“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#9
Ayunda yang ceria kini telah pergi. Buah-buahan yang biasanya menjadi sasaran aksi gadis itu kini tumbuh lebat di tempatnya. Tidak ada lagi gadis yang selalu berlarian ke sawah untuk berburu belalang.
Rapat anak remaja mesjid pun terasa sangat sunyi karena tidak ada ayunda si pelawak yang selalu berhasil mengumpulkan donasi paling besar untuk setiap acara di kampung nya.
Ayunda kini menjadi gadis rumahan yang tidak pernah keluar sejengkal pun jika tidak dalam keadaan darurat.
Gadis itu tumbuh menjadi gadis pendiam yang sangat sedikit bicara. Dia hanya akan menjawab jika ditanya. Selebihnya akan menutup mulutnya rapat-rapat.
“Yunda, tolong belikan mama obat ke warung. Kepala mama sakit.”
“Beli obat ke apotek saja. Biar Inggit nanti yang pergi,” ujar ayunda.
Nunung menghela nafas berat mendengar jawaban putri kesayangannya itu. bukan karena dia kesal tidak menurut saat dimintai pertolongan. Tapi hati seorang ibu mana yang tidak sedih kehilangan sosok anak yang dulu periang dan ceria.
Ayunda menyibukkan dirinya dengan belajar secara daring lewat internet dan media sosial lainnya. Dengan ponsel baru dan nomor baru.
Hanya ada tiga kontak dalam ponselnya. Orang tua dan adiknya, Inggit.
Saat bangun pagi untuk melakukan salat tahajud, ayunda akan keluar dari kamar usai subuh. Dia membantu ibunya mengurus rumah, selepas itu dia akan kembali ke kamarnya. Selalu begitu setiap hari. Bahkan syifa pun tidak diijinkan berkunjung terlalu sering-sering.
Waktu berlalu, hari berganti dan tahun berubah. Ayunda masih tetap sama dengan kebiasaan barunya.
Penduduk desa sedang ramai dengan akan diadakan nya pemilihan kepala desa baru. Semua orang sibuk dengan paslon mereka. Membuat spanduk, baliho dan juga keperluan lain nya sebagai bentuk kampanye.
Yang menarik adalah kampanye kubu Pak Erwin. Dia tidak melakukan banyak hal, hanya saja dia memanggil beberapa tenaga kesehatan dari kota untuk mengadakan pengobatan gratis selama dua pekan.
“Kalau pengobatan gratis dan penyuluhan kesehatan, masyarakat dari kubu mana pun pasti ikut iya kan?” Tanya syifa saat berkunjung ke rumah ayunda.
“Pinter berarti. Dia gak nyogok pake duit tapi pakai dokter.”
“Bener. Tapi untungnya gak ada dokter Zayan.”
Ayunda terdiam saat dia sedang mengetik di laptopnya. Ya, ayunda sedang belajar mengetik dan mengoperasikan laptop. Belajar melalui tutorial yang ada di YouTube.
“Maaf, Yunda.”
“Gak apa-apa. Santai aja.”
“Maaf banget ya.”
“Iya gak apa-apa.”
“Katanya tim kesehatannya udah datang kemarin sore. Hari ini rencananya mereka akan berkeliling kampung.”
“Ohhh.”
Hening.
Syifa kembali pada ponselnya, sementara ayunda masih asik menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.
Dari bawah sana, terdengar suara yang cukup ramai. Nunung seolah sedang menyapa seseorang dengan sangat antusias.
“Jangan-jangan itu dokternya, Yun. Ayo kita lihat.”
“Buat apa ih? Malu lagian.”
“Ck, lihat di jendela aja.” Syifa menarik tangan ayunda dan mengajak nya melihat dari jendela kamar.
Dan ya, banyak sekali orang-orang asing dengan pakaian jas putih. Mereka terlihat sangat berbeda entah dari penampilan ataupun dari cara mereka berbicara. Wajah-wajah itu memancarkan aura yang berbeda.
“Kalau orang kota mah mukanya aja keliatan ya. Keliatan banget berpendidikan nya.”
Ayunda melirik Syifa sekilas. Lalu kembali melihat tiga pria dan enam wanita yang ada di bawah sana.
Tanpa sadar bibir ayunda yang sudah lama tidak menampakkan senyuman, mendadak melebar meski tidak begitu kentara. Hingga senyuman itu kembali menghilang saat matanya menangkap sepasang mata yang sejak tadi menatap ke arahnya.
Buru-buru ayunda mundur dan kembali duduk di kursinya.
“Ganteng banget itu yang pakai kemeja cokelat. Yun, ayunda. Ih, kenapa malah duduk. Ayo sini. Siapa tahu ada yang nyantol.”
“Berharap pada hal yang mustahil itu akan berakhir menyakitkan.”
Syifa menoleh pada sahabatnya yang kembali sibuk belajar mengetik.
...***...
Hampir 99,99 persen penduduk desa antusias untuk berobat gratis. Khususnya para lansia. Setiap hari dari pagi sampai sore mereka antri untuk berobat.
Pada dokter muda itu kelelahan dengan antusias masyarakat sana. Hingga panitia melakukan pembagian agar setiap harinya jumlah pasien ditentukan oleh pihak panitia.
Dengan begitu dokter itu bisa punya waktu untuk istirahat dan berjalan-jalan di sekitaran desa sana.
Bahkan para gadis desa suka diam-diam mengintip dari balik pepohonan atau sengaja jajan di sekitaran camp pengobatan dengan harapan ada salah satunya yang tertarik pada mereka.
Ayunda hanya tersenyum sinis mendengar cerita Syifa.
“Jangan bodoh kayak aku. Kita ini gak ada apa-apa nya di bandingkan mereka.”
“Iya, ya. Di kota sana ceweknya pasti lebih cantik dari kita. Udah mah candik, pinter, sekolah juga. Sementara kita? Kerjaan kita cuma membantu Ibu di rumah.”
Nyesss! Tiba-tiba hati Ayunda merasa perih. Bayangan dokter-dokter cantik itu kembali melintas. Banyak perbedaan yang sangat jauh antara gadis-gadis di desanya dengan wanita-wanita berpendidikan itu.
Ayunda kembali berusaha fokus pada kegiatannya belajar mengetik.
“Eh, kenapa di bawah rame banget?” Tanya Syifa sementara ayunda berusaha untuk tidak peduli.
“Loh, Yun. Itu pak ustad kenapa?”
Ayunda menoleh pas Syifa yang berdiri di depan jendela.
“Ayo kita ke bawah.”
Ayunda mengikuti langkah Syifa yang begitu cepat menuruni anak tangga. Mereka berlari mengikuti orang-orang yang membopong pak ustad.
Sesampainya di camp pengobatan gratis, terlihat jelas kepanikan yang terjadi di sana.
“Ada yang punya mobil?” Teriak salah satu dokter.
“Ada, dokter. Temen saya bisa bawa mobil.”
“Eh, shif.” Ayunda menyenggol sahabatnya.
“Neng Ayunda, pak ustad digigit ular berbisa. Harus segera dibawa ke rumah sakit,” ujar salah satu warga di sana.
“Tapi Bapak saya gak ada di rumah. Mobilnya ada satu lagi tapi gak ada yang nyetirnya.”
“Saya yang bawa.” Seloroh dokter yang lain.
“Ayo ke rumah saya.”
Para warga ditemani dua orang dokter kembali menggotong pak ustad menuju rumah Ayunda.
“Yun, bukan nya kamu bisa nyetir?” Bisik Syifa.
“Sssst.”