NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAGI PERTAMA DAN KUNCI YANG BERPINDAH TANGAN

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai sutra di kamar Presidential Suite tempat Arlan dan Kira menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami istri. Suasana sunyi, hanya terdengar deru halus AC dan suara napas yang teratur.

​Kira menggeliat pelan, merasakan beban hangat di pinggangnya. Sebuah lengan kokoh melingkar di sana, seolah takut ia akan menghilang jika pegangan itu dilepaskan. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu menoleh ke samping.

​Arlan masih terlelap. Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh perhitungan sebagai arsitek, kini tampak begitu damai. Rambutnya berantakan, dan ada guratan senyum tipis yang tertinggal di sudut bibirnya.

​"Lan..." bisik Kira pelan, hampir tak terdengar.

​Arlan mengerang halus, matanya masih terpejam namun pelukannya justru semakin erat. "Hm... lima menit lagi, Ra. Proyeknya belum selesai..."

​Kira tertawa kecil, suara khasnya yang cempreng pecah di keheningan pagi. "Bangun, Tuan Arsitek. Proyek terbesarmu sudah sah kemarin. Nggak ada lagi revisi dari penghulu."

​Arlan membuka satu matanya, menatap Kira dengan pandangan sayu yang perlahan berubah menjadi binar penuh cinta. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma rambut Kira yang masih menyisakan wangi melati sisa resepsi semalam.

​"Pagi, Istriku," suara Arlan serak, khas orang baru bangun tidur.

​Kira tersipu, sebuah reaksi yang aneh mengingat mereka sudah bersahabat selama sebelas tahun. "Aneh ya kedengarannya? Biasanya kamu panggil aku 'Ra' atau 'Cerewet'."

​Arlan bangkit, bersandar pada headboard tempat tidur sambil tetap menggenggam tangan Kira. "Mulai sekarang, sebutannya harus naik level. Tapi 'Cerewet'-nya jangan dibuang, itu kan fitur bawaan yang bikin aku kangen."

​"Ih! Baru bangun sudah menyebalkan," Kira mencubit lengan Arlan, namun tidak melepaskan genggamannya. "Lan, kamu sadar nggak? Kita beneran sudah nikah. Maura sudah nggak ada, Tante Rahmi—maksudku Ibu—sudah kasih restu. Rasanya kayak mimpi."

​Arlan menarik tangan Kira, mengecup punggung tangannya lama. "Bukan mimpi, Ra. Ini hasil 'tender' terlama dalam hidupku. Sebelas tahun masa penawaran, satu bulan drama konstruksi, dan akhirnya... serah terima kunci."

​Dua jam kemudian, mereka duduk di meja makan kecil di dalam kamar, menikmati sarapan pagi pertama mereka. Ada nasi goreng, buah segar, dan tentu saja, dua cangkir kopi hitam.

​"Jadi," Kira memulai sambil mengaduk kopinya, "rencana kita hari ini apa? Langsung pindahan?"

​Arlan mengangguk. "Barang-barangmu di apartemen sudah mulai dipak sore ini oleh tim kurir. Aku mau kita langsung tinggal di rumah baru. Rumah yang kita desain bareng tiga bulan lalu."

​"Rumah yang di pinggir taman itu? Yang kamu bilang jendelanya harus menghadap matahari terbit?"

​"Iya. Aku sudah pasang gorden yang kamu mau. Gorden warna earth tone yang katamu bikin suasana 'adem'," Arlan tersenyum menggoda. "Dan yang paling penting, aku sudah buatkan satu ruangan khusus buat studio desainmu. Biar kamu nggak perlu lagi gambar di meja makan sambil tumpah-tumpah kopinya."

​Kira meletakkan sendoknya, matanya berbinar. "Serius, Lan? Kamu beneran buatkan studio buat aku?"

​"Tentu saja. Seorang desainer interior hebat butuh ruang yang punya sirkulasi udara dan cahaya yang pas. Aku arsiteknya, masa aku nggak perhatikan kenyamanan istriku sendiri?"

​"Makasih, Lan. Kamu beneran tahu cara bikin aku senang."

​"Sama-sama. Tapi ada satu syarat," Arlan memajukan tubuhnya.

​"Syarat apa lagi?"

​"Di studio itu, nggak boleh ada foto laki-laki lain selain fotoku. Foto Raka atau klien-klien gantengmu itu, dilarang masuk," ucap Arlan dengan nada protektif yang jenaka.

​Kira tertawa keras. "Ya ampun, Arlan! Cemburunya dibawa sampai ke rumah tangga? Raka itu cuma teman!"

​"Teman yang hampir saja bikin aku meledak di galeri, ingat? Pokoknya, di rumah itu, aku adalah satu-satunya kepala proyek, arsitek, dan pemilik hatinya."

​Sore harinya, mereka sampai di rumah baru mereka. Sebuah bangunan modern minimalis dengan sentuhan kayu hangat dan banyak bukaan jendela. Arlan menghentikan mobil di depan pagar hitam yang kokoh.

​"Siap masuk ke markas baru kita?" tanya Arlan.

​Kira menarik napas panjang, menatap rumah itu dengan haru. "Siap."

​Saat mereka berdiri di depan pintu utama, Arlan tidak langsung membukanya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu berbentuk payung kecil.

​"Ini kunci rumah kita, Ra. Sebelas tahun lalu, aku kasih kamu payung buat lindungi kamu dari hujan. Sekarang, aku kasih kamu kunci rumah ini buat lindungi kamu dari dunia luar selamanya," ucap Arlan dengan nada yang sangat tulus.

​Kira menerima kunci itu, matanya berkaca-kaca. "Lan, jangan bikin aku nangis lagi. Riasanku sudah dihapus, nanti mukaku jadi jelek."

​"Kamu nggak akan pernah jelek di mataku, Ra. Bahkan saat kamu bangun tidur dengan muka bantal tadi pagi," goda Arlan sambil membuka pintu.

​Begitu masuk, aroma kayu dan cat baru menyambut mereka. Rumah itu terasa sangat luas dan terang. Kira berlari kecil menuju ruang tengah, menyentuh sofa beludru yang mereka pilih bersama.

​"Bagus banget, Lan! Persis kayak di maket yang kita buat," seru Kira.

​Arlan berjalan di belakangnya, memeluk pinggang Kira dari belakang. "Rumah ini masih kosong, Ra. Baru ada perabotan. Tugas kita sekarang adalah mengisinya dengan kenangan. Bukan cuma sebelas tahun yang sudah lewat, tapi lima puluh, enam puluh tahun ke depan."

​"Termasuk pertengkaran soal siapa yang harus cuci piring?" tanya Kira sambil menoleh.

​"Itu bagian dari bumbu, Ra. Tapi aku sudah pasang dishwasher otomatis, jadi kita bisa kurangi satu alasan buat berantem," jawab Arlan bangga.

​Tiba-tiba, ponsel Arlan berdering. Ia melihat layarnya dan mendesah. "Ibu."

​Kira tertawa. "Angkat, Lan. Mungkin Ibu mau nanya kita sudah makan atau belum."

​Arlan mengangkat teleponnya dan memasang mode speaker.

​"Halo, Arlan? Kalian sudah di rumah baru?" suara Bu Rahmi terdengar sangat antusias.

​"Sudah, Bu. Baru saja masuk," jawab Arlan.

​"Bagus. Kira, kamu suka rumahnya? Arlan itu rewel sekali waktu pilih marmer dapurnya, katanya harus yang paling kuat karena kamu sering ceroboh kalau pakai pisau."

​Kira tertawa sambil melirik Arlan yang wajahnya mulai memerah. "Suka banget, Bu. Terima kasih ya, Bu, sudah izinkan Arlan desain rumah ini sesuka hati."

​"Sama-sama, Sayang. Oh ya, besok malam Ibu mau mampir. Ibu bawakan rendang dan beberapa tanaman hias buat di taman belakang. Jangan masak ya, biar Ibu yang bawa semua."

​"Siap, Bu. Kami tunggu," jawab Kira.

​Setelah menutup telepon, Arlan menjatuhkan dirinya di sofa, menarik Kira untuk ikut duduk di sampingnya. "Lihat kan? Sekarang Ibu malah lebih sayang sama kamu daripada sama anaknya sendiri."

​"Itu namanya pesona menantu, Lan. Kamu harus belajar banyak dariku," goda Kira sambil menyandarkan kepala di bahu Arlan.

​Malam pertama di rumah baru mereka dihabiskan dengan memesan makanan melalui aplikasi karena mereka terlalu lelah untuk memasak. Mereka duduk di lantai beralaskan karpet bulu di ruang tengah, mengelilingi kotak-kotak makanan.

​"Rasanya aneh ya, Lan. Biasanya jam segini aku di apartemenku sendiri, dengerin suara bising jalanan, terus teleponan sama kamu sampai jam dua pagi," ucap Kira sambil menyuap makanannya.

​"Sekarang kamu nggak perlu pulsa lagi buat dengerin suaraku, Ra. Tinggal colek saja, aku ada di sampingmu," balas Arlan.

​"Lan, aku mau tanya sesuatu."

​"Tanya apa?"

​"Setelah semua yang terjadi... Maura, restu Ibu, drama di kantor... apa ada hal yang kamu sesali dari sebelas tahun kita jadi sahabat?"

​Arlan terdiam sejenak. Ia meletakkan makanannya, menatap Kira dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku menyesal satu hal, Ra."

​Jantung Kira berdegup kencang. "Apa?"

​"Aku menyesal kenapa aku nggak lebih berani dari dulu. Kenapa aku harus nunggu sebelas tahun buat bilang aku sayang kamu. Kalau saja aku lebih berani, mungkin kita sudah punya dua atau tiga anak yang lari-larian di rumah ini sekarang."

​Kira tersenyum lembut, menggenggam tangan Arlan. "Nggak usah disesali, Lan. Sebelas tahun itu yang bikin kita sekuat sekarang. Kalau kita pacaran waktu SMA, mungkin kita sudah putus di tahun kedua karena ego kita masing-masing. Waktu sebelas tahun itu adalah cara Tuhan buat mendewasakan kita, biar saat kita bersatu, kita sudah siap menghadapi badai apa pun."

​Arlan mengangguk setuju. "Kamu benar. Selalu benar. Itulah kenapa aku butuh kamu di sampingku, buat meluruskan logikaku yang kadang terlalu kaku."

​"Dan aku butuh kamu buat ngerem impulsifku yang kadang kelewatan," sambung Kira.

​Malam itu, di bawah atap rumah yang mereka bangun dengan mimpi dan air mata, Arlan dan Kira menyadari bahwa pernikahan bukanlah akhir dari segalanya. Ini adalah pondasi baru yang baru saja diletakkan. Masih ada ribuan batu bata lagi yang harus disusun, masih ada semen kesabaran yang harus diaduk setiap hari, dan masih ada atap kasih sayang yang harus dijaga agar tidak bocor saat badai kehidupan datang lagi.

​"Lan," panggil Kira saat mereka bersiap untuk istirahat.

​"Ya?"

​"Besok pagi, aku yang buatkan kopinya ya?"

​Arlan tersenyum, menarik selimut untuk mereka berdua. "Boleh. Tapi jangan terlalu manis ya, Ra. Karena melihat wajahmu setiap pagi saja sudah bikin hidupku terlalu manis."

​"Gombalan arsitek itu emang nggak ada obatnya!" seru Kira sambil tertawa, menutup lampu tidur di samping tempat tidur mereka.

​Di luar, bintang-bintang Jakarta bersinar terang, seolah ikut merayakan dimulainya bab baru dalam hidup mereka. Sebuah bab yang tidak lagi berjudul "Sahabat", melainkan "Selamanya".

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!