Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut Kesucian Zevanya Adistira di sebuah kamar hotel, Zevanya yang berprofesi sebagai pelayan di hotel itu Kaget saat melihat Arkananta Mahendra yang datang dalam keadaan Mabuk, Arkananta kemudian menarik tangan Zevanya masuk ke dalam kamar yang gelap, dan melakukan kesalahan nya dengan meniduri Zevanya, Namun saat Arkan Terbangun tanpa tahu wajah Zevanya, Zevanya justru memilih pergi meninggalkan Arkananta Mahendra dengan Membawa benih Arkan yang sudah tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Semalam
Keesokan harinya,
Arkan terbangun dengan kepala yang terasa berdenyut.
Arkan tersentak kaget saat menyadari dirinya tidak mengenakan busana.
Kemudian pikiran Arkan teringat dengan pelayan wanita yang ia dorong masuk ke dalam kamar,
"Kenapa aku seperti ini? wanita itu?dimana dia?"
Arkan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Bercak merah seperti darah dan cairan putih terlihat di seprai,
Apa yang sudah kulakukan pada pelayan itu? Aku benar-benar hilang kendali...kenapa dia tidak membangunkan ku? "
Saat itu,
Tiba-tiba ponsel Arkan berdering.
Nama 'Baskara Mahendra' terpampang di lay
"Kamu di mana?! Kenapa tidak pulang semalaman, Arkan?
Ayah menyuruhmu mencari istri dan memberikan cucu, bukan kelayapan!
Kita butuh pewaris untuk penerusmu!"
Ucap baskara dengan nada tinggi.
Arkan tidak membalas. Ia justru mematikan teleponnya dengan kasar.
Pikirannya hanya memikirkan tentang pelayan wanita itu,
dimana wanita semalam? Kenapa dia menghilang? aku bahkan tidak mengingat wajahnya, apalagi namanya.
Kemudian Arkan langsung bangkit dari kasur,
memutuskan untuk pergi ke kantornya,
Sepanjang perjalanan ke kantor,
Arkan tidak bisa fokus.
Bayangan samar tentang wanita yang ia renggut paksa malam itu terus menghantui pikirannya.
Sementara zevanya,
Justru kembali ke hotel dengan Langkah kaki yang terasa berat,
ia kembali memasuki lobi hotel untuk bekerja.
Meski tubuhnya terasa remuk dan hatinya hancur,
ia tidak punya pilihan.
Ia harus bekerja.
Dengan sisa keberanian yang ada,
ia merapikan seragamnya,
berusaha menutupi bercak kemerahan di lehernya dengan kerah baju yang dikancing tinggi.
Seketika Matanya tertuju pada kamar yang semalam menjadi saksi bisu kehancurannya.
Dengan tangan gemetar,
Zevanya memberanikan diri mendekat.
Ia menarik napas,
lalu perlahan membuka pintu yang sedikit terbuka itu.
Kosong.
Pria itu sudah tidak ada.
Kamar itu tampak berantakan,
sprei yang terlihat bercak darah dan cairan putih beserta aroma maskulin bercampur alkohol masih tertinggal,
membuat zevanya mengingat kejadian malam itu,
"Dia sudah pergi,"
gumam zevanya.
Kemudian Zevanya terduduk lemas di tepi ranjang kamar itu,
Ia menyentuh permukaan kasur yang masih terasa dingin.
"Jika sesuatu terjadi padaku nanti... aku bahkan tidak bisa menyalahkannya.
Aku tidak mampu menolaknya semalam, meski dia memaksaku dengan begitu keras."
Kemudian Air mata zevanya kembali menetes.
Penyesalan itu datang bertubi-tubi.
Bagaimana mungkin aku membiarkan diriku terjebak dalam situasi seperti ini?
"Bodoh... Zevanya, kamu benar-benar bodoh,"
Tangis Zevanya.
"apalagi Aku juga benar-benar tidak ingat wajahnya.
Yang kuingat hanya sorot matanya yang tajam dan dingin..."
Ucap Zevanya.
Kemudian Zevanya mencoba mencari cari detail kecil.
Sebuah jam tangan mewah? Atau mungkin kartu nama?
Zevanya mulai mencari di sekitar meja dan bawah bantal,
berharap pria itu meninggalkan sesuatu—bukan untuk menuntut.
tapi setidaknya dia tahu wajah atau nama pria yang semalam tidur bersama nya.
Namun, hasilnya nihil.
Pria itu pergi seolah-olah Zevanya hanyalah mimpi buruk yang harus segera dilupakan.
Kemudian Zevanya akhirnya melanjutkan pekerjaannya,
Sementara itu,
Di sisi kota,
perusahaan milik keluarga Mahendra,
mobil mewah yang berwarna hitam legam berhenti tepat di depan pintu lobi.
Arkananta Mahendra turun dengan kacamata hitam,
menutupi matanya yang masih sedikit merah karena sisa mabuk semalam.
Ia menghentikan asisten pribadinya Rio,
yang sudah menunggunya dengan berkas di tangan nya.
"Rio, cari tahu siapa pelayan wanita yang bertugas membersihkan hotel lantai empat semalam tempat saya Menginap,"
perintah Arkan dengan suara dingin tanpa ekspresi.
Rio sedikit terkejut,
namun segera mengangguk patuh.
"Baik, Tuan Arkan. Ada masalah dengan pelayanan mereka?"
Tanya Rio.
Kemudian Arkan terdiam sejenak.
Ia teringat sentuhan tangan yang gemetar dan desahan pelan di kamar terkunci itu.
Sesuatu yang seharusnya hanya pelampiasan,
justru meninggalkan rasa penasaran yang aneh di hatinya.
"Hanya... ada sesuatu yang tertinggal di sana," jawab Arkan.
Setelah menyuruh Rio,
Arkan Masuk ke dalam ruang kerja nya,
Arkan duduk dan terdiam di kursi kebesarannya.
Pandangannya kosong namun pikiran nya memikirkan kejadian malam itu,
Arkan menatap gedung-gedung mewah,
di balik jendela kaca ruangan nya,
"Kenapa wanita itu tidak membangunkanku malam itu?"
gumam Arkan pelan.
Kemudian Bayangan pagi hari nya setelah kejadian malam itu,
kembali muncul di pikiran Arkan.
Bercak merah yang mengering di seprai,
dan gairah nya di atas seprai putih,
menjadi saksi yang tak bisa di bantah oleh Arkan.
Kemudian Arkan mengingat saat Arkan mendorong tubuh Zevanya,
masuk ke dalam kamar dalam keadaan mabuk berat.
Arkan Mengingat kehangatan dari desahan pelayan wanita itu,
namun Arkan tidak habis pikir,
kenapa pelayan wanita itu justru memilih pergi,
Meninggalkan nya sendiri.
"Kenapa dia pergi? Jika dia terbangun lebih dulu, tapi kenapa justru memilih melarikan diri?"
Gumam Arkan bingung.
Meskipun penglihatannya samar,
karena pengaruh alkohol,
ingatan Arkan tentang sosok pelayan wanita itu,
masih meninggalkan jejak di pikiran nya.
Pelayan hotel yang terlihat sangat cantik meski hanya dari kejauhan.
"Aku benar-benar kacau malam itu. Aku bahkan tidak sempat menanyakan namanya, apalagi memperkenalkan diriku."
Ucap Arkan dengan nada kecewa.
Kemudian Arkan memijat pangkal pelipisnya yang berdenyut.
Rasa bersalah mulai timbul di hatinya.
Mengingat Bercak darah yang berada di seprai,
Itu seolah memberikan tanda bagi Arkan,
bahwa ia adalah pria pertama dan satu-satunya yang menyentuh pelayan wanita itu.
Dan Arkan merasa bersalah karna telah merenggut nya,
"Apa pelayan wanita itu sangat membenciku atas apa yang kulakukan? sehingga dia pergi?"
Ucap Arkan dengan pikiran frustrasi.
Kemudian Pertanyaan-pertanyaan sendiri menghantuinya.
"Haruskah aku mencarinya? Haruskah aku menanyakan kenapa dia pergi dan memohon maaf atas perbuatanku?"
Ucap Arkan pelan.
Kemudian Arkan mengepalkan tangannya di atas meja.
dan mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja,
Kejadian malam itu seperti terus mengusik batin dan pikiran nya,
Kemudian Arkan menyandarkan punggungnya di kursi.
menatap langit-langit ruang kerjanya yang mewah.
Ia terbayang jika ia benar-benar menemukan wanita itu.
Apa yang akan ia katakan?
Apakah ia sanggup menatap mata wanita yang kesuciannya telah ia renggut,
dalam keadaan mabuk
" Apakah aku harus mencarinya, Apa aku harus menanyakan padanya, kenapa dia pergi malam itu dan meninggalkanku sendirian? Apakah dia sangat membenciku sampai tidak sudi melihat wajahku saat aku terbangun?"
Ucap Arkan pelan.
Namun tiba tiba Ada rasa takut di hati nya,
Arkan—takut jika wanita itu menatapnya dengan penuh kebencian,
atau justru lebih buruk lagi,
Arkan menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya.
"Aku harus tahu alasannya. Aku tidak bisa membiarkan kejadian ini menghantuiku selamanya. Aku harus menemukannya, meskipun hanya untuk meminta maaf."
Ucap Arkan.
Kemudian Arkan memutuskan,
Untuk melupakan bayangan malam itu,
sampai dia menemukan wanita pelayan itu,
Agar rasa bersalah tidak menghantui dirinya terus menerus,
Arkan kemudian,
menyibukkan diri kembali,
dalam bisnis Mahendra Group,
Meskipun dengan rasa bersalah yang terus menghimpit dadanya,
"malam itu wanita pelayan itu yang memilih pergi begitu saja, apa Mungkin itu memang keinginannya,"
pikir Arkan, dengan hati yang selalu bertanya tanya.
gak sadar diri cm anak pungut 🤣🤣🤣
mna ada seorang ibu yg sdh kehilangan anak tp giliran keberadaan anak nya sdh ada titik terang ,, Dia TDK mau menerima nya 🤬😡
kaan ibu yg tolooooool bgtu ,, ibu brengseeek nama nya 🤬😡
naluri nya sbgi seorang ibu itu gda di diri Siska 🤦🤦🤦🤦🤦
emosi aku .... emosi banget 😤😤😤😤
cb ingin tahu aku kira-kira JK sdh terbukti semuanya ttg keasliannya Zeva anak kandung Wijaya ,,, si Siska bagaimana yaaa sikap nya ❓❓
pembantu menculik anak majikan dan membuang nya ke panti asuhan demi anak nya sndri gak hidup melarat 😡🤬
anak kandung di buang dan anak pembantu JD JD anak majikan 😭🤣🤣
emak dan anak sama-sama jahat nya ,,,, buah jatuh TDK jauh dr pohon nya 🤣🤣