Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
"Apa mas yakin mau ke luar kota sekarang?" tanya Aisyah
"Aku juga tidak tahu Aisyah, aku bingung karena perasaan ku tidak enak, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kalian di sini tanpa pengawasan, Juno memang bisa menjaga kalian tapi dalam hal gaib, Juno tidak tahu apa apa" jawab Anjas
Anjas memimpikan Suro terjebak di dalam sebuah ruangan yang sempit, dia tidak tahu apa yang terjadi di kampung tempat Suro tinggal tapi yang bisa di dengar Anjas saat memimpikan itu adalah kata kata Suro yang masih terngiang di telinganya.
"Jangan datang, ini jebakan, mereka tidak akan bisa menyakitiku karena aku sudah tidak punya ilmu itu lagi, berhati hatilah, mereka berbahaya bahkan lebih berbahaya dari Kunto"
"Tetaplah di sini mas, serahkan semuanya pada Allah SWT" bujuk Aisyah
Anjas mengusap perut Aisyah yang sudah membesar di pernikahan mereka yang ke tiga bulan, mereka akan ke rumah sakit tapi saat itu Anjas juga ingin ke kampung Mahoni tempat Suro tinggal, jadilah Anjas merasa bimbang.
"Bersiaplah, aku tidak jadi berangkat ke kampung Mahoni, kita ke rumah sakit Smith saja" ucap Anjas dan Aisyah mengangguk.
Tok. Tok.
Ceklek.
"Papa, salapan, kak Yuna masak nasi uduk" panggil Adisti saat dia membuka pintu kamar Anjas.
"Iya nak, tunggu mama siap siap dulu, kami mau ke rumah sakit, kamu mau ikut atau mau sekolah saja?" tanya Anjas
"Mama sakit? Adis tidak mau melepotkan, Adis sekolah saja supaya papa bisa jaga mama" tanya Adisti
"Mama tidak sakit, papa mau periksa rutin kesehatan saja" jawab Anjas karena tidak mau memberikan harapan palsu untuk anaknya.
"Adis sekolah saja pa, soalnya hali ini teman Adis ulang tahun" jawab Adisti dan Anjas mengangguk.
Aisyah sudah siap, mereka langsung berangkat setelah sarapan dan menitipkan Adisti pada Zalisha teman dari Aisyah yang juga guru di sana. Sampai di rumah sakit Anjas duduk dengan gelisah karena khawatir istrinya itu sakit, sementara Aisyah terus berdzikir dan berharap tidak ada yang salah dengan perutnya.
"Nyonya Aisyah" panggil perawat dan mereka segera masuk.
Deg.
Saat masuk Anjas bisa merasakan ada sesuatu yang terlepas dari dirinya dan juga Aisyah, sesuatu yang tidak dia ketahui dan sudah menempel padanya juga Aisyah selama beberapa minggu ini.
"Mas..."
"Kamu merasakannya?" tanya Anjas dan Aisyah mengangguk
"Silahkan duduk, saya sudah dengar dari Om Raka, katanya ingin melakukan USG?" tanya Wilona, dokter kandungan yang bekerja di Smith hospital.
"Iya dokter, kami sudah memeriksa ke rumah sakit lain tapi hasilnya negatif hamil, dan tidak di temukan penyakit apapun di tubuh istri saya" jawab Anjas
"Mari silahkan berbaring Bu, apa anda merasakan sesuatu selama beberapa minggu ini?" tanya Wilona
"Sering mual dan pusing, badan juga sering lemas dokter" jawab Aisyah
"Itu tanda tanda kehamilan, apa anda datang bulan?" tanya Wilona masih mengusapkan lotion untuk melakukan USG.
"Terakhir sebelum menikah dengan mas Anjas, empat bulan lalu" jawab Aisyah
"Baik, kita mulai ya Bu, jangan tegang, di lemaskan saja" ucap Wilona segera melakukan USG.
Wilona tampak serius memeriksa rahim dan juga perut Aisyah, alisnya sampai mengernyit dan itu cukup membuat Anjas penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Aisyah sampai dokter juga terlihat serius dan terus melakukan pemeriksaan berkali-kali.
"Bagaimana dokter?" tanya Anjas
"Selamat pak, istri anda memang sedang hamil, usia kehamilan di perkirakan tujuh belas minggu, dan bayi kalian kembar, triplets" jawab Wilona membuat Aisyah dan Anjas shok, tapi juga mereka langsung menitikkan air mata bahagia mereka karena ternyata Aisyah benar benar hamil.
"Aisyah, Alhamdulillah ternyata kamu hamil sayang, kamu tidak sakit" ungkap Anjas menciumi wajah Aisyah
"Ibu berbaring saja tidak apa apa, keadaan janin sehat, hanya memang karena ini sudah akan masuk ke usia lima bulan jadi ibu sebaiknya tidak terlalu banyak melakukan aktifitas berat, jaga kesehatan dan minum vitamin juga obat penambah darahnya, jaga makanan juga" ungkap Wilona
"Baik dokter, apa istri saya harus di rawat dokter?" tanya Anjas khawatir
"Tidak perlu pak, keadaan tekanan darah Bu Aisyah normal, detak jantung bayi juga bagus dan semuanya dalam kondisi baik, tinggal pemeriksaan bulanan saja secara rutin" jawab Wilona membuat Anjas lega.
Wilona membuatkan buku untuk pemeriksaan bulanan, resep obat sudah dia tulis dan tinggal di tebus Anjas di apotik yang ada di lantai satu rumah sakit. Anjas terus mengecup tangan Aisyah karena dia begitu bahagia tapi juga khawatir karena Aisyah hamil kembar tiga, sesuatu yang belum pernah terjadi di keluarganya.
"Kamu mau sesuatu sayang?" tanya Anjas setelah mereka keluar dari ruangan dokter.
"Tidak mas, aku mau rebahan" jawab Aisyah terkekeh
"Pasti bawaan bayi, ayo kamu aku gendong saja" ucap Anjas
"Malu, jalan saja pelan pelan"
"Kalau begitu genggam tanganku"
Anjas dan Aisyah kembali berjalan di lorong rumah sakit yang cukup ramai itu, matanya melihat sekeliling dan sesekali memastikan Aisyah tidak kelelahan, tapi dia melihat Hengki di ruang NICU anak bersama Kunto, mereka terlihat menggendong seorang bayi yang kemungkinan adalah anak dari Triana.
"Triana meninggal nak, itu anaknya yang nanti akan jadi penerus Kunto, di pilih langsung oleh Khal, dia juga punya niat licik ingin menguasai harta kamu, jauhkan dia dari Adisti" brisik Suro yang sudah kembali muncul.
"Mbah, Mbah sudah kembali?" tanya Anjas berhenti sejenak
"Ya, ternyata bayi kalian itu di incar banyak makhluk jahat, Martini melindungi bayi kalian di dalam makanya dia tidak bisa berkomunikasi dengan kamu ataupun Aisyah, aku, aku tersegel juga di dalam karena aku dan Martini adalah satu, tapi dokter itu hebat, dia punya energi yang kuat untuk melepaskan segel yang di ikatkan Darsa padaku" jawab Suro
"Siapa Darsa itu Mbah?" tanya Anjas
"Musuhku dari golongan putih, dia mengira aku masih jahat dan mengikatku, nanti aku akan mengurusnya" jawab Suro
"Mas kenapa?" tanya Aisyah
"Tidak apa apa, ajo jalan lagi" jawab Anjas kembali menggenggam tangan Aisyah
Hengki keluar dari ruangan NICU, dia berpapasan dengan Anjas dan menghentikan Anjas karena dia ingin bicara sesuatu tentang Triana.
"Apa?" tanya Anjas datar
"Triana meninggal dan sebelum meninggal dia ingin kamu mengunjungi makamnya bersama Adisti" jawab Hengki
"Nanti aku akan ke sana" jawab Anjas langsung pergi.
Hengki menghela nafasnya, dia sudah melihat perut Aisyah yang membesar dan dia curiga kalau Aisyah hamil duluan karena dia juga tahu kalau Anjas baru menikah dengan Aisyah tapi perutnya sudah membesar.
"Dasar bajingan, kamu sama saja denganku Anjas, aku yakin perempuan muda itu kamu pelet sama seperti kamu memelet Triana" sinis Hengki