Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perjamuan yang Dipaksakan
Suasana kantor sore itu mendadak riuh. Sang Manajer, Pak Hendra, berdiri di tengah ruangan dengan wajah berseri-seri. Kabar burung itu akhirnya terbukti: ia dipromosikan ke kantor pusat. Sebagai bentuk syukur, ia mengundang seluruh divisi untuk makan malam di sebuah restoran bergaya kolonial yang cukup mewah tak jauh dari kantor.
"Semua harus ikut! Tidak ada pengecualian!" seru Pak Hendra dengan suara lantang.
Colette, yang sudah bersiap untuk pulang dan menenggelamkan dirinya dalam kegelapan kamar, mendadak mematung. Baginya, undangan itu bukan sebuah perayaan, melainkan sebuah ancaman. Ia ingin menolak, namun lidahnya masih terbelenggu.
Melihat Colette yang tampak bimbang, Linda dan seorang karyawan lain segera menghampiri. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk terus menjadikan Colette sebagai bahan tontonan, bahkan di luar jam kantor.
"Ayo, Colette! Jangan jadi orang aneh terus," Linda dengan sengaja menggandeng—lebih tepatnya mencengkeram—lengan Colette. "Manajer sendiri yang mengajak, masa kau tidak mau menghargainya?"
Colette tersentak saat kulit Linda bersentuhan dengan lengannya. Rasa jijik dan trauma itu seketika berdesir di bawah kulitnya, membuatnya ingin berteriak dan melepaskan diri. Namun, tekanan dari tangan Linda dan tatapan mata rekan-rekannya yang lain membuatnya lumpuh. Ia ditarik secara paksa menuju pintu keluar, seperti boneka kain yang diseret oleh pemiliknya.
Jude, yang melihat kejadian itu dari jauh, segera meraih jaketnya dan mengikuti mereka dengan perasaan tidak tenang. Ia melihat bagaimana Colette tampak begitu kaku dalam gandengan paksa itu—wajahnya semakin pucat, matanya menatap kosong ke lantai.
Di Restoran
Restoran itu penuh dengan cahaya kuning hangat dan aroma daging panggang yang kuat, namun bagi Colette, tempat itu terasa seperti penjara bawah tanah. Ia didudukkan di tengah-tengah kerumunan, diapit oleh orang-orang yang sepanjang hari menjadikannya pesuruh.
"Lihat, Colette akhirnya mau keluar juga!" Bram tertawa sambil menuangkan minuman ke gelasnya. "Mungkin dia butuh makan enak supaya wajahnya tidak sesuram itu."
Colette hanya diam menatap piring kosong di depannya. Ia merasa sesak. Suara tawa, denting sendok, dan musik latar restoran berubah menjadi kebisingan yang menyakitkan di telinganya. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang di meja lain yang mulai berbisik, terganggu oleh aura dingin yang terpancar dari dirinya di tengah suasana pesta.
Suasana di restoran kolonial itu berubah menjadi neraka bagi Colette. Musik jazz yang awalnya tenang kini tertutup oleh suara gelak tawa yang pecah dan teriakan-teriakan kasar. Botol-botol minuman keras mulai berpindah tangan dengan cepat, dan aroma alkohol yang tajam mulai memenuhi udara, bercampur dengan asap rokok yang mengepul tebal di bawah lampu temaram.
"Minum lagi, Pak Hendra! Naik jabatan harus dirayakan sampai pagi!" teriak Bram, wajahnya sudah memerah, suaranya melengking tidak beraturan.
Beberapa orang mulai berdiri, menari dengan gerakan sempoyongan di sela-sela meja. Suara denting gelas yang beradu terdengar seperti ledakan kecil di telinga Colette. Suasana semakin tidak terkendali saat rekan-rekan kerjanya, yang sudah kehilangan akal sehat akibat mabuk, mulai berteriak-teriak tidak jelas dan saling dorong.
Colette semakin mengerutkan tubuhnya. Di tengah riuh rendah itu, ia merasa terisolasi dalam ketakutan yang luar biasa.
Bayangan masa lalunya kembali menyerang. Suara tawa pria-pria mabuk ini terdengar persis seperti tawa para bajingan di bawah pohon beringin tahun 1982 itu. Setiap kali ada yang berteriak atau memukul meja, tubuh Colette tersentak kecil. Baginya, ruangan itu tidak lagi berisi rekan kerja, melainkan monster-monster yang siap menerkamnya.
"Hei, Colette! Kenapa diam saja? Ayo minum!" Linda, yang bicaranya sudah melantur, mencoba menyodorkan gelas berisi cairan kuning ke arah mulut Colette. Cairan itu tumpah sedikit, mengenai kemeja putih Colette.
Colette mematung. Matanya membelalak menatap noda basah di bajunya. Sentuhan dingin dari cairan itu terasa seperti tangan-tangan kotor yang dulu meraba pahanya. Ia mulai merasa oksigen di sekitarnya menipis. Dinding-dinding restoran seolah bergerak mendekat, hendak menghimpitnya.
"Jangan... jangan sentuh..." bisik Colette, namun suaranya tenggelam oleh teriakan seseorang yang sedang bernyanyi dengan nada sumbang di panggung kecil.
Jude, yang satu-satunya masih tampak sadar sepenuhnya, melihat bagaimana Colette mulai gemetar hebat. Ia melihat mata gadis itu mulai berkaca-kaca—sebuah pemandangan langka yang menandakan pertahanan mental Colette sudah hancur total.
Jude berdiri, hendak menghampiri dan menarik Colette keluar dari kegilaan itu, namun ia terhalang oleh beberapa orang yang sedang berdansa liar di antara mereka.
Tiba-tiba, seseorang di samping Colette tertawa terbahak-bahak sambil memukul bahunya dengan keras sebagai tanda "keakraban" mabuk.
BRAKK!
Sebuah botol jatuh dan pecah di dekat kaki Colette. Jude tidak bisa lagi hanya diam menonton. Ia melihat bagaimana napas Colette mulai memburu, matanya bergetar hebat mengikuti setiap denting botol dan teriakan liar di ruangan itu. Bagi orang lain, ini adalah pesta; bagi Colette, ini adalah ruang penyiksaan.
Jude berdiri, mengabaikan Bram yang mencoba menarik kemejanya untuk ikut bernyanyi. Dengan gerakan sigap namun sangat berhati-hati agar tidak mengejutkan Colette, Jude melangkah mendekat. Ia menyentuh siku Colette dengan sangat ringan, nyaris tak terasa, seolah ia sedang menyentuh burung kecil yang sayapnya patah.
"Duduk di pinggir saja, biar tidak bahaya." Ujar jude lembut.