NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun Cinta

Perjalanan dari dinginnya Batu menuju ujung timur Pulau Jawa ditempuh dengan sisa-sisa kemesraan yang masih hangat.

Yoga sesekali menggenggam jemari Anindya di atas tuas transmisi, sementara lagu-lagu romantis mengalun pelan menemani mereka membelah jalur pantura yang terik. Namun, bagi Anindya, Banyuwangi bukan sekadar destinasi wisata; ada getaran aneh yang ia rasakan saat mereka tiba di salah satu hotel mewah dengan pemandangan langsung ke Selat Bali.

Sore itu, angin laut berhembus cukup kencang di area restoran terbuka tempat mereka menginap. Yoga harus meninggalkan Anindya sejenak di meja makan untuk mengurus detail surprise dinner mereka di bagian reservasi.

"Tunggu sebentar ya, Sayang. Mas cuma sebentar, jangan nakal," goda Yoga sambil mencubit pelan dagu Anindya.

Anindya tersenyum manis. "Iya, Dokter Bucin. Cepat kembali ya."

Namun, baru dua menit Yoga menghilang di balik lobi, sebuah bayangan menutupi meja Anindya. Seorang pria dengan kemeja linen berwarna biru muda berdiri di sana. Wajahnya yang rapi dengan kacamata berbingkai tipis tampak tidak asing bagi Anindya.

"Anindya Kharisma? Atau sekarang aku harus memanggilmu... Nyonya Aditama?"

Anindya tersentak.

"Anda siapa ? " tanya anindya

"Saya fahri, teman dokter arka wiratama" Jawab fahri.

"Sudah lama sekali, Anin. Aku dengar kamu sudah sembuh. Yoga memang hebat ya, bisa memperbaiki apa yang dia hancurkan sendiri," ucap Fahri dengan nada ambigu.

Anindya mengernyit. "Apa maksudmu, Fahri? Mas Yoga menyelamatkanku, dia tidak menghancurkan apa pun."

Fahri tertawa rendah, suara tawanya terdengar seperti gesekan pisau di atas porselen. Ia memajukan tubuhnya, menatap Anindya dengan tatapan iba yang dibuat-buat.

"Anin, kamu selalu terlalu lugu. Kamu pikir Yoga seputih itu? Kamu tahu kenapa dia begitu 'bucin' dan protektif sekarang? Itu bukan cuma cinta, Anin. Itu rasa bersalah yang membusuk."

Dada Anindya mulai berdegup kencang. Kebetulan, perutnya terasa mual, efek dari perjalanan jauh dan siklus bulanannya yang akan datang. "Jangan bicara sembarangan. Mas Yoga sangat menyayangiku."

"Tentu dia menyayangimu, karena dia yang membuatmu cacat secara sistemis," suara Fahri merendah, menjadi bisikan yang mematikan. "Kamu ingat kecelakaan hebat dengan Arka dulu? Kamu kritis, butuh donor darah segera. Yoga panik, Anin. Dia ceroboh. Sebagai dokter, dia melakukan dosa besar."

Fahri menjeda, memastikan Anindya menyimak setiap katanya. "Dia mengambil donor darah dari seorang wanita tunawisma di dekat lokasi yang golongan darahnya cocok, tanpa screening yang benar. Padahal dia tahu risiko di lapangan. Wanita itu ternyata mengidap Hepatitis B. Dan Yoga tetap menyuntikkannya ke tubuhmu hanya karena dia tidak mau kehilanganmu saat itu."

Wajah Anindya mendadak pucat pasi. Tangannya yang memegang gelas air mineral mulai gemetar. "Enggak mungkin... Mas Yoga pasti sudah memeriksanya."

"Dia tidak sempat, Anin! Dia hanya ingin kamu hidup agar dia tidak disalahkan oleh keluarga arka wiratama. Dan sekarang? Virus itu sudah menetap di tubuhmu. Kamu merasa lemas belakangan ini? Mual? Sering pusing? Itu bukan gejala biasa, Anin. Itu virusnya yang mulai bangun."

Anindya memegang perutnya yang memang sedang terasa nyeri karena PMS. Sugesti medis yang dilemparkan Fahri masuk seperti jarum beracun.

"Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu," Fahri menyeringai licik. "Hepatitis B itu menular lewat cairan tubuh, terutama lewat hubungan intim. Setiap kali Yoga menyentuhmu, setiap kali kamu mendesah bahagia di bawah tubuhnya, kamu sedang memberikan 'kematian' pelan-pelan untuknya. Jika kamu terus bersamanya, Yoga yang jenius itu akan tertular dan karirnya, nyawanya, semuanya akan hancur karena kamu."

DEG.

Dunia Anindya seolah runtuh seketika. Bayangan kemesraan mereka di Batu semalam berputar di kepalanya seperti film horor. Ia merasa dirinya kotor. Ia merasa dirinya adalah pembunuh bagi pria yang paling ia cintai.

"Jangan... jangan katakan ini pada Yoga," bisik Anindya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku tidak perlu mengatakannya. Dia sudah tahu. Itulah kenapa dia sangat baik padamu, karena dia sedang membayar 'hutang nyawa' yang dia rusak sendiri," Fahri berdiri saat melihat sosok Yoga muncul dari kejauhan. "Pikirkan itu, Anin. Kalau kamu mencintainya, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Jangan jadi parasit yang membunuh inangnya."

Fahri menghilang begitu saja di kerumunan. Saat Yoga tiba di meja dengan wajah ceria dan setangkai bunga mawar di tangan, ia mendapati istrinya sedang menunduk dalam, dengan tubuh yang menggigil hebat.

"Sayang? Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Yoga langsung memegang dahi Anindya.

Anindya tersentak saat tangan Yoga menyentuh kulitnya. Ia merasa seolah sentuhan itu adalah api yang membakar. Ia menarik dirinya menjauh dengan kasar.

"Jangan... jangan sentuh aku dulu, Mas," suara Anindya serak, penuh dengan ketakutan yang tidak bisa dijelaskan.

Yoga tertegun, tangannya menggantung di udara. "Anin? Ada apa?"

Anindya tidak menjawab. Di kepalanya hanya terngiang satu kalimat: Aku adalah racun bagi Mas Yoga.

Malam di Banyuwangi yang seharusnya menjadi penutup bulan madu yang sempurna justru berubah menjadi awal dari sebuah siksaan batin bagi Anindya. Suara deburan ombak Selat Bali yang terdengar dari balik jendela kamar suite mereka biasanya akan terdengar sangat romantis, namun malam ini, suara itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Anindya.

Yoga menutup pintu kamar hotel dengan senyum yang masih tersisa. Ia merasa sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berkualitas dengan istrinya. Tanpa membuang waktu, Yoga berjalan mendekat ke arah Anindya yang sedang duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun yang sama sejak sore tadi.

"Sayang, kamu benar-benar pucat. Kita periksa sebentar ya?" Yoga berlutut di depan Anindya, mencoba meraih jemari istrinya.

Namun, Anindya menarik tangannya seolah tersengat listrik. Ia berdiri dengan terburu-buru, menciptakan jarak sekitar dua meter dari Yoga. Tatapannya tidak berani bertemu dengan mata suaminya.

"Jangan... jangan dekat-dekat dulu, Mas," suara Anindya bergetar.

Yoga tertegun. Posisi tangannya masih menggantung di udara. "Anin, ada apa? Sejak di restoran tadi kamu aneh sekali. Apa ada perkataan orang tadi yang menyinggungmu?"

Anindya menggeleng cepat. Ia memeluk tubuhnya sendiri, merasa sangat kotor. Bayangan virus Hepatitis B yang diceritakan Fahri seolah sedang merayap di bawah kulitnya, siap melompat ke arah Yoga kapan saja mereka bersentuhan.

"Aku... aku cuma merasa nggak enak badan, Mas. Perutku sakit sekali," Anindya membuang muka. "Sepertinya aku datang bulan. Barusan aku cek di kamar mandi."

Yoga mengembuskan napas lega, meski ada sedikit rasa kecewa karena rencana malam romantis mereka harus tertunda.

Sebagai dokter, ia sangat paham bagaimana perubahan hormon saat PMS bisa membuat wanita menjadi sangat sensitif dan kesakitan.

"Oh, jadi karena itu kamu sensitif sekali?" Yoga mencoba mendekat lagi, bermaksud ingin memeluk istrinya untuk memberikan kenyamanan. "Sini, Mas peluk. Biasanya kalau dipeluk rasa sakitnya berkurang, kan?"

Saat Yoga hendak melingkarkan lengannya di pinggang Anindya, wanita itu justru mundur selangkah lagi hingga punggungnya membentur dinding dingin.

"Nggak usah, Mas! Aku... aku lagi nggak mau disentuh. Bau parfum Mas Yoga bikin aku mual. Aku mau tidur duluan."

Kata-kata Anindya seperti tamparan bagi Yoga. Mual karena bau parfumnya? Padahal malam sebelumnya, Anindya begitu memuja aroma tubuhnya. Namun, Yoga menekan egonya. Ia tidak ingin memperburuk keadaan istrinya yang sedang kesakitan.

"Baiklah, maafkan Mas ya," ucap Yoga lembut. "Kamu ganti baju dulu, Mas ambilkan kompres air hangat dan obat pereda nyeri."

Selama sisa malam itu, suasana kamar terasa mencekam. Yoga tetap menjalankan perannya sebagai suami yang siaga. Ia menyelimuti Anindya, memastikan suhu AC tidak terlalu dingin, dan mengusap kening istrinya pelan sebelum Anindya kembali membuang muka.

Anindya memejamkan mata, namun air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal sutra hotel tersebut. Maafkan aku, Mas. Aku harus menjagamu. Aku tidak boleh membiarkan virus ini menghancurkan hidupmu yang berharga, batinnya menjerit.

Keesokan harinya, perjalanan pulang menuju Surabaya terasa seperti perjalanan menuju pemakaman. Tidak ada lagi tawa renyah, tidak ada lagi tangan yang saling bertautan di atas tuas transmisi.

Yoga sesekali melirik ke samping. Anindya hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat deretan pohon di sepanjang jalur pantura yang berlari cepat.

"Anin, kalau masih sakit, kita mampir ke klinik rekan Mas di Probolinggo ya?" tanya Yoga memecah keheningan.

"Nggak usah, Mas. Aku cuma butuh istirahat di rumah. Di Jakarta... eh maksudku di rumah kita," Anindya hampir salah ucap. Pikirannya sudah melayang ke Jakarta, ke tempat orang tua kandungnya, tempat di mana ia merasa harus bersembunyi agar tidak menyakiti Yoga lebih jauh.

Yoga hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa ada dinding kaca yang tebal dan tinggi yang mendadak dibangun oleh Anindya. Ia merasa asing dengan istrinya sendiri.

Ada yang tidak beres. Ini bukan sekadar PMS, batin Yoga curiga. Sebagai dokter internis yang terbiasa membaca detail terkecil, ia tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan Anindya di balik tatapan matanya yang layu.

Setibanya di Surabaya, Anindya langsung masuk ke kamar dan mengunci diri dengan alasan ingin tidur. Yoga berdiri di depan pintu kamar mereka, menatap kayu jati itu dengan perasaan hancur. Kebahagiaan yang ia rasakan di Batu kemarin terasa seperti mimpi yang sangat singkat, yang kini berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.

Tanpa sepengetahuan Yoga, di dalam kamar, Anindya sudah mulai mengemas beberapa pakaian pentingnya ke dalam tas kecil. Keputusannya sudah bulat: Ia harus pergi sebelum cintanya membunuh suaminya sendiri.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!