Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari pagi bersinar terang, namun cahayanya seolah tidak mampu menembus suasana dingin dan tegang yang menyelimuti kota. Berita tentang pengungkapan kebenaran kemarin masih menjadi pembicaraan hangat di setiap sudut jalan, di warung kopi, di kantor-kantor, hingga di gedung pemerintahan. Nama Kirana Wijaya dipuji-puji, nama Arya Wijaya kembali diagungkan, sementara nama Ratna Adhitama dicemooh habis-habisan.
Namun, di balik kemenangan moral itu, Arjuna merasa ada mata pisau yang semakin tajam menempel di leher mereka.
Di rumah kontrakan kecil tempat mereka tinggal sekarang, suasana pagi ini tidak sehangat kemarin. Arjuna berdiri di dekat jendela, mengintai keluar lewat celah tirai dengan wajah serius. Matanya meneliti setiap kendaraan yang lewat, setiap orang yang berjalan di trotoar seberang.
Kirana keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia terkejut melihat sikap Arjuna yang begitu waspada.
"Kenapa melamun di situ? Ayo sarapan, bubur sudah matang," ucap Kirana santai, mencoba mencairkan suasana. Dia belum sepenuhnya menyadari betapa besar bahaya yang sedang mengintai.
Arjuna berbalik perlahan, berjalan mendekat dan menangkup bahu Kirana. Tatapannya berat dan penuh peringatan.
"Kirana ... mulai detik ini, jangan pernah lagi berjalan sendirian. Ke mana pun kau pergi, aku atau Pak Hendra harus ada di sampingmu. Jangan buka pintu untuk siapa pun yang tidak dikenal. Dan jangan percaya pada siapa pun kecuali orang-orang yang sudah kita kenal betul."
Kirana mengerutkan kening, heran. "Kenapa bicara begitu? Kita sudah menang, Arjuna. Semua orang tahu kebenarannya."
Arjuna menghela napas panjang, lalu mengajak Kirana duduk di kursi makan. Dia menatap gadis itu lekat-lekat, berusaha membuatnya mengerti betapa kejamnya dunia yang sedang mereka masuki.
"Kau belum mengenal Ratna sepenuhnya. Wanita itu tidak akan menyerah hanya karena nama buruk. Baginya, nama baik bisa dibeli, tapi kekuasaan dan harta adalah nyawanya. Dan sekarang ... kita sedang berusaha merenggut nyawanya itu."
Arjuna mengambil koran pagi yang tergeletak di meja. Di halaman utama masih memuat berita besar tentang konferensi pers kemarin. Tapi dia menunjuk ke kolom berita kecil di halaman dalam.
"Lihat ini ... berita tentang penundaan sidang praperadilan kita. Pengadilan mengajukan alasan administrasi yang rumit dan tidak masuk akal. Padahal bukti kita lengkap. Ini ulah Ratna. Dia punya jaringan hukum yang kuat, dia punya banyak 'teman' di kursi-kursi penting. Dia akan gunakan semua jalur resmi untuk menghambat kita, sampai bukti kita kadaluarsa atau dianggap tidak sah."
Kirana diam, wajahnya mulai berubah serius.
"Dan bukan cuma itu," lanjut Arjuna lagi, suaranya makin rendah. "Tadi pagi Pak Hendra memberi kabar. Dua orang mantan karyawan yang bersedia bersaksi untuk kita kemarin ... mengalami kecelakaan terpisah malam tadi. Satu korban tabrak lari, satu lagi rumahnya dibakar. Mereka selamat, tapi terluka parah dan sekarang takut bicara apa-apa."
Wajah Kirana memucat. Tangannya mencengkeram pinggiran meja erat.
"Dia ... dia berani menyakiti orang lain hanya karena kita?"
"Dia berani melakukan apa saja, Kirana. Dan sekarang ... karena jalur hukum mulai kita blokir, dan jalur sosial sudah hilang ... dia akan main kotor. Dia akan coba bungkam kita selamanya. Kalau kita hilang, bukti hilang, saksi hilang ... maka kebenaran akan hilang lagi bersamanya."
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, telepon genggam Arjuna berdering nyaring. Nama di layar membuat Arjuna langsung tegang: Pak Hendra.
Arjuna mengangkatnya cepat. "Halo, Pak?"
Suara terengah-engah dan cemas terdengar dari seberang.
"Tuan Muda ... jangan keluar rumah! Jangan ke mana-mana! Mereka bergerak! Ada sekelompok orang asing terlihat berkeliaran di sekitar kontrakan kalian. Mereka banyak, dan membawa peralatan yang mencurigakan. Saya sedang dalam perjalanan membawa bantuan, tapi butuh waktu 15 menit lagi!"
Arjuna langsung berdiri tegak, menarik tangan Kirana berdiri dan membawanya masuk ke ruang tengah, menjauh dari jendela.
"Dengar baik-baik, Kirana. Musuh sudah ada di depan pintu. Kita tidak bisa menunggu pasif. Kita harus siap lari atau bertahan. Ingat jalan rahasia yang kita siapkan kemarin?"
Kirana mengangguk cepat, adrenalinnya naik drastis. Rasa takut hilang berganti dengan insting bertahan hidup yang tajam. Dia bukan gadis lemah yang hanya bisa bersembunyi.
"Aku ingat. Lewat dapur, ada celah keluar ke gang belakang."
Bagian luar rumah tiba-tiba riuh. Terdengar suara langkah kaki berat, suara benturan benda keras, dan suara bisik-bisik kasar laki-laki. Jantung Kirana berpacu cepat. Arjuna mendorong Kirana ke balik dinding pembatas, lalu dia sendiri mengintai lewat celah kecil.
Ada sekitar enam orang. Berbadan besar, berpakaian serba gelap, wajah tertutup sebagian. Mereka tidak terlihat seperti penjahat jalanan biasa. Gerakannya terlatih, terorganisir. Di antara mereka, ada satu sosok yang berdiri agak di belakang, mengenakan topi lebar. Saat sosok itu menoleh sedikit, Arjuna mengenali wajah itu.
"Rendra ..." geram Arjuna pelan, matanya menyala marah. "Anak buah kepercayaan Ratna. Orang yang selalu mengerjakan tugas kotor selama ini."
Rendra melangkah maju ke depan pintu pagar rumah kecil itu. Dia mengetuk pintu pagar itu pelan tapi mengancam, lalu berseru dengan suara berat yang sengaja dikeraskan.
"Tuan Muda Arjuna! Kami tahu kalian ada di dalam! Keluarkan dokumen curian yang kalian ambil dari rumah besar kemarin! Serahkan Kirana Wijaya pada kami ... mungkin kami masih berbaik hati membiarkan kamu hidup."
Kirana menatap Arjuna tak percaya. "Mereka mau ambil buktinya ..."
Arjuna tersenyum miring, senyum menantang yang kembali muncul di bibirnya. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah benda pipih kecil yang terbungkus plastik kedap air, lalu menyelipkannya ke saku baju Kirana.
"Dokumen asli aman di tempat lain. Yang ada di sini cuma salinan. Tapi mereka tidak tahu itu. Mereka datang untuk membungkam kita, Kirana. Ratna tidak mau ambil risiko lagi. Dia ingin kita mati di sini, dan dibuat seolah-olah kecelakaan atau perampokan biasa."
Arjuna mencari sesuatu di sudut ruangan, mengambil sebatang besi pipa bekas yang ada di sana, bekas peralatan perbaikan yang belum sempat disimpan. Dia mengayunkannya sebentar, menguji beratnya.
"Kau lewat jalan belakang, Kirana. Lari sejauh mungkin. Temui Pak Hendra di titik kumpul yang sudah kita tentukan. Aku akan tahan mereka di sini sampai kau aman."
Kirana langsung menepis tangan Arjuna, matanya menatap tajam dan tidak terima.
"Jangan minta aku lari sendirian! Aku sudah bilang kan? Kita berjuang sama-sama! Aku bukan beban yang harus kau lindungi di belakangmu! Aku punya tangan, aku punya tenaga, dan aku tahu cara pakai alat bengkel yang jauh lebih mematikan dari besi itu!"
Kirana berbalik cepat ke arah dapur, kembali membawa dua buah kunci pas besar dan berat yang dia bawa dari bengkel dulu. Dia menggenggamnya erat, matanya berkilat penuh semangat bertarung.
"Ajari aku, Tuan Muda. Kita tunjukkan pada mereka ... bahwa pasangan Wijaya Adhitama bukanlah mangsa empuk yang bisa diserang sembarangan."
Arjuna menatap wanita di hadapannya itu. Rasa takjub, rasa bangga, dan rasa cinta bercampur jadi satu. Dia tidak bisa menahan senyum kagumnya. Benar-benar wanita sepadan baginya.
"Baiklah, Nona Montir. Ingat pelatihan dasar yang pernah kuberikan. Jangan melawan kekuatan, tapi gunakan keseimbangan dan celah. Dan apa pun yang terjadi ... jangan lepas dari jangkauan tanganku."
Belum sempat mereka bersiap sepenuhnya, terdengar suara BRAK! keras. Pintu pagar depan sudah dirubuhkan. Langkah kaki berat mulai mendekat ke pintu utama rumah.
"Serbu! Pastikan tidak ada yang lolos! Bakar semuanya kalau perlu!" teriak suara Rendra dari luar.
Pintu utama rumah pun rubuh, dihantam tendangan keras dari luar. Tiga orang berbadan besar masuk serentak, mata mereka liar mencari sasaran.
Dan di sana, di tengah ruangan sempit itu, berdiri Arjuna dan Kirana. Berdiri tegak, berani, dan siap bertarung sampai titik darah penghabisan.
Pertarungan itu meletus seketika.
Arjuna bergerak cepat, menyambar kursi kayu dan menghantamkannya ke arah orang pertama yang mendekat. Suara benturan keras dan erangan kesakitan terdengar. Dia bertarung dengan tenaga dan keterampilan bela diri yang sudah terlatih bertahun-tahun, bergerak lincah di antara meja dan kursi sempit itu, memblokir serangan, dan membalas dengan pukulan keras dan tepat.
Namun musuh jumlahnya banyak. Satu orang berhasil melewati pertahanan Arjuna, berlari cepat ke arah Kirana dengan pisau lipat di tangan.
"Minggir kau gadis sialan!" teriak penjahat itu, mengayunkan pisau ke arah dada Kirana.
Tapi Kirana tidak menjerit, tidak mundur. Dia menunduk cepat menghindar, lalu dengan gerakan terlatih seorang montir yang biasa memutar baut kencang, dia memutar pinggangnya dan mengayunkan kunci pas besar di tangannya ke arah pergelangan tangan penjahat itu.
KRAK!
Terdengar suara tulang retak. Pisau itu terlempar jatuh. Penjahat itu meringis kesakitan hendak mundur, tapi Kirana tidak memberi ampun. Dia menginjak kaki orang itu sekuat tenaga, lalu memukul punggungnya dengan gagang kunci pas sampai orang itu ambruk terguling kesakitan.
"Kau kira cuma kau yang bisa kasar?!" bentak Kirana keras napas, matanya menatap tajam ke musuh-musuh lain yang tertegun melihat keberaniannya.
Arjuna yang baru saja menjatuhkan lawan lainnya, sempat melirik Kirana dan hampir tersenyum bangga di tengah kekacauan itu. "Wanita ini ... benar-benar luar biasa." serunya dalam hati.
Namun, keadaan makin sulit. Dua orang lagi masuk, dan di belakang mereka muncul Rendra sendiri, wajahnya bengis dan marah melihat anak buahnya jatuh satu per satu. Dia mengeluarkan senjata api pendek dari balik punggungnya, mengacungkannya lurus ke arah Arjuna.
"Cukup main-main! Kalian memang tangguh, tapi apakah kalian tangguh melawan peluru?!" ancam Rendra dingin.
Arjuna langsung menarik Kirana ke belakang tubuhnya, melindunginya sepenuhnya. Jarak terlalu dekat, tidak ada tempat bersembunyi. Peluru bisa menembus dinding kayu tipis ini dengan mudah.
"Rendra ... kau tahu kau sedang melakukan kejahatan besar," ucap Arjuna tenang, berusaha mengalihkan perhatian. "Kalau kau tembak kami di sini, semua orang tahu Ratna pelakunya. Kau dan dia akan masuk penjara seumur hidup."
Rendra tertawa sinis, mendekatkan ujung senjata itu makin dekat.
"Kau pikir kami bodoh? Di sini sudah disiapkan semuanya. Ada tabung gas bocor, ada api ... Nanti beritanya akan keluar: Pasangan kekasih tewas terbakar karena kebocoran gas. Sangat menyedihkan, tapi murni kecelakaan. Tidak ada jejak kami. Dan tidak ada bukti apa pun lagi yang tersisa."
Rendra menekan pelatuk senjatanya perlahan. Senyum kemenangan mulai mengembang di bibirnya.
"Selamat tinggal, Tuan Muda. Selamat tinggal, Nona Wijaya."
Bersambung .....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️