Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri Aku Makan dengan Mulutmu
Bab 25: Beri Aku Makan dengan Mulutmu
"Bisa dibayangkan, begitu kembali ke Istana Matahari Terbit, tubuh Kaisar Xinghuang langsung
menggigil kedinginan. Bahkan dua mangkuk air jahe pun tidak banyak membantu," ujar Jin Zhongli.
"Aku sempat ingin memanggil tabib dari Institut Kedokteran Kekaisaran, tapi beliau menolak
karena tidak ingin mendengar ocehan mereka. Aku jadi bingung… lalu teringat bahwa Nona Su
ada di istana."
Sepanjang perjalanan, Jin Zhongli menjelaskan dengan singkat.
Su Ye Lan tampak tenang, tetapi hatinya kacau.
Yan Yuxing benar-benar tidak tahu menjaga diri. Hanya demi beberapa pohon begonia… dia
rela kehujanan seperti itu?
Ia menggerutu dalam hati, namun rasa khawatirnya jauh lebih besar daripada kemarahannya.
Tanpa sadar… ia kembali menganggap Yan Yuxing sebagai orang yang paling penting.
Sesampainya di Istana Matahari Terbit, para pelayan langsung merasa lega melihat Su Ye Lan
datang.
Ia segera memeriksa Yan Yuxing.
Wajahnya memerah, napasnya panas, kesadarannya sedikit kabur.
Su Ye Lan mengerutkan kening.
"Kondisimu sudah cukup parah. Kenapa tidak memanggilku lebih awal?"
Jin Zhongli menjawab pelan,
"Kaisar Xinghuang tidak ingin mengganggu istirahatmu."
"Hmph! Alasan saja. Kalau benar tidak ingin menggangguku, dia tidak akan keluar saat hujan
deras seperti itu."
Nada bicaranya tajam, membuat semua pelayan menunduk takut.
Namun mereka juga tahu hanya Su Ye Lan yang berani memarahi Kaisar Xinghuang seperti itu.
"Cepat siapkan air panas. Ambil juga tas obatku. Aku akan menuliskan resep, ambil ramuan
dari Institut dan rebus secepatnya."
Semua langsung bergerak.
Setelah perawatan akupunktur, demam Yan Yuxing akhirnya mulai turun.
Namun saat diberi obat
Ia menolak.
"Tidak mau… pahit…" gumamnya seperti anak kecil.
Su Ye Lan menatapnya kesal.
"Kalau tidak minum, bagaimana bisa sembuh? Kau mau mati?"
Yan Yuxing menatapnya dengan mata redup, suaranya pelan,
"Memang pahit…"
"Kalau begitu, jangan diminum."
Su Ye Lan pura-pura bangkit hendak pergi.
Namun tangannya langsung ditarik.
"Tolong… suapi aku…"
Su Ye Lan terdiam.
Akhirnya ia mengalah. Ia duduk di sisi ranjang, menopang tubuh Yan Yuxing, lalu mengangkat
mangkuk obat ke bibirnya.
Namun Yan Yuxing justru tersenyum tipis.
"Maksudku… beri aku makan dengan mulutmu."
Wajah Su Ye Lan langsung memerah.
"Kau masih sempat bercanda?!"
Ia hendak mendorongnya, tapi Yan Yuxing sudah memeluknya erat.
"Aku akan minum… jangan pergi…"
Nada suaranya rendah, nyaris seperti memohon.
Su Ye Lan akhirnya menyerah.
Dengan sabar, ia membujuknya sampai obat itu habis diminum.
Setelah itu, Yan Yuxing batuk keras.
Su Ye Lan buru-buru memberinya air hangat.
"Masih pahit…" katanya pelan.
"Nanti juga hilang."
"Tolong aku…"
"Bagaimana lagi?"
Yan Yuxing tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia menarik Su Ye Lan mendekat.
Dalam cahaya lilin yang redup, jarak di antara mereka menghilang.
Su Ye Lan sempat terkejut namun perlahan ia berhenti melawan.
"Jangan pergi… Lan’er…" bisik Yan Yuxing lirih.
Suara itu membuat hatinya goyah.
Ia tidak tahu apakah nama yang dipanggil itu untuk Shen Lanrou… atau dirinya sekarang.
Namun pada akhirnya…
ia tidak lagi menolak.
Perasaan yang terpendam selama enam tahun akhirnya runtuh.
......................
Keesokan paginya…
Su Ye Lan terbangun dan langsung membeku.
Sebuah lengan besar melingkar di tubuhnya.
Ia menoleh dan melihat wajah Yan Yuxing tepat di sampingnya.
Jantungnya berdegup keras.
Kenangan malam tadi membuat pipinya memanas.
Ia mencoba bangkit diam-diam.
Namun tangan itu kembali menariknya.
"Mau pergi begitu saja?"
Suara rendah itu terdengar di telinganya.
Su Ye Lan menghela napas.
"Aku hanya ingin… keluar sebentar."
Yan Yuxing tersenyum tipis.
"Lalu kembali?"
Su Ye Lan tidak menjawab.
"Lepaskan aku. Aku harus berpakaian."
Yan Yuxing malah menatapnya dalam-dalam.
"Tidak perlu terburu-buru. Menurutku… kau sudah sangat indah seperti ini."
Ujung jarinya menyentuh kulitnya.
Su Ye Lan gemetar, lalu menepis tangannya.
Tepat saat itu, suara kecil terdengar dari luar.
"Aku dengar Ayah sakit tadi malam. Su Jiejie menjaganya sepanjang malam. Apa beliau sudah
membaik?"
Itu suara Yan Longquan.
Jin Zhongli menjawab dari luar,
"Kaisar Xinghuang masih beristirahat."
"Aku akan masuk sendiri."
Langkah kaki kecil mulai mendekat.
Wajah Su Ye Lan langsung pucat.
Sementara Yan Yuxing justru tersenyum samar.