NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung yang Berbeda

​Kepergian Arya meninggalkan lubang kecil yang sunyi di keseharian Nina. Asrama Gatot Subroto tetap sama—deru truk tronton militer, suara peluit apel pagi, dan aroma masakan dari dapur-dapur barak masih memenuhi udara. Namun, bagi Nina, jalanan aspal tempat ia dulu menari di bawah hujan kini terasa lebih lebar dan sepi tanpa bayangan sepeda gunung Arya yang biasanya melintas.

​Pendidikan di Akademi Militer, Magelang, bukanlah sekolah biasa. Arya kini bukan lagi remaja santai dengan kemeja polo; ia adalah seorang Kopral Taruna yang hidupnya diatur oleh lonceng dan perintah. Di sana, privasi adalah kemewahan, dan komunikasi dengan dunia luar adalah anugerah yang dijatah.

​Nina sering melihat Aurel dan Arista bersiap-siap setiap akhir pekan untuk mengunjungi Arya di Lembah Tidar.

​"Titip ini buat Kak Arya, Mbak," ucap Nina suatu Sabtu pagi, menyodorkan sebuah kotak bekal berisi kue kering buatan ibunya dan selembar surat pendek yang dihiasi gambar sepatu balet di pojok kertas.

​"Pasti disampaikan, Nina Sayang. Arya selalu tanya kabar kamu di surat-suratnya," jawab Aurel sambil mengusap kepala Nina.

​Nina hanya bisa menatap mobil keluarga Sang Jenderal itu berlalu keluar gerbang asrama. Ia tahu, sebagai "adik" angkat, ia tidak memiliki akses untuk ikut serta dalam kunjungan keluarga yang sangat terbatas itu. Peraturan militer tetaplah peraturan, seketat ikat pinggang kopel yang kini melilit pinggang Arya.

​***

​Untuk membunuh rasa sepi, Nina menenggelamkan diri dalam dunia tari. Fatimah akhirnya mendaftarkan Nina ke sebuah sanggar tari ternama di pusat kota. Awalnya, Nina mencoba berbagai aliran. Ia mencoba tari modern yang enerjik, namun ia merasa gerakannya terlalu mekanis. Ia mencoba balet, namun tubuhnya yang mungil merasa terlalu terkekang oleh keharusan presisi yang kaku.

​Hingga suatu hari, sang pelatih memperkenalkannya pada Tari Tradisional Kontemporer.

​Saat jemarinya mulai melakukan gerakan nyekiting, dan kakinya menapak lantai dengan teknik mendak, Nina merasakan getaran yang berbeda. Tari tradisional—khususnya gaya Jawa dan Bali yang sudah dimodifikasi dengan elemen modern—membuatnya merasa hidup. Ada jiwa di setiap lekuk tubuhnya. Ada cerita rakyat yang ia sampaikan lewat sorot mata (seledet) dan gerak leher yang luwes.

​"Nina, kamu punya bakat alami di tari tradisional. Jiwa kamu ada di sana," puji Sang Pelatih setelah melihat Nina membawakan tari Gandrung dengan improvisasi yang memukau.

​Nina tersenyum. Ia menemukan rumahnya. Di atas panggung dengan iringan gamelan yang berpadu dengan aransemen musik baru, Nina bukan lagi sekadar gadis kecil yang menari di bawah hujan. Ia adalah seorang pencerita. Ia menari untuk bumi, untuk hujan yang dulu mempertemukannya dengan Arya, dan untuk rindu yang ia simpan rapi.

​Ia terus berlatih. Luka sepuluh jahitan di kepalanya kini tertutup rapat oleh sanggul atau hiasan kepala megah setiap kali ia naik pentas. Bekas luka itu tetap ada, namun kini menjadi simbol kekuatannya.

***

​Waktu berlalu tanpa kompromi. Empat tahun pendidikan di Akmil selesai. Arya lulus dengan predikat yang membanggakan. Namun, harapan Nina untuk bisa merayakan keberhasilan "kakaknya" itu pupus. Sebagai perwira muda yang baru dilantik, Letnan Dua Pradipta Arya langsung mendapatkan penempatan di garis depan: Papua.

​"Nina, Kak Arya nggak bisa mampir ke asrama. Dia langsung terbang dari pelantikan di Jakarta menuju posnya," lapor Hamdan suatu malam setelah mendapat kabar dari markas besar.

​Malam itu, Nina duduk di ayunan ban bekas yang kini terasa lebih kecil bagi tubuhnya yang mulai beranjak remaja. Ia menerima sebuah paket yang dikirimkan melalui jasa ekspedisi militer. Isinya adalah sebuah baret hijau milik Arya dan selembar foto Arya dengan seragam Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan pedang pora.

​Di balik foto itu tertulis:

​Untuk Adik Kecilku, sang Penari Hebat.

Maaf Kakak tidak bisa pulang. Jaga diri baik-baik di sana. Jangan berhenti menari sampai panggungmu lebih tinggi dari gunung-gunung di Papua ini. Kakak menjagamu dari jauh.

Tertanda, Letda Inf. Pradipta Arya.

​Nina mendekap foto itu. Air matanya jatuh mengenai baret hijau yang masih beraroma parfum maskulin dan keringat—aroma yang mengingatkannya pada perlindungan. Sejak saat itu, komunikasi mereka benar-benar terputus. Sinyal di pedalaman Papua tidaklah ramah, dan tugas negara menuntut kerahasiaan total.

​***

​Tak lama setelah Arya berangkat ke Papua, kabar besar menghampiri keluarga Nina. Hamdan mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Sersan Mayor. Namun, kenaikan pangkat itu dibarengi dengan surat tugas baru: mutasi ke Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta.

​"Kita harus pindah, Nina. Minggu depan kita berkemas," ujar Hamdan.

​Pindah ke Jogja adalah berkah terselubung bagi Nina. Kota itu adalah jantung kebudayaan. Bagi seorang calon penari, Jogja adalah tanah suci. Namun, meninggalkan asrama di Jakarta berarti memutus satu-satunya jembatan fisik yang tersisa antara dirinya dan Arya.

​Keluarga Jenderal Sudrajat juga sudah mulai berpindah-pindah tugas, dan hubungan antara keluarga bintara dan jenderal itu pelan-pelan merenggang karena jarak, meski rasa hormat tetap terjaga.

​Di Yogyakarta, Nina tumbuh menjadi kembang di sekolahnya. Parasnya yang ayu khas gadis asrama yang disiplin, dipadukan dengan keanggunan seorang penari, membuatnya banyak dikagumi. Namun, Nina tidak pernah benar-benar membuka hati. Di lehernya, ia masih selalu memakai kalung liontin sepatu balet pemberian Arya, meskipun ia kini bukan lagi penari balet. Baginya, itu adalah jimat keberuntungan.

​***

​Tahun-tahun sekolah menengah dilewati Nina dengan segudang prestasi tari. Maka, tidak ada keraguan sedikit pun saat ia lulus SMA. Ia tidak mendaftar ke kedokteran atau hukum seperti saran guru-gurunya.

​Nina memilih ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Ia mengambil jurusan Seni Tari.

​Kehidupan kampus di ISI membuat Nina semakin matang. Ia bukan lagi sekadar menari karena hobi; ia mempelajari filosofi di balik setiap gerakan srimpi, ia mendalami anatomi tubuh, dan ia mulai menciptakan koreografinya sendiri.

​"Nina, koreografi 'Hujan di Asrama' yang kamu buat itu luar biasa. Sangat emosional," puji salah satu dosennya setelah ujian semester.

​Nina hanya tersenyum tipis. Koreografi itu memang ia dedikasikan untuk memori masa kecilnya. Setiap gerakan jatuh ke lantai menggambarkan saat ia tertabrak sepeda, dan setiap gerakan tangan yang merengkuh udara menggambarkan saat Arya memeluknya di tengah isak tangis di rumah sakit.

​Kini, Nina adalah mahasiswi tingkat akhir. Usianya sudah dua puluh satu tahun. Ia telah menjadi penari tradisional kontemporer yang diperhitungkan di kancah nasional. Namun, di setiap tepuk tangan penonton yang membahana, matanya selalu mencari satu sosok di kursi penonton.

​Seorang laki-laki dengan tubuh tegap, rambut cepak, dan sorot mata yang hangat.

​Namun, kursi itu selalu kosong. Kabar terakhir yang ia dengar dari desas-desus di kalangan TNI, Arya kini telah menjadi Kapten dan masih berada di kesatuan elit yang berpindah-pindah dari satu daerah konflik ke daerah lainnya.

​"Ayah, apa Kak Arya pernah berkabar?" tanya Nina suatu sore saat mereka duduk di teras rumah dinas di Jogja.

​Hamdan menggeleng pelan sambil menyeruput tehnya. "Dunia mereka keras, Nin. Apalagi dia di kesatuan tempur. Tidak ada kabar adalah kabar baik dalam dunia militer. Itu artinya dia masih menjalankan tugas dengan selamat."

​Nina menatap langit Jogja yang mulai mendung. Hujan sepertinya akan turun lagi. Ia teringat janji kelingking di bawah pohon beringin bertahun-tahun lalu.

​“Kakak janji, nanti Kakak akan tonton Nina menari dari awal sampai selesai.”

​Nina menyentuh liontin di lehernya. Ia bertanya-tanya pada langit: Apakah Kapten Pradipta Arya masih ingat pada gadis kecil yang ia tabrak hingga kepalanya bocor? Atau kah memori tentang asrama itu sudah terkubur oleh suara desingan peluru di tengah hutan Papua?

​Garis takdir mereka kini terasa sangat tipis, hampir tak terlihat, namun entah mengapa Nina merasa bahwa semesta belum selesai dengan mereka. Hujan yang akan turun kali ini terasa seperti sebuah pembukaan untuk babak baru yang lebih dewasa.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!