NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Hutan Pemakaman Dewa

Angin musim gugur di luar batas Kota Daun Gugur membawa aroma pinus dan tanah kering, namun semakin jauh ke arah tenggara mereka melangkah, aroma itu perlahan tergantikan oleh bau karat darah yang telah mengendap selama ribuan tahun.

Qian Fugui memeluk pedang kayu persiknya erat-erat. Tubuh gemuknya bergetar setiap kali dahan pohon patah terinjak sepatu botnya.

"Niu-bro, Nona Ying... kita sudah berjalan melewati batas Formasi Yang," bisik Fugui, giginya bergemeretak. "Di depan sana adalah Hutan Pemakaman Dewa. Kultivator Foundation Establishment pun harus membentuk kelompok puluhan orang untuk sekadar mencari ramuan di pinggirannya. Kita masuk ke pusatnya hanya bertiga? Ini murni mengantar nyawa pada dewa kematian!"

Zeng Niu tidak mempedulikan rengekan itu. Ia berjalan di depan, memegang Bilah Penebas Tulang yang sengaja tidak ia sarungkan. Pedang raksasa itu bergetar pelan, mengeluarkan dengungan rendah bagaikan kompas spiritual yang merespons panggilan dari pusat hutan.

Pakaian hitam bersulam perak yang dikenakan Zeng Niu berkibar pelan, kontras dengan gaun sutra biru Zhao Ying yang memancarkan pendaran tipis di tengah kegelapan hutan yang semakin pekat.

"Pohon-pohon ini..." Zhao Ying berhenti sejenak, menyentuh kulit sebuah pohon raksasa yang batangnya berwarna abu-abu pucat tanpa daun. "Ini bukan kayu fana. Ini adalah Pohon Tulang Dewa. Tanaman ini hanya tumbuh subur jika disirami oleh darah dan esensi jiwa dari entitas spiritual tingkat atas."

Semakin dalam mereka masuk, pemandangan hutan berubah menjadi semakin ganjil dan mengerikan.

Tidak ada suara burung siluman, tidak ada lolongan serigala angin. Kesunyian di sini adalah kesunyian mutlak. Sesekali, mereka melihat tulang-belulang raksasa ada yang menyerupai naga bersayap, ada pula yang seperti kerangka manusia setinggi bukit terkubur separuh di dalam tanah yang berwarna merah kehitaman.

Namun, bukan tulang-belulang itu yang membuat langkah Zhao Ying perlahan melambat. Matanya yang jernih mulai memancarkan kebingungan yang bercampur dengan kengerian.

Setelah menembus kabut abu-abu yang tebal, mereka akhirnya tiba di ujung rute yang ditunjukkan oleh peta kulit.

Di hadapan mereka, terhampar sebuah ngarai raksasa yang lebarnya nyaris tak berujung. Ngarai itu seolah-olah membelah Benua Selatan menjadi dua bagian. Dan di seberang ngarai tersebut, melayang puluhan pulau batu raksasa di udara yang dipenuhi petir hitam.

Di pusat pulau-pulau melayang itu, berdirilah sebuah gerbang batu yang tingginya menembus awan. Setengah dari gerbang itu telah hancur lebur, menyisakan pilar-pilar patah yang dipenuhi ukiran Aksara Ketiadaan.

Gerbang Makam Asura.

Tetapi pemandangan kehancuran di sekitar gerbang itulah yang melampaui nalar fana mana pun.

Langit di atas gerbang itu tidaklah normal. Ruang dimensinya pecah seperti kaca, memperlihatkan lautan bintang yang hancur. Di beberapa titik, pusaran energi sisa pertempuran masih berputar lambat. Yang paling mengerikan adalah sebuah jejak tebasan pedang raksasa di tanah ngarai jejak tebasan yang panjangnya puluhan mil, memancarkan Niat Kehancuran yang membuat Dantian siapa pun akan bergetar.

Zhao Ying melangkah maju hingga ke tepi jurang, matanya membelalak tak percaya. Napasnya memburu, dan tubuhnya bergetar hebat.

"Tidak mungkin..." bisik Zhao Ying, suaranya sangat lirih, seakan kewarasannya sedang ditarik ulur.

Zeng Niu menyadari perubahan drastis pada sang bidadari. Ia langsung melangkah mendekat, berdiri di sampingnya untuk menghalangi tekanan aura dari ngarai tersebut. "Ada apa, Zhao Ying?"

"Zeng Niu... lihatlah tetesan darah itu," Zhao Ying menunjuk ke arah udara kosong, beberapa tombak di depan mereka, di atas jurang.

Zeng Niu menyipitkan matanya. Di sana, melayang setetes darah berwarna keemasan seukuran kepalan tangan. Darah itu tidak jatuh ke tanah. Ia tertahan di udara, beriak sangat, sangat pelan, seolah waktu di sekitar tetesan darah itu berjalan jutaan kali lebih lambat dari dunia nyata.

"Tebasan raksasa di bawah sana, sisa ledakan bintang di langit, dan darah emas yang membeku di udara itu..." Zhao Ying menangkupkan kedua tangannya ke wajah, matanya dipenuhi teror sejarah. "Itu adalah jejak pertempuran Ayahku... Sang Tiran Ketiadaan."

Fugui yang mendengarnya langsung jatuh terduduk, mulutnya ternganga. "A-Ayahmu yang membuat tebasan pembelah benua ini?! Nona Ying, ayahmu itu sebenarnya monster tahap apa?!"

Namun Zhao Ying tidak mengindahkan Fugui. Ia menoleh ke arah Zeng Niu, tatapannya menyiratkan keputusasaan yang sunyi. Misteri yang selama ini tersembunyi di balik Tiga Puluh Tiga Surga kini mengoyak pemahamannya tentang realitas.

"Zeng Niu... Sejarah di duniaku mencatat bahwa Perang Penaklukan Surga terjadi jutaan tahun yang lalu," ucap Zhao Ying, suaranya bergetar menahan tangis kebingungan. "Tapi lihatlah tempat ini. Niat Pedang dari tebasan ayahku itu masih membara, seakan baru saja diayunkan kemarin sore! Darah emas dewa kuno itu bahkan belum selesai jatuh menyentuh tanah!"

Zhao Ying mencengkeram lengan jubah Zeng Niu, menatap pemuda itu dengan kepanikan yang mendalam.

"Sebenarnya semesta mana yang aku injaki saat ini, Zeng Niu? Jika aku terdampar ke Benua Penjara fana ini melalui retakan dimensi... mungkinkah aku juga terdampar melintasi waktu? Apakah aku berada di masa lalu, saat perang ini baru saja berakhir? Ataukah duniaku di Tiga Puluh Tiga Surga itu sebenarnya hanyalah masa depan yang semu?"

Pertanyaan Zhao Ying menggema di bibir jurang yang sunyi itu.

Sebuah kengerian konseptual merayap. Sekilas, tempat ini menceritakan masa lalu jutaan tahun yang sudah lama terkubur. Namun sekilas, energi murni dan sisa-sisa pertempuran yang masih berdarah ini terasa seperti masa kini seakan-akan dewa-dewa yang seharusnya mati jutaan tahun lalu baru saja dibantai beberapa menit yang lalu di langit benua ini.

Jika ruang dan waktu di tempat ini saling tumpang tindih, maka apa makna dari kehidupan dan kematian?

Zeng Niu menatap tetesan darah emas yang membeku di udara itu, lalu menatap ngarai kehancuran di hadapan mereka. Otak fana-nya tidak memiliki pengetahuan tentang hukum manipulasi waktu tingkat dewa, namun Biji Dao Kesepian yang pernah ia rasakan memberikan sebuah fondasi ketenangan.

Zeng Niu tidak menjawab dengan teori langit. Ia tidak peduli dengan hukum waktu.

Dengan gerakan yang sangat canggung namun tegas, tangan kasar Zeng Niu terulur, menggenggam telapak tangan Zhao Ying yang sedingin es. Kehangatan tubuh fana pemuda itu perlahan mengalir, menembus ketakutan eksistensial sang dewi.

Zhao Ying tertegun, menatap tangan besar yang menggenggamnya erat, lalu menatap wajah perunggu Zeng Niu.

"Masa lalu, masa depan, masa kini, semesta paralel... itu semua hanyalah nama yang dibuat oleh orang-orang yang terlalu banyak berpikir," ucap Zeng Niu datar. Suaranya serak, tapi sangat kokoh, layaknya jangkar yang menahan kapal di tengah badai kosmik.

Mata hitam Zeng Niu mengunci tatapan Zhao Ying.

"Waktu hanyalah sungai yang mengalir, Bintang Putih. Tapi kau dan aku sedang berdiri di sini, saling menggenggam, bernapas, dan merasakan sakit. Itu adalah masa kini-mu. Selama kau berdiri di sampingku, aku tidak peduli apakah kita berada di ujung semesta atau di awal mula dunia."

Zeng Niu mengarahkan Bilah Penebas Tulang ke arah ngarai, ujung pedangnya menunjuk lurus ke arah reruntuhan Gerbang Makam Asura.

"Jika ini masa lalu, kita akan berjalan menembusnya dan merajut masa depan. Jika ini ilusi, kita akan membelahnya," Zeng Niu menyeringai, sebuah senyum arogan namun menenangkan yang sangat khas. "Tugasku adalah mengantarmu pulang. Langit dan waktu harus minggir."

Hati Zhao Ying yang tadi hancur oleh kebingungan kosmik, seketika tenang. Genggaman tangan pemuda kasar ini terasa jauh lebih nyata daripada misteri Tiga Puluh Tiga Surga. Rona merah samar kembali menghiasi pipinya, dan ia mengangguk pelan, membalas genggaman Zeng Niu.

"Ahem!"

Dehaman keras dari Qian Fugui merusak momen epik itu lagi. Pria gemuk itu sedang meringkuk di balik batu raksasa.

"Maaf mengganggu momen 'cinta melintasi ruang dan waktu' kalian, tapi..." Fugui menunjuk ke arah udara dengan pedang kayunya yang gemetar. "Sepertinya 'Masa Lalu' sedang mencoba membunuh kita sekarang!"

Zeng Niu dan Zhao Ying langsung menoleh.

Dari kedalaman ngarai, energi Yin pekat meledak ke atas layaknya pilar hitam. Sisa-sisa arwah dari dewa-dewa yang mati dalam perang kuno itu merespons kehadiran Aksara Ketiadaan pada gaun sutra Zhao Ying dan auranya.

Puluhan bayangan transparan bertubuh raksasa, mengenakan zirah kuno yang hancur dan membawa senjata spiritual patah, perlahan melayang naik dari dasar jurang. Mata kosong mereka memancarkan satu emosi mutlak Dendam yang membakar ruang dan waktu.

"Darah... Sang Tiran... Mati..." desis ribuan arwah kuno itu secara serentak, menciptakan gelombang suara yang membuat Dantian Qian Fugui nyaris retak karena teror.

Zeng Niu melepaskan genggaman tangannya dari Zhao Ying, melangkah satu tindak ke depan. Tangannya memutar Bilah Penebas Tulang dengan ringan, seolah pedang seberat seribu kati itu hanyalah ranting bambu.

Dantian jahitannya berputar liar, menyerap Qi di sekitarnya. Meskipun ia hanya berada di Tahap 4 Pengumpulan Qi, aura kegilaan nya membuat udara musim gugur membeku.

"Mati sekali tidak cukup untuk kalian?" Zeng Niu menantang arwah para dewa fana itu. "Mari kita lihat, apakah tulang-belulang kalian cukup keras untuk pedangku."

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Arinto Ario Triharyanto: keturunan Tiran dinasti klan bintang harusnya ngga ecek2 sih sekalipun kena kutukan
total 1 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
eka suci
aku suka keributan kata Lei Ling 🤭
Arinto Ario Triharyanto
masih jauh dr level mertua nya, cuman arogan nya doang kocak
Sang_Imajinasi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh.....
Sang_Imajinasi: gaspol
total 1 replies
saniscara patriawuha.
cincang cincang sudahhhh....
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll....
Simon Semprul
sanggat menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!