NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUSUR DAN BADAI

Riezky tidak membuang waktu untuk kembali ke mode tengilnya. Ia berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada, lalu berteriak ke arah rimbunnya pohon tempat si pemanah bersembunyi.

"Hey kamu! Tembakannya kuat juga, tapi agak meleset dik—!"

Belum sempat kata "sedikit" keluar dari mulutnya, suara desing udara yang tajam memotong kalimat itu. Anak panah kedua melesat, membelah udara tepat di samping telinga Riezky, memotong beberapa helai rambutnya. Belum sempat ia bereaksi, sebuah bayangan melesat dari dahan pohon—sebuah leap of death yang sangat cepat dan presisi.

BRAK!

Riezky tersungkur ke tanah, punggungnya menghantam akar pohon yang keras. Saat ia membuka mata, penglihatannya langsung disambut oleh kilatan dingin mata pisau yang menempel tepat di bawah dagunya. Tubuhnya kaku, terkunci di bawah tindihan si pemanah yang ternyata jauh lebih kuat dan gesit dari dugaannya.

"Koinnya. Sekarang," ucap si pemanah dengan nada sedingin es.

Riezky menarik napas pendek, merasakan ujung pisau itu menggelitik kulitnya. Ia memejamkan mata sejenak, bukan karena takut, tapi untuk memusatkan energi yang selama tiga bulan ini ia jinakkan.

"Hhh... bandit," gumam Riezky sambil menggelengkan kepalanya pelan.

BOOM!

Sebuah shockwave energi murni meledak dari tubuh Riezky. Gelombang panas dan listrik statis menyentak udara di sekitar mereka. Si pemanah terlempar ke belakang, kehilangan keseimbangan hingga mendarat dengan tidak teratur di atas tumpukan daun kering.

Riezky bangkit berdiri perlahan. Bagian depan jubah penjelajahnya tampak sedikit gosong akibat ledakan energinya sendiri. Ia menepuk-nepuk dadanya dengan santai, mencoba memadamkan sisa asap yang keluar dari serat kainnya.

"Apa-apaan..." gumam si pemanah, suaranya bergetar karena kaget. Ia berusaha bangkit, namun gerakannya terhenti saat ia menatap wajah Riezky.

Mata biru Riezky kini menyala terang, memancarkan pendaran elektrik yang tidak alami. Aura "Badai" itu menyelimuti tubuhnya, menciptakan tekanan udara yang membuat dedaunan di sekitar mereka berputar liar.

"Orang ini..." si pemanah tertegun, rasa takut mulai merayap di balik tatapan tajamnya.

Melihat si pemanah hendak meraih anak panah cadangan di kakinya, Riezky tidak memberinya celah. Dengan satu hentakan api dari tumitnya, ia melesat bak peluru. Sebelum perempuan itu sempat menarik busurnya, Riezky sudah berada di depannya, mencengkeram kerah jubah hijaunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.

"Plis, aku nggak mau ribut sama cewek!" ucap Riezky dengan nada yang terdengar seperti memohon, meski posisinya saat ini sangat mendominasi.

Si pemanah tidak tinggal diam. Dengan kelincahan luar biasa, ia menendang dada Riezky dengan kedua kakinya, menggunakan tenaga dorongan itu untuk melepaskan diri. Srek! Jubah hijaunya terlepas dan tertinggal di tangan Riezky, sementara sang pemanah melakukan salto di udara dan mendarat beberapa meter di depannya.

Kini, sosoknya terlihat jelas tanpa penghalang jubah. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang, menonjolkan lehernya yang jenjang. Ia mengenakan setelan stealth kulit yang melekat pas di badannya yang ramping dan atletis. Mata cokelatnya yang jernih kini menatap Riezky dengan waspada.

Riezky berdiri mematung, jubah hijau masih menggantung di tangannya. Ia terdiam sesaat, matanya tidak bisa lepas dari sosok di depannya yang ternyata sangat... luar biasa.

"Amor..." ucap Riezky pelan, benar-benar terpukau sampai lupa kalau beberapa detik lalu lehernya hampir berlubang.

"Berikan koinmu, dan kau akan selamat!" ucap si pemanah dengan nada mengancam, tangannya kembali meraba saku kecil di pinggangnya, mencari senjata cadangan.

Riezky justru berdiri santai, seolah-olah aura kematian yang baru saja menyelimuti mereka hanyalah angin lalu. "Namaku Riezky," ucapnya telat, melantur jauh dari topik pembicaraan.

Sret!

Belum sempat Riezky memamerkan senyumnya, sebuah pisau kecil melesat cepat, menggores tipis udara di samping pipinya. Riezky menghindar dengan gerakan refleks yang ia pelajari dari Eldrin, merasakan dinginnya logam yang lewat hanya beberapa milimeter dari kulitnya.

Tak memberi napas, si pemanah menerjang maju. Rentetan tendangan dan pukulan dikerahkan dengan kecepatan yang luar biasa. Riezky sibuk menangkis; beberapa serangan berhasil ia blokir dengan lengannya, namun beberapa pukulan telak sempat mendarat di bahu dan dadanya. Ia tidak membalas dengan kekerasan murni, ia hanya mencari celah.

Tepat saat satu tendangan tinggi mengarah ke kepalanya, Riezky menangkap kaki ramping itu dengan tangan yang dialiri energi statis tipis. Dengan satu sentakan kuat, ia melempar si pemanah ke arah semak-semak, memberinya jarak yang cukup jauh agar mereka bisa bicara.

"Ayolah! Aku dapat ini dari tangkap ikan tadi pagi. Enggak sesusah itu kok, suer!" seru Riezky sambil memegang kantung koinnya, mencoba meyakinkan bahwa ia bukan orang kaya yang patut dirampok.

Si pemanah bangkit, napasnya terengah-engah. Ia menatap Riezky dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara marah, bingung, dan harga diri yang terluka. Ia tidak menyerang lagi. Sebaliknya, ia berjalan santai ke arah di mana jubah hijaunya tergeletak di tanah.

"Tidak berguna," gumamnya dingin, membelakangi Riezky dan mulai berjalan keluar dari area pertempuran itu seolah-olah Riezky hanyalah batu di pinggir jalan.

Riezky melongo. "Gitu doang? Hei! Kamu hampir bunuh aku loh, sekarang langsung pergi aja nih?" Ia berlari kecil menghampiri perempuan itu, merasa aneh dengan sikapnya yang mendadak acuh tak acuh.

Si pemanah tetap diam. Ia berhenti sejenak hanya untuk merapikan seragam stealth-nya, mengencangkan sabuk busurnya, dan mengatur alat-alatnya kembali ke posisi semula. Gerakannya sangat mekanis dan tenang, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, membiarkan Riezky berdiri di belakangnya seperti orang bodoh yang butuh penjelasan.

"Hey."

Satu kata itu cukup untuk membuat langkah si pemanah terhenti. Ia berhenti membelakangi Riezky sejenak, sebelum akhirnya menoleh dengan tatapan yang masih setajam mata pisau.

Riezky tidak menunjukkan gestur menyerang. Sebaliknya, ia merogoh kantongnya dan mengulurkan tangan. "Nih, aku ada sedikit... ambillah buat makan atau apa," ucapnya tulus, memperlihatkan beberapa keping koin emas yang berkilau di atas telapak tangannya.

Si pemanah terdiam. Ia berjalan kembali mendekati Riezky, melangkah pelan hingga jarak mereka cukup dekat. Riezky mengira perempuan itu akan mengambil koinnya, atau mungkin setidaknya mengucapkan terima kasih.

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi Riezky.

Riezky terhuyung sedikit, matanya terpejam menahan perih yang panas di wajahnya. Butuh beberapa detik baginya untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Saat ia kembali membuka mata, telapak tangannya masih penuh dengan koin—tak sepeser pun diambil—namun sosok pemanah itu sudah lenyap. Hilang ditelan rimbunnya hutan seolah-olah ia hanya bayangan yang lewat.

Riezky mengusap pipinya yang memerah, merasakan sisa dingin dari tangan perempuan itu yang sempat bersentuhan dengan kulitnya.

"Hmph... yaudah..." gumam Riezky santai. Ia mengangkat bahunya, tidak mau ambil pusing dengan harga diri bandit yang ternyata setinggi langit itu. Ia memasukkan kembali koin-koinnya ke dalam kantong, menepuk-nepuk debu di jubah penjelajahnya, dan melanjutkan langkahnya mengikuti aliran sungai.

Perjalanan pulang Riezky ternyata tidak semulus bayangannya. Meskipun ia sudah dibekali kekuatan besar dan kantung koin yang berat, sifat ceroboh dan "ide-ide kreatifnya" justru menjadi musuh terbesarnya di jalan.

Ia sempat mencoba menjinakkan seekor kuda liar yang sedang merumput. "Nah, dengan ini aku akan sampai sebelum makan malam," ucapnya percaya diri. Namun, baru saja ia naik ke punggungnya, kuda itu kaget karena percikan listrik statis dari celana Riezky yang belum stabil. Kuda itu meringkik hebat, melonjak ke udara, dan menjatuhkan Riezky tepat ke dalam semak berduri.

Tidak menyerah, saat melihat aliran sungai yang deras, ia melompat ke atas batang kayu besar yang hanyut. "Ini dia, transportasi air gratis!" teriaknya sambil bergaya layaknya kapten kapal. Namun, kayu itu menghantam batu besar di tengah jeram, pecah berkeping-keping, dan membuat Riezky tenggelam hingga basah kuyup.

"Sial... airnya dingin sekali," gerutu Riezky sambil menyeret kakinya yang berat ke daratan, bajunya meneteskan air dan peta di sakunya untungnya masih selamat karena terbungkus kulit.

Hingga akhirnya, warna langit berubah menjadi jingga kemerahan lalu menggelap. Matahari terbenam, menyisakan hawa dingin hutan yang mulai menusuk tulang. Riezky memutuskan untuk berhenti. Ia bersandar di bawah sebuah pohon beringin tua yang akarnya mencuat ke permukaan.

Ia menjentikkan jarinya, menciptakan api kecil di ujung telunjuk untuk mengeringkan bajunya. Sambil menatap api itu, ia kembali teringat pada tamparan si pemanah tadi siang. Pipi yang ditampar itu masih terasa sedikit berdenyut.

"Kenapa dia tidak ambil koinnya saja ya?" gumam Riezky pada diri sendiri.

Ia memejamkan mata, memeluk tasnya erat-erat. Di tengah kesunyian hutan, hanya ada suara jangkrik dan deru angin. Riezky mulai terlelap, tidak menyadari bahwa di kejauhan, pemanah tadi memperhatikannya dari kejauhan dengan rasa penasaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!