah mengalir tanpa henti, hasilnya justru dialihkan secara resmi kepada wanita lain. Wanita yang tidak tahu apa-apa selain bersolek di depan kamera.

"Lihat ini, Ma! Desain gaunnya bener-bener berkelas banget. Manik-manik di bagian dadanya berkilau, pasti pas banget kalau dipakai Tiara malam Gala nanti," seru Tiara heboh, memamerkan layar iPad-nya kepada Ibu Sandra.

Ibu Sandra tersenyum lebar, mengangguk puas. "Tentu saja. Acara minggu depan itu isinya orang-orang kelas atas. Kita harus terlihat glamor. Malu-maluin kalau datang pakai baju murahan."

Mata tajam Ibu Sandra kemudian melirik ke arah Kayla yang duduk di ujung meja dengan tubuh ringkihnya. "Gak kayak orang tertentu yang gak tahu malu. Tiap hari dasteran pudar, bau minyak angin. Untung Adrian gak berniat bawa kamu ke acara itu, Kay. Bisa jatuh gengsi keluarga kita kalau kolega bisnis Adrian lihat kamu."

Kayla hanya bisa meremas jemarinya di bawah meja. Kalimat mertuanya mengonfirmasi apa yang dia baca di dokumen tadi. Dia melirik Adrian, berharap suaminya akan membelanya atau setidaknya menegur Tiara dan Ibu Sandra. Namun, Adrian tetap bergeming. Pria itu sibuk mengunyah makanannya dengan mata yang tak lepas dari ponsel di tangan kiri, sesekali senyum tipis terukir di bibirnya—senyuman yang Kayla tahu pasti dikirimkan untuk siapa.

Malam semakin larut ketika Kayla akhirnya mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya di dalam kamar tidur mereka. Adrian sedang berdiri di depan cermin, mengancingkan kemeja santainya karena berniat pergi lagi malam itu.

Kayla melangkah mendekat. Jarak di antara mereka terasa begitu jauh, meski hanya terpisah dua langkah. Suara Kayla bergetar hebat saat dia mulai bersuara, menuntut hak yang seharusnya dia miliki tanpa perlu meminta.

"Mas..."

Adrian hanya berdehem pendek, bahkan tidak sudi melirik bayangan Kayla dari pantulan cermin.

"Gala Tahunan perusahaan minggu depan... aku ikut kan, Mas? Aku... aku istri sah kamu. Aku yang mendampingi kamu dari awal perusahaan itu dibangun," ucap Kayla. Setiap kata yang keluar dari bibirnya yang pucat terasa begitu berat, sarat akan permohonan dan sisa harga diri yang terluka.

Gerakan tangan Adrian yang sedang merapikan kerah kemejanya mendadak terhenti. Pria itu membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Kayla dengan sepasang mata yang teramat dingin—sorot mata penuh penghinaan yang langsung menusuk jantung Kayla.

Adrian memperhatikan penampilan Kayla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya tertuju pada pipi Kayla yang kian tirus, kantung mata hitam yang tebal, kulitnya yang kusam karena stres, dan perut buncitnya yang melar luar biasa di usia kehamilan delapan bulan. Semua perubahan fisik yang Kayla alami demi mengandung darah daging Adrian sendiri.

Adrian mendengus sebal, sebuah tawa ejekan yang sangat menyakitkan lolos dari bibirnya.

"Ikut? Kamu ngaca gak sih, Kayla?" kalimat itu keluar dengan begitu tajam tanpa beban. "Lihat badan kamu sekarang. Kusam, kurus kering tapi perut melar kayak karung begitu. Kamu mau datang ke acara elit kolega bisnisku dengan penampilan sekumuh ini? Kamu sengaja mau bikin aku jadi bahan tertawaan di depan media?"

Air mata yang sejak tadi ditahan Kayla akhirnya luruh, membasahi pipinya yang pias. "Tapi aku begini karena mengandung anakmu, Mas! Ini anak kita! Kenapa kamu tega bicara seolah-olah fisikku ini aib buat kamu?!"

"Cukup, Kayla! Aku gak butuh drama air mata kamu!" potong Adrian kasar, suaranya meninggi penuh intimidasi. "Acara minggu depan itu butuh citra yang berkelas untuk investasi masa depan Wijaya Corp. Dan Valerie... dia jauh lebih pantas berdiri di sampingku malam itu. Dia punya aura bintang, dia tahu cara membawa diri di depan kamera, gak kayak kamu yang cuma bisa bikin suram suasana!"

Deg.

Mendengar nama Valerie diucapkan langsung dari mulut Adrian sebagai sosok pengganti dirinya di depan publik, dunia Kayla benar-benar runtuh seketika. Dadanya mendadak terasa luar biasa sesak, seolah seluruh pasokan oksigen di kamar itu menguap habis.

Bersamaan dengan hantaman mental yang begitu hebat, sebuah letupan rasa nyeri yang teramat tajam mendadak mencengkeram perut bagian bawah Kayla. Kontraksi palsu yang sangat hebat akibat syok menyerang rahimnya.

"Akh..." Kayla mengerang kesakitan, tubuhnya seketika lemas kehilangan daya.

Kedua lututnya menekuk, dia terpaksa bertumpu pada tiang ranjang agar tidak ambruk ke lantai. Tangan kirinya mencengkeram perut buncitnya yang mendadak mengeras seperti batu, sementara tangan kanannya memegang dadanya yang sakit. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membanjiri pelipisnya.

Kayla mendongak dengan mata berkaca-kaca, menatap suaminya dengan pandangan memohon. "Mas... sakit... perutku kram banget, Mas... tolong..."

Melihat istrinya yang sedang merintih kesakitan sambil memegangi kandungan tua, Adrian sama sekali tidak bergerak untuk memapahnya. Tidak ada kepanikan, tidak ada rasa khawatir di mata pria itu. Adrian hanya memutar bola matanya malas, mendengus penuh rasa sebal.

"Bisa gak sih gak usah pakai drama kesakitan segala tiap kali aku ngomong jujur? Lama-lama aku muak ya lihat akting kamu yang sok teraniaya begini!" bentak Adrian tanpa belas kasihan. Pria itu berbalik kasar, menyambar kunci mobil dan ponselnya di atas nakas.

"Mending aku keluar malam ini. Rumah ini bener-bener bikin stres dan sepet mata!"

Brakk!

Pintu kamar dibanting dengan sangat keras hingga menimbulkan gema yang memilukan di dalam ruangan. Beberapa saat kemudian, suara deru mobil Adrian terdengar melesat membelah keheningan malam, meninggalkan Kayla yang masih bersimpuh di lantai, menangis tergugu menahan sakit fisik dan batin yang teramat jahanam sendirian di dalam kegelapan.

Keesokan paginya, sisa-sisa badai semalam masih membekas jelas di wajah Kayla. Matanya bengkak dan tubuhnya terasa sangat ringkih, namun dia tetap harus memaksakan diri turun ke lantai bawah untuk menyelesaikan tugas rumah tangga agar tidak memicu amarah Ibu Sandra.

Ting tong!

Suara bel rumah berbunyi nyaring. Kayla berjalan tertatih menuju pintu depan dan membukanya. Di sana berdiri seorang kurir dengan seragam eksklusif, membawa sebuah kotak besar berwarna hitam dengan logo desainer ternama ibu kota di permukaannya.

"Permisi, kiriman paket atas nama Ibu Valerie Amanda, dititipkan ke alamat ini sesuai instruksi Bapak Adrian Wijaya," ucap kurir itu sopan.

Belum sempat Kayla menjawab, Ibu Sandra sudah muncul dari belakang dan langsung merebut kotak besar itu dari tangan kurir dengan wajah berbinar-binar. "Oh iya, benar! Ini gaun yang dipesan Adrian kemarin. Makasih ya, Pak!"

Setelah kurir pergi, Ibu Sandra membawa kotak itu ke ruang tengah dan membukanya. Dari dalam kotak, terhampar sebuah gaun malam berbahan sutra premium berwarna biru malam yang sangat mewah, bertabur swarovski yang berkilauan indah di bawah lampu. Gaun yang sangat anggun, tipe gaun yang hanya bisa dipakai oleh wanita dengan tubuh sempurna tanpa cela.

Ibu Sandra berbalik, menatap Kayla yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan pandangan merendahkan. Dengan gerakan kasar, Ibu Sandra melemparkan kotak besar berisi gaun mewah itu tepat ke arah kaki Kayla. Gaun sutra itu sebagian tersembur keluar, menyentuh lantai di depan sendal jepit yang Kayla kenakan.

"Nih! Mumpung kamu lagi gak ada kerjaan, bawa gaun ini ke ruang setrika. Setrika sampai rapi, jangan sampai ada lecek sedikit pun!" perintah Ibu Sandra dengan nada suara yang teramat ketus dan semena-mena.

"Ini gaun pesanan desainer yang bakal dipakai Valerie buat nemenin Adrian di malam Gala minggu depan. Awas ya kalau sampai kainnya rusak atau ada yang cacat gara-gara kecerobohanmu, kamu gak akan saya kasih makan tiga hari!"

Kayla menatap gaun mewah yang tergeletak di bawah kakinya. Jemarinya bergetar hebat saat perlahan berjongkok untuk memungut gaun milik selingkuhan suaminya sendiri. Air matanya kembali menetes, jatuh tepat di atas lipatan kain sutra mahal yang akan digunakan wanita lain untuk merayakan kesuksesan di samping suaminya. Dia dipaksa merapikan pakaian yang akan merebut posisinya sebagai seorang istri sah.

1
Mundri Astuti
dr. Raditya kayanya yak 🤔
Mundri Astuti
bukannya Kayla dpt bonus ma dp byran tenaganya yak, knapa ga ambil kosan yg bersihan minimal, kan anakmu masih merah kayla
marwah: abis biaya rumah sakit kak Kayla disana 2 minggu devan bayar nya cuman seminggu
total 1 replies
Hari Saktiawan
cerita yang bagus lanjut
Mundri Astuti
next thor
Mundri Astuti
masih kurang thor 😄
Mundri Astuti
tegang juga euy
Mundri Astuti
kereennn kamu Kayla
Mundri Astuti
jangan lupa gugat cerai si bunglon Kayla, tapi sebelumnya kamu harus kuat dulu secara finansial biar bisa melindungi arsen
Yusria Mumba
ya nangung cerita ny pendek, nda seru ahh
marwah: terimakasih kakak cantik udah mampir dan dukung ceritaku mohon sabar ya author lagi bingung bikin jalan Kayla kedepannya, kan dia gak punya apa-apa sekarang kalo langsung ngemis ke devan jadinya gak seru😇😇
total 1 replies
Yusria Mumba
laki2 kurang ajar,
Yusria Mumba
nayla kenapa mesti berhan,pergi aja
rumah poke
mau nyimak dl
𝚔𝚞𝚌𝚒𝚗𝚐 ამოყჹ
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!