Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Suami atau Pengasuh?
Zahra mendesah napas frustasi, “buat apa gue ngarang cerita tentang cowok lu Ziya, gak ada untungnya buat gue. Gue cuma gak mau temen gue ke tipu cowok modelan si Regan itu. Awalnya gue juga gak yakin, tapi pas ponakan gue cerita kalau Mamah temennya ketahuan slingkuh sama berondong gue curiga itu dia, karena perempuan yang gue liat jalan sama si Regan ya itu Mamah temennya ponakan gue,” terang Zahra.
“Oke oke, tapi lu punya bukti gak? Kalau ini gak terbukti sama aja jatohnya fitnah Ra,” ucap Ziya.
“Gue punya fotonya, nanti gue kirim ke elu. Ya please, stop keras kepala dan menutup mata sama semua kelakuan dia selama ini, bahkan gue yakin bokap lu juga tahu soal si Regan ini, makanya bokap lu sampai kapan pun gak akan pernah ngerestuin hubungan kalian,” ungkap Zahra.
Ziya terdiam, ‘Apa benar kelakuan si Regan begitu di belakang gue?’ batin Ziya bertanya-tanya.
“Sama satu lagi, kayanya si Regan menjalin hubungan kaya gitu bukan karena suka, tapi karena uang, karena yang dia kencani rata-rata Tante-tante yang banyak duitnya.”
Ziya mendengus kasar sambil menyisir rambutnya ke belakang, ‘kalau bener semua yang di katakan Zahra tentang si Regan, wah gila sih ini, dia benar-benar cuma manfaatin gue doang selama ini.’
“Ya, lu masih disana kan?”
“Iya gue masih disini,” sahut Ziya.
“Lu gak papa kan?”
“Gue gak papa ko lu tenang aja, kirim aja fotonya ke gue. Lagi pula kayanya perasaan gue buat dia udah mulai berubah.”
“Syukur kalau gitu, gue yakin lu bakalan dapet cowok yang lebih baik dari dia Ya, jadi jangan ragu buat lepasin cowok kaya gitu, lu tuh cantik say, kaya, pewaris tunggal, sebenarnya hidup lu tuh sempurna walau tanpa orang modelan dia.”
“Haha iya iya, lu gak usah pake muji-muji segala, gatel telinga gue dengernya. Ya udah mana kirim fotonya sekarang,” ucap Ziya.
“Bentar,” sahut Zahra, dia memutus sambungan telponnya terlebih dahulu.
Tak lama kemudian Ziya mendapat pesan, dia lekas membukanya dan ternyata benar itu foto Regan bersama wanita yang lebih tua dan lagi di tiap foto ternyata wanitanya berbeda-beda.
Ziya menatap datar foto tersebut, awalnya dia kira akan merasakan sakit hati namun ternyata hatinya biasa saja, yang dia rasakan hanya kemarahan karena merasa telah di khianati dan di manfaatkan saja.
‘Apa gue kayak gini karena Asep?' Ziya melirik kearah Asep, dia tengah duduk di tanah beralaskan sandalnya sambil bermain dengan ponselnya sendiri.
‘Jadi perasaan gue udah benar-benar berpindah padanya, tapi apa dia punya perasaan yang sama kaya gue?’
Ziya menaruh kembali ponselnya kedalam saku, kemudian berjalan menghampiri Asep. Dia mendongak menatap Ziya.
“Udah Neng nelponnya?”
Ziya mengangguk pelan, kemudian duduk di sampingnya, “woah, bagus banget ya, kita bisa melihat seluruh kampung dari sini,” ucap Ziya.
“Iya, itu yang disana rumah kita,” ujarnya.
Rumah kita? Ziya tersenyum tipis mendengar Asep mengatakannya, kemudian mengangguk pelan.
‘Apa gue terlalu cepat jatuh cinta sama dia? Apa dia akan nerima perasaan gue? Gue takut dia nganggap gue cewek gampangan, padahal baru satu bulan kita saling mengenal satu sama lain.’
“Kayaknya mau hujan Neng, ayo atuh kita turun,” ajaknya.
Setelah itu mereka pun turun, dan benar saja hujan turun cukup deras saat mereka sampai di tempat penanaman benih tadi, Ibu-ibu yang tadi pun sudah tak ada sepertinya mereka sudah pulang.
“Kita kayanya harus berteduh disini dulu Neng, hujannya gede banget.”
“Iya, gak papa.”
“Neng gak kedinginan?”
“Gue pake jaket Sep,” ucap Ziya sambil tertawa kecil.
“Eh iya juga ya,” suasana berubah canggung.
“N-neng tunggu sebentar disini ya.”
“Eh emangnya lu mau kemana, hujannya deras loh Sep,” cegah Ziya.
“Bentar aja ko Neng,” Ucapnya kemudian dia berlari menerobos guyuran air hujan yang mengguyur dengan derasnya.
Taklama setelahnya dia pun kembali, dia menyodorkan sebuah payung berwarna merah kearah Ziya, “hujannya kayanya bakalan lama,” Ucapnya dengan tubuh basah kuyup.
“Astaga Asep, lu lari hujan-hujanan cuma buat ngambilin gue payung, gue bukan manusia es yang akan meleleh kalau kena air, gue bisa ko pulang hujan-hujanan.”
“Janganlah Neng, kalau Neng sakit apa nanti yang akan saya bilang sama Pak Arman,” ujarnya.
“Papah?”
“Iya atuh, Papah Neng kan nitipin Neng ke saya, saya harus menjaga Neng dengan baik itu tugas saya” ungkapnya.
‘Lagi-lagi jawaban itu yang dia berikan,’ Ziya pergi begitu saja sambil menerobos guyuran air hujan tanpa menerapkan payung yang Asep berikan.
“Neng, payungnya Neng!” Asep berlari mengejar Ziya yang berjalan cepat meninggalkannya.
Dia berusaha mengejar Ziya untuk memayunginya, “Neng pake payung atuh, nanti sakit.”
“Gue bukan cewek lemah, jadi stop ngurus gue hanya karena elu merasa itu adalah tanggung jawab lo,” Ziya mendorong tubuh Asep menjauh darinya.
‘Lu kenapa sih Ziya apa salah Asep sama lu? Kendalikan emosi lu oke, lagian pemikirannya gak salah, awalnya memang kalian di paksa nikah kan, elu nya aja yang gampang suka sama orang hanya karena di kasih sedikit perhatian.’
“Saya tahu Neng bukan wanita lemah, tapi meski begitu saya tetep takut Neng sakit, ini atuh pake payungnya.” Ucap Asep setengah berteriak karena suaranya tersamar aih hujan.
“Udahlah nanggung lagian udah basah juga,” tolak Ziya.
“Hubungan Neng sama pacar Neng baik-baik aja kan?” tanyanya.
“Oh tentu saja, hubungan kami baik-baik aja,” dusta Ziya.
“Iya syukur kalau begitu Neng,” ucapnya sambil tersenyum.
‘Selama gue belum yakin Asep suka atau enggak sama gue, gue akan tetap rahasiain soal regan. Mau di taruh dimana muka gue kalau ketahuan gue suka duluan sama dia, harusnya dia kan yang suka sama gue.’
Mereka pun sampai di rumah, “Neng harus mandi air anget biar gak terkena flu, bentar saya akan masakin air dulu.”
“Gak usahlah kelamaan,” tolak Ziya.
“Tapi Neng–.”
Ziya berdecak pelan, “peran lu sebenarnya tuh jadi suami gue atau Baby Sitter gue sih? Lu tuh ngurus gue udah kaya ngasuh bocah tahu gak,” keluh Ziya.
“Saya cuma takut Neng sakit atuh.”
“Manusia sakit itu wajar, jangan lebay deh. Kalau mau masak air, masak aja buat diri lo sendiri,” kesal Ziya, akhirnya Asep jadi pelampiasan kemarahannya yang sejak tadi dia tahan.
‘Sial lu Ziya. Gimana Asep mau jatuh cinta sama lu, sedangkan sikap lu ke dia aja galak banget,’ batin Ziya mengingatkan.
Asep mematung menatap kepergian Ziya, dia menghela nafas berat, penolakan Ziya membuat dirinya kembali merasa jauh dari gadis itu.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄