Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31- Hari yang Terasa Panjang
Pagi itu, matahari Jakarta naik dengan angkuh, membiaskan cahaya panas yang mulai membakar aspal di depan ruko toko buku. Bagi kebanyakan orang, ini adalah awal dari hari yang baru, penuh dengan produktivitas. Namun bagi Alea, setiap detik yang berlalu terasa seperti tetesan air yang jatuh di dahi tawanan perang, pelan, berulang, dan perlahan-lahan menghancurkan kewarasan.
Pukul sepuluh lewat lima menit. Toko buku baru saja dibuka, tapi Alea sudah merasa seolah-olah dia telah berdiri di sana selama satu dekade penuh.
Ia berdiri di depan rak kategori Self-Improvement, memegang sebuah kemoceng bulu ayam. Matanya tertuju pada jarum detik jam dinding bundar di atas pintu masuk. Bunyi jam, yang biasanya tenggelam oleh suara mesin kopi dari kafe atau deru kendaraan, pagi ini terdengar sangat nyaring di telinga Alea. Seolah-olah seluruh dunia sedang diam, hanya untuk membiarkan suara detak jam itu menghujam jantungnya.
Ia merasa waktu sedang mempermainkannya. Setiap kali ia berpikir satu menit telah berlalu, jam itu menunjukkan bahwa baru sepuluh detik yang terlampaui. Dunia bergerak dalam gerak lambat yang menyiksa.
“Al? Alea?”
Suara itu terdengar jauh, seperti datang dari dasar sumur. Alea tidak merespons. Fokusnya masih pada debu-debu halus yang menari di bawah sinar matahari yang menembus jendela kaca toko. Ia merasa tubuhnya ada di sana, jemarinya memegang gagang kayu kemoceng, tapi jiwanya seolah melayang di langit-langit, menonton dirinya sendiri dengan tatapan asing.
“Alea! Astaga, kamu denger aku nggak sih?”
Sebuah tepukan di bahu membuat Alea terlonjak. Ia hampir saja menjatuhkan kemocengnya. Dinda berdiri di sampingnya dengan kening berkerut dalam, matanya memancarkan campuran antara jengkel dan cemas.
“Oh... iya, Din? Maaf.” Suara Alea keluar, kecil dan parau.
“Kamu sudah berdiri di depan rak ini selama lima belas menit, Al. Tanpa bergerak. Kamu cuma ngelihatin satu buku itu seolah-olah bukunya bakal meledak kalau kamu kedip.”
Dinda mengambil kemoceng dari tangan Alea. “Tanganmu dingin banget. Kamu sakit?”
Alea menarik tangannya kembali, menyembunyikannya di balik saku celemek denim yang ia kenakan. “Kepalaku tiba-tiba rasanya berputar, Din. Pandanganku agak kabur tadi,” bisiknya, memberikan alasan fisik yang paling masuk akal.
Dinda menghela napas panjang, bahunya merosot.
“Pulang aja, Al. Aku serius. Kamu udah kayak zombi sejak kita buka pintu tadi pagi. Wajahmu pucat pasi, bibirmu putih. Kamu mau pingsan di sini?”
“Nggak apa-apa, Din. Mungkin cuma karena aku telat sarapan aja, maagku agak berulah jadi kepalaku pening.” Alea mencoba memaksakan sebuah senyum, tapi otot-otot wajahnya terasa kaku, seperti semen yang baru mengering. Senyum itu tidak sampai ke matanya, matanya tetap hampa, sedatar air telaga yang mati.
“Telat sarapan nggak bikin orang kehilangan kesadaran kayak tadi,” sela Dinda tegas. “Tadi ada pelanggan nanya koleksi biografi terbaru, kamu malah nunjuk ke rak buku mewarnai anak-anak. Untung ibunya cuma ketawa, dia pikir kamu lagi bercanda. Kalau itu pelanggan galak gimana?”
Alea terpaku. Ia benar-benar tidak ingat kejadian itu. Memorinya terasa seperti potongan film yang digunting sembarangan. Ada celah-celah hitam dalam ingatannya yang tidak bisa ia jelaskan. “Masa, sih? A-aku beneran nggak sadar, Din.”
“Duduk di sini saja. Jangan pegang apa-apa lagi.” Dinda menuntun Alea menuju kursi tinggi di belakang meja kasir.
Alea duduk dengan gerakan mekanis. Ia menatap layar monitor yang menampilkan daftar inventaris, tapi huruf-huruf di sana tampak seperti barisan semut yang bergerak-gerak, membuat rasa mual di perutnya semakin menjadi-jadi. Di luar pintu kaca, ia melihat orang-orang berlalu lalang dengan langkah cepat. Ada seorang wanita karir yang menelepon sambil berjalan terburu-buru, ada kurir paket yang berlari kecil.
Bagaimana cara mereka melakukannya? batin Alea. Bagaimana cara mereka bergerak secepat itu tanpa merasa kaki mereka dirantai oleh timah seberat tonan?
Seorang pelanggan pria masuk, membawa hawa panas aspal yang menyengat. Ia meletakkan sebuah buku tebal berjudul Filosofi Teras di depan Alea. “Mbak, ini berapa ya? Barcodenya agak lecet.”
Alea menatap buku itu. Kepalanya berdenyut hebat. Ia menarik pemindai laser dengan tangan yang sedikit gemetar. Bip.
“Delapan puluh satu ribu, Mas,” ucap Alea. Ia mencoba mengingat standar pelayanan toko, tersenyum dan kontak mata. Namun, saat ia mencoba mendongak, cahaya lampu toko terasa sangat menyilaukan, membuat kepalanya semakin berputar.
“Mbak, kamu oke? Pucat banget,” tanya pria itu dengan nada ragu saat menyerahkan uang pas.
“Nggak apa-apa, Mas. Cuma migrain sedikit. Makasih ya,” jawab Alea datar. Begitu pria itu keluar, Alea langsung membuang napas panjang. Senyum kaku yang tadi ia paksakan langsung luruh, menyisakan wajah yang tampak sangat lelah, lelah yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan tidur siang.
Waktu merayap dengan kejam. Jam satu siang terasa seperti jam lima sore yang tak kunjung datang. Alea berkali-kali melirik ponselnya yang tergeletak di samping mesin kasir. Ada sebuah notifikasi pesan yang masuk sejak satu jam yang lalu.
Aksa: Dinda bilang kamu pucat hari ini. Aku sudah pesankan sup ayam bening dan teh jahe hangat dari restoran langgananku. Jangan dibuang, Al. Aku tahu kamu nggak suka tekstur bubur kalau lagi mual, jadi aku pesankan yang ringan saja. Aku jemput jam enam sore. Jangan pulang sendiri.
Alea menatap layar itu sampai meredup dan mati kembali. Ia tidak punya energi untuk membalas, bahkan sekadar mengetik ‘ya’ atau ‘Terima kasih.’ Ada rasa hangat yang tipis menyelinap di dadanya saat menyadari Aksa mengingat detail kecil tentang ketidaksukaannya pada bubur, namun rasa itu segera tertutup oleh awan rasa bersalah yang lebih tebal.
“Kenapa dia masih di sini?” tanya Alea pada kegelapan di dalam dirinya sendiri. “Kenapa dia nggak cari perempuan yang lebih berfungsi? Yang bisa diajak tertawa, yang nggak punya lubang besar di dalam kepalanya? Kenapa dia mau buang-buang waktu buat jemput mayat hidup kayak aku?”
“Al, makan ya? Sup ayamnya sudah sampai. Masih panas banget.” Dinda meletakkan mangkuk keramik kecil dan botol berisi teh jahe di depan Alea.
Aroma kaldu yang gurih dan uap hangat dari teh jahe itu menyentuh indra penciuman Alea. Namun, bagi perutnya yang sedang merasa diperas, bau itu justru terasa mengintimidasi.
“Aroma jahenya kuat banget ya, Din? Perutku malah makin nggak enak,” bisik Alea, tangannya tanpa sadar memegang ulu hatinya yang terasa perih.
“Makan tiga suap kuahnya saja, Alea. Demi aku. Aku nggak mau harus manggil ambulans karena kamu pingsan kelaparan di tokoku sendiri.” Dinda berdiri di depan Alea, menatapnya dengan tatapan yang tidak menerima penolakan.
Alea mengambil sendok dengan tangan lemas. Ia menyuapkan sedikit kuah bening itu ke mulutnya. Rasanya? Hambar. Benar-benar hambar. Seolah-olah lidahnya sudah kehilangan kemampuan untuk mengecap rasa. Kaldu yang harusnya gurih itu terasa seperti air tawar hangat di mulutnya. Setelah suapan ketiga, ia merasa tenggorokannya menyempit, menolak apa pun yang mencoba masuk.
“Udah ya, Din. Perutku beneran rasanya kayak diperas pake tangan besi. Aku nggak bisa paksa lagi.”
Dinda hanya bisa menghela napas pasrah, mengambil kembali mangkuk yang isinya masih hampir utuh itu dengan wajah sedih.
Sore merayap perlahan, mengubah warna langit dari biru pucat menjadi jingga keunguan yang suram. Di jam-jam sepi seperti ini, Dinda biasanya sibuk di ruang belakang, meninggalkan Alea sendiri di depan.
Alea mencoba mengalihkan pikirannya dengan merapikan rak buku lama di pojok ruangan, area yang jarang dikunjungi pelanggan karena cahayanya yang temaram. Saat ia menarik sebuah buku usang tentang sejarah, jemarinya menyentuh sesuatu yang asing.
Sebuah amplop cokelat kecil.
Amplop itu terselip rapi di antara buku-buku tebal, seolah memang sengaja diletakkan di sana agar ditemukan oleh orang yang tepat. Tidak ada tulisan alamat, tidak ada nama pengirim. Hanya sebuah amplop polos yang terasa dingin saat bersentuhan dengan kulit Alea.
Jantung Alea mendadak berdegup kencang, sebuah firasat buruk mencengkeram dadanya. Baru saja ia hendak merobek ujung amplop itu, pandangannya terlempar ke arah pintu kaca toko yang transparan.
Di seberang jalan, di antara kerumunan orang yang pulang kantor, Alea melihat seorang pria bertopi hitam sedang berdiri diam. Pria itu tidak sedang menunggu bus, tidak sedang melihat ponsel. Topinya ditarik rendah, namun Alea bisa merasakan sepasang mata di bawah bayangan topi itu sedang menatap lurus ke arahnya. Tajam dan tak bergeming.
Alea membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Migrainnya berdenyut dua kali lebih keras, seolah-olah ada palu yang menghantam pelipisnya.
“Al? Aksa sudah sampai di depan.” Suara Dinda dari arah kasir membuat Alea tersentak.
Alea menoleh ke arah jalan, sedan hitam Aksa sudah menepi dengan lampu hazard menyala. Saat ia menoleh kembali ke seberang jalan, pria bertopi itu sudah hilang. Menguap begitu saja di balik bayang-bayang gedung, seolah ia hanya sekadar ilusi dari pikirannya yang lelah.
Dengan tangan gemetar, Alea buru-buru memasukkan amplop cokelat itu ke dalam saku tas kanvasnya. Ia tidak ingin Dinda melihatnya, apalagi Aksa.
Ia berjalan keluar toko dengan kaki yang terasa berat, seperti menyeret beban ribuan kilogram. Begitu pintu mobil Aksa terbuka, hawa dingin AC menyambutnya. Alea langsung menjatuhkan dirinya ke jok kulit, menyandarkan kepalanya, dan memejamkan mata rapat-rapat.
“Hari yang berat?” Suara Aksa terdengar, rendah dan menenangkan, namun kali ini terasa ada nada protektif yang lebih kental.
“Kepalaku rasanya mau pecah, Sa. Hari ini... kenapa rasanya panjang sekali? Aku merasa nggak sampai-sampai ke jam enam sore,” bisik Alea tanpa membuka mata. Ia tetap diam soal pria bertopi itu. Ia terlalu lelah untuk memproses ketakutan baru.
Aksa melirik Alea. Ia memperhatikan bagaimana jemari Alea mencengkeram erat tali tas kanvasnya sampai buku-buku jarinya memutih. Aksa menyadari ada yang berbeda. Ini bukan sekadar lelah biasa. Matanya sempat melirik ke arah spion, memantau area sekitar toko sebelum ia menginjak pedal gas. Ia melihat seseorang di kejauhan yang tampak mencurigakan, namun ia memilih untuk tetap tenang agar Alea tidak semakin panik.
“Tidurlah, Al. Aku ada di sini. Kamu aman,” ucap Aksa sambil mulai membelah kemacetan Jakarta.
Alea tidak menyahut. Di dalam tasnya, amplop cokelat itu terasa sangat berat. Ia tidak tahu bahwa di dalam sana, tersimpan rahasia kelam dari masa SMP-nya yang paling ia benci, sebuah bukti bahwa seseorang sedang mengawasinya, mengetahui luka paling dalamnya, dan siap menghancurkan sisa hidupnya yang baru saja mulai ia tata kembali bersama Aksa.
Malam itu, perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang daripada biasanya.