NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Ada sesuatu tentang cara uap kopi mengepul di ruangan sempit ini yang membuat Felysha Anindhita merasa dunia di luar sana berhenti bergerak. Ia tidak segera meminum café au lait yang baru saja diletakkan pria itu di depannya. Jemarinya justru melingkar erat di sekeliling cangkir keramik biru tua tersebut, mencoba mencuri sebanyak mungkin kehangatan yang bisa diserap oleh kulitnya yang masih terasa kaku karena suhu musim gugur di luar. Ia menunduk, memperhatikan bagaimana busa susu di permukaan kopi itu perlahan-lahan pecah, meninggalkan jejak-jejak putih yang tidak beraturan di atas cairan cokelat pekat.

Pikiran Felysha tidak benar-benar ada di dalam kedai L'Art du Café ini. Ia merasa seperti sedang tersesat di antara dua kenyataan yang saling bertabrakan—kenyataan bahwa ia berada di Paris, kota yang selama ini ia impikan namun kini terasa begitu asing, dan kenyataan bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah orang yang sama dengan pria yang menyelamatkannya di taman malam itu.

Keheningan di antara mereka berdua terasa sangat padat, seolah-olah udara di balik konter kayu itu memiliki bobot tersendiri. Mahesa tidak lagi sibuk dengan mesin espressonya. Ia berdiri sekitar satu meter dari Felysha, kedua tangannya bertumpu pada pinggiran konter yang permukaannya sudah kusam dimakan usia. Ia tidak menatap Felysha, namun pandangannya tertuju pada satu titik di meja kayu, seolah sedang menghitung urat-urat kayu di sana untuk menghindari kontak mata.

"Jakarta itu... nggak pernah sesunyi ini, ya?"

Suara Felysha memecah kesunyian dengan nada yang begitu lembut, hampir menyerupai bisikan yang tertelan oleh alunan musik jazz instrumental dari sudut ruangan. Ia tidak menggunakan bahasa Prancis yang tadi sempat ia paksakan. Kata-katanya mengalir dalam bahasa Indonesia yang jernih, membawa serta beban kerinduan yang selama ini ia kunci rapat di dalam apartemennya di Passy.

Mahesa tidak langsung menyahut. Ia hanya menggerakkan jemarinya pelan, mengetuk permukaan konter sebanyak tiga kali dengan irama yang tidak beraturan. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma biji kopi yang baru dipanggang—aroma yang seharusnya menjadi simbol kehidupannya yang baru di Paris, namun kini justru terasa seperti jembatan menuju kenangan yang ia coba kubur.

"Di Jakarta, jam-jam segini biasanya lagi macet-macetnya," lanjut Felysha.

Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap jendela besar kedai yang menampilkan gang sepi di luar. "Rumahku dulu di daerah Menteng. Kalau sore begini, biasanya aku bisa dengar suara klakson yang bersahut-sahutan dari jalan besar. Suaranya nggak beraturan, berisik, dan kadang menyebalkan. Tapi sekarang, kalau aku ingat-ingat lagi, suara berisik itu rasanya lebih manusiawi daripada kesunyian Paris yang terkadang bikin telingaku sakit."

Felysha melepaskan satu tangannya dari cangkir, jemarinya bergerak memainkan pinggiran tatakan kayu kopinya. "Di Jakarta, sore itu baunya aspal panas yang baru kena hujan. Kamu tahu bau itu, kan? Bau yang aneh, bau tanah yang menguap, tapi selalu bikin aku merasa ada di tempat yang benar. Terus ada bunyi bel sepeda penjual roti yang lewat depan pagar. Bunyinya cempreng, khas banget. Semuanya terasa begitu hidup, seolah-olah setiap sudut kota itu punya detak jantungnya sendiri."

Mahesa perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap Felysha dari balik keremangan cahaya lampu gantung yang redup. Ada sesuatu di wajah gadis itu—sebuah kerapuhan yang tersembunyi di balik mantel wol mahalnya—yang membuat pertahanan Mahesa sedikit goyah. Ia tidak lagi melihat Felysha sebagai target atau sebagai pelanggan yang merepotkan. Ia melihat seorang gadis yang, sama seperti dirinya, sedang berjuang untuk tidak tenggelam di tengah kota yang tidak mengenalnya.

"Toko tekstil Ayah selalu paling ramai kalau jam segini," Felysha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat lelah.

"Baunya sangat spesifik. Campuran antara bau kain katun mentah yang baru dibuka dari plastik, sedikit aroma debu gudang yang lembap, dan bau sate ayam yang biasanya mangkal di ujung gang. Aku sering duduk di kursi rotan di pojok toko, cuma buat menggambar orang-orang yang lewat. Ibu-ibu yang tawar-menawar harga kain, atau pegawai kantoran yang buru-buru cari bahan buat seragam. Kain-kain itu punya tekstur yang nyata. Kasar, lembut, licin... semuanya punya cerita. Ayah selalu bilang, kalau kita dengerin baik-baik, setiap gulungan kain itu punya nyawa."

Felysha berhenti sejenak, ia menyesap kopinya yang kini sudah mulai mendingin. "Aku datang ke Paris karena mau belajar cara nulis cerita itu lewat jahitan. Tapi ternyata, di sini aku malah merasa kehilangan kata-kata. Aku merasa seperti orang asing yang sedang memakai baju yang terlalu besar. Nggak pas, nggak nyaman, tapi aku dipaksa buat tetap memakainya."

Mahesa memperhatikan bagaimana Felysha mencengkeram cangkirnya kembali. Ia bisa melihat plester kecil di leher gadis itu yang terselip di balik syalnya—pengingat fisik tentang malam yang membuat mereka bertemu. Ia merasa tenggorokannya mendadak kering. Rasa bersalah itu kembali merayap, dingin dan menusuk, mengingatkannya pada uang Euro di dalam sakunya yang ia dapatkan dari dompet gadis ini.

"Paris memang tempat yang bagus buat belajar teknik, tapi tempat yang paling susah buat ngerasa punya akar," Mahesa akhirnya bersuara. Suaranya rendah, tidak lagi menggunakan nada barista yang kaku. Ia menggunakan logat Jakarta yang sangat natural, seolah-olah ia baru saja pulang dari kantor di daerah Sudirman.

Felysha mendongak, matanya sedikit membelalak mendengar nada bicara Mahesa. "Kamu... kamu merasakannya juga?"

Mahesa mengangguk pelan. Ia berjalan menuju rak belakang, mengambil selembar kain lap bersih untuk menyibukkan tangannya agar tidak terlihat gemetar. "Di Jakarta, kesunyian itu barang mewah yang kita cari-cari. Di Paris, kesunyian itu dikasih cuma-cuma, dan ternyata itu yang paling bikin sakit. Orang-orang di sini sangat menghargai privasi sampai-sampai mereka lupa kalau manusia itu butuh sapaan yang nggak cuma sekadar 'Bonjour' yang formal."

Ia mulai menyeka bagian atas mesin kopi dengan gerakan yang pelan dan ritmis. "Aku rindu bau hujan yang jatuh di atas atap seng, Felysha. Suaranya gaduh banget, sampai-sampai kita harus bicara agak keras kalau mau kedengaran. Tapi suara itu hangat. Di sini, hujannya rintik-rintik, halus, tapi dinginnya menusuk sampai ke tulang. Rasanya kayak lagi dikepung sama kabut yang nggak pernah hilang."

Felysha mengangguk antusias, seolah baru saja menemukan seseorang yang bisa mengartikan isi kepalanya. "Benar! Persis seperti itu. Dan aku rindu bau masakan di rumah. Bau bawang goreng atau terasi yang lagi dibakar Ibu di dapur. Itu bau yang paling aku kangenin. Bau yang menandakan kalau semuanya bakal baik-baik saja, kalau hari ini bakal selesai dengan perut yang kenyang dan hati yang tenang."

Mahesa terdiam. Ia teringat gang kecilnya di daerah Tebet. Ia teringat pada warung nasi goreng gila yang biasa ia datangi tengah malam. Kenangan-kenangan itu, yang selama dua tahun ini ia kunci rapat di dalam kotak besi di apartemennya, kini seolah-olah mendobrak keluar karena cerita Felysha. Ia menyadari bahwa ia telah membuang banyak hal hanya demi bisa bertahan hidup di sini—termasuk identitasnya sebagai Mahesa yang dulu menyukai arsitektur dan sketsa bangunan Jakarta.

"Kamu tahu rasanya jadi hantu?" Felysha bertanya lagi, suaranya kini lebih serak. "Itu yang aku rasain setiap hari. Orang-orang di kampus melihatku sebagai mahasiswi yang punya segalanya. Mereka lihat mantelku, mereka lihat tasku, mereka lihat tunanganku yang selalu menelepon setiap jam. Tapi nggak ada yang benar-benar melihat Felysha yang benci suara sunyi di apartemennya sendiri. Di Jakarta, aku punya nama. Di sini, aku cuma selembar kertas yang ditiup angin Paris."

Mahesa meletakkan kain lapnya. Ia menumpukan kedua tangannya di atas konter, menatap Felysha dengan sorot mata yang jauh lebih lunak. Ada sebuah dorongan di dalam dirinya untuk mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Felysha yang masih melingkari cangkir, sekadar untuk memberitahunya bahwa ia tidak sendirian. Namun, ia segera menahan dorongan itu. Ia tahu tangannya tidak cukup bersih untuk menyentuh harapan gadis itu.

"Mungkin itu alasannya kamu nemu kedai ini, Felysha," ucap Mahesa pelan. "Kedai ini tempat buat orang-orang yang capek jadi bayangan. Di sini, kamu boleh jadi Felysha yang kangen Menteng. Nggak ada yang bakal ngelaporin itu ke siapapun. Nggak ada Andre yang nunggu di gerbang, nggak ada Julian yang nanya kamu lagi di mana."

Felysha tersentak saat Mahesa menyebut nama Julian. Ia baru menyadari bahwa ia sudah menghabiskan hampir satu jam di sini. Ia segera melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya Tuhan... aku harus segera keluar. Andre pasti sudah mulai curiga."

Ia segera meraih tas sketsanya, namun tangannya sempat terhenti di atas permukaan meja. Ia menatap Mahesa sekali lagi, seolah sedang merekam wajah pria itu di dalam ingatannya sebagai satu-satunya jangkar kenyataan yang ia temukan di Paris.

"Terima kasih, Mahesa," ucap Felysha dengan tulus. "Sudah mau dengerin cerita tentang Jakarta yang nggak penting ini. Aku nggak tahu kenapa, tapi bicara sama kamu rasanya lebih gampang daripada bicara sama siapapun di kota ini."

"Mungkin karena kita pakai bahasa yang sama," jawab Mahesa. "Bahasa yang punya rasa hujan di atap seng."

Felysha tertawa kecil, tawa yang kali ini terdengar lebih ringan. Ia merapikan syalnya, menutupi lehernya kembali, lalu berjalan menuju pintu. Ia sempat berhenti di ambang pintu, menoleh ke arah Mahesa yang masih berdiri di balik konter.

"Besok... kalau aku datang lagi, apa kamu bakal pura-pura jadi orang Prancis lagi?" tanya Felysha dengan nada menggoda.

Mahesa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar asli. "Tergantung berapa banyak pelanggan lain yang ada di sini, Non. Tapi kalau sepi... Jakarta Selatan selalu ada di balik konter ini."

Felysha memberikan anggukan kecil sebelum akhirnya mendorong pintu biru itu. Bel berdenting nyaring, mengiringi kepergiannya ke arah gang yang kini sudah benar-benar gelap. Mahesa berdiri mematung di balik konter, tangannya perlahan meraih cangkir biru tua yang ditinggalkan Felysha. Cangkir itu masih menyisakan sedikit kehangatan.

Ia menghirup sisa aroma kopi di dalamnya, namun yang tercium di indra penciumannya justru aroma hujan di atas aspal panas Jakarta. Mahesa menyadari satu hal yang paling menakutkan: ia baru saja membiarkan Felysha masuk ke dalam satu-satunya tempat yang ia sebut sebagai benteng pertahanannya. Dan ia tidak tahu apakah ia sanggup membiarkan gadis itu pergi lagi saat musim gugur ini berakhir.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!