Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Pulang dari sekolah, Vania dan Resa berencana untuk pergi ke supermarket terdekat. Kebetulan kebutuhan dirumah sudah menipis. Vania juga sengaja ingin menghibur Resa agar tidak cepat pulang dan kembali murung dirumah.
"Bunda, aku mau beli ini boleh?" tanya Resa sambil menunjukan satu mainan di tangannya.
"Resa, bukannya dirumah sudah banyak sekali mainan ya." ucap Vania lembut.
Meskipun Vania bisa saja membelikan mainan itu untuk Resa, tapi Vania tidak ingin putranya membeli sesuatu yang nantinya akan menumpuk tanpa memberi manfaat lebih untuk Resa sendiri.
"Tapi Bunda."
"Ambilah Boy."
Vania dan Resa mengalihkan pendangan mereka pada pria asing tinggi dengan pakaian jas yang terlihat begitu pas ditubuh atletisnya.
Vania meneliti wajah pria asing yang terlihat familiar. Tapi Vania sama sekali belum ingat apakah mereka pernah bertemu atau tidak.
"Bunda." cicit Resa mendekat pada Vania saat pria asing itu tampak mendekat dan mensejajarkan tubuh tingginya dengan membungkuk di depan Resa.
"Jangan takut Boy, ambilan mainan ini. Biar Uncle yang belikan." ucap pria itu sambil mengelus kepala Resa.
"Tuan maaf, tidak perlu. Ini merepotkan." ucap Vania.
Pria itu kemudian menegakkan tubuh tingginya dan berdiri sambil menyodorkan satu tangannya pada Vania.
"Kau lupa padaku?" ucap Pria itu.
Vania semakin tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh pria asing di hadapannya. Melihat raut wajah kebingungan Vania pria itu terkekeh.
"Kita pernah bertemu di Bandara X." ucap pria itu mengingatkan.
Vania mencoba mengingat-ingat kejadian di Bandara. Tidak lama ingatan Vania langsung tertuju saat mereka transit di Bandara X dan Vania menabrak pria asing disana.
"Apa Tuan." tunjuk Vania
"Ya, saya yang saat itu kalian tabrak." jelas pria tersebut.
Vania segera membungkukkan badannya di hadapan pria tersebut.
"Maaf Tuan, saat itu saya lupa meminta maaf dengan benar." ucap Vania sungkan.
"Tidak tidak perlu meminta maaf. Lagipula saat itu saya tahu kamu sedang terburu-buru dan repot dengan langkah putramu ini." ucap pria itu.
Vania tersenyum tenang saat pria itu ternyata baik dan tidak seangkuh penampilannya yang terlihat maskulin.
"Saya Nathan." ucap pria itu dan kembali mengulurkan tangannya.
Vania sempat ragu saat pria di hadapannya ini mengajaknya berkenalan. Tapi Vania tidak bisa abai dan menolak ajakan perkenalan dari orang yang sudah ramah padanya.
"Saya Revania, panggil saja Vania." jawab Vania sambil menerima uluran tangan Nathan.
Nathan tiba-tiba merasakan gelenyar aneh saat Vania menerima uluran tangannya.
"Tangannya hangat." batin Nathan.
.
.
"Bunda, Uncle Nathan baik ya." ucap Resa setelah mereka sampai dirumah.
"Iya Sayang, tapi Ayah juga baik kan." tutur Vania.
Setelah perkenalan tadi Vania bisa melihat Resa yang terlihat nyaman berbicara dengan Nathan yang notabene nya orang baru untuk mereka.
Bukan Vania tidak suka, hanya saja mereka masih asing di Negara ini. Jadi Vania tidak ingin Resa terlalu dekat bahkan nyaman dengan orang asing.
"Ayah memang baik, tapi Ayah jarang sekali bisa berbicara banyak dengan Resa Bun." keluh Resa.
Vania tahu jika Resa sedang merasa kecewa dengan Satria yang sering tidak memiliki banyak waktu untuk mereka. Tapi Vania tetap harus memberi pengertian pada Resa agar tidak semakin kecewa pada Ayahnya sendiri.
"Resa kan bisa bicara dengan Bunda, Resa bisa menceritakan banyak hal dengan Bunda." tutur Vania lembut.
"Andai Ayah seperti Uncle Nathan." lirih Resa dan tertunduk.
Vania paham dengan perasaan putranya yang merindukan sosok Ayah di kesehariannya. Dan tiba-tiba saja Nathan muncul disaat seperti ini. Apalagi tadi kedekatan mereka begitu jelas terlihat oleh Vania padahal ini adalah pertemuan singkat untuk keduanya.
"Resa, Ayah pasti akan meluangkan waktu setelah pekerjaannya senggang. Dan untuk Uncle Nathan, Resa kan sudah berteman dengannya jadi Resa jangan bersedih dan merasa sendiri ya." jelas Vania.
Sebisa mungkin Vania harus tetap membuat Satria berada di posisi utama bagi Resa selain dirinya. Tapi Vania juga tidak ingin menutup diri jika ada banyak orang yang datang di kehidupan mereka untuk menjadi teman.
Seperti Liliana dan putrinya Selly, juga kini ada lagi Nathan yang menurut Vania cukup baik untuk ukuran orang asing bagi mereka. Setidaknya Vania belum bertemu orang-orang yang berniat jahat padanya dan Vania berdoa semoga keluarganya tidak bertemu dengan orang-orang jahat seperti itu.
.
.
Di sebuah kafe.
"Gimana?" tanya Daniel pada Nathan yang baru saja duduk di hadapannya sambil menyesap Ice Americano kesukaannya.
"Gimana apanya maksudmu?" Nathan balik bertanya.
Daniel mencondongkan tubuhnya untuk berbicara lebih dekat dengan Nathan.
"Wanita milik adik iparmu cantik juga kan." ucap Daniel setengah berbisik.
Uhuk.uhuk
Nathan yang kembali meneguk minumannya langsung tersedak saat mendengar ucapan Daniel. Keduanya memang akan membahas mengenai Vania istri Satria.
"Kau mau membunuhku ya." kesal Nathan setelah tenggorokannya mereda.
Daniel terkekeh melihat tingkah Nathan yang bisa disebut salting. Sebagai sahabat, Daniel tahu persis bagaimana karakter wanita yang selalu jadi idaman Nathan.
"Nath, Come on. Aku sangat mengenalmu. Dia jelas-jelas tipemu." cecar Daniel yang terus berusaha agar Nathan jujur padanya.
"Jangan gila Niel." tegas Nathan yang tahu arah pembicaraan sahabatnya.
Nathan dan Daniel, meski sering berdebat tapi mereka sangat paham dengan karakter masing-masing. Maka dari itu persahabatan keduanya terjalin dengan erat.
"Kalau aku jadi kau, aku akan merebut istrinya." ungkap Daniel memprovokasi.
"Dasar tidak waras." Nathan berlalu meninggalkan Danie yang kini menertawakannya.
Nathan kesal karena seharusnya yang mereka bahas adalah tindakan selanjutnya untuk membuat Satria pergi meninggalkan istrinya ataupun Irene.
Tapi Daniel justru malah menggodanya dan menyuruhnya merebut istri Satria. Meskipun yang dikatakan Daniel ada benarnya, jika wanita bernama Revania itu sudah membuat Nathan sedikit goyah.
......................