Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Ke Kediaman Keluarga Lergan
Claire menatap pantulan dirinya di cermin besar yang seolah menjadi saksi bisu transformasinya malam itu. Gaun berwarna biru midnight dengan detail kristal yang ia beli dari butik ternama melekat sempurna, memeluk lekuk tubuhnya dengan keanggunan yang mematikan, sementara senyum tipis yang tersungging di bibirnya menyimpan rahasia yang jauh lebih tajam dari sekadar keramahan formal.
Di balik ketenangan wajahnya, benak Claire telah menyusun jalinan skenario rumit bak papan catur; ia membayangkan setiap raut wajah angkuh keluarga Lergan yang selama ini memandangnya sebelah mata, menganggapnya tak lebih dari kerikil yang tak sengaja terselip di sepatu emas mereka. Namun, perjamuan di rumah utama malam ini bukanlah sekadar acara makan malam biasa, melainkan panggung teater di mana Claire akan menarik benang-benang kehormatan mereka hingga martabat keluarga Lergan runtuh tak bersisa di tangannya sendiri.
Sementara itu di ruang tamu, Julian berdiri dengan perasaan dongkol yang menggerogoti kesabarannya, hingga denting halus sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer memaksanya untuk menoleh. Dalam satu detik yang seolah membeku, napas Julian tertahan--- ia tertegun mendapati sosok Claire yang tampak begitu asing sekaligus memukau, memancarkan aura otoritas yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.
Jantungnya berdegup kencang, sebuah pengkhianatan fisik yang tak mampu ia kendalikan saat menyadari bahwa wanita yang selama ini ia abaikan sebagai istri formalitas kini menjelma menjadi pusat semesta yang menyilaukan. Dengan sisa-sisa harga diri yang terluka, Julian segera memalingkan wajah, berusaha menepis debaran aneh itu dan kembali pada topeng ketidakpeduliannya, meski ia tahu bahwa malam ini segalanya takkan lagi sama.
Hati Julian berontak. " Sial. Sejak kapan dia bisa memancarkan aura sekuat ini? Kenapa gaun itu seolah dibuat hanya untuk kulitnya?"
Michel berlari kecil dan memeluk kaki Claire. "Mommy cangat cantik! Mommy na Micel yang telbaik."
Mikael menyilangkan tangan, berusaha terlihat acuh meski matanya tak lepas dari Claire. "Yah... lumayan... tapi aura Mommy terlihat lebih berbahaya malam ini." lirih Mikael di akhir kalimat.
Julian berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan kasar untuk menutupi kegugupannya. Ia menatap Claire dengan tatapan yang dipaksakan tajam. "Kau tampak sangat berusaha malam ini, Claire. Berdandan berjam-jam seolah kain mahal itu bisa menutupi asal-usulmu. Tapi dengar, keluarga Lergan punya mata yang tajam. Tetap saja, mereka tidak akan melihatmu sebagai bagian dari mereka."
Claire berjalan mendekat, aroma parfumnya yang elegan mengusik indra penciuman Julian. Ia berhenti tepat di depan suaminya, menatap lurus ke mata pria itu tanpa rasa takut.
Claire tersenyum miring. "Kau pikir aku melakukan semua ini demi validasi mereka? Demi tatapan mendapatkan pujian dari mereka?"
Claire merapikan kerah jas Julian yang sebenarnya sudah rapi, sebuah gestur yang terasa seperti ancaman daripada perhatian."Jangan terlalu polos, Julian. Aku tidak sedang berdandan untuk memenangkan hati keluarga Lergan. Aku berdandan untuk merayakan kehancuran yang akan kubawa ke rumah itu. Malam ini bukan tentang diterima atau tidak... malam ini tentang siapa yang akan tetap berdiri tegak saat jamuan berakhir. Dan itu bukan mereka."
Claire berbalik dengan anggun, meninggalkan Julian yang masih terpaku, mencoba mencerna sejak kapan istrinya berubah menjadi badai yang begitu mematikan.
Saat mobil mereka membelah malam meninggalkan pelataran rumah, Julian melirik istrinya dari sudut mata. Ada sesuatu yang berbeda. Claire tidak lagi mencari perhatian atau kasih sayang--- ia kini tampak seperti bom waktu yang indah. Ada aura bahaya yang dingin dan tak terhentikan terpancar darinya—sebuah peringatan bahwa badai besar akan segera menghantam kediaman utama Lergan malam ini.
•
•
Deru mesin mobil mewah itu perlahan meredup, menyisakan kesunyian yang mencekam saat berhenti tepat di pelataran luas Mansion utama keluarga Lergan yang berdiri angkuh di bawah pendar lampu kristal. Julian mematikan mesin, lalu turun dengan gerakan yang begitu terukur, memancarkan wibawa dingin yang seolah mampu membekukan udara di sekitarnya. Tatapannya sempat tertuju pada Claire—wanita yang malam ini tampil begitu memukau hingga mampu mencuri napas siapapun yang melihatnya—namun dengan cepat, Julian membuang muka, membiarkan egonya yang setinggi langit kembali mengambil kendali.
Bagi Julian, kecantikan Claire hanyalah dekorasi yang tak bermakna--- wanita itu tetaplah sekadar istri di atas kertas, sebuah status formalitas hanya demi masa depan kedua buah hati mereka yang baru menginjak usia empat tahun. Tidak ada ruang bagi cinta, hanya ada kewajiban yang menyesakkan.
Di sisi lain, Claire tetap bergeming, matanya yang tajam menatap fasad bangunan megah di hadapannya dengan ekspresi sedingin es. Tak ada ketakutan, tak ada keraguan. Di sudut bibirnya yang terpoles lipstik merah sempurna, tersungging sebuah senyuman tipis yang nyaris tak kasat mata—sebuah seringai kemenangan yang tersembunyi. Baginya, gerbang mansion ini bukanlah pintu menuju rumah, melainkan panggung sandiwara besar di mana ia telah menyiapkan peran terbaiknya. Drama yang sesungguhnya baru saja akan dimulai, dan kali ini, Claire pastikan dialah yang akan memegang kendali penuh atas naskahnya.
Begitu mereka melangkah masuk melintasi pintu ganda yang besar, barisan pelayan menyambut dengan tundukan hormat, menuntun mereka menuju aula utama. Tiba-tiba, langkah mereka terhenti oleh kehadiran Ana, adik Julian, yang berlari kecil menghampiri kakaknya dengan binar kerinduan yang dibuat-buat.
"Aku merindukanmu, Kak! Mansion ini terasa sepi tanpamu.. kenapa kau sangat jarang datang kesini?"
Julian mengusap bahu adiknya dengan kaku, namun matanya tetap dingin. "Aku di sini sekarang, Ana. Berhenti bersikap seperti anak kecil, umur mu sudah 23 Tahun."
Ana melepaskan pelukannya, tatapannya langsung menajam saat beralih ke arah Claire. "Oh, aku hampir tidak menyadari kehadirannya. Aku pikir kau cukup bijak untuk tidak membawa wanita licik ini ke acara sepenting malam ini, Kak. Bukankah dia biasanya lebih suka bersembunyi di balik status 'Nyonya Lergan' yang ia curi itu?"
Claire tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Ia merapikan gaunnya dengan gerakan yang sangat tenang. "Kau masih saja berisik, Ana. Kerinduanmu pada kakakmu sepertinya berbanding lurus dengan obsesimu padaku. Bukankah itu melelahkan?"
Julian menyela dengan suara berat yang menekan. "Cukup. Kau hadir di sini sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Simpan suaramu untuk nanti. Kita di sini untuk menjaga nama baik keluarga, bukan untuk panggung sandiwara murahanmu."
Claire menatap Julian sekilas dengan tatapan kosong yang mengejek. "Sandiwara? Bukankah itu alasan kita semua berkumpul di sini, Julian? Kamu dengan egomu dan keluarga mu dengan kebencian nya. " Claire menjeda kalimatnya sesaat. "...aku hanya penonton yang sedang menikmati pembukaan babak pertama."
Ana mendesis, cukup terkejut dengan reaksi Claire yang memancarkan aura ketenangan malam itu. Tidak seperti biasanya. "Kau benar-benar tidak tahu malu—"
Julian mencengkeram lengan Claire dengan tegas, seolah memberi peringatan sekaligus klaim kepemilikan. "Masuklah. Dan pastikan senyum palsu itu tetap di wajahmu, Claire. Aku tidak ingin mendengar satu keluhan pun dari Kakek atau Ayah malam ini."
Claire berbisik sangat pelan di dekat telinga Julian sebelum melangkah maju. "Jangan khawatir, Sayang. Aku akan memainkan peran 'istri penurut' ini dengan sangat sempurna... sampai kamu sendiri lupa bahwa semua ini hanyalah sandiwara."
Suasana tegang itu mendadak pecah oleh suara kecil yang polos namun menusuk. Michel menatap Ana dengan dahi berkerut.
"Aunty... Aunty umul belapa?"
Ana tersentak, beralih menatap keponakannya dengan jengkel. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal umur, Michel? Tidak sopan!"
Michel menatap polos, namun suaranya lantang. "Micel mau jujul, tapi ndak boleh malah. Kata Oma, kalo olang jujul itu halus dikacih penghalgaan, kan?"
Julian mengerutkan kening, sementara Claire mulai melipat tangan di dada, menikmati tontonan ini. Ana sendiri menatap keponakan nya dengan bingung.
"Kau mau bicara apa sebenarnya, bocah?"
"Aunty cudah tua, tapi kok kelakuannya ndak kaya olang dewaca? Kata Oma, olang dewaca itu halus copan cama tamu. Kenapa Aunty malah malah-malah cama Mommy? Apa Aunty pelu Micel ajalin cala bicala yang baik?"
Seketika hening. Claire menunduk sebentar, menyembunyikan tawa kemenangannya di balik jemari, sementara Julian hanya bisa terdiam melihat adiknya dipermalukan oleh logika polos anaknya sendiri.
"Kau—! Beraninya kau bicara begitu padaku! Siapa yang mengajarimu menjadi anak kurang ajar begini?!"
Baru saja tangan Ana hendak menunjuk Michel, suara berat Julian menginterupsi dengan otoritas penuh. "Cukup, Ana. Jaga sikapmu di depan anak-anak."
Julian beralih menatap putri kecilnya yang masih berdiri dengan wajah tanpa dosa. "Dan kau Michel... apa begitu caramu bicara pada bibimu? Siapa yang mengajarimu untuk tidak sopan pada orang yang lebih tua?"
Michel hanya mengerjap, lalu melirik Claire sekilas sebelum kembali menatap ayahnya dengan berani. Permainan baru saja dimulai.
•
•
•
BERSAMBUNG