lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
"Naiklah," kata Anya, memberikan ruang di tangga kapal yang terbuat dari komposit ringan yang nyaris tak bersuara saat dipijak. "Kita tidak punya banyak waktu. Frekuensi putih ini seperti suar di tengah kegelapan; bagi mereka yang butuh kesembuhan, ini adalah harapan. Tapi bagi mereka yang ingin memonopoli energi, ini adalah target."
Mira melangkah ke geladak, merasakan getaran halus dari mesin kapal yang tidak menggunakan bahan bakar fosil, melainkan resonansi magnetik yang selaras dengan air di bawahnya. Romano mengikuti di belakangnya, matanya terus memindai garis pantai seolah-olah ia sedang menghafal setiap lekuk karang dan bayangan pohon kelapa di dekat pondok mereka.
"Siapa saja tujuh penjaga lainnya itu, Anya?" tanya Romano saat mereka mulai bergerak meninggalkan dermaga. Kecepatan kapal meningkat secara eksponensial tanpa guncangan berarti. "Apakah mereka seperti Mira? Memiliki garis keturunan yang spesifik?"
Anya menggeleng sambil menatap lurus ke cakrawala. "Beberapa memiliki keterikatan genetik, ya. Tapi yang lain adalah anomali. Seorang biarawan di Tibet yang detak jantungnya sinkron dengan pergeseran tektonik, seorang peretas di Berlin yang secara tidak sengaja menemukan kode biner dalam struktur DNA tanaman... mereka adalah orang-orang yang 'mendengar' sebelum dunia mulai berteriak."
Mira duduk di kursi ergonomis di dalam kabin, menatap peta holografik yang kini terpampang lebih besar di tengah ruangan. Titik-titik cahaya itu kini mulai membentuk garis-garis penghubung, menciptakan jaring laba-laba cahaya di atas permukaan bumi.
"Jakarta," gumam Mira, melihat titik besar yang dulunya adalah pusat kekuasaan Nusantara Group kini tampak redup, dikelilingi oleh pusaran energi abu-abu. "Apa yang terjadi di sana sekarang?"
"Kekacauan yang tenang," jawab Anya pendek. "Tanpa algoritma yang mengatur emosi masyarakat melalui media sosial, tanpa kredit digital yang menentukan nilai manusia, orang-orang mulai mengalami sindrom penarikan diri yang hebat. Tapi di sudut-sudut kota, mereka yang mulai 'mengingat' mulai membangun komunitas baru. Mereka tidak lagi mencari sinyal Wi-Fi; mereka mencari satu sama lain."
Tiba-tiba, salah satu sensor di meja holografik berbunyi dengan nada peringatan yang tajam. Sebuah titik hitam besar muncul di sektor utara, bergerak cepat memotong jalur mereka.
"Itu bukan simpul," ucap Romano, insting tempurnya seketika bangkit. Ia berdiri di samping Anya, menunjuk ke layar radar. "Itu kapal patroli berat. Model lama, bertenaga diesel. Mereka tidak terkena dampak malfungsi elektromagnetik karena teknologinya terlalu primitif."
"Sisa-sisa faksi militer Nusantara Group," bisik Anya, wajahnya mengeras. "Mereka tidak mau berganti kulit. Mereka ingin merobek kulit baru ini untuk kembali ke cara lama."
Mira berdiri, tangannya menyentuh permukaan holografik, merasakan getaran dari mercusuar yang kini jauh di belakang mereka namun tetap terhubung melalui frekuensi yang ia bawa dalam dirinya.
"Mereka pikir mereka bisa menghentikan air pasang dengan tangan kosong," ucap Mira dengan nada yang dingin namun penuh wibawa. "Romano, apakah kita bisa melewati mereka tanpa pertumpahan darah?"
Romano menatap Mira, melihat kilatan emas yang samar di pupil matanya—sisa-sisa sinkronisasi dengan kristal gua. "Tergantung pada seberapa jauh kau bisa memproyeksikan frekuensi itu, Mira. Jika kau bisa membuat mereka 'mengingat' siapa mereka sebenarnya sebelum mereka menjadi mesin perang, mereka akan menurunkan senjata itu sendiri."
Kapal modern itu terus melaju, membelah ombak perak menuju bayangan kapal perang yang mulai muncul di balik kabut laut, sementara di dalam kabin, sebuah pertempuran antara kehendak manusia dan gema masa lalu baru saja dimulai.
"Beri aku kendali atas pemancar eksternal kapal ini," pinta Mira pada Anya. "Jika mereka ingin mendengar suara dari Timur, akan kuberikan melodi yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan."
Anya ragu sejenak, jemarinya tertahan di atas konsol kendali yang transparan. "Frekuensi ini belum stabil, Mira. Jika kau memaksanya keluar melalui pemancar kapal, ada risiko resonansi balik. Sarafmu bisa terbakar sebelum suara itu sampai ke mereka."
"Aku tidak akan membiarkannya," potong Romano, suaranya berat dan penuh kepastian. Ia melangkah ke belakang Mira, meletakkan kedua tangannya di bahu wanita itu, seolah menjadi konduktor alami bagi energi yang meluap. "Gunakan aku sebagai jangkarmu. Kau adalah frekuensinya, aku adalah buminya. Biarkan energi itu mengalir melaluiku jika tekanannya terlalu besar."
Mira menoleh sedikit, menatap mata Romano yang memancarkan kepercayaan tanpa syarat. Ia mengangguk pelan pada Anya. Dengan helaan napas panjang, Anya menggeser tuas virtual, dan seketika, dinding kabin kapal seolah menghilang, digantikan oleh proyeksi medan energi yang melingkupi kapal mereka.
"Pemancar aktif," bisik Anya. "Tiga puluh detik sebelum kita masuk dalam jangkauan tembak mereka."
Di cakrawala, kapal perang tua itu tampak seperti monster besi yang sekarat, mengeluarkan asap hitam pekat yang mengotori langit perak. Moncong meriamnya mulai berputar, membidik kapal ramping yang melaju tanpa suara ke arah mereka.
Mira memejamkan mata. Ia tidak mencari kemarahan atau ketakutan para tentara di kapal itu. Sebaliknya, ia mencari kekosongan di dalam diri mereka—kerinduan yang tersembunyi di balik seragam dan perintah. Ia membayangkan struktur kristal di gua tadi, bagaimana setiap getarannya menyembuhkan retakan pada jiwa.
"Sekarang," bisik Mira.
Sebuah gelombang yang tidak terlihat secara visual, namun terasa seperti hembusan angin hangat di tengah musim dingin, memancar keluar dari kapal. Di layar monitor, grafik frekuensi melonjak tajam, membentuk pola fraktal yang rumit.
Romano menggeram pelan, otot-otot lengannya menegang saat ia merasakan arus listrik statis merambat dari bahu Mira ke tubuhnya. Ia bisa merasakan emosi mentah yang dipancarkan Mira—bukan perintah untuk berhenti, melainkan sebuah pengingat akan bau tanah setelah hujan, suara tawa anak kecil, dan kedamaian saat matahari terbenam.
Di kapal perang itu, seorang operator meriam yang jarinya sudah gemetar di atas pelatuk tiba-tiba mematung. Air mata mulai mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Ia tidak melihat radar; ia melihat ibunya yang sedang menenun di teras rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Di ruang mesin, para mekanik menjatuhkan kunci inggris mereka, tertegun oleh keheningan mendadak yang terasa lebih keras daripada deru mesin diesel.
Kapal perang itu melambat. Moncong meriamnya yang tadinya mengarah tepat ke kabin Mira, perlahan turun, tertunduk lesu seolah kehilangan keinginan untuk menghancurkan.
"Mereka berhenti," ucap Anya tak percaya, matanya terpaku pada sensor panas yang menunjukkan aktivitas di kapal lawan menurun drastis. "Mereka... mereka hanya diam."
Mira membuka matanya, napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi keningnya. Romano segera menangkapnya saat lutut Mira melemas, mendekapnya erat.
"Kau melakukannya," bisik Romano di telinganya. "Kau memberikan mereka pilihan untuk menjadi manusia kembali."
Mira menatap kapal perang yang kini terombang-ambing tak berdaya di kejauhan. "Pilihan itu menyakitkan, Romano. Mengingat siapa dirimu berarti mengingat semua kesalahan yang pernah kau buat. Aku tidak tahu apakah mereka akan berterima kasih atau justru membenciku karena ini."
"Setidaknya mereka hidup untuk merasakan keduanya," sahut Romano.
Kapal Anya terus melaju, melewati kapal perang yang kini hanya menjadi monumen besi yang sunyi. Di depan mereka, langit mulai terbuka, menampakkan koordinat yang terus berkedip di peta holografik—sebuah titik di tengah samudra yang secara geografis tidak seharusnya ada di sana.
"Kita hampir sampai," kata Anya, suaranya kini mengandung nada hormat yang baru. "Tempat di mana ketujuh penjaga lainnya berkumpul. Tempat yang mereka sebut sebagai Zero Point."
"Apakah mereka akan menerimaku?" tanya Mira pelan, masih bersandar pada dada Romano.
"Mereka tidak punya pilihan lain," jawab Anya sambil menatap ke depan. "Karena kaulah satu-satunya yang membawa kunci untuk menyelaraskan semua simpul itu. Tanpamu, mereka hanya suara-suara yang berteriak di dalam kegelapan. Bersamamu, mereka adalah simfoni."
Romano mengeratkan pelukannya, menatap ke arah laut yang luas. "Bersiaplah, Mira. Bab yang tidak pernah bisa ditulis oleh siapa pun itu... sepertinya kalimat pertamanya baru saja dimulai."