Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESADARAN SEMU
Pukul 14.30, pesanan 50 cup matcha akhirnya siap dikirim. Ninda dan karyawan lainnya tampak lunglai, bersandar di dinding dapur dengan peluh bercucuran. Sinta tersenyum puas, baru saja hendak mengambil ponselnya untuk memotret hasil kerja mereka.
Saat layar menyala, senyumnya luntur seketika.
12 Panggilan Tak Terjawab: Bu Rosita (Kepala Sekolah).
Darah Sinta terasa berhenti mengalir. Ia teringat ucapannya tadi pagi dengan begitu percaya diri: "Nggak bakalan hujan kok, Bu!" Ia berlari ke jendela depan.
Di luar, langit hitam pekat dan air jatuh seperti ditumpahkan dari ember. Jalanan di depan tokonya sudah berubah menjadi sungai kecil.
"Ninda! Pegang kunci toko!" teriak Sinta tanpa penjelasan. Ia menyambar kunci mobilnya, mengabaikan teriakan karyawannya tentang air yang mulai masuk ke area parkir.
Perjalanan yang biasanya 20 menit menjadi satu jam yang menyiksa. Sepanjang jalan, Sinta memukul kemudi, menangis saat teringat ucapan Adrian tadi pagi tentang "nekat menerobos hujan demi toko".
Ternyata benar, ia tidak berubah. Kehilangan Farhan belum cukup menjadi pelajaran baginya.
Saat mobilnya merapat di depan gerbang sekolah yang sepi, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Sinta datang ketika gerbang sekolah mau ditutup. ia menjerit.
"Anak-anakku!' petugas piket menoleh.
"Oh, Bu Sinta. anak-anak tadi dijemput ayahnya!"
ucapan petugas piket menamparnya keras.
"Ayahnya?" tanyanya ulang.
"Iya, Bu!' jawab petugas piket.
"Ayahnya?" Sinta mengulang kata itu dengan suara bergetar. "Tapi... Ayahnya di luar kota. Ayahnya sudah tidak tinggal dengan kami."
Petugas piket itu tampak bingung, lalu mengangguk yakin.
"Tadi ada laki-laki datang, Bu. Pak Farhan, kan? Beliau bawa payung besar dan membujuk anak-anak. Tadinya mereka tidak mau, tapi Pak Farhan bilang sudah telepon Ibu dan Ibu sedang terjebak banjir di toko."
Sinta lemas. Farhan tidak meneleponnya. Ponselnya bersih dari panggilan Farhan—hanya ada rentetan panggilan tak terjawab dari Bu Rosita yang ia abaikan.
Farhan tahu. Farhan pasti tahu tabiat lamanya yang selalu mengutamakan pekerjaan saat pesanan memuncak, dan pria itu datang untuk menjadi "pahlawan" yang dulu pernah gagal ia perankan.
Sinta memutar stir mobil, memacu kencang kendaraan roda empatnya. Tak peduli banjir yang mau menenggelamkan mobilnya.
Setengah jam berlalu, kendaraan itu masuk pekarangan. Ada mobil Farhan di sana. Hatinya lega bercampur malu.
Ia gegas turun dan masuk. Ketika membuka pintu, ada gelak tawa di sana. Bau harum makanan, Farhan memang jagonya dalam hal memasak.
"Assalamualaikum," ujarnya lemah memberi salam.
Semua menoleh padanya, dua anaknya menunduk, saling lirik. Farhan menatapnya lama, tidak marah. Tapi ada bersit kecewa di sana.
Farhan berdiri, meletakkan handuk itu di sandaran kursi. Ia menatap Sinta dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan amarah, melainkan rasa kasihan yang mendalam.
"Aku tadi lewat depan toko," ujar Farhan tenang, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi hujan di atap.
"Ramai sekali. Aku tahu kalau sudah sesibuk itu, kamu pasti lupa waktu. Bahkan lupa kalau anak-anakmu punya jadwal pulang," ujarnya tajam seperti pisau.
Sinta ingin membela diri. Ia ingin pamer tentang pesanan matcha, tentang bonus untuk karyawan, tentang kerja kerasnya demi masa depan mereka. Tapi melihat wajah anak-anaknya yang tampak begitu nyaman bersama ayahnya, kata-kata itu tertelan di tenggorokan.
"Aku nggak bermaksud, Han. Tadi pesanannya—"
"Aku tahu, Sin," potong Farhan lembut namun tajam. "Dulu juga alasannya selalu 'pesanan'. Ternyata setelah kita pisah pun, alasan itu belum berubah ya?"
Sinta menyadari bahwa hari ini ia memenangkan persaingan bisnis, namun ia kalah telak dalam hal yang paling mendasar: kepercayaan anak-anaknya.
Farhan pergi, Leo dan Adrian tak bisa mencegah ayahnya. Padahal mereka masih rindu. Farhan mengecup kening keduanya sebelum pergi.
"Weekend besok, Ayah ajak kalian jalan-jalan. Mau?" tentu keduanya mengangguk kuat.
Sinta menatap pintu tertutup, hujan sudah reda. Tadi mantan suaminya kembali mengingatkan dirinya.
"Aku yakin kau pasti belum sholat dhuhur dan ashar!"
Sinta menggeleng, ia benar-benar malu. Dulu, ia ingin menunjukkan diri pada Farhan.
Pria kaya dan mapan, mengikatnya dalam pernikahan diatas tentangan kedua orang tua Farhan. Pria itu tetap memilihnya, memastikan jika dirinya pantas.
Sebagai pedagang kue biasa, Sinta memupuk diri. Ia pun membuktikan jika dirinya sama hebat dengan suaminya, bahkan lebih.
Ia lupa jika ada dua anak yang kini beranjak besar.
"Bunda ... Maaf ... Tapi kami tadi kelaparan dan kedinginan ...."
Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Ia menatap Adrian dan Leo. Makanan di atas piring keduanya sudah tandas dan licin.
"Tidak sayang. Bunda yang mestinya minta maaf ...," ucap Sinta lirih dan penuh penyesalan.
Sementara itu, Farhan pulang ke rumahnya. Ketika membuka pintu, Rani langsung memeluknya erat-erat.
'Mas ... Kamu dari mana saja?" tanyanya cemas.
"Tadi hujan deras ...."
"Iya, aku tau. Tapi aku takut sekali. Kamu nggak ngabarin apapun," potong Rani menatapnya penuh kecemasan.
"Aku baik-baik saja sayang," ujar Farhan.
"Alhamdulillah, ya sudah. Mandi sana, aku siapin makanan untuk kamu," suruh Rani.
"Claudia mana?" tanya Farhan.
"Udah bobo. Sebentar lagi juga bangun," jawab Rani.
Farhan mengangguk ia pun ke kamarnya dan bebersih diri.
Di rumahnya yang tenang, Farhan menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Kata-kata tajam yang ia ucapkan pada Sinta tadi sebenarnya juga menyakitinya. Ia tidak ingin melihat ibu dari anak-anaknya hancur, ia hanya ingin Sinta "bangun".
Saat ia keluar kamar, aroma masakan Rani menyambutnya. Bukan aroma kue mewah atau kopi matcha mahal, hanya aroma sup ayam sederhana yang mengepul hangat.
"Mas, ini supnya. Dimakan selagi panas ya," ujar Rani lembut sembari menata piring.
Farhan duduk, menatap istrinya. "Terima kasih, Ran. Tadi aku mampir ke sekolah Leo dan Adrian. Hujan sangat deras, dan Sinta... dia masih di toko."
Rani menghentikan gerakannya sejenak. Ia tidak menunjukkan kecemburuan, hanya sebuah senyum maklum yang tulus.
"Mungkin itu cara Mbak Sinta mencintai anak-anaknya, Mas. Lewat bekerja keras. Hanya saja, mungkin dia lupa kalau anak-anak lebih butuh dipeluk daripada dibelikan mainan baru," ujarnya.
"Oh ya, weekend besok, aku mau ajak dua anakku bermain ... Apa kamu mau ikut?' tawar Farhan.
Rani menatapnya, ia tau jika dua anak dari suaminya harus prioritas. Itu perjanjiannya dulu sebelum menikah dengan Farhan.
"Maaf Mas. Aku takut. ..," jawabnya jujur.
Farhan mengangguk, ia menatap Claudia yang memainkan Barbie barunya. Ia tersenyum melihatnya.
"Apa dia bertanya tentang ayahnya?" tanya Farhan hati-hati.
Rani tertawa lirih, ia menggeleng.
"Bahkan ketika Claudia lahir, Bang Irwan udah nggak pulang tiga hari," jawab Rani lirih.
Farhan menyentuh tangan istrinya dan menggenggamnya lembut.
"Maaf, aku tak bermaksud ...," ucapnya menyesal.
Rani menggeleng, ia tersenyum.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku dan Claudia sudah bahagia diperhatikan kamu. Aku akan bawa Claudia besok jalan-jalan. Jika dia tanya aku berusaha meminta dia mengerti ...," ujarnya pelan dengan hati menjerit.
Bersambung.
Ah ... Adakah udang di balik bakwan?
Next?