Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan yang Tidak Terduga
Kota belum sepenuhnya pulih dari berita kemarin.
Media masih ramai membicarakan Hartono Group.
Beberapa analis bisnis bahkan mulai berspekulasi bahwa perusahaan itu sedang menuju krisis besar.
Di layar televisi yang menyala di ruang kerja Arsen, seorang pembawa acara berkata dengan nada serius,
“Jika tuduhan ini benar, Hartono Group bisa kehilangan banyak mitra strategis.”
Arsen mematikan televisi dengan kesal.
“Omong kosong.”
Ia melempar remote ke sofa.
Rania duduk di kursinya dengan tenang.
Ia sedang membaca laporan pasar di tablet.
“Media memang hidup dari spekulasi.”
Arsen berjalan mondar-mandir.
“Masalahnya bukan itu. Investor mulai panik.”
Ia membuka grafik saham di laptopnya.
“Sejak pagi, saham kita turun dua belas persen.”
Rania tidak terlihat terkejut.
“Masih stabil.”
Arsen berhenti berjalan.
“Stabil?”
Rania menatap grafik itu sebentar.
“Jika Darmawan benar-benar ingin menghancurkan kita, dia akan membuatnya turun lebih dalam.”
Arsen menghela napas.
“Jadi ini baru permulaan.”
Rania mengangguk pelan.
“Ya.”
Beberapa detik ruangan itu sunyi.
Lalu Rania berkata sesuatu yang membuat Arsen menoleh.
“Kita harus mempercepat langkah kita.”
Arsen mengerutkan kening.
“Langkah apa?”
Rania berdiri dari kursinya.
Ia berjalan menuju papan kaca besar di dinding.
Dengan spidol hitam ia menulis beberapa nama perusahaan.
Di antaranya Adrian Group.
Arsen langsung mengerti arah pikirannya.
“Kau serius?”
Rania menoleh.
“Kenapa tidak?”
Arsen menatap nama itu beberapa detik.
“Kalian baru saja hampir saling menghancurkan.”
Rania tersenyum tipis.
“Justru itu.”
Arsen menghela napas panjang.
“Rania… bekerja sama dengan Adrian akan memancing perhatian semua orang.”
“Memang.”
“Dan jika ini gagal”
“Tidak akan.”
Jawaban Rania terlalu cepat.
Arsen mengangkat alis.
“Kau yakin sekali.”
Rania tidak menjawab.
Ia hanya menatap tulisan Adrian Group di papan itu.
Seolah-olah ada sesuatu yang lebih dalam di balik rencana tersebut.
Sore hari.
Gedung konferensi terbesar di pusat kota terlihat lebih ramai dari biasanya.
Para pengusaha besar.
Investor.
Media.
Semua berkumpul di satu tempat.
Hari ini ada satu acara yang sangat dinantikan.
Pengumuman kerja sama bisnis baru.
Di dalam ruang konferensi, kursi-kursi sudah penuh.
Lampu kamera berkedip di berbagai sudut ruangan.
Beberapa wartawan bahkan berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Di panggung depan, layar besar menampilkan logo dua perusahaan.
Hartono Group
dan
Adrian Group
Bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.
“Ini gila…”
“Bukankah mereka musuh?”
“Kenapa tiba-tiba kerja sama?”
“Apakah ini strategi menyelamatkan Hartono Group?”
Di barisan depan, Adrian duduk dengan ekspresi datar.
Ia mengenakan jas hitam sederhana.
Namun matanya terus melihat ke arah pintu masuk.
Arsen berdiri di belakang panggung.
Ia menatap Rania yang sedang bersiap naik ke panggung.
“Ini masih terasa seperti ide gila.”
Rania merapikan blazer hitamnya.
“Sering kali ide gila justru berhasil.”
Arsen menghela napas.
“Aku masih tidak tahu apa rencanamu sebenarnya.”
Rania menoleh sedikit.
“Sederhana.”
“Apa?”
“Biarkan semua orang berpikir kita berdamai.”
Arsen menatapnya.
“Padahal?”
Rania tersenyum tipis.
“Padahal perang baru saja dimulai.”
Seorang staf memberi isyarat bahwa acara akan dimulai.
Lampu ruangan sedikit diredupkan.
Moderator naik ke panggung.
“Selamat sore, para hadirin.”
Tepuk tangan terdengar.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda semua hari ini.”
Ia berhenti sebentar.
“Hari ini kita akan menyaksikan pengumuman kerja sama strategis antara dua perusahaan besar.”
Ia menoleh ke belakang panggung.
“Silakan sambut, CEO Hartono Group… Nona Rania Hartono.”
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Rania berjalan naik ke panggung dengan langkah tenang.
Cahaya lampu jatuh tepat di atasnya.
Ia berdiri di depan mikrofon.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Lalu ia berkata dengan suara yang tenang dan jelas.
“Terima kasih atas kehadiran Anda semua.”
Kamera langsung mengarah ke wajahnya.
“Beberapa hari terakhir, Hartono Group menjadi pusat perhatian.”
Beberapa wartawan tersenyum tipis.
Rania melanjutkan,
“Banyak rumor, banyak spekulasi.”
Ia berhenti sebentar.
“Namun bisnis tidak berjalan berdasarkan rumor.”
Suasana ruangan menjadi lebih hening.
Rania melanjutkan,
“Karena itu hari ini saya ingin memperkenalkan mitra strategis baru kami.”
Ia menoleh ke arah Adrian yang duduk di barisan depan.
“CEO Adrian Group.”
Semua mata langsung beralih ke Adrian.
Moderator berkata,
“Silakan, Tuan Adrian.”
Adrian berdiri.
Langkahnya tenang ketika ia naik ke panggung.
Sekarang mereka berdiri berdampingan.
Dua orang yang dulu pernah menjadi pasangan.
Sekarang berdiri sebagai dua pemimpin perusahaan.
Rania melanjutkan,
“Mulai hari ini, Hartono Group dan Adrian Group akan bekerja sama dalam proyek energi baru.”
Ruangan langsung riuh.
Kamera berkedip lebih cepat.
Seorang wartawan berteriak dari belakang,
“Apakah ini berarti kalian berdamai?”
Rania tersenyum tipis.
“Dalam bisnis, yang penting bukan masa lalu.”
Ia melirik Adrian sebentar.
“Tapi keputusan yang dibuat hari ini.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun Adrian tahu Rania sengaja mengatakannya.
Moderator memberi kesempatan sesi tanya jawab.
Seorang wartawan berdiri.
“Nona Rania, bukankah Anda pernah berselisih dengan keluarga Adrian?”
Beberapa orang langsung menoleh.
Pertanyaan itu terlalu tajam.
Namun Rania menjawab dengan tenang.
“Bisnis tidak seharusnya dipengaruhi emosi pribadi.”
Wartawan itu belum menyerah.
“Jadi semua masalah di masa lalu sudah selesai?”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Rania menatap Adrian sebentar.
Lalu ia berkata dengan nada yang sangat tenang.
“Saya harap kali ini…”
Ia berhenti sebentar.
“…Tuan Adrian bisa membuat keputusan yang lebih baik daripada masa lalu.”
Kalimat itu terdengar halus.
Namun Adrian merasakan sesuatu di dalamnya.
Sindiran.
Tepat di depan semua orang.
Beberapa orang di ruangan itu tidak menyadarinya.
Namun Adrian tahu.
Rania belum melupakan apa pun.
Moderator buru-buru menutup sesi itu.
“Baik, terima kasih atas waktunya.”
Tepuk tangan terdengar lagi.
Acara resmi selesai.
Namun ketika mereka turun dari panggung Adrian akhirnya berkata pelan.
“Kau sengaja melakukan itu.”
Rania berjalan tanpa menoleh.
“Melakukan apa?”
“Menyindirku di depan semua orang.”
Rania berhenti sebentar.
Ia menatap Adrian dengan mata yang sangat tenang.
“Tiga tahun lalu.”
Ia berkata pelan.
“Kau diam ketika aku diusir dari rumahmu.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Rania melanjutkan,
“Kalimat tadi belum sebanding dengan itu.”
Ia kembali berjalan.
Namun sebelum pergi, ia berkata satu kalimat lagi.
“Anggap saja ini baru permulaan.”
Adrian berdiri diam di tempatnya.
Ia akhirnya menyadari sesuatu.
Kerja sama bisnis ini bukan tanda perdamaian.
Ini adalah medan perang baru.
Dan Rania baru saja membuka langkah pertama.
Ruang konferensi perlahan mulai kosong.
Para wartawan masih berdiri di beberapa sudut, berbicara cepat sambil memeriksa rekaman di kamera mereka. Beberapa analis bisnis terlihat serius mencatat sesuatu di tablet mereka.
Pengumuman kerja sama antara Hartono Group dan Adrian Group sudah cukup untuk mengguncang pasar.
Tapi bagi dua orang yang baru saja berdiri di atas panggung itu ini bukan sekadar kerja sama.
Ini perang yang lebih rumit.
Di lorong belakang gedung konferensi, langkah Rania terdengar tenang.
Arsen berjalan di sampingnya.
Ia baru saja menutup pintu ruang VIP yang mereka gunakan setelah acara.
Arsen menghela napas panjang.
“Media sudah mulai menulis artikel.”
Rania tidak berhenti berjalan.
“Bagus.”
Arsen menatapnya.
“Aku serius.”
Ia membuka ponselnya dan menunjukkan beberapa judul berita.
“Dua Mantan Pasangan Kini Bersekutu di Dunia Bisnis.”
“Aliansi Tak Terduga: Hartono dan Adrian.”
“Strategi Bertahan atau Awal Kekacauan Baru?”
Rania membaca sekilas.
Lalu ia berkata santai,
“Biarkan mereka berspekulasi.”
Arsen menatapnya beberapa detik.
“Kau terlihat terlalu tenang.”
Rania berhenti di depan jendela panjang yang menghadap ke jalan raya.
Lampu kota mulai menyala satu per satu.
“Karena ini berjalan sesuai rencana.”
Arsen mengerutkan kening.
“Sampai sekarang aku masih belum mengerti rencanamu sepenuhnya.”
Rania menoleh sedikit.
“Kau akan mengerti nanti.”
Sebelum Arsen sempat bertanya lagi suara langkah lain terdengar dari ujung lorong.
Adrian.
Ia berjalan mendekat dengan ekspresi serius.
Arsen langsung berdiri lebih tegak.
Namun Rania tetap santai.
Adrian berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Kita perlu bicara.”
Arsen menatap Rania.
Rania hanya berkata pelan,
“Tunggu di luar.”
Arsen menghela napas kecil, tapi akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua.
Lorong itu menjadi sunyi.
Hanya ada suara AC yang berdengung pelan.
Adrian menatap Rania beberapa detik sebelum akhirnya berkata,
“Kau benar-benar berubah.”
Rania bersandar ringan di jendela.
“Orang memang berubah.”
Adrian melanjutkan,
“Dulu kau tidak seperti ini.”
Rania tersenyum tipis.
“Dulu aku juga tidak pernah diusir dari rumah suamiku.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Namun rasanya seperti pisau.
Adrian tidak menjawab langsung.
Ia menatap lantai sebentar sebelum berkata,
“Aku tidak pernah ingin itu terjadi.”
Rania mengangkat alis.
“Tapi kau membiarkannya.”
Adrian menarik napas panjang.
“Situasinya tidak sesederhana yang kau pikir.”
Rania menatapnya lurus.
“Kalau begitu jelaskan.”
Namun Adrian tidak langsung menjawab.
Ia terlihat ragu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Rania akhirnya berkata dengan nada datar,
“Sudah kuduga.”
Ia berdiri tegak kembali.
“Tidak ada penjelasan.”
Namun sebelum ia pergi Adrian berkata pelan,
“Darmawan datang ke rumahku malam itu.”
Rania berhenti.
Ia perlahan menoleh.
Tatapannya berubah sedikit.
“Dan?”
Adrian melanjutkan,
“Dia membawa sesuatu.”
“Apa?”
Adrian menatapnya.
“Bukti.”
Rania mengerutkan kening.
“Bukti apa?”
Adrian berkata dengan suara lebih rendah.
“Bukti yang bisa menghancurkan ayahmu.”
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Untuk pertama kalinya Rania terlihat sedikit terkejut.
Adrian melanjutkan,
“Dia bilang jika aku tidak menceraikanmu…”
Ia berhenti sebentar.
“…dia akan menyeret Hartono Group ke skandal besar.”
Rania menatapnya tanpa berkedip.
Adrian berkata pelan,
“Aku mencoba mencari cara lain.”
“Tapi?”
“Tapi ayahku juga ikut menekan.”
Rania tertawa kecil.
Namun tawanya tidak hangat.
“Jadi solusinya adalah mengusirku.”
Adrian menatapnya serius.
“Solusinya adalah melindungi perusahaanmu.”
Rania diam.
Beberapa detik.
Lalu ia berkata pelan,
“Lucu sekali.”
“Apa?”
“Kau menghancurkan hidupku…”
Ia menatap Adrian dengan mata dingin.
“…demi menyelamatkan perusahaanku.”
Adrian tidak menjawab.
Rania melanjutkan,
“Dan kau berharap aku berterima kasih?”
Adrian menggeleng pelan.
“Aku tidak berharap apa-apa.”
“Bagus.”
Rania mengambil tasnya.
“Karena aku tidak punya apa pun untuk diberikan.”
Ia berjalan melewati Adrian.
Namun sebelum benar-benar pergi—
ia berhenti sebentar.
“Kerja sama bisnis ini tetap berjalan.”
Adrian menoleh.
Rania melanjutkan,
“Karena Darmawan adalah musuh kita berdua.”
Ia menatap Adrian sebentar.
“Tapi jangan salah paham.”
Adrian menunggu.
Rania berkata dengan suara yang sangat tenang.
“Ini bukan berarti aku memaafkanmu.”
Ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Langkahnya perlahan menghilang di ujung lorong.
Adrian berdiri diam beberapa saat.
Lalu Arsen kembali muncul dari sudut.
Ia bersandar di dinding dengan tangan terlipat.
“Percakapan yang menyenangkan?”
Adrian menatapnya datar.
“Sejak kapan kau suka menguping?”
Arsen tersenyum tipis.
“Sejak aku bekerja dengan Rania.”
Ia melanjutkan dengan santai,
“Kalau boleh jujur, aku tidak pernah melihatnya marah seperti ini sebelumnya.”
Adrian berkata pelan,
“Dia berhak marah.”
Arsen menatap Adrian beberapa detik.
“Kalau begitu bersiaplah.”
“Untuk apa?”
Arsen tersenyum kecil.
“Karena kalau Rania benar-benar marah…”
Ia berhenti sebentar.
“…balas dendamnya biasanya sangat elegan.”
Adrian menghela napas pelan.
Namun sebelum ia sempat menjawab ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Ia melihat layar.
Wajahnya langsung berubah serius.
Arsen langsung menyadarinya.
“Ada apa?”
Adrian berkata pelan,
“Masalah baru.”
“Apa lagi?”
Adrian menunjukkan layar ponselnya.
Berita baru saja muncul di portal bisnis.
“Komisi Anti Korupsi Mulai Menyelidiki Proyek Lama Hartono Group.”
Arsen langsung mengutuk pelan.
“Darmawan bergerak lagi.”
Adrian menatap layar itu beberapa detik.
Lalu ia berkata dengan nada rendah,
“Dan kali ini… dia tidak hanya menyerang reputasi.”
Arsen mengerutkan kening.
“Lalu?”
Adrian berkata pelan.
“Dia ingin memenjarakan seseorang.”
Di luar gedung konferensi langit malam kota terlihat tenang.
Namun di balik lampu-lampu yang bersinar perang yang lebih besar baru saja dimulai.