NovelToon NovelToon
In Your Smile, I Find Warmth

In Your Smile, I Find Warmth

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.

Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.

Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Kompetisi Pertama Arka

Dua minggu setelah menerima undangan kompetisi coding tingkat nasional, rumah keluarga Mahardika berubah jadi pusat latihan dadakan. Suasananya sibuk tapi hangat, penuh semangat dan dukungan.

Setiap malam, Arka duduk di depan laptop ditemani Reyhan. Mereka belajar algoritma baru, debugging code, dan latihan problem-solving sampe mata Arka kadang udah mau merem. Tapi bocah itu nggak pernah ngeluh. Malah makin semangat.

Reyhan bahkan ambil cuti dua hari sebelum kompetisi. Biasanya workaholic banget, tapi sekarang prioritasnya cuma satu: bantu Arka siap sebaik mungkin.

"Nak, coba solve problem ini." Reyhan nunjuk layar laptop. "Ini tentang binary search tree. Udah pernah belajar kan?"

Arka ngangguk serius. Matanya fokus, alisnya sedikit berkerut. "Pernah, Yah. Tapi yang ini levelnya lebih susah dari biasanya."

"Iya, karena ini level kompetisi nasional. Tapi Ayah yakin kamu bisa. Pikirin dulu pelan-pelan, nggak usah buru-buru."

Arka diem. Jemarinya ngetuk-ngetuk meja. Tok tok tok. Irama yang sama persis kayak Reyhan pas lagi mikir berat.

Alya duduk di sofa sambil lipat baju, tapi matanya nggak lepas dari mereka berdua. Dia senyum sendiri. Identik banget.

Lima belas menit kemudian, Arka mulai ngetik cepet. "Ayah, aku rasa aku tau solusinya!"

Reyhan ngamati code yang ditulis Arka. Baris demi baris. Logikanya rapi, meskipun masih ada beberapa syntax error kecil.

"Bagus, Nak! Logikanya udah bener. Cuma typo di sini sama sini. Coba debug sendiri."

Arka teliti. Nemuin kesalahan. Benerin. Pas code-nya running tanpa error, dia teriak.

"BERHASIL!"

Reyhan acak rambutnya. "Good job! Kamu belajar cepet banget. Ayah waktu umur segitu belum bisa coding se-advanced ini."

"Beneran, Yah?"

"Beneran. Ayah baru belajar coding pas SMP. Kamu umur lima tahun udah bisa bikin binary search tree. Itu luar biasa."

Arka langsung peluk Reyhan erat. "Soalnya Ayah guru yang baik. Ayah jelasinnya gampang dimengerti."

Reyhan nahan haru. Dadanya hangat. "Makasih, Nak. Ayah juga seneng ngajarin kamu."

Hari-hari berlalu cepat. Persiapan makin intens, tapi mereka tetap jaga keseimbangan. Alya selalu ingetin Arka buat istirahat, main, dan tetep jadi anak-anak.

Jumat Pagi Berangkat ke Jakarta

Kompetisi diadakan di Jakarta Convention Center. Mereka harus berangkat Jumat pagi biar bisa check-in hotel dan Arka istirahat sebelum kompetisi Sabtu.

Di mobil menuju bandara, Arka duduk di belakang dengan laptop di pangkuan. Masih belajar.

"Nak, laptop-nya tutup dulu. Istirahat," tegur Alya dari kursi depan.

"Tapi Ma, aku mau review"

"Nggak ada review lagi." Reyhan potong lembut tapi tegas. "Kamu udah belajar cukup. Sekarang kamu perlu istirahat biar otak fresh besok."

"Tapi Yah, kompetitor lain pasti lagi belajar"

"Biarkan." Reyhan lirik dari kaca spion. "Kamu udah lebih dari siap. Yang kamu butuh sekarang istirahat dan mental tenang. Percaya sama Ayah."

Arka hela napas, tapi nurut. Laptop ditutup. "Oke, Ayah."

Alya senyum. Seneng lihat Reyhan bisa firm tapi tetap supportif.

Di bandara, pas nunggu boarding, Arka duduk di antara mereka. Wajahnya mulai keliatan gugup.

"Mama," bisiknya pelan, "aku takut."

Alya peluk dari samping. "Takut kenapa, sayang?"

"Takut nggak bisa. Takut kalah. Takut... ngecewain Ayah sama Mama."

Reyhan yang denger langsung berbalik. Tatap Arka serius. "Arka, lihat Ayah."

Arka angkat wajah.

"Dengerin Ayah baik-baik. Ayah dan Mama nggak akan kecewa, apapun hasilnya. Menang atau kalah, kamu tetap anak luar biasa buat kami. Yang penting kamu udah berusaha sebaik mungkin. Ngerti?"

"Tapi... kalau aku kalah, malu"

"Nggak ada yang memalukan dari kalah." Potong Reyhan tegas. "Yang memalukan itu nggak mau belajar dari kekalahan. Ayah juga pernah kalah berkali-kali. Tapi, Ayah belajar sesuatu yang baru."

Alya tambah lembut, "Dan yang terpenting, Mama sama Ayah bangga karena kamu berani ikut. Berani keluar dari zona nyaman. Itu udah prestasi."

Arka ngangguk pelan. Kecemasannya sedikit reda. "Makasih, Mama. Makasih, Ayah."

Reyhan peluk dia erat. "Ayah sayang kamu, Nak. Apapun yang terjadi besok."

Sabtu Pagi Hari Kompetisi

Jakarta Convention Center penuh sama anak-anak gifted dari seluruh Indonesia. Suasana ramai tapi tertib. Panitia mengatur semuanya profesional.

Arka daftar di kategori usia 5-7 tahun. Kategori termuda. Ada sekitar 30 peserta, semuanya keliatan serius dan pede.

"Arka Mahardika?" panggil panitia pas registrasi.

"Iya, Bu." Arka serahin kartu peserta.

Panitia lihat Arka, kaget. "Umur kamu... 5 tahun?"

"Iya, Bu."

"Wah, kamu peserta termuda di kategori ini. Hebat berani ikut!"

Arka senyum malu. Nggak biasa dipuji orang asing.

Abis registrasi, mereka duduk di ruang tunggu. Arka di tengah, tangan meremas ujung baju. Gugup.

"Nak," bisik Reyhan, "inget ya. Nikmatin aja prosesnya. Jangan pikirin menang atau kalah."

Arka ngangguk.

Nama-nama peserta dipanggil satu per satu. Orang tua nggak boleh masuk.

Pas nama Arka dipanggil, dia berdiri. Kakinya sedikit gemetar.

Reyhan berlutut di depannya. "Ayah percaya sama kamu. Kamu hebat. Sekarang buktiin sama diri kamu sendiri kalau kamu bisa."

Alya cium dahinya. "Mama doain, sayang. Lakukan yang terbaik."

Arka peluk mereka sekilas, lalu jalan masuk. Langkahnya makin mantap.

Tiga Jam Kemudian Ruang Tunggu Orang Tua

Reyhan dan Alya duduk gelisah. Kompetisi tiga jam tanpa break. Marathon coding yang melelahkan.

"Rey, kamu pikir Arka baik-baik aja?" Alya remas tangannya sendiri.

"Arka kuat. Dia bisa handle." Reyhan jawab, meskipun dia juga cemas.

Di sekitar mereka, orang tua lain juga gelisah. Ada yang mondar-mandir, ada yang berdoa.

"Pak Reyhan? Bu Alya?"

Mereka menoleh. Sepasang suami istri menghampiri.

"Iya?" Reyhan berdiri.

"Saya Budi, ini istri saya Lina. Anak kami Kevin, teman Arka di enrichment class. Dia sering cerita tentang Arka."

"Oh!" Alya senyum. "Arka juga sering cerita tentang Kevin. Senang ketemu."

Mereka ngobrol ringan. Tentang anak gifted, tantangan, kebahagiaan. Ngobrol itu sedikit mengalihkan kecemasan.

"Anak Bapak luar biasa," kata Pak Budi tulus. "Kevin bilang Arka bisa ngajarin algoritma yang saya aja lulusan Teknik Informatika masih struggle jelasinnya."

Reyhan senyum bangga. "Arka emang punya cara sendiri belajar dan ngajar. Dia istimewa."

"Bapak pasti ayah yang supportif banget."

"Saya cuma... coba jadi ayah sebaik mungkin."

Percakapan terpotong. Pintu ruang kompetisi terbuka. Anak-anak mulai keluar satu per satu.

Arka keluar. Wajahnya lelah, rambut berantakan, mata sedikit sembab. Tapi ada senyum tipis.

Reyhan dan Alya langsung menghampiri.

"Nak, gimana?" Alya peluk.

"Susah, Ma. Tapi... aku rasa aku bisa kerjain sebagian besar." Suaranya pelan, kelelahan.

Reyhan angkat Arka. Jarang dilakukan karena Arka udah besar. "Ayah bangga sama kamu. Bertahan tiga jam, itu luar biasa."

"Ayah... aku laper."

Reyhan ketawa. "Oke, makan dulu. Terus istirahat."

Sore Hari Hotel

Abis makan, Arka langsung tidur. Kelelahan.

Reyhan dan Alya duduk di balkon hotel. Pemandangan Jakarta. Kopi di tangan.

"Rey." Alya pelan.

"Ya?"

"Kamu lihat tadi? Arka itu... luar biasa. Bertahan tiga jam kompetisi di umur lima tahun. Aku nggak yakin aku sekuat itu waktu kecil."

Reyhan raih tangan Alya. "Dia dapat kekuatan dari kamu. Kamu yang besarin dia jadi anak tangguh."

"Dan dia dapat kecerdasan dari kamu." Alya senyum. "Dia kombinasi sempurna kita."

Reyhan tatap Alya penuh cinta. "Alya... makasih."

"Buat apa?"

"Buat lima tahun yang kamu jalani sendiri. Buat ngasuh Arka sendirian. Buat bikin dia jadi anak luar biasa meski aku nggak ada."

Air mata Alya genang. "Rey..."

"Aku nggak bisa balikin waktu." Suara Reyhan bergetar. "Nggak bisa gantiin lima tahun yang aku sia-siain. Tapi aku janji... sisa hidupku, aku dedikasiin buat kamu dan Arka. Buat keluarga kita."

Alya nangis, peluk Reyhan erat. "Kamu udah buktiin itu, Rey. Setiap hari. Kamu udah jadi suami dan ayah luar biasa."

Mereka berpelukan lama. Hangat. Sembuh.

Minggu Siang Pengumuman Pemenang

Pengumuman di aula utama. Semua peserta dan orang tua kumpul, deg-degan.

Arka duduk di antara Reyhan dan Alya. Tangannya genggam tangan Ayah erat.

"Apapun hasilnya, Ayah dan Mama udah bangga," bisik Reyhan.

"Aku juga bangga sama diri aku sendiri, Yah." Arka senyum kecil. "Aku udah coba sebaik mungkin."

Reyhan sesak. Ini yang aku mau ajarin. Bangga sama usaha, bukan cuma hasil.

Juri mulai umumkan. Dari kategori tertinggi turun ke termuda.

Pas kategori 5-7 tahun, jantung Reyhan dan Alya deg-degan.

"Pemenang ketiga... Rizky Ananda dari Surabaya!"

Tepuk tangan. Arka ikut tepuk, tulus.

"Pemenang kedua..." Juri buka amplop dramatis. "Arka Mahardika!"

Dunia berhenti.

Reyhan dan Alya saling tatap, nggak percaya.

"ARKA MENANG?!" Alya tutup mulut.

Arka diem, shock.

"Nak, KAMU MENANG! JUARA DUA!" Reyhan angkat Arka, peluk erat.

Arka baru sadar. Langsung nangis. Tangis bahagia.

"AYAH! MAMA! AKU MENANG!"

"Iya, sayang! Kamu menang! Luar biasa!" Alya peluk mereka berdua, ikut nangis.

Arka naik panggung. Terima piala perak dan sertifikat. Foto. Senyum lebar, gigi ompong keliatan.

Turun panggung, dia lari ke Reyhan dan Alya.

"AYAH! MAMA! LIHAT!"

Reyhan berlutut. "Ayah bangga sama kamu, Nak. Sangat bangga."

"Mama juga bangga, sayang. Kamu anak terhebat Mama." Alya cium kepalanya berkali-kali.

Arka peluk mereka berdua. Pialanya terjepit di tengah.

"Makasih udah support aku. Makasih udah percaya sama aku."

Di aula itu, dengan ratusan orang, mereka bertiga ngerasain kebahagiaan sejati.

Minggu Malam Di Pesawat Pulang

Di pesawat, Arka tidur dengan piala dipeluk erat. Nggak mau lepas.

Reyhan dan Alya duduk bersebelahan. Tangan bertaut.

"Rey." Alya bisik. "Aku masih nggak percaya."

"Aku juga." Reyhan senyum lihat Arka. "Tapi dia emang layak menang."

"Dan kamu... kamu ayah luar biasa. Arka nggak akan sejauh ini tanpa support kamu."

Reyhan geleng. "Arka bisa sejauh ini karena kamu besarin dia dengan cinta. Kamu ajarin dia jadi anak baik, rendah hati, tangguh. Itu lebih penting dari kecerdasan."

Alya nangis lagi. "Kita tim yang baik ya?"

"Tim terbaik." Reyhan cium keningnya. "Bersyukur punya kamu dan Arka."

Mereka duduk tenang. Lihat Arka tidur damai. Bahagia.

Senin Pagi Kembali ke Rutinitas

Senin pagi, Arka bawa piala ke sekolah. Mau tunjukkin ke temen-temen.

Pas sampe kelas, temen-temen dan guru nyambut dengan tepuk tangan.

"ARKA JUARA! ARKA JUARA!"

Arka malu, pipi merah.

Bu Ratna dateng khusus. "Arka, Ibu bangga. Kamu bawa nama baik sekolah."

"Makasih, Bu. Tapi aku nggak sendirian. Ayah sama Mama bantu aku belajar. Terus temen-temen support aku."

Bu Ratna senyum. Anak segini pinter, rendah hati. Luar biasa.

Di rumah, piala Arka ditaruh di ruang keluarga. Setiap lewat, Reyhan atau Alya pasti senyum.

Malam harinya, pas Arka tidur, Reyhan dan Alya duduk di ruang keluarga. Lihat piala itu.

"Rey." Alya tiba-tiba. "Aku punya firasat... ini baru awal."

"Awal apa?"

"Perjalanan panjang Arka. Dia bakal jadi orang besar. Aku rasa itu."

Reyhan genggam tangannya. "Apapun dia nanti... yang penting dia bahagia. Dan dia tau dia dicintai."

"Dia tau kok." Alya yakin. "Karena kita tunjukkin setiap hari."

Mereka duduk tenang. Nikmatin kebahagiaan. Cinta yang makin dalam. Harapan buat masa depan.

[Bersambung]

1
tia
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!