NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembur Malam Itu

Menjelang pukul enam, lantai administrasi mulai sepi.

Satu per satu komputer dimatikan. Kursi didorong masuk ke bawah meja. Suara percakapan perlahan menghilang, digantikan keheningan khas kantor setelah jam kerja.

Jam pulang kerja sudah lewat, tetapi Naya masih duduk bertahan di depan mejanya. Matanya tertuju pada orang-orang yang meninggalkan ruangan.

Dia kembali melihat ke depannya, tumpukan data terbuka di layar laptopnya.

Beberapa file laporan cabang memenuhi desktop. Ia memeriksa ulang angka-angka sebelum akhirnya menarik napas panjang.

Nadira mendekat, tas sudah tersampir di bahunya.

"Perlu aku temani, Nay?" tanyanya lembut, tangannya menepuk bahu Naya.

Naya menggeleng cepat, "Engga usah, Dir."

Jawaban untuk penolakan. Tapi Nadira hanya menatap Naya, dia tidak sepenuhnya percaya karna Naya sangat terlihat gugup.

Suara kursinya bergeser pelan, merapikan map di tangannya. Ia memaksakan tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang di depan sahabatnya.

"Hati-hati ya, Dir." ucapnya.

Dia melangkah pelan, waktunya naik ke lantai eksekutif.

Ia meraih kartu akses sementara yang diberikan sekretaris itu, lalu berjalan menuju lift. Perasaannya sulit untuk dijelaskan.

"Kerja biasa," gumamnya pelan pada diri sendiri sambil memejamkan matanya.

Namun detak jantungnya tidak sepenuhnya percaya.

Lantai eksekutif jauh lebih sunyi. Lampu koridor redup. Ia berjalan menuju ruang CEO.

Naya berhenti tepat di depan pintu ruangan CEO itu. Detak jantungnya terasa semakin kuat, menggema di telinganya sendiri. Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya mengetuk pintu.

Tok. Tok

Tangannya mengetuk pintu, sementara matanya terpejam rapat, mengumpulkan keberanian.

Asisten CEO membuka pintu, "silahkan."

Naya segera membuka matanya begitu mendengar suara itu.

Di depannya berdiri asisten CEO dengan penampilan rapi, berwibawa, dan memancarkan profesional yang tak kalah dari CEO.

Naya melangkah masuk dengan hati-hati.

CEO itu duduk, jasnya sudah dilepas, lengan kemeja tergulung. Beberapa dokumen tersebar di meja, menandakan malam panjang sudah dimulai.

"Beda banget..." ucap Naya, seolah melihat orang yang berbeda dengan wajah yang sama.

Asistennya berdiri tepat di samping Naya, "Kenapa?" tanyanya.

CEO itu sebenarnya sudah jelas mendengar dan tahu Naya sedang di depannya, tapi dia memilih pura-pura fokus. Dia sudah meyakinkan diri terlebih dulu sebelum Naya ada di ruangan itu.

Candra, asistennya menarik kursi tambahan ke dekat meja, di samping CEO itu.

Naya duduk, membuka laptopnya, mencoba menenangkan diri.

Pekerjaan segera berjalan.

CEO memeriksa slide satu per satu.

Candra mencatat perubahan.

Naya menyesuaikan data secara langsung.

Ritmenya cepat tapi teratur.

"Sebentar, angka ini beda dengan laporan audit. " ujar CEO.

Naya segera membuka file pembanding, "cabang mengganti metode pencatatan bulan lalu, Pak."

Wajah Naya sangat serius memperhatikan data-datanya. Detak jantungnya sudah kembali normal, tidak terlihat gugup seperti tadi. Dia benar-benar fokus.

CEO itu tidak tahan, akhirnya dia melirik sebentar.

Cara perempuan itu bekerja, benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Jemarinya bergerak cepat menyesuaikan angka demi angka.

Tatapannya tertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia segera mengalihkan pandangannya kembali ke layar, mencoba terlihat biasa.

Namun detik berikutnya,

Uhuk... Uhuk..

Batuk kecil keluar tiba-tiba, hampir seperti refleks yang dipaksakan.

Naya langsung mengangkat kepala, "Pak?"

Di saat yang sama, Candra juga menoleh bersamaan. Dua pasang mata kini tertuju padanya.

Asistennya segera mengambilkan minum, "Ini, Pak."

CEO itu meraihnya, pura-pura meneguknya meski sebenarnya tidak haus.

"Tidak apa-apa, " Katanya singkat.

Naya masih memperhatikannya, memastikan ia benar-benar baik-baik saja, sebelum kembali ke layar.

Candra, di sisi lain, menahan senyum tipis sambil kembali menatap tabletnya. Ia terlalu mengenal atasannya untuk tidak menyadari sesuatu.

Waktu berlalu. Jam menunjukkan pukul delapan lewat ketika Candra meregangkan bahunya.

Naya berdiri, dia melangkah ke kamar mandi.

Tatapan CEO itu tidak lepas dari langkah Naya.

"Saya pesan kopi dulu, Pak. Sekalian makan malam?" tanya asistennya.

CEO itu hanya berkata singkat, "tiga."

Candra tersenyum kecil, "Baik."

Naya kembali menuju kursi, CEO itu langsung mengalihkan pandangannya, takut Naya tidak akan nyaman.

Office boy datang membawa kopi dan kotak makanan.

Naya tampak ragu, "Saya tidak... "

"Anggap saja bagian dari lembur, " Kata Candra ringan sebelum CEO sempat berbicara. "Kalau tidak makan, nanti saya yang dimarahi. "

Naya tersenyum. Nada santainya membuat suasana sedikit mencair.

CEO itu memperhatikan keduanya, tapi berusaha tetap tenang, tidak ingin ekspresinya membuat suasana tidak nyaman.

Suasana kembali tenggelam dalam pekerjaan.

Naya masih menatap layar laptopnya dengan serius, sesekali menggeser grafik dan mencatat perubahan. Candra di samping Naya sambil memeriksa catatan revisi di tabletnya.

Tangan mereka terkadang tanpa sengaja bersentuhan ketika sama-sama meraih dokumen di tengah meja. Semua itu diam-diam tertangkap oleh pandangan CEO.

Keheningan melingkupi ruangan, Candra tiba-tiba berdecak pelan.

"Kalau revisinya tambah banyak lagi, saya rasa presentasi besok harus sekalian tambah meditasi untuk direksi."

Naya refleks mengangkat kepala, sedikit bingung. Sementara CEO itu masih dengan ekspresinya, tetap terlihat fokus.

Candra menambahkan dengan nada santai, "biar mereka tetap tenang melihat angka-angka ini."

Naya terdiam sebentar, lalu tanpa sadar tersenyum kecil. Ekspresi seriusnya digantikan dengan senyum yang ringan.

CEO yang sedang membaca dokumen berhenti pada satu baris kalimat. Pandangan matanya terangkat.

Ia melihat Naya yang masih menahan senyum, bahunya sedikit lebih rileks saat berbicara dengan Candra.

Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Perasaan asing. Ia tidak menyukainya.

Tangannya langsung menutup dokumen dengan suara pelan namun cukup jelas terdengar.

"Kita lanjut." Nadanya lebih tegas dari sebelumnya.

Naya dan asistennya langsung kembali fokus.

CEO menunjuk layar presentasi.

"Bagian analisis risiko belum cukup kuat. Naya tampilkan data perbandingan dua tahun terakhir."

"Iya, Pak."

Senyum di wajah Naya perlahan menghilang, digantikan kembali ekspresi kerja yang serius.

Candra melirik sekilas ke arah CEO, lalu menunduk menahan reaksi kecil di wajahnya. Ia terlalu paham perubahan nada suara barusan.

Ruangan kembali dipenuhi suara keyboard. Profesional. Teratur.

"Naya, tunjukkan grafiknya." perintah CEO itu.

Naya menggeser kursinya sedikit mendekat agar layar terlihat jelas.

"Ini, Pak." tunjuk Naya.

CEO itu kini berbicara lebih sering dari sebelumnya, memberi instruksi, memastikan perhatian Naya kembali sepenuhnya pada pekerjaan.

Tanpa sadar jarak mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

Ia menjelaskan dengan pelan, fokus pada data.

CEO mendengarkan, bukan hanya penjelasannya tapi juga ketenangan caranya bekerja.

Di tengah penjelasan tanpa sengaja, bahu Naya hampir menyentuh lengan CEO itu. Naya tak menyadarinya.

Wajah CEO itu tampak memerah, hal yang hampir tak pernah terlihat sebelumnya.

CEO itu menggeser laptop Naya sedikit menjauh, tangannya bergerak cepat seolah ingin menutupi kecanggungan yang tiba-tiba muncul.

"Coba fokus di bagian ini," ujarnya datar, menunjuk grafik di layar.

Naya mengangguk cepat, dia tak sadar sudah ada hal lain selain pekerjaan. Namun asistennya, menyadarinya. Dia menahan senyum, meski raut wajahnya jelas menunjukkan kejengkelan melihat tingkah atasannya.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!