NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Restoran di sebelah gedung kantor Elena tidak terlalu ramai jam dua belas siang itu, beberapa meja terisi, suara percakapan yang rendah, aroma kopi yang bercampur dengan menu makan siang.

Bukan tempat yang mewah. Bukan tempat yang mencolok. Tapi nyaman untuk berbicara. Tepat seperti yang Elena pilih.

Leon sudah duduk saat Elena tiba, kemeja biru tua, tanpa jas, dengan segelas air putih di depannya dan menu yang belum dibuka. Ia mendongak saat Elena masuk dan mengangguk sekali.

Elena berjalan menghampirinya, lalu duduk di depannya.

Pelayan datang. Elena memesan tanpa membuka menu nasi goreng, air mineral. Leon memesan hal yang sama tanpa melihat ke arah pelayan.

Pelayan pun pergi tanpa setelah membungkuk sopan.

"Kamu sudah makan di sini sebelumnya?" Leon bertanya.

"Hampir setiap hari." Elena menjawab. "Cepat dan tidak perlu reservasi."

Leon mengangguk pelan. Menatap meja di sebelah mereka sebentar, dua orang eksekutif yang sedang makan sambil melihat laptop masing-masing, lalu kembali ke Elena.

"Foto itu." Ia membuka percakapan langsung. "Kamu tahu siapa yang ambil?"

"Tidak." Elena menjawab jujur. "Kamu?"

"Tidak." Leon berkata. "Tapi ada banyak orang di ruangan itu malam itu."

"Iya." Elena mengangguk. "Tapi tidak semua orang punya alasan untuk mengirimkan foto itu ke portal berita."

Leon menatapnya. "Kamu sudah punya nama yang kamu curigai?"

"Aku punya dugaan. Tapi dugaan tapi aku masih belum yakin."

"Adrian?"

Elena menatap Leon sebentar. Lelaki ini tidak butuh banyak informasi untuk sampai ke kesimpulan yang sama atau mungkin ia punya informasi yang Elena tidak punya.

"Kamu pikir Adrian?" Elena balik bertanya.

"Ia yang paling punya alasan." Leon menjawab singkat. "Dan kutipan di artikel itu, itu bukan kata-kata yang dikarang orang lain. Terlalu spesifik."

"Aku pikir begitu juga." Elena berkata pelan. "Tapi ada sesuatu yang tidak pas. Adrian marah dan obsesif tapi ia tidak cerdas untuk merencanakan sesuatu seperti ini sendirian. Foto itu diambil dari sudut yang sangat spesifik. Artikel itu ditulis terlalu rapi untuk sesuatu yang spontan."

Leon tidak langsung menjawab.

Pelayan datang membawa pesanan mereka. Meletakkan piring dan gelas lalu pergi lagi.

Mereka makan sebentar dalam diam, seperti dua orang yang sedang memikirkan hal yang sama dari sudut yang berbeda.

"Namamu ada di artikel itu." Elena berkata akhirnya. "Aku minta maaf soal itu."

Leon meletakkan sendoknya. Menatap Elena. "Kenapa minta maaf?"

"Karena kamu tidak ada hubungannya dengan urusan keluargaku. Tapi namamu terseret."

"Aku yang memilih berdiri di sampingmu malam itu." Leon berkata datar. "Bukan kamu yang menyuruhku."

Elena menatapnya sebentar. Ada sesuatu dari cara Leon berbicara yang selalu membuat Elena tidak bisa langsung menjawab, bukan karena ia tidak punya jawaban, tapi karena jawabannya selalu lebih singkat dan lebih langsung dari yang ia antisipasi.

"Raffael Capital bisa terdampak." Elena berkata. "Kalau investor atau mitra bisnismu mulai mempertanyakan...."

"Elena." Leon memotong dengan nada yang tidak keras tapi sangat jelas. "Raffael Capital tidak akan goyah karena satu artikel gosip." Ia mengambil gelasnya. "Aku tidak meneleponmu pagi ini karena khawatir soal Raffael Capital."

"Lalu kenapa?"

Leon meletakkan kembali gelasnya. Menatap Elena langsung dengan cara yang langsung dan tidak membuang waktu seperti semua hal yang ia lakukan.

"Karena aku ingin tahu kondisimu." Ia menjawab. "Bukan kondisi Wirawan Group. Tapi kondisi kamu, Elena."

Elena tidak langsung menjawab, ia seperti mencerna perkataan Leon.

Di meja sebelah dua eksekutif itu masih menatap laptop masing-masing. Di luar jendela kota berjalan seperti biasa.

"Aku baik-baik saja." Elena menjawab akhirnya.

"Kamu selalu bilang begitu."

Elena menatapnya. "Karena memang selalu begitu."

"Atau karena itu jawaban yang paling mudah." Leon berkata pelan.

Elena menatap piringnya sebentar. Lalu menatap Leon kembali.

"Apa yang kamu mau aku jawab?" Ia bertanya. "Bahwa aku marah? Iya aku marah. Bahwa aku lelah? Iya aku lelah." Ia mengangkat bahunya sedikit. "Tapi marah dan lelah tidak mengubah apapun. Jadi aku pilih baik-baik saja dan terus berjalan."

Leon menatapnya dengan cara yang tidak bisa langsung dibaca.

"Itu bukan jawaban yang salah." Ia berkata akhirnya.

"Tapi?"

"Tidak ada tapi." Leon mengambil sendoknya lagi. "Aku hanya bilang itu bukan jawaban yang salah."

Mereka makan lagi dalam diam sebentar.

"Foto itu." Elena kembali ke topik awal. "Sudah ada yang tanya ke kamu soal itu? Dari kolega atau investor?"

"Tentu saja ada." Leon menjawab. "Selama ini aku tidak pernah ada gosip dengan wanita."

"Apa yang kamu bilang?"

"Bahwa itu urusan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan urusan bisnis." Leon berkata singkat. "Dan bahwa orang yang menelepon untuk menanyakan gosip ke mitra bisnisnya mungkin perlu mengevaluasi prioritasnya."

Elena hampir tersenyum. "Kamu bilang begitu?"

"Kurang lebih." Leon menatapnya dari sudut matanya. "Kenapa?"

"Tidak ada." Elena menggeleng pelan. "Hanya, itu memang cara yang menjawab yang sangat Leon Raffael untuk menjawab pertanyaan."

Leon tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu yang bergerak sangat kecil di sudut matanya.

"Kamu perlu tahu siapa yang ambil foto itu." Ia berkata kembali ke topik. "Selama kamu tidak tahu itu selama itu juga kamu tidak tahu dari mana serangan berikutnya akan datang."

Elena menatapnya. "Kamu pikir akan ada serangan berikutnya?"

"Artikel itu terlalu rapi untuk berhenti di satu berita." Leon berkata pelan. "Orang yang merancang ini tidak melakukannya untuk satu hari berita. Ia melakukannya untuk sesuatu yang lebih panjang dari itu."

Elena diam lagi sebentar. Ia memikirkan hal yang sama sejak pagi tadi tapi mendengarnya diucapkan Leon dengan cara yang sangat datar dan sangat yakin membuat sesuatu di dadanya terasa berbeda.

"Aku tahu." Ia berkata akhirnya.

"Ada yang bisa aku bantu?" Leon bertanya langsung.

Elena menatapnya. Pertanyaan yang singkat. Tidak ada basa-basi di baliknya. Tidak ada agenda yang terlihat. Hanya pertanyaan dari orang yang memang mau membantu kalau jawabannya iya.

"Belum." Elena menjawab jujur. "Tapi aku akan bilang kalau sudah ada."

Leon mengangguk. Tidak memaksa. Tidak bertanya lebih. Kembali ke makanannya seperti pertanyaan itu sudah selesai dan ia tidak perlu mengulangnya.

Mereka makan sampai selesai dengan percakapan yang mengalir ke sana ke sini, bukan hanya tentang berita saja. Tentang hal-hal lain yang lebih kecil. Tentang restoran ini yang ternyata buka sejak tujuh tahun lalu. Tentang nasi goreng yang Leon akui lebih enak dari yang ia kira. Tentang gedung di seberang jalan yang sedang dalam konstruksi dan entah kapan selesainya.

Percakapan yang ringan. Untuk dua orang yang tidak terbiasa bicara hal ringan tapi menemukan bahwa ternyata bisa.

Saat pesanan sudah habis dan pelayan datang membawa tagihan Leon mengambilnya duluan.

"Aku yang bayar." Elena berkata.

"Kamu yang pilih tempatnya." Leon menjawab tanpa melihat ke arahnya. "Aku yang bayar."

"Leon... "

"Elena." Ia memotong dengan nada yang tidak memberi ruang untuk diperdebatkan.

Elena menatapnya sebentar. Lalu menyerah, bukan karena ia tidak bisa berdebat, tapi karena ada sesuatu dari cara Leon berkata namanya yang membuat perdebatan itu terasa tidak perlu.

Setelah selesai mereka berdiri, dan berjalan ke pintu bersama.

Di luar restoran matahari siang sudah tinggi, panasnya terik matahari siang itu yang tidak memberi kompromi.

"Elena." Leon berhenti di depan pintu.

Ia menoleh.

"Hati-hati." Leon berkata pelan.

Dua kata yang keluar dengan cara yang sangat berbeda dari cara orang mengucapkan hati-hati sebagai basa-basi.

Elena menatapnya sebentar, lalu tersenyum.

"Kamu juga." Ia menjawab.

Mereka berpisah di depan pintu restoran, Leon ke arah kiri, Elena ke arah kanan, kembali ke gedung masing-masing di bawah matahari yang tidak peduli dengan apapun yang baru saja terjadi di dalam restoran kecil di lantai dasar itu.

Elena berjalan kembali ke gedungnya. Di kepalanya masih ada suara Leon. orang yang merancang ini tidak melakukannya untuk satu hari berita.

Ia tahu itu. Ia sudah tahu itu sejak pagi.

Tapi ada sesuatu yang berbeda dari mengetahuinya sendiri dan mendengarnya diucapkan oleh orang yang berdiri di luar semua ini, orang yang tidak punya kepentingan pribadi, yang tidak punya alasan untuk berbohong, yang hanya berkata apa yang ia lihat dengan sangat jelas.

Elena masuk ke lift gedungnya. Pintu lift tertutup.

Siapa yang mengambil foto itu?

Pertanyaan yang dari tadi pagi belum ia temukan jawabannya.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!