Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ruang Sempit dan Napas yang Terbagi
Pagi itu, langit di atas lokasi proyek pembangunan hotel mewah di pesisir kota tampak sedikit mendung, memberikan hawa sejuk yang jarang terjadi. Nika berdiri dengan tegak di samping mobil Devan, kali ini benar-benar siap. Ia mengenakan celana jins denim yang kokoh, kemeja flanel yang dimasukkan rapi, dan yang paling penting—sepatu boots gunung yang baru saja ia beli tadi malam setelah toko-toko hampir tutup. Ia tidak ingin lagi menjadi beban yang jatuh di tumpukan pasir. Helm putih pemberian Devan kemarin sudah terpasang di kepalanya, meskipun sedikit miring karena rambutnya yang tebal.
Devan keluar dari mobil, mengenakan rompi proyek berwarna oranye terang di atas kemeja putihnya. Ia sempat terhenti sejenak, memperhatikan penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada kilatan apresiasi yang sangat tipis di matanya, namun ia segera menutupinya dengan ekspresi datar yang profesional.
"Sudah siap?" tanya Devan pendek.
"Siap, Mas Bos! Tidak ada 'shrimp' hari ini, aku sudah hafal kalau itu namanya shrinkage," jawab Nika dengan nada riang yang sengaja ia buat untuk mencairkan suasana.
Devan hanya mendengus kecil, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa tertahan. "Ayo. Kita harus naik ke lantai dua belas untuk memeriksa progres instalasi kelistrikan. Kamu harus tetap di belakangku dan jangan menyentuh kabel apa pun."
Mereka berjalan melewati deretan mesin pengaduk semen dan tumpukan material. Nika berusaha keras menjaga langkahnya agar tetap stabil. Ia merasa bangga bisa berjalan di samping Devan, melihat bagaimana para pekerja memberikan hormat dan bagaimana Devan menjawab mereka dengan wibawa yang tenang. Namun, saat mereka sampai di lift proyek—sebuah kotak besi terbuka yang terlihat cukup ringkih—nyali Nika sedikit menciut.
"Kita naik ini?" tanya Nika, suaranya sedikit meninggi.
"Ini satu-satunya akses cepat ke lantai atas kalau kamu tidak mau naik tangga darurat yang belum jadi," jawab Devan sambil melangkah masuk ke dalam kotak besi itu.
Nika menarik napas panjang dan ikut masuk. Ruang di dalam lift itu sangat terbatas, dipenuhi dengan beberapa peralatan kecil dan kotak peralatan. Saat lift mulai bergerak naik dengan suara derit logam yang memilukan, Nika refleks menggenggam lengan Devan. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya mengeras di balik kemeja, namun Devan tidak menepis tangannya.
Lift bergerak perlahan, melewati lantai demi lantai. Pemandangan kota mulai terlihat dari celah-celah jeruji besi. Namun, tepat saat mereka berada di antara lantai delapan dan sembilan, sebuah suara jedug yang keras terdengar dari arah mesin di atas mereka. Lift berguncang hebat, membuat Nika terjerembap ke dada Devan. Dan kemudian... sunyi. Lift itu berhenti total. Lampu indikator kecil di panel kendali padam.
"Mas?" bisik Nika dalam kegelapan yang remang-remang.
"Diam sebentar, Ni," Devan mencoba menekan tombol darurat, namun tidak ada respons. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi tim keamanan di bawah, tapi raut wajahnya berubah frustrasi. "Sial, tidak ada sinyal di dalam sangkar besi ini."
Nika bisa merasakan detak jantung Devan yang tenang namun kuat karena posisinya yang masih bersandar di dada pria itu. Ruang yang sempit itu tiba-tiba terasa semakin mengecil. Bau parfum Devan yang bercampur aroma kayu kini mendominasi seluruh penciumannya.
"Kita terjebak?" tanya Nika, mencoba menekan rasa paniknya.
"Hanya masalah teknis kecil. Biasanya tim di bawah akan menyadarinya dalam sepuluh atau lima belas menit. Tenanglah," ucap Devan. Ia meletakkan tangannya di bahu Nika, sebuah gerakan naluriah untuk menenangkan, namun kemudian ia tampak tersadar dan perlahan menarik tangannya kembali.
Mereka duduk bersandar di dinding lift yang dingin karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Di dalam ruang sempit berukuran satu kali dua meter itu, mereka terpaksa duduk berhadapan dengan lutut yang saling bersentuhan. Suasana yang tadinya penuh ketegangan teknis kini berubah menjadi ketegangan emosional yang jauh lebih berat.
"Mas..." Nika memecah keheningan setelah beberapa menit berlalu. "Ingat tidak, waktu kita terjebak macet saat mau pergi ke acara pernikahan temanmu dulu? Waktu itu aku marah-marah sepanjang jalan karena takut rambutku rusak kena AC mobil yang mati."
Devan memejamkan mata sejenak, senyum pahit muncul di bibirnya. "Aku ingat. Kamu bilang pernikahanku denganmu adalah kesalahan terbesar, dan terjebak macet dengan aku adalah hukuman tambahannya."
Nika menunduk, memainkan ujung tali sepatunya. "Aku minta maaf. Aku benar-benar wanita yang mengerikan ya, dulu?"
"Kamu hanya sedang marah pada keadaan, Ni. Dan aku adalah sasaran yang paling mudah karena aku selalu ada di sana, tidak pernah membalas," jawab Devan lirih. Suaranya di dalam lift yang sunyi itu terdengar sangat jujur, tanpa ada lagi dinding kemarahan yang biasanya ia tunjukkan di kantor.
"Kenapa kamu tidak pernah membalas, Mas? Kenapa kamu tidak membentakku sekali saja agar aku sadar?"
Devan menatap mata Nika di bawah cahaya remang-remang yang masuk dari celah lift. "Karena aku tahu, kalau aku membentakmu, kamu akan punya alasan untuk benar-benar pergi. Dan saat itu... aku belum siap kehilanganmu."
Kalimat itu seperti anak panah yang meluncur tepat ke jantung Nika. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai jatuh membasahi pipinya. Di dalam lift yang macet itu, di tengah proyek bangunan yang belum jadi, Nika merasa seluruh benteng pertahanannya runtuh.
"Sekarang?" tanya Nika sesenggukan. "Sekarang kamu sudah siap kehilangan aku?"
Devan terdiam cukup lama. Ia melihat air mata istrinya, melihat ketulusan yang belum pernah ia lihat selama enam bulan pernikahan mereka. Pelan, tangan Devan terangkat, mengusap air mata di pipi Nika dengan ibu jarinya. Sentuhannya lembut, sangat berbeda dengan kedinginan yang ia tunjukkan beberapa hari terakhir.
"Aku sedang mencoba untuk siap, Ni," jawab Devan dengan suara yang bergetar. "Tapi ternyata, melihatmu berusaha belajar istilah teknik yang salah-salah, melihatmu terkena asap terasi... itu membuat persiapanku berantakan lagi."
Nika tertawa kecil di sela tangisnya. Ia memberanikan diri meraih tangan Devan yang ada di pipinya, mengecup telapak tangan pria itu dengan lembut. "Jangan bersiap untuk kehilanganku, Mas. Kumohon. Biarkan aku memperbaiki semua yang sudah kuhancurkan. Aku akan belajar jadi istri yang baik, meski harus terjebak di lift proyek setiap hari."
Tiba-tiba, lift tersentak pelan. Lampu indikator menyala kembali dan suara mesin mulai menderu. Devan segera menarik tangannya, kembali ke mode profesionalnya, meski rona merah di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Liftnya sudah jalan," ucap Devan sambil berdiri dan merapikan rompinya.
Saat pintu lift terbuka di lantai dua belas, udara segar berhembus masuk. Beberapa pekerja tampak panik di depan lift. Devan segera keluar dengan langkah mantap, memberikan instruksi teknis seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, sebelum ia melangkah jauh, ia menoleh ke arah Nika yang masih berdiri di dalam lift.
"Nika," panggilnya.
"Ya, Mas?"
"Besok... jangan pakai flanel itu lagi. Warnanya terlalu mencolok di lapangan. Pakai yang biru saja, itu lebih cocok untukmu," ucap Devan sebelum berbalik pergi.
Nika terpaku, lalu sebuah senyum lebar mengembang di wajahnya. Itu bukan sekadar komentar soal pakaian. Itu adalah tanda bahwa Devan mulai memperhatikannya lagi. Bahwa di balik sikap dinginnya, pria itu masih menyisakan ruang kecil untuknya.