Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Lembayung senja mulai merayap masuk melalui celah-celah gedung pencakar langit Jakarta saat taksi online yang ditumpangi Ziva berhenti tepat di depan pagar rumah. Ziva turun dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari tadi pagi, meskipun pergelangan kakinya masih terasa senut-senut. Wajahnya tampak lebih cerah—tahap interview tadi berjalan sangat lancar, dan ia merasa optimis akan segera mendapatkan kontrak kerja pertamanya secara mandiri.
Namun, binar di matanya sedikit meredup saat ia melihat SUV hitam milik Baskara sudah terparkir rapi di garasi.
"Tumben om-om itu pulang cepet. Biasanya juga lembur sampai tengah malam atau nongkrong di kantor bareng Rio," batin Ziva sambil mengerutkan kening.
Ia membuka pagar kecil dan melangkah menuju pintu utama. Ziva mengeluarkan kunci dari tasnya, memutar lubang kunci dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh. Ia masih merasa canggung, apalagi setelah aksi "tolak bantuan" yang ia lakukan tadi pagi.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam rumah membuatnya tertegun.
Lampu ruang tamu belum dinyalakan, hanya ada sisa cahaya matahari yang masuk lewat ventilasi. Di atas sofa abu-abu yang panjang, Baskara tergeletak. Pria itu masih mengenakan seragam dinas cokelatnya yang lengkap, bahkan sepatu pantofelnya belum dilepas sepenuhnya—hanya tersangkut di ujung kaki. Topi petnya jatuh di lantai, tepat di bawah lengan kirinya yang terkulai lemas.
Baskara tertidur sangat pulas, namun raut wajahnya tidak menunjukkan kedamaian. Dahinya berkerut dalam, dan keringat dingin tampak membasahi pelipisnya.
"Gila ya, seberantakan ini?" gumam Ziva pelan. Ia awalnya berniat untuk langsung naik ke kamar, mengabaikan pria yang sudah membuat hidupnya seperti roller coaster beberapa hari terakhir. "Biarin aja deh, salah sendiri tidur di sofa nggak ganti baju."
Ziva melangkah menuju tangga. Namun, baru tiga anak tangga ia daki, sebuah suara serak memecah keheningan ruang tamu.
"Ziva... jangan..."
Langkah Ziva terhenti. Ia menoleh ke arah sofa. Baskara mulai bergerak gelisah dalam tidurnya. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri secara acak.
"Maaf... Ziva, maaf..." gumam Baskara lagi. Suaranya terdengar sangat menderita, sarat akan beban yang seolah menghimpit dadanya. "Aku salah... Kirana, maaf... Ziva jangan pergi..."
Ziva mematung di anak tangga. Rasa haus dan lelahnya mendadak lenyap, digantikan oleh rasa penasaran sekaligus iba yang tidak bisa ia jelaskan. Ia turun kembali, melangkah mendekat ke arah sofa. Semakin dekat, ia semakin jelas mendengar igauan pria kaku itu.
"Maaf... aku gagal jagain kalian... Ziva, jangan benci aku..."
Ziva berdiri di samping sofa, menatap wajah Baskara dari jarak dekat. Dalam kondisi tertidur seperti ini, Baskara tidak terlihat seperti polisi yang galak atau suami yang posesif. Ia terlihat seperti seorang pria yang sedang tersesat di dalam labirin rasa bersalahnya sendiri.
Ziva mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh dahi Baskara untuk mengecek suhu tubuhnya. "Panas," bisiknya. Baskara sepertinya demam, mungkin akibat kelelahan dan tekanan batin karena konflik mereka kemarin.
Saat tangan Ziva hendak ditarik, tiba-tiba tangan besar Baskara bergerak cepat dan menangkap pergelangan tangan Ziva dalam genggaman yang kuat namun gemetar.
"Ziva... tolong... jangan benci aku lagi," igau Baskara dengan mata yang masih terpejam rapat. Air mata tampak mengalir tipis dari sudut matanya yang tertutup.
Ziva merasa jantungnya seperti diremas. Ia teringat mimpi bertemu Kirana pagi tadi. "Jangan hukum dia terus, Ziva..." Ucapan kakaknya di alam bawah sadar seolah beresonansi dengan permintaan maaf Baskara yang tiada henti di dunia nyata.
Ziva tidak mencoba melepaskan tangannya kali ini. Ia justru berjongkok di samping sofa, membiarkan Baskara menggenggam tangannya sebagai sauh di tengah badai mimpinya.
"Gue di sini, Kak. Udah... tenang aja," ucap Ziva sangat pelan, nada suaranya melembut tanpa ia sadari.
Baskara perlahan-lahan mulai tenang. Deru napasnya yang tadi memburu kini menjadi lebih teratur. Genggamannya pada tangan Ziva sedikit melonggar, namun tidak sepenuhnya lepas.
Ziva memperhatikan wajah Baskara. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui tentang pria ini. Ia hanya tahu Baskara adalah orang yang selamat, sementara kakaknya tidak. Ia tidak pernah tahu bahwa Baskara mungkin melewati malam-malam dengan dihantui oleh bayangan kecelakaan yang sama setiap harinya. Bahwa sabotase kerja yang dilakukannya mungkin bukan untuk mengekang, melainkan manifestasi dari rasa takut kehilangan yang sudah mendarah daging.
"Lo itu sebenernya kenapa sih? Kenapa harus sesusah ini buat kita?" bisik Ziva pada keheningan.
Ziva mengambil handuk kecil dari kamar mandi bawah dan membasahinya dengan air hangat. Dengan telaten, ia menyeka keringat di dahi Baskara dan membuka kancing kerah seragamnya agar pria itu bisa bernapas lebih lega. Ia bahkan membantu melepaskan sepatu Baskara yang masih menggantung.
Malam itu, di ruang tamu yang temaram, dendam Ziva seolah tertidur bersama pria di depannya. Ia menyadari satu hal: mereka berdua adalah korban dari peristiwa yang sama. Mereka berdua terluka, hanya caranya saja yang berbeda dalam menunjukkan rasa sakit itu.
Ziva memutuskan untuk tetap duduk di lantai, bersandar pada sofa sambil menjaga Baskara yang masih sesekali bergumam meminta maaf. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok pagi saat Baskara bangun, namun untuk malam ini, Ziva memilih untuk meletakkan senjatanya.
***
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden ruang tamu, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas karpet bulu. Suasana rumah masih sangat hening, hanya suara kicauan burung dari pohon mangga di halaman depan yang terdengar samar.
Baskara mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa berat, seperti dihantam gada besi, sisa dari demam dan kelelahan hebat yang menyerangnya kemarin. Ia mencoba menggerakkan bahunya yang kaku, namun ia merasakan sebuah beban hangat yang bersandar di lengan sofanya.
Pria itu menoleh perlahan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat pemandangan di sampingnya. Ziva tertidur dalam posisi duduk di lantai, kepalanya bersandar pada bantalan sofa, tepat di samping lengan Baskara. Beberapa helai rambutnya menutupi wajahnya yang tampak lelah. Tangan kanan Ziva masih berada di dekat tangan Baskara, seolah baru saja terlepas dari sebuah genggaman.
Baskara tertegun. Ia ingat samar-samar tentang mimpi buruk yang menghimpit dadanya semalam—tentang api, tentang benturan logam, dan tentang suara tangisan Kirana. Namun, ia juga ingat sebuah sentuhan lembut yang mendinginkan dahinya dan suara bisikan yang memintanya untuk tenang.
"Ziva..." panggil Baskara lirih. Suaranya serak, khas orang yang baru bangun dari demam.
Ziva menggeliat. Ia mengerang pelan saat merasakan lehernya kaku karena posisi tidur yang tidak ergonomis. Perlahan, ia membuka mata dan langsung beradu pandang dengan mata hitam Baskara yang menatapnya dengan penuh kebingungan—dan sedikit rasa haru.
"Ziva... kamu kenapa tidur di sini?" tanya Baskara, tangannya refleks bergerak ingin menyentuh bahu Ziva, namun ia mengurungkannya.
Ziva mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawa. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia segera menegakkan duduknya dan merapikan rambutnya yang berantakan dengan canggung.
"Semalam lo ngigo kayak orang kesurupan, Kak. Gue cuma jagain lo biar nggak jatuh dari sofa atau teriak-teriak ganggu tetangga," sahut Ziva ketus, mencoba menutupi rasa pedulinya dengan nada bicara yang biasanya. Ia memijat lehernya yang terasa pegal luar biasa. "Gue nggak mau ya dikira lagi nyiksa suami kalau lo kenapa-napa."
Baskara terdiam, ia bangkit duduk di sofa, memijat pelipisnya. Ia melihat handuk kecil yang sudah mengering di atas meja dan satu gelas air yang tinggal setengah. Ia sadar, Ziva benar-benar menjaganya semalaman.
"Maaf... aku nggak tahu kalau aku semerepotkan itu," ucap Baskara rendah.
Ziva mengembuskan napas pelan. Ia tidak langsung berdiri untuk kabur ke dapur seperti biasanya. Ia tetap duduk di lantai, menatap ujung kakinya sendiri, lalu beralih menatap Baskara dengan tatapan yang lebih serius. Ada sesuatu yang berubah di atmosfer pagi ini.
"Kak," panggil Ziva. "Kayaknya kita perlu ngobrol. Beneran ngobrol, bukan cuma debat atau saling sindir."
Baskara mengangguk, ia memperbaiki posisi duduknya, memberikan perhatian penuh pada istrinya. "Katakan, Ziva. Aku dengerin."
"Gue cuma pengen hidup tenang," ucap Ziva tolong. Matanya berkaca-kaca, namun ia menahannya agar tidak jatuh. "Gue capek, Kak. Capek benci sama lo, capek ngerasa bersalah sama Kak Kirana, dan capek disabotase terus. Gue tahu lo selamat dan Kak Kirana nggak. Itu fakta yang nggak akan pernah berubah sampe kapan pun."
Ziva menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya. "Tapi semalam... pas liat lo ngigo dan minta maaf terus, gue sadar satu hal. Kita berdua ini sama-sama hancur. Lo nggak butuh dihukum terus-terusan, dan gue nggak butuh dikurung terus-terusan."
Baskara mendengarkan dengan dada yang terasa sesak. Setiap kata yang keluar dari mulut Ziva seperti kunci yang membuka kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
"Aku melakukan semua itu karena aku takut, Ziva," aku Baskara jujur. "Aku takut kalau kamu keluar dari rumah ini, dunia bakal jahat sama kamu kayak kecelakaan itu jahat sama Kirana. Aku pikir dengan menjaga kamu di bawah pengawasanku, kamu bakal aman. Tapi aku salah... aku justru jadi orang pertama yang bikin kamu nggak bahagia."
Ziva menatap Baskara. "Gue mau kerja, Kak. Gue udah dapet panggilan interview lanjutan. Gue mau ngebuktiin kalau gue bisa mandiri tanpa harus lo awasin 24 jam. Gue mau kita tetep jalanin pernikahan ini—karena kontrak atau karena permintaan Ayah Bunda—tapi gue mau ada ruang buat gue napas. Jangan ada lagi blacklist, jangan ada lagi mata-mata."
Baskara menunduk, ia mengambil napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Ia menatap telapak tangannya, lalu beralih menatap Ziva dengan sorot mata yang penuh janji.
"Oke. Aku janji. Nggak akan ada lagi sabotase. Kamu bebas kerja di mana pun kamu mau. Aku akan belajar untuk percaya sama kamu, bukan cuma menjaga kamu."
Ziva merasakan sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. Ia tidak menyangka Baskara akan mengalah semudah ini. Mungkin, kerentanan yang ia tunjukkan semalam adalah jembatan yang selama ini mereka butuhkan.
"Satu lagi," tambah Ziva. "Jangan panggil gue 'istri galak' lagi di depan temen-temen lo. Malu-maluin tau nggak."
Baskara sempat tertegun, lalu sebuah senyuman tipis—senyuman tulus pertama yang Ziva lihat sejak mereka menikah—muncul di wajah kaku sang perwira. "Tapi kamu emang galak, Ziv. Tadi malam saja kamu bilang aku kayak orang kesurupan."
"Kan emang bener!" Ziva berdiri, ia sedikit meringis karena kakinya masih terasa agak kaku. "Udah, sana mandi. Bau keringet. Gue mau bikin sarapan buat kita. Jangan geer, ini cuma bentuk syukur gue karena masa depan gue nggak lo hancurin lagi."
Baskara tertawa kecil, suara tawa yang membuat suasana rumah yang tadinya dingin mendadak terasa hangat. Ia melihat punggung Ziva yang berjalan menuju dapur dengan langkah yang sedikit lebih ringan.
Gencatan senjata telah dimulai. Di balik sisa-sisa luka dan duka atas kepergian Kirana, ada sebuah awal baru yang mulai tumbuh. Mereka mungkin belum saling mencintai, tapi setidaknya pagi ini, mereka sudah mulai saling memanusiakan satu sama lain.
"Ziva," panggil Baskara sebelum gadis itu hilang di balik tembok dapur.
Ziva menoleh. "Apa lagi?"
"Makasih... sudah jagain aku semalam."
Ziva terdiam sejenak, pipinya sedikit merona merah. "Terserah lo lah, Om! Mandi sana!"
Baskara menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia bangkit dari sofa, merasa tubuhnya jauh lebih sehat bukan karena obat, tapi karena kedamaian yang akhirnya menyapa rumah mereka.