Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Inggris
Fred tidak ingat kapan tepatnya kakinya mulai bergerak.
Yang ia tahu, begitu matanya menangkap kenyataan di ruang tengah itu—kenyataan yang terlalu kejam untuk diberi nama—dadanya seperti diperas sampai tak tersisa udara. Dunia mendadak mengecil menjadi satu titik: ini tidak benar.
“Tidak… tidak…,” suaranya keluar seperti napas yang patah.
Ia mundur satu langkah, lalu dua, lalu tubuhnya berbalik seolah ada tangan yang memutar bahunya. Ia melangkah cepat, tersandung karpet, hampir jatuh, lalu berlari. Keluar rumah. Keluar halaman. Keluar dari tempat yang seharusnya paling aman di dunia.
Udara desa menerkamnya. Dingin, lembap, sunyi. Langit masih kelabu, seperti ikut menutup mata.
Fred menahan napas, menatap jalan kecil berbatu yang memanjang di depan rumah. Tidak ada orang. Tidak ada mobil. Hanya suara angin dan derit pagar yang belum dikasih oli.
Ia meremas ponselnya sampai jari-jari sakit. Air matanya naik, tapi tubuhnya menolak menangis—bukan karena kuat, melainkan karena takut kalau ia berhenti satu detik saja, ia akan runtuh dan tidak bangun lagi.
Langkah Fred melambat di ujung jalan, tepat di dekat pohon tua yang biasanya jadi tempat anak-anak desa main. Ia menoleh ke belakang, ke rumah itu.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Fred menutup mata sebentar. Lalu membuka lagi, menatap sekeliling. Baru sekarang otaknya mengizinkan satu pertanyaan yang lebih menakutkan daripada semua yang ia pikirkan selama ini:
Kalau mereka bisa sampai ke sini… kalau mereka bisa menyentuh keluargaku… apa yang membuatku yakin aku masih punya waktu?
Bunyi mesin memotong sunyi.
Vrooom… vrooom…
Fred menoleh cepat.
Dari tikungan jalan desa, sebuah motor melaju ke arahnya. Lampu depannya menyilaukan sebentar, memantul di jalan basah. Pengendaranya memakai jaket gelap dan helm full-face. Motornya bukan motor mahal—tampak seperti motor yang sering dipakai orang desa, tapi ada sesuatu pada cara ia melaju: terlalu stabil, terlalu berani, terlalu yakin.
Jantung Fred langsung naik ke tenggorokan.
Tubuhnya menegang. Kaki mundur setengah langkah. Tangannya meraba saku jaket, seolah bisa menemukan senjata di sana. Yang ada hanya dompet dan ponsel.
Motor itu berhenti beberapa meter darinya. Mesin masih menyala, bunyinya berat di udara dingin.
Pengendara itu menatap Fred melalui kaca helm hitam.
Fred menelan ludah. Ia ingin lari, tapi kakinya seperti tertancap ke tanah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang.
Helm itu terangkat.
Wajah di baliknya membuat Fred terpaku.
Maëlle.
Rambutnya diikat cepat, sedikit berantakan. Ada garis lelah di bawah matanya. Perban di bahunya tampak menonjol di bawah jaket, tapi ia bergerak seolah rasa sakit bukan urusan penting. Wajahnya tetap datar—tapi mata itu… mata itu tidak datar.
Ada sesuatu yang lebih gelap.
Dan lebih dingin.
“Kamu keluar dari rumah,” kata Maëlle, suaranya datar. Bukan pertanyaan.
Fred membuka mulut, tapi yang keluar hanya napas patah. Ia mengangguk, lalu kata-kata akhirnya jatuh, kacau:
“Mereka… orang tuaku… aku—”
“Jangan,” potong Maëlle, cepat, tegas. “Bukan di sini. Naik.”
Fred menatap motor itu, seperti tidak mengerti.
“Apa?”
“Naik. Sekarang.” Maëlle mencondongkan tubuh. “Kalau kamu tetap berdiri di jalan ini, kamu jadi target paling gampang.”
Fred menoleh ke sekeliling. Desa masih sunyi. Tapi setelah semua yang terjadi, sunyi itu terasa seperti jebakan.
Ia melangkah ke motor dengan gerakan ragu, lalu naik di belakang Maëlle, memegang pinggangnya—canggung, tapi tidak punya pilihan lain.
Maëlle langsung menarik gas.
Motor melesat.
Fred hampir terlempar ke belakang. Ia refleks memeluk lebih kuat. Angin dingin menghantam wajahnya, membuat matanya perih. Jalan desa yang sempit berubah jadi garis panjang yang melompat-lompat.
“Kamu… dari mana dapat motor?” Fred berteriak melawan angin.
Maëlle tidak menoleh. “Ambil.”
“Ambil?!”
“Curian,” jawab Maëlle tanpa rasa bersalah.
Fred membeku beberapa detik. “Kamu… kamu curi motor orang desa?”
“Motor ini dipakai orang yang kerja buat mereka,” kata Maëlle pendek. “Aku cuma meminjam permanen.”
Kalimat itu membuat Fred merasa mual sekaligus… anehnya, lega. Karena itu berarti Maëlle masih memegang kendali atas sesuatu. Di tengah hidup Fred yang runtuh, Maëlle masih bergerak seperti orang yang tahu langkah berikutnya.
Motor menembus jalan antardesa, melintasi ladang, memotong rute yang tidak dilalui mobil biasa. Maëlle seperti hafal peta tanpa GPS, memilih jalan yang minim kamera, minim orang.
Fred memejamkan mata beberapa detik, menahan rasa pusing. Gambar rumah itu masih terus muncul di kepalanya, memukul-mukul dari dalam.
Ia ingin bertanya seribu hal: kenapa? siapa? bagaimana? Tapi setiap kali mulutnya ingin membuka, angin menelan kata-kata, dan kenyataan menelan keberanian.
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki kota kecil—lebih ramai, lebih bising. Maëlle memperlambat motor, menyelinap di antara mobil, lalu berhenti di dekat stasiun kereta yang lebih besar dari yang ada di desa.
Stasiun itu bukan stasiun utama Paris—ini stasiun kota kecil, tapi cukup besar untuk punya rute keluar wilayah. Orang-orang lalu-lalang, menarik koper. Tidak ada yang memperhatikan dua orang dengan motor basah.
Maëlle mematikan mesin.
“Turun,” katanya.
Fred turun dengan kaki gemetar. Ia baru sadar tangannya sakit karena terlalu lama mencengkeram jaket Maëlle.
Maëlle melepas helm, lalu menarik sesuatu dari dalam saku jaketnya: selembar kertas terlipat kecil dan sejumlah uang tunai yang disatukan karet.
Ia menyodorkannya ke Fred.
“Apa ini?” Fred bertanya, suaranya serak.
“Alamat,” kata Maëlle. “Dan uang.”
Fred membuka kertas itu dengan jari gemetar. Ada alamat di Inggris—tulisan tangan Maëlle, rapi, tajam. Nama orang di baris atas: “E. Mercer”. Di bawahnya alamat jalan dan kode pos.
“Kamu… menyuruh aku ke Inggris?” Fred menatapnya, tidak percaya.
“Iya.”
“Aku nggak kenal orang ini.”
“Sekarang kamu kenal,” jawab Maëlle.
Fred menggeleng, suara naik karena panik. “Maëlle, aku baru saja—aku baru saja kehilangan—aku harus—”
Maëlle memotong, kali ini suaranya lebih rendah, lebih berbahaya. “Kamu harus hidup.”
Kata-kata itu menancap.
Fred menatap Maëlle, dan untuk pertama kalinya ia melihat retakan kecil di balik wajah datarnya. Bukan air mata, bukan kelembutan—tapi sesuatu seperti… kemarahan yang dipaksa diam.
“Kamu pikir aku mau ninggalin semuanya begitu saja?” Fred berbisik.
Maëlle mendekat setengah langkah. Suaranya pelan, tapi jelas, seolah setiap kata adalah paku.
“Kalau kamu tetap di sini, kamu akan mati. Dan kalau kamu mati, semua ini—” Maëlle tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya bergerak sebentar ke arah jalan, memindai orang-orang. “Mereka ingin kamu bereaksi. Mereka ingin kamu balik, cari jawaban, bikin kesalahan.”
Fred menggenggam kertas itu sampai kusut.
“Kamu ikut?” tanya Fred, kali ini lebih pelan. Ada harapan yang memalukan di suaranya.
Maëlle menggeleng. “Tidak.”
“Kenapa?!”
“Karena aku magnet masalah,” jawab Maëlle cepat. “Aku ikut, mereka ikut. Kamu pergi sendiri, kamu terlihat seperti mahasiswa yang kabur karena trauma. Kamu terlihat… normal.”
Fred hampir tertawa karena ironis. “Normal? Setelah semua ini?”
Maëlle menatapnya tajam. “Berperanlah.”
Fred terdiam.
Maëlle menyentuh perban di bahunya sebentar, meringis sangat tipis—hampir tak terlihat—lalu menarik napas.
“Dengar,” katanya. “Kamu masuk stasiun, beli tiket. Jangan pakai kartu kalau bisa. Pakai uang itu. Kamu duduk di tempat ramai, tapi jangan terlalu dekat siapa pun. Kalau ada orang yang terlihat terlalu tertarik sama kamu, kamu pindah. Jangan konfrontasi.”
Fred menelan ludah. “Kamu bicara seperti ini… sering.”
Maëlle tidak menjawab. Matanya kembali menyapu area depan stasiun.
“Kenapa Inggris?” Fred bertanya.
“Karena jalur kontrak di Prancis terlalu panas,” jawab Maëlle. “Ada yang mengendalikan permainan di sini. Inggris… beda yurisdiksi. Beda jaringan. Dan orang di alamat itu—dia bisa bikin kamu hilang dari radar sementara.”
Fred menatap kertas lagi. “E. Mercer… siapa dia?”
Maëlle diam satu detik terlalu lama.
“Orang yang dulu menolong aku,” jawabnya akhirnya. “Sekarang giliranku memastikan kamu sampai.”
Fred mengerjap. “Kamu… punya orang?”
“Jangan romantisasi,” potong Maëlle. “Aku punya hutang.”
Kalimat itu dingin, tapi Fred menangkap sesuatu di bawahnya: Maëlle tidak sepenuhnya sendirian. Dunia gelap ini punya jalur-jalur sendiri.
Maëlle melirik jam tangan, lalu menatap Fred lagi.
“Waktumu sedikit. Mereka akan menyadari kamu sudah keluar desa.”
Fred menelan ludah. “Dan kamu?”
Maëlle memasang helm kembali, mengencangkan tali dengan gerakan cepat.
“Aku urus ekor,” katanya.
Fred membeku. “Ekor?”
Maëlle menatapnya melalui kaca helm. “Kalau ada yang mengikuti kamu dari peron tadi… dari desa… dari sini… aku akan menutup pintunya.”
Fred merasakan dadanya berat. “Maëlle… jangan mati.”
Ada jeda kecil. Lalu, suara Maëlle keluar lebih pelan dari sebelumnya.
“Aku tidak berencana mati.”
Dan itu terdengar bukan seperti janji—melainkan seperti keputusan.
Maëlle menekan sesuatu ke telapak tangan Fred: kartu kecil, mungkin nomor telepon, mungkin kode.
“Kalau kamu sampai Inggris dan situasi aman, kamu kirim satu pesan: ‘Sampai.’ Satu kata.”
Fred menggenggamnya.
Maëlle menyalakan motor. Mesin meraung.
Sebelum ia melaju, Maëlle berkata satu kalimat terakhir—tanpa menoleh, tapi cukup keras untuk menembus suara mesin:
“Jangan jadi pahlawan, Fred. Jadi yang selamat.”
Lalu motor melesat pergi, menyatu dengan jalan kota kecil, menghilang di tikungan seperti bayangan yang memilih pergi sebelum diberi nama.
Fred berdiri beberapa detik, menatap arah Maëlle menghilang. Tangannya masih menggenggam kertas alamat dan uang, seolah itu satu-satunya pegangan di dunia.
Ia menghirup napas panjang.
Lalu ia masuk stasiun.
Di dalam, suasana hangat dan bau kopi menyambut, tapi Fred tidak merasa hangat. Ia merasa seperti berjalan di dalam mimpi yang rusak.
Ia memilih antrean tiket yang paling pendek, membayar tunai seperti Maëlle bilang, dan menerima tiket dengan tangan yang hampir tidak bisa berhenti gemetar.
Kereta menuju Inggris tidak langsung dari kota kecil ini, tapi ada koneksi—itu yang penting. Ia mengikuti arus orang, mencari peron, membaca papan jadwal dengan mata yang sulit fokus.
Di setiap wajah, ia mencari “tanda”: tatapan terlalu lama, langkah terlalu seirama, tangan yang terlalu sering masuk jaket.
Maëlle bilang jangan konfrontasi.
Fred duduk di bangku dekat keluarga dengan anak kecil—ramai, tapi tidak terlalu ramai. Ia menghadap jalur kereta, menahan diri agar tidak menoleh terus.
Lima menit terasa seperti satu jam.
Pengumuman terdengar. Kereta datang.
Fred naik bersama penumpang lain, memilih kursi dekat lorong—mudah pindah kalau perlu. Ia meletakkan tas, duduk, memegang tiket dan dompet seperti orang takut keduanya akan dicuri.
Pintu menutup.
Kereta bergerak.
Kota kecil itu mundur perlahan, lalu lenyap, diganti ladang dan garis pohon. Fred menatap keluar jendela, dan untuk pertama kalinya sejak ia melihat rumah itu, dadanya benar-benar mengizinkan rasa sakit muncul.
Namun ia menahannya.
Bukan karena ia kuat.
Karena ia tahu: kalau ia pecah sekarang, ia tidak akan bisa menyusun dirinya lagi.
Fred menyandarkan kepala ke jendela yang dingin, dan pikirannya kembali ke satu pertanyaan yang kini berubah bentuk:
Kenapa aku?
Ia bukan kaya. Bukan terkenal. Tidak punya musuh.
Tapi sekarang orang tuanya mati.
Dan Maëlle—pembunuh bayaran—melindunginya seperti bayangan yang bersumpah pada sesuatu yang bahkan Fred belum pahami.
Kereta melaju lebih cepat, menuju jalur yang akan membawanya keluar dari Prancis, menuju tempat yang belum pernah ia anggap sebagai “rumah”.
Menuju Inggris.
Fred menutup matanya, menggenggam kertas alamat itu seperti menggenggam tali terakhir di tepi jurang.
Di antara suara rel yang berulang, ia berjanji pada dirinya sendiri—pelan, tetapi nyata:
Kalau aku selamat, aku akan cari tahu alasannya.
Kereta terus melaju, meninggalkan masa lalu yang sudah dibakar, menuju masa depan yang belum sempat ia pahami.