Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Korporasi
Siang itu, matahari Jakarta seolah tertutup oleh awan hitam yang tak kasatmata. Di gedung pencakar langit Dizan Holding, suasana yang seharusnya penuh dengan aktivitas korporasi yang prestisius mendadak berubah menjadi neraka dunia.
Suara ledakan pertama terdengar dari arah lobi utama. BOOM! Getarannya merambat hingga ke lantai teratas, membuat kaca-kaca jendela yang tebal bergetar hebat. Itu bukan bom militer, melainkan rentetan granat asap dan petasan berkekuatan tinggi yang dimodifikasi, menciptakan efek suara yang memekakkan telinga dan kepulan asap hitam yang menyesakkan.
"Serbu! Hancurkan semuanya!" teriak sekelompok pria bermasker yang merangsek masuk melalui pintu kaca yang pecah berantakan.
Para pegawai, yang tadinya duduk tenang di depan monitor mereka, seketika histeris. Jeritan wanita dan derap langkah kaki yang berlarian memenuhi koridor. Mereka berhamburan menuju tangga darurat, saling sikut dan terjatuh dalam kepanikan yang dalam. Bau belerang dan plastik terbakar mulai merayapi sistem ventilasi, mengubah kantor mewah itu menjadi ruang pengap penuh ketakutan.
****
Jauh dari hiruk-pikuk itu, di sebuah bangunan tua di pinggiran kota yang lembap dan berbau apek, Rini Susilowati duduk di sebuah kursi plastik yang rapuh. Di depannya, sebuah televisi tua menampilkan siaran berita breaking news tentang kerusuhan di Dizan Holding.
Mata Rini melotot, binar kegilaan terpancar dari pupilnya yang mengecil. Saat ia melihat asap membumbung dari gedung yang pernah ia kuasai, tubuhnya mulai berguncang.
"Mmph... Hmph... Hahahaha!"
Ia menarik selendang sutra hitamnya yang kini telah bernoda tanah, menekannya ke mulut untuk meredam tawa yang meledak dari perutnya. Tawa itu parau, menyakitkan, namun penuh dengan kepuasan yang sakit.
"Lihat itu, Nirmala! Lihat mahkotamu yang terbakar!" raung Rini di sela tawanya yang histeris. Ia berdiri, menari-nari kecil di ruang sempit itu, memutar-mutar selendangnya seolah-olah ia sedang memimpin orkestra kematian.
Ia mengambil selembar tisu kotor, menyeka air mata bahagianya yang tumpah ruah dan ingus yang mulai mengalir akibat tawa yang tak terkendali. Bagi Rini, setiap kepulan asap di televisi itu adalah dupa penghormatan bagi kekuasaannya yang akan segera kembali.
"Kau pikir kau bisa menjadi ratu hanya dengan tanda tangan? Hah! Kau hanya anak kecil yang bermain dengan api, dan hari ini, api itu akan menelanmu bulat-bulat!" Rini kembali tertawa, suaranya melengking menembus atap seng persembunyiannya, menantang langit yang kian kelam.
****
Sementara itu, di lantai eksekutif Dizan Holding yang masih dikepung asap, Nirmala Dizan tidak sedang lari. Ia berdiri di tengah ruang rapat utama, meskipun napasnya terasa berat karena gas yang merembes masuk. Di hadapannya, bukan para preman bermasker, melainkan musuh yang lebih berbahaya: para direktur dan pemegang saham yang secara diam-diam masih menjadi kaki tangan Rini.
Tuan Prasobo, seorang pria tua berwajah licik yang selama ini menjadi "telinga" Rini di perusahaan, menggebrak meja dengan keras.
"Lihat kekacauan ini, Nirmala!" teriak Prasobo, suaranya menggelegar di ruang yang sunyi itu. "Hanya dalam beberapa hari kau menjabat, gedung ini menjadi medan perang! Para investor menarik modal mereka! Lihat layar itu!"
Prasobo menunjuk ke arah monitor bursa yang menampilkan grafik saham Dizan Holding (DIZN). Garis merah itu terjun bebas, merosot hingga sepuluh persen dalam waktu kurang dari satu jam.
"Kau tidak becus!" timpal direktur lain yang juga merupakan orang suruhan Rini. "Kau terlalu muda, terlalu lemah! Kau membawa dendam pribadi ke dalam bisnis dan inilah hasilnya. Harga saham kita anjlok! Nama Dizan Holding menjadi sampah di mata dunia!"
Nirmala mencengkeram pinggiran meja jati itu hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bisa merasakan tatapan tajam dan penuh penghinaan dari orang-orang yang seharusnya membantunya. Ini adalah serangan dua arah: kekerasan di lantai bawah, dan pembunuhan karakter di lantai atas.
"Ini adalah sabotase!" suara Nirmala bergetar, namun ia berusaha tetap teguh. "Kalian tahu siapa di balik semua ini. Rini Susilowati sedang berusaha menghancurkan apa yang tidak bisa ia miliki!"
"Kami tidak peduli siapa pelakunya!" potong Prasobo dengan senyum sinis. "Yang kami tahu, di bawah kepemimpinanmu, perusahaan ini hancur. Kami akan segera mengadakan rapat darurat untuk mosi tidak percaya. Bersiaplah, Nirmala. Tahta ini terlalu besar untuk gadis kecil sepertimu."
****
Nirmala terdiam. Di luar, suara sirene polisi dan pemadam kebakaran meraung-raung, mencoba menembus blokade preman Rini. Aleandra Nurdin masuk ke dalam ruangan dengan napas terengah, wajahnya coreng-moreng oleh jelaga.
"Nona, kita harus keluar! Bagian bawah mulai terbakar!" Ale menarik lengan Nirmala, namun gadis itu tetap terpaku menatap grafik saham yang terus memerah.
Nirmala merasakan dadanya sesak. Tekanan dari dalam dan luar seolah menjepit jiwanya. Ia teringat ayahnya, Marwan Dizan. Apakah ayahnya dulu juga mengalami pengkhianatan sekejam ini? Apakah tahta ini memang dikutuk untuk membawa duka?
"Mereka benar, Ale..." bisik Nirmala, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang bersih. "Aku gagal menjaga warisan Ayah."
"Jangan dengarkan anjing-anjing itu, Nona!" Ale mengguncang bahu Nirmala dengan keras. "Ini yang Rini mau! Dia ingin lo menyerah sebelum dia benar-benar menang. Bangun, Nirmala! Ayah lo nggak bangun Dizan Holding buat dihancurkan oleh petasan dan mulut sampah!"
Nirmala menatap Ale, lalu menatap para direktur pengkhianat yang mulai melangkah keluar ruangan dengan tawa meremehkan. Di kejauhan, ia seolah bisa mendengar tawa histeris bibinya yang bergema di antara desis asap.
Api di lantai bawah kian membesar, namun di dalam mata Nirmala, sebuah api baru mulai tersulut. Api yang lebih panas dari ledakan granat mana pun. Api yang bersumpah bahwa hari ini bukanlah akhir, melainkan puncak dari pembalasan yang sesungguhnya.
****
Pagi di Jakarta biasanya disambut dengan deru mesin dan harapan, namun bagi Nirmala Dizan, fajar kali ini terasa seperti kain kafan yang perlahan membungkus dadanya. Di kantornya yang masih berbau sangit akibat sisa-sisa asap kemarin, Nirmala menatap ponselnya dengan jemari yang gemetar.
"Panggilan dialihkan."
Lagi. Untuk yang keseratus kalinya sejak semalam, suara operator itu menjadi jawaban yang menghantam jantungnya. Aleandra Nurdin tidak pernah menghilang. Ale adalah satu-satunya manusia yang selalu hadir bahkan sebelum Nirmala memanggilnya.
"Ale, kau di mana..." bisik Nirmala, suaranya pecah di antara kesunyian ruang kerja yang luas.
Ia tidak tahu bahwa kemarin petang, tepat di depan gerbang kampus saat Ale baru saja menyelesaikan ujian susulannya, sebuah mobil van hitam telah memutus jalur hidup pemuda itu. Dua pria bertubuh raksasa dengan tato melingkar di leher—sisa-sisa algojo kartel yang masih setia pada uang Rini—telah menyergapnya. Sebuah hantaman benda tumpul di tengkuk membuat Ale ambruk sebelum sempat melawan. Dunianya gelap seketika, diseret ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari lubang mana pun.