NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

BAB 14

BENANG YANG TERIKAT KUAT

​Jika di hadapan Adrian dan dunia korporat Aisha adalah sebuah menara beton yang kokoh dan tak tergoyahkan, maka di dalam rumah kecilnya di pinggiran Jakarta, ia hanyalah sehelai benang sutra yang sedang ditarik dari dua arah.

​Malam setelah gala itu, Aisha tidak langsung tidur. Ia duduk di atas sajadahnya, menatap dinding kamar yang dihiasi kaligrafi buatan tangannya sendiri. Kata-kata Adrian di lorong tadi masih terngiang, bergetar di telinganya seperti gema yang tak mau hilang. “Aku ingin meruntuhkan semua dinding yang kau bangun di antara kita.” Aisha menyentuh dadanya. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak seharusnya. Ia merasa berdosa, namun ia juga merasa... diakui. Untuk pertama kalinya, seorang pria melihatnya bukan sebagai objek dakwah atau objek diskriminasi, melainkan sebagai manusia yang layak diperjuangkan. Namun, kehangatan itu segera sirna saat pintu kamarnya diketuk pelan.

​"Aisha? Kau sudah bangun, Nak?" suara ibunya terdengar dari balik pintu.

​Aisha segera merapikan mukenanya dan membuka pintu. "Ya, Bu. Baru saja selesai."

​Ibunya masuk dengan wajah yang tampak letih namun memancarkan keraguan. Ia duduk di pinggir tempat tidur Aisha, tangannya yang mulai keriput mengelus sprei. "Ayahmu menunggumu di ruang tengah. Ada tamu... sebenarnya bukan tamu, tapi kabar."

​Perasaan tidak enak seketika merayap di tengkuk Aisha. Ia mengikuti ibunya ke ruang tengah yang hanya diterangi lampu neon putih yang agak redup. Di sana, ayahnya duduk di kursi roda, ditemani oleh seorang pria paruh baya yang merupakan sahabat lama ayahnya, Pak Haji Mansyur.

​"Duduklah, Aisha," kata ayahnya dengan suara yang serak.

​Aisha duduk di kursi kayu di depan ayahnya. Ia bisa melihat tumpukan foto dan map di atas meja.

​"Pak Haji Mansyur datang membawa kabar baik," ayahnya memulai, matanya menatap Aisha dengan harapan yang sangat besar—harapan yang bagi Aisha terasa seperti beban ribuan ton. "Putra beliau, Ustadz Salman, sudah kembali dari Madinah. Beliau secara resmi menyampaikan niatnya untuk mengkhitbahmu, Aisha."

​Aisha merasa dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Ustadz Salman. Ia mengenalnya sebagai pria yang santun, sangat berilmu, dan dihormati di lingkungan mereka. Secara logika agama, Salman adalah pasangan yang sempurna. Namun, di dalam hatinya, tidak ada percikan apa pun. Kosong. Justru bayangan wajah Adrian yang dingin dan skeptis yang muncul di kepalanya.

​"Ayah tahu kau sedang sibuk dengan proyek besarmu itu," lanjut ayahnya, suaranya sedikit gemetar karena emosi. "Tapi kau tahu kondisi Ayah. Ayah ingin melihatmu ada yang menjaga sebelum... sebelum Ayah tidak bisa melihat lagi. Salman pria yang shaleh. Dia tidak akan memintamu melepas cadarmu, dia akan menjagamu dengan ilmu agamanya."

​"Tapi, Yah..." suara Aisha tercekat di tenggorokan. "Pekerjaan saya sedang di tahap krusial. Saya bertanggung jawab atas ribuan nyawa dalam struktur gedung itu."

​"Aisha," Pak Haji Mansyur menyela dengan lembut. "Menikah bukan berarti berhenti berkarya. Tapi Salman bisa membimbingmu agar karyamu tidak melalaikanmu dari akhirat. Kami dengar kau bekerja sangat dekat dengan seorang pengusaha besar yang... maaf, tidak beragama. Kami khawatir itu akan memengaruhi fitrahmu."

​Aisha merasakan sengatan di hatinya. Mempengaruhi fitrah? Justru di dekat Adrian, ia merasa imannya sedang diuji sekaligus dibuktikan. Justru di depan skeptisisme Adrian, ia harus menggali lebih dalam alasan mengapa ia beriman.

​"Saya tidak akan berubah, Pak Haji," ucap Aisha tegas namun tetap sopan. "Dan mengenai Ustadz Salman... saya butuh waktu untuk istikharah."

​"Ayah tidak memberimu waktu lama, Nak," potong ayahnya, kali ini dengan nada yang lebih menekan. "Minggu depan Salman akan datang ke sini untuk mendengar jawabanmu. Ayah mohon... jangan buat Ayah malu di depan sahabat Ayah sendiri. Ini adalah satu-satunya permintaan Ayah."

​Setelah tamu itu pulang, Aisha kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Di sinilah sisi rapuhnya terungkap. Di luar, ia adalah arsitek brilian yang bisa mendebat CEO paling berkuasa di Jakarta. Di sini, ia hanyalah seorang putri yang tidak tega menghancurkan harapan ayahnya yang sedang sakit.

​Ia merasa terjepit. Di satu sisi, ada Ustadz Salman—jalan yang lurus, aman, dan disetujui keluarga, namun terasa hambar. Di sisi lain, ada Adrian Aratama—jalan yang penuh duri, penuh ketidakpastian, namun entah mengapa membuat jiwanya merasa tertantang dan hidup.

​Aisha mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan singkat masuk. Dari nomor yang tidak dikenal, tapi ia tahu siapa pemiliknya.

​Adrian Aratama: Tidurlah. Jangan pikirkan kata-kata Bianca atau ibuku. Kau lebih kuat dari mereka semua. Sampai jumpa besok jam 8 pagi di lokasi.

​Pesan itu sederhana, dingin, dan sangat "Adrian". Tapi bagi Aisha, itu adalah pelampung di tengah samudra yang sedang mengamuk. Ia meremas ponselnya di dada. Ia merasa sangat bersalah karena merasa lebih tenang membaca pesan dari seorang ateis daripada mendengar rencana pernikahan dengan seorang Ustadz.

​"Ya Allah..." bisiknya dalam tangis yang tertahan. "Apakah ini ujian atas niatku? Mengapa hatiku condong pada pria yang bahkan tidak sujud kepada-Mu?"

​Malam itu, Aisha tidak tidur. Ia menghabiskan waktunya dengan bersujud, menangis sejadi-jadinya di atas sajadah. Ia merasa rapuh, sangat rapuh. Ia takut pada perasaannya sendiri. Ia takut bahwa "dinding" yang ia bangun selama ini bukan diruntuhkan oleh Adrian, melainkan runtuh dari dalam karena ia sendiri yang membiarkan pintunya terbuka.

​Esok paginya, Aisha muncul di lokasi proyek dengan mata yang sedikit sembab, meski tertutup cadar. Ia bekerja dua kali lebih keras, seolah dengan kelelahan fisik ia bisa melupakan beban di hatinya.

​Adrian menyadari ada yang tidak beres. Saat mereka sedang memeriksa beton yang baru dituang, Adrian mendekat.

​"Kau kurang tidur," ucap Adrian, bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah observasi.

​Aisha tidak menoleh. "Hanya banyak pikiran, Pak."

​"Tentang proyek?"

​"Bukan."

​Adrian terdiam. Ia melihat tangan Aisha yang sedikit gemetar saat memegang papan jalan. Tanpa pikir panjang, Adrian melangkah menghalangi jalan Aisha, memaksanya untuk berhenti dan menatapnya.

​"Ada apa?" tanya Adrian, suaranya kini sangat lembut, kontras dengan kebisingan mesin molen di sekitar mereka. "Jika ini tentang semalam, aku sudah minta maaf."

​Aisha menatap mata Adrian. Untuk sesaat, ia ingin sekali menceritakan semuanya. Ingin bilang bahwa ia sedang dipaksa menikah. Ingin bilang bahwa ia takut kehilangan pekerjaannya ini karena tekanan keluarga. Namun, harga dirinya menahan itu semua.

​"Ini urusan keluarga saya, Pak Adrian. Tidak ada hubungannya dengan Green Oasis," jawab Aisha, suaranya serak.

​"Urusanmu adalah urusanku selama kau masih menjadi arsitekku," balas Adrian keras kepala. "Kau tampak seperti orang yang sedang memikul beban seluruh dunia di pundakmu. Katakan padaku, apa yang mereka lakukan padamu?"

​Aisha menggeleng pelan. "Anda tidak akan mengerti, Pak. Dunia kita terlalu berbeda. Di dunia saya, kepatuhan pada orang tua adalah segalanya, bahkan jika itu harus mengorbankan perasaan sendiri."

​Adrian menyipitkan mata. Ia mulai menebak-nebak. "Kepatuhan? Maksudmu... perjodohan?"

​Aisha terdiam. Diamnya adalah jawaban "ya" yang paling keras bagi Adrian.

​Adrian merasakan amarah yang dingin menjalar di dadanya. Ia tidak percaya bahwa di zaman sekarang, wanita secerdas Aisha masih harus menghadapi hal seperti itu. Tapi lebih dari amarah, ia merasakan ketakutan—ketakutan bahwa ia akan benar-benar kehilangan Aisha kepada pria lain yang bahkan tidak perlu berjuang sekeras dirinya untuk mendapatkan perhatian wanita itu.

​"Jangan lakukan itu," bisik Adrian, suaranya kini penuh dengan desakan yang putus asa.

​"Apa hak Anda melarang saya, Pak?" tanya Aisha, matanya kini berkaca-kaca menantang Adrian.

​Adrian tertegun. Benar. Apa haknya? Ia bukan siapa-siapa bagi Aisha. Ia hanya atasan yang menyebalkan, seorang skeptis yang sedang jatuh cinta pada "bayangan".

​"Hakkku..." Adrian menggantung kalimatnya. Ia menarik napas panjang, menatap tajam ke dalam mata Aisha. "Hakkku adalah karena aku pria yang paling mengenal setiap garis di pikiranmu melalui desain ini. Aku pria yang melihat kehebatanmu saat orang lain hanya melihat kainmu. Kau tidak boleh menyerahkan otak dan jiwamu pada seseorang hanya karena kewajiban, Aisha. Itu adalah bunuh diri intelektual."

​Aisha berpaling, tidak kuat menahan intensitas tatapan Adrian. "Hidup tidak sesederhana itu, Pak Adrian. Tidak semua orang punya kemewahan untuk memilih sesuai keinginan hatinya."

​Aisha berjalan pergi, meninggalkan Adrian yang terpaku di tengah debu konstruksi. Adrian mengepalkan tangannya. Ia tidak akan membiarkan ini terjadi. Jika ia harus membeli waktu, jika ia harus membuktikan dirinya di depan keluarga Aisha, atau bahkan jika ia harus melawan seluruh tradisi itu, ia akan melakukannya.

​"Dia bukan milik siapa pun, kecuali dirinya sendiri," gumam Adrian.

​Namun, di dalam hatinya, benih-benih kecemburuan mulai tumbuh menjadi pohon yang besar dan berduri. Adrian menyadari bahwa saingannya kali ini bukan lagi seorang investor rakus atau sosialita manja, melainkan sosok "Ustadz" yang mewakili segala hal yang tidak ia miliki: iman dan restu keluarga.

​Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, uang dan kekuasaan Adrian mungkin tidak akan cukup untuk memenangkannya.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!