Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Masih Kekanak-anakan
Langkah Sawitri berderap pelan namun tegas menapaki pelataran batu Kadipaten.
Ia melangkah pergi tanpa menoleh, meninggalkan Adipati Sasongko yang masih melongo dan Raden Cakrawirya yang mengukir senyum penuh arti di pendopo.
Di dalam kereta kuda yang membawanya kembali ke pesanggrahan, Sawitri menyandarkan punggungnya yang lelah sambil memejamkan mata.
Kesepakatan telah terkunci; ia tidak menjadi Juru Mayat resmi yang terikat rantai birokrasi, melainkan penasihat medis independen dengan otoritas mutlak di ruang autopsi.
"Langkah yang paling logis," batin Sawitri menganalisis posisinya sendiri di tengah guncangan kereta kayu itu.
"Gelar putri Tumenggung Danurejo ini hanya akan menjadi kelemahan fatal jika diekspos. Bekerja di balik layar adalah satu-satunya cara mengendalikan keadilan tanpa diganggu drama keluarga keraton."
Tiga hari berlalu dengan cepat, udara Mataram terasa lebih lembap menjelang perayaan agung Grebeg Maulud.
Jalanan Pasar Beringharjo dipenuhi lautan manusia yang berdesakan, aroma bumbu rempah, ikan asin, dan dupa kemenyan menguar kental di udara.
Ndari berjalan mengekor di belakang Sawitri, keningnya berkerut dalam menatap gulungan daun lontar berisi daftar belanjaan panjang dari Nyi Inggit.
Menjelang perayaan, penduduk Mataram bersuka cita menanti gunungan hasil bumi dari keraton, membuat pesanggrahan reot mereka biasanya terasa semakin sepi dan menyedihkan.
Namun tahun ini, pundi-pundi keping perak dari keluarga Jayaningrat mengubah segalanya.
Nyi Inggit bahkan menangis tersedu-sedu saat menyerahkan dua keping emas utuh pada Ndari untuk membeli bahan makanan terbaik di pasar pusat.
"Ndara Ayu, daftar belanjaan niki panjang sekali," keluh Ndari sambil menyeka peluh di lehernya dengan ujung kemben.
"Kita mboten terburu-buru," jawab Sawitri tenang, langkahnya berbelok menuju sebuah kedai makan dua lantai berkonstruksi kayu jati yang megah di sudut persimpangan.
Kedai 'Bale Raos' itu dipenuhi aroma daging sapi bakar dan kuah gule rempah yang menerbitkan selera secara brutal.
Mereka duduk di sudut lantai dua yang lebih sepi, menghadap langsung ke hiruk-pikuk pasar di bawah sana yang dilintasi delman dan pedati.
Sawitri memesan seporsi sate sapi bumbu kecap pedas, gule balungan, dan beberapa potong jadah bakar tanpa sedikit pun melihat harga.
"Kowe mboten usah menatap meja orang lain seperti itu," tegur Sawitri datar, melihat Ndari yang tak henti-hentinya menelan ludah melihat makanan pelayan kedai yang berlalu lalang.
"Kulo hanya mboten percaya kita bisa duduk di kedai semewah ini, Ndara," mata gadis batur itu berkaca-kaca menatap meja jati di depannya.
"Dulu kita cuma bisa mencium bau asapnya dari kejauhan sambil memakan ubi rebus sisa."
Sawitri terdiam sejenak, mengamati wajah Ndari yang memerah menahan haru.
Di kehidupan sebelumnya, ia mendedikasikan seluruh waktunya untuk ruang jenazah, tak pernah memiliki keluarga sedekat ini selain Tari, sahabatnya di kepolisian.
"Kulo memesan es gempol plered dan klepon ketan kesukaanmu," ucap Sawitri tiba-tiba, suaranya sedingin biasanya namun terselip atensi yang presisi.
"Kudengar kau menceritakannya pada Nyi Inggit tempo hari saat menjemur jarik."
Ndari membelalakkan matanya yang bulat, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipi.
"Gusti... Ndara Ayu mengingatnya? Kulo pikir Ndara hanya mengingat isi kitab medis."
"Hapus air matamu. Menangis di depan makanan hanya akan membunuh nafsu makan."
Suasana emosional yang canggung itu mendadak dihancurkan oleh lengkingan tawa meremehkan dari arah tangga kayu.
"Rupanya benar tebakanku! Batur rendahan dari pesanggrahan sedang menangis meratapi nasib karena mboten mampu membayar makanan!"
Suara manja nan beracun itu langsung membuat rahang Sawitri menegang kaku.
Raden Rara Ratih Kumala berdiri bertolak pinggang di ujung tangga, kebaya beludru merahnya tampak terlalu mencolok dan tebal untuk cuaca siang yang terik.
"Kowe bawa uang mboten? Kalau mboten, sujud dan mengemislah padaku, jangan membuat malu nama Tumenggung Danurejo karena kowe ditangkap centeng kedai!"
Sawitri meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan sangat terukur dan lambat.
Matanya yang setajam mata pisau bedah memindai Ratih dari atas ke bawah tanpa ekspresi.
"Tulang lengan kananmu sudah mboten nyeri, Ratih?" tanya Sawitri datar, sebuah ancaman psikologis yang menusuk langsung ke memori trauma adiknya.
Ratih tersentak mundur selangkah, refleks menyembunyikan tangannya ke belakang punggung sambil menggigit bibir pucatnya.
"Ratih, mboten sopan berbicara seperti itu pada Mbakyu-mu."
Suara lembut bak tetesan air di atas daun talas mengalun menenangkan dari arah belakang Ratih.
Seorang gadis dengan kecantikan paripurna melangkah anggun menaiki sisa anak tangga, menyedot perhatian seluruh pengunjung lantai dua kedai itu.
Kebaya sutra hijau pupus membalut tubuh rampingnya, rambutnya disanggul ukel tekuk sempurna dengan cunduk mentul emas yang bergoyang halus di setiap langkahnya.
Dialah Raden Ajeng Wandira, putri dari selir pertama yang menyandang gelar Kembang Keraton Mataram.
Sawitri menatap Wandira tanpa emosi, otak analitisnya segera membedah bahasa tubuh "saudari tirinya" itu secara saksama.
Wandira tampak sangat elegan dan bertutur lembut, namun mikro-ekspresi di sudut matanya memancarkan arogansi hierarki yang jauh lebih berbahaya dari amarah meledak-ledak milik Ratih.
"Mbakyu Wandira ternyata masih hidup," sapa Sawitri dingin, memotong sapaan manis Wandira tanpa ampun sedetik pun.
"Kulo pikir jenengan sudah mati, mengingat betapa beraninya Ratih mengklaim diri sebagai putri pewaris tunggal di toko kain tempo hari."
Wajah ayu Wandira seketika membeku, senyum manis di bibirnya retak perlahan didera sindiran tajam tak terduga itu.
Wandira melirik tajam ke arah Ratih, menyadari bahwa rumor tentang ambisi gila ibu Ratih bukanlah sekadar isapan jempol belaka.
"K-kowe fitnah! Kulo mboten pernah berniat melangkahi posisi Mbakyu Wandira!" Ratih tergagap panik, nyalinya runtuh seketika diapit tatapan mengintimidasi dari dua saudarinya.
"Fitnah?" Sawitri memiringkan kepalanya sedikit, menatap Ratih layaknya menatap spesimen mati.
"Bawa saja pelayan toko 'Sutra Kencana' kemari untuk bersaksi di bawah sumpah prajurit Kadipaten."
Wandira menarik napas panjang, mencoba merajut kembali topeng keanggunannya yang baru saja terkoyak di depan umum.
"Mbakyu Sawitri pasti salah dengar. Ratih masih kekanak-anakan. Mari, Ratih, kita cari meja lain yang lebih pantas."
"Kebetulan yang sungguh mboten terduga, Ndara Tabib."
Sebuah suara bariton yang dalam dan berwibawa menghentikan langkah Wandira yang hendak berbalik.
Raden Cakrawirya melangkah santai menaiki tangga kayu jati itu, surjan lurik cokelatnya tampak biasa, namun karismanya menyapu seluruh lantai dua dengan paksa.
Mata elangnya langsung mengunci sosok Sawitri, sama sekali mengabaikan dua gadis cantik berpakaian mewah yang menghalangi jalannya.
"Kulo pikir kulo mboten akan bertemu jenengan secepat ini."
Cakrawirya tersenyum misterius, melangkah mendekat melewati Wandira begitu saja.