Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi itu meja makan terasa seperti ruang sidang. Olivia turun dengan wajah datar, rambutnya diikat asal, hoodie abu-abu menutupi seragam rumahnya. Aroma nasi goreng dan kopi hitam memenuhi ruangan, tapi tak sedikit pun menggugah seleranya.
Di meja sudah duduk Oma Dewi, Ratna, beberapa tante, dan dua sepupunya. Siena—sepupu yang seumuran dengan Oliana—juga ada di sana, memainkan sendoknya pelan.
Semua mata kembali tertuju pada Olivia saat ia duduk.
“Olive,” suara Oma Dewi lembut, terlalu lembut. “Semalam kamu terlalu emosional.”
Olivia tak menjawab. Ia mengambil segelas air putih.
“Kami hanya ingin yang terbaik untuk keluarga,” lanjut salah satu tante. “Pernikahan ini sudah disiapkan jauh-jauh hari. Undangan sudah tersebar.”
“Keluarga Juna juga keluarga baik-baik,” timpal yang lain. “Kamu sudah kenal Juna lama, kan? Dia perhatian sama kamu.”
Perhatian. Kata itu membuat perut Olivia terasa mual. Ia mengangkat wajahnya pelan, lalu menatap Siena. Siena yang sejak tadi pura-pura sibuk akhirnya menoleh.
“Kenapa nggak lu aja, Kak?” ujar Olivia tiba-tiba.
Sendok Siena terhenti.b“Maksud lu apa?” Siena mengerutkan dahi.
“Lu kan seumuran sama Kak Olin. Lebih pantas secara usia. Jomblo juga, kan.”
Beberapa tante tersedak kecil.
“Siena bukan anak papi kamu,” potong Oma Dewi tegas. “Dia sepupu kamu. Nggak bisa.”
“Bisa aja lah, Oma,” Olivia menyandarkan punggungnya. “Sama-sama dari keluarga Nugraha, kok.”
“Olive!” tegur Ratna tajam.
Ruangan kembali tegang.
Siena terlihat tak nyaman. “Gue nggak mau nikah sama orang yang bukan pilihan gue,” katanya pelan.
Olivia terkekeh tanpa humor. “Nah, sama.”
Ia berdiri dari kursinya.
“Olivia, duduk,” perintah Ratna.
“Aku udah selesai.”
Padahal piringnya bahkan belum disentuh.
“Mau ke mana kamu?” tanya Ratna dengan nada waspada.
“Ketemu teman,” jawab Olivia singkat. “Gila benaran aku lama-lama di rumah.”
Ia mengambil tasnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Begitu pintu rumah tertutup, Olivia menghela napas panjang. Di dalam, ia masih bisa mendengar suara Oma Dewi menegur Ratna.
“Kamu terlalu memanjakan anak itu. Cara bicaranya tidak sopan. Calon istri harus tau tata krama.”
Ratna hanya bisa meminta maaf dengan suara lirih. Olivia mendengarnya. Namun kali ini, ia tak ambil pusing. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Nomor tidak dikenal itu. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka riwayat panggilan.
Masih ada. Belum dihapus. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Tempat pertemuan yang disebutkan semalam terlintas di benaknya—sebuah kafe kecil dekat taman kota. Tempat yang cukup ramai, tapi tidak terlalu mencolok.
“Aku cuma mau tahu Olin di mana,” gumamnya pada diri sendiri.
Itu saja. Bukan tentang pernikahan. Bukan tentang Juna. Tentang kakaknya. Olivia berdiri di depan pintu masuk mall dengan napas yang belum stabil. Ia sengaja memilih tempat ramai. Mall di pusat kota. Aman. Terbuka. Banyak CCTV.
Pesan dari nomor tidak dikenal tadi pagi hanya singkat:
Datang ke parkiran basement Mall Aruka. Sendirian.
Olivia tidak membalas. Ia hanya datang. Demi Olin. Tangannya menggenggam ponsel erat saat ia menuruni eskalator menuju basement. Udara parkiran terasa lebih dingin. Bau oli dan asap kendaraan bercampur menjadi satu.
Ponselnya bergetar.
Belok kiri. Lorong C.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengikuti arah itu. Langkahnya hati-hati.
Seorang pria berdiri tak jauh dari sebuah mobil van hitam. Wajahnya biasa saja. Bukan orang yang pernah ia lihat sebelumnya. Kemeja abu-abu, celana gelap, topi menutupi sebagian wajahnya.
“Kamu Olivia?” tanyanya pelan.
Olivia menjaga jarak. “Kakak saya di mana?”
Pria itu tak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
“Lihat sendiri.”
Ia memperlihatkan layar. Sebuah video. Olivia menahan napas. Di layar, Oliana duduk di kursi ruang tunggu bandara. Kepala tertunduk. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Ia terlihat gelisah. Sendirian.
“Itu… itu Kak Olin…” suara Olivia melemah.
“Kakakmu aman,” ujar pria itu. “Untuk sekarang.”
“Untuk sekarang maksudnya apa?” Olivia mendongak tajam.
“Dia pergi karena dia tahu sesuatu,” jawab pria itu. “Dan kalau kamu tetap di rumah itu, kamu bakal masuk masalah yang sama.”
“Apa yang dia tahu?” Olivia menuntut.
“Kamu ikut aku. Nanti aku jelasin.”
Ia membuka pintu van di sampingnya. Olivia spontan mundur satu langkah.
“Aku mau bukti dulu. Aku mau ngomong sama Kak Olin.”
Pria itu menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. Ia menekan nomor di ponselnya. Tersambung.
Pria itu mendekatkan ponsel ke telinganya. “Kasih sama dia.”
Beberapa detik hening. Lalu pria itu menyodorkan ponselnya pada Olivia.
“Ngomong.”
Dengan hati-hati, Olivia meraih ponsel itu.
“Halo? Kak?”
Belum sempat suara di seberang terdengar jelas, tangan pria itu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Olivia kuat. Sangat kuat.
“Apa—lepas!” Olivia refleks berteriak.
Pria itu menariknya paksa ke arah van. Pintu geser terbuka lebar. Dan di dalamnya—ada dua pria lain. Jantung Olivia seperti berhenti.
“Lepasin gue!” teriaknya panik, mencoba melepaskan diri.
Pria itu menyeretnya lebih keras. Kakinya terseret di aspal parkiran. Tiba-tiba—seseorang muncul dari samping.Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajah pria yang mencengkeram Olivia.
Bruk!
Cengkeraman itu terlepas. Olivia terjatuh terduduk di aspal. Pria yang tadi memegangnya terhuyung, lalu membalas menyerang. Adu pukul terjadi cepat dan brutal.
Satu.
Dua.
Tiga pukulan.
Pria penolong itu bergerak cepat, terlatih. Tendangan keras membuat si penculik tersungkur menghantam pintu van. Pria-pria di dalam van panik.
“Cabut!” teriak salah satu dari mereka.
Van langsung menyala. Pria yang tadi memegang Olivia bangkit dengan susah payah, lalu meloncat masuk. Pintu ditutup kasar. Mobil melaju kencang keluar parkiran.
Pria yang menolongnya berdiri diam beberapa detik, matanya tajam memperhatikan plat nomor yang semakin menjauh.
Olivia masih terduduk di aspal. Tubuhnya gemetar. Baru ketika langkah pria itu mendekat, ia menyadari siapa dia. Juna. Bukan kebetulan. Bukan ilusi. Juna benar-benar berdiri di depannya.
“Lu nggak apa-apa?” tanyanya, napas sedikit berat.
Alih-alih berterima kasih, Olivia justru bangkit dengan emosi meledak.
“Kak, lu ngikutin gue?!” suaranya gemetar antara marah dan syok. “Lu tau kan gue ke sini?!”
Juna menatapnya beberapa detik. Lalu… tersenyum santai.
“Ini mall gue,” katanya ringan. “Gue kerja di sini.”
Olivia terdiam. Ia lupa. Mall Aruka memang dikelola oleh perusahaan keluarga Juna. Ia pernah datang ke ruang kantor Juna beberapa kali dulu.
Juna menyelipkan tangan ke saku celana, tetap terlihat tenang meski pipinya sedikit memerah bekas pukulan.
“Lu pikir gue ngikutin lu?” tanyanya santai.
Olivia tak menjawab. Dadanya masih naik turun cepat. Juna menatap ke arah pintu keluar basement tempat van itu menghilang.
“Plat nomornya gue lihat,” gumamnya pelan.
Olivia menatapnya.
“Kak Olin…” suaranya pecah. “Tadi dia nunjukin video Kak Olin di bandara…”
Tatapan Juna berubah.
“Video?” ulangnya pelan.
Olivia mengangguk.
“Tapi itu bisa aja rekaman lama,” lanjut Juna, lebih serius sekarang. “Atau editan.”
Olivia terdiam. Pikirannya berputar.
“Kenapa mereka nyulik gue?” bisiknya.
Juna tak langsung menjawab. Ia menatap Olivia lebih dalam dari biasanya.
“Karena lu penting.”
“Penting gimana?”
“Kalau target mereka cuma Olin,” suara Juna menurun, “mereka nggak akan repot-repot ambil lu.”
Angin dingin basement terasa lebih menusuk. Tiba-tiba ponsel Olivia bergetar lagi. Pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.
Kamu salah pilih orang untuk dipercaya.
Olivia menelan ludah.
Pesan kedua masuk.
Sekarang bukan cuma kakakmu yang dalam bahaya.
Layar kembali menyala.
Pesan ketiga.
Tapi kamu juga.
Olivia perlahan mengangkat wajahnya menatap Juna. Ia sadar ini bukan lagi soal pernikahan paksa. Ini soal sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang bahkan mungkin tidak ia ketahui… tentang keluarganya sendiri