NovelToon NovelToon
Clean Off

Clean Off

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Yang Retak

Pagi itu, Nomella melangkah keluar dari sebuah gedung klinik spesialis yang tersembunyi di kawasan tenang Beverly Hills dengan lutut yang terasa lemas. Pertemuannya dengan Dr. Aris, psikolog yang selama bertahun-tahun menangani Zeus, telah membuka kotak pandora yang jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan.

Suara dokter itu masih terngiang jelas di kepalanya.

"Tuan Zeus berhenti mengonsumsi obat-obatan itu bukan karena dia sembuh, Nyonya Sterling. Justru sebaliknya. Efek samping dari penghentian obat delusi dan disosiasi itu adalah kembalinya jati dirinya yang asli secara perlahan. Dia mulai sadar bahwa dia sedang memerankan kakaknya, Zayn. Namun, kesadaran itu membawa rasa sakit yang begitu hebat sehingga otaknya menciptakan mekanisme pertahanan baru: delusi tentang anak."

Nomella teringat bagaimana ia mencengkeram tas tangannya dengan erat saat dokter itu melanjutkan.

"Mimpi-mimpi buruk yang dia alami adalah sisa-sisa alam sadarnya yang mencoba mendobrak masuk. Sifat dingin dan pandangan mata yang kosong yang sesekali Anda lihat? Itulah Zeus yang sebenarnya. Namun, dia memilih untuk memeluk delusi anak itu karena hanya melalui 'sosok ayah' itulah dia merasa berhak untuk tetap hidup dan tetap hangat. Jika dia melepaskan bayangan anak itu, dia akan kembali menjadi pria dingin yang hancur oleh rasa bersalah."

Jadi, kehangatan Zeus selama ini adalah sebuah pilihan yang dipaksakan. Dia lebih memilih menjadi gila demi bisa mencintai Nomella dan "anak" mereka, daripada menjadi waras namun harus menghadapi kenyataan bahwa dia adalah penyebab kehancuran keluarganya sendiri.

Nomella memasuki penthouse dengan langkah yang sarat akan beban pikiran. Begitu pintu terbuka, ia tidak menemukan keheningan. Ia mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah lantai atas.

"Nomella? Kau sudah pulang?" suara Zeus terdengar dari arah selasar.

Nomella mendongak dan melihat Zeus turun dengan kemeja yang sedikit berantakan, wajahnya tampak cemas—jenis kecemasan yang hanya muncul jika menyangkut satu hal.

"Sayang... kau lihat sepatu anak kita?" tanya Zeus cepat. Ia menghampiri Nomella, matanya mencari-cari di sekitar ruang tamu. "Sepatu yang mana, Zeus? Kau membeli begitu banyak barang minggu ini," jawab Nomella, mencoba menetralkan suaranya yang hampir pecah karena emosi yang baru saja ia bawa dari klinik.

"Sepatu yang baru kubeli dua hari lalu, Mella. Yang warna merah dengan tali putih kecil itu. Yang kutunjukkan padamu saat kita makan malam, kau ingat kan?" Zeus bicara dengan nada mendesak, seolah sepatu itu adalah jantung dari rumah ini.

Nomella terdiam sejenak. Ia menatap mata Zeus. Benar apa yang dikatakan dokter. Ada kilatan kegelisahan di sana—sebuah transisi antara pria yang penuh cinta dan pria yang jiwanya sedang terombang-ambing di ambang kehancuran.

"Oh, sepatu itu..." Nomella mengembuskan napas panjang. Ia teringat sekarang. "Aku menyimpannya di lemari kamar anak kita, Zeus. Di rak paling bawah agar tidak terkena debu."

Mendengar kata "kamar anak kita", bahu Zeus yang tegang seketika merosot lemas. Ketegangan di wajahnya mencair. Ya, Zeus memang sudah menyiapkan sebuah ruangan khusus di ujung lorong—sebuah kamar dengan cat warna pastel, lengkap dengan boks bayi buatan Italia dan rak-rak buku cerita yang bahkan belum sempat dibuka segelnya.

Zeus menghela napas lega. Ia melangkah mendekat dan meraih pinggang Nomella, menarik istrinya ke dalam pelukan yang erat dan hangat. Aroma parfum maskulin Zeus yang bercampur dengan bau sabun pagi hari menyerbu indra penciuman Nomella.

"Terima kasih, Sayang," bisik Zeus di ceruk lehernya. "Aku sempat panik tadi. Aku takut kehilangan barang anak kita."

Zeus menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Nomella dengan pandangan yang begitu jernih, begitu teduh, dan penuh dengan binar yang tidak bisa dipalsukan oleh akting mana pun.

"Aku mencintaimu, Nomella."

Tubuh Nomella menegang seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detak yang fatal. Ya Tuhan.

Itu dia. Kata-kata yang selama ini ia nantikan sekaligus ia takuti. Zeus tidak mengucapkannya pada perut Nomella. Dia tidak mengucapkannya pada "jagoan" imajinernya. Dia menatap langsung ke dalam mata Nomella dan mengatakannya dengan suara yang begitu stabil dan tulus.

Nomella merasa dunianya seolah terhenti. Kesadaran menghantamnya dengan keras: Zeus mencintainya bukan hanya sebagai wadah untuk anaknya, tapi sebagai wanita yang menemaninya di tengah kegilaan ini. Namun, pengakuan itu terasa begitu menyakitkan karena Nomella tahu, cinta itu tumbuh di atas tanah yang sedang retak.

"Zeus..." Nomella tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Lidahnya kelu.

Zeus tersenyum kecil, mengira keterdiaman Nomella adalah bentuk rasa malu atau terharu. Ia mengecup kening Nomella dengan lama, seolah ingin menyalurkan seluruh sisa kewarasan yang ia miliki melalui sentuhan itu.

"Aku akan mengambil sepatunya sekarang. Aku ingin meletakkannya di dekat boks bayi," ujar Zeus riang, kembali ke mode "calon ayah" yang narsis.

Nomella hanya bisa mematung di tempatnya berdiri, menatap punggung Zeus yang berjalan menuju kamar bayi dengan langkah ringan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Dia mencintaiku, batin Nomella pedih. Pria yang sedang berjuang melawan kegelapan di kepalanya itu baru saja menyerahkan hatinya padaku.

Nomella menyadari bahwa ia kini berada di persimpangan jalan yang mustahil. Jika ia memaksa Zeus untuk kembali minum obat, ia mungkin akan mendapatkan "Zeus yang asli" yang dingin dan sadar, namun ia akan membunuh kebahagiaan pria itu. Tapi jika ia membiarkan ini berlanjut, ia hanya tinggal menunggu waktu sampai delusi ini meledak dan menghancurkan mereka berdua.

Dan yang paling menakutkan adalah fakta biologis yang masih ia sangkal: bagaimana jika kehidupan di rahimnya itu benar-benar nyata? Bagaimana jika keajaiban itu benar-benar ada untuk menyelamatkan pria yang baru saja menyatakan cintanya?

Nomella meraba perutnya, merasakan getaran aneh yang kini tidak lagi terasa seperti sekadar rasa mual. Ia berbalik, mengikuti langkah Zeus menuju kamar bayi, merasa bahwa mulai detik ini, ia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari takdir yang telah menjeratnya dalam nama cinta dan kegilaan Zeus Sterling.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!