Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Mata yang Mulai Terbuka
Marcus tidak pernah setengah-setengah ketika ia mulai curiga.
Dan pagi itu, seseorang sudah berdiri di seberang jalan rumahnya.
Pria itu tampak seperti warga biasa—jaket abu, ponsel di tangan, sikap santai. Namun matanya terlalu fokus. Terlalu terlatih untuk disebut kebetulan.
Elena melihatnya dari balik tirai.
Ia tidak perlu mendekat.
Tidak perlu memastikan.
Marcus sudah bergerak.
Sudut bibir Elena terangkat tipis. Bukan senyum hangat—lebih seperti pengakuan diam bahwa permainan akhirnya naik tingkat.
“Akhirnya,” gumamnya pelan.
...****************...
Sarapan berlangsung seperti biasa—dan justru itu yang terasa berbeda.
Marcus memperhatikan Elena tanpa malu-malu. Setiap gerakan. Cara ia mengangkat cangkir. Cara kepalanya sedikit miring saat mendengar suara pelayan. Tidak ada celah. Tidak ada kegugupan.
Kesempurnaan itu mengganggunya.
“Elena,” katanya tiba-tiba.
“Ya?” jawabnya tenang.
“Aku harus keluar kota. Dua hari. Rapat mendadak.”
Sendok Elena berhenti sepersekian detik.
Hanya sepersekian.
Namun Marcus melihatnya.
Elena menurunkan sendok itu perlahan. “Hati-hati,” katanya lembut. “Jangan terlalu memaksakan diri.”
Nada itu… tulus.
Atau terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Marcus mengangguk pelan. Dalam kepalanya, rencana sudah terbentuk. Ia ingin melihat apa yang Elena lakukan saat ia merasa tak diawasi.
Ia ingin melihat… siapa Elena sebenarnya.
...****************...
Begitu mobil Marcus meninggalkan halaman, Elena berdiri.
Tongkatnya tetap di tangan—properti yang masih ia jaga di dalam rumah. Pelayan melihatnya lewat dengan ekspresi kasihan yang sama seperti biasanya.
Ilusi masih bekerja.
Namun begitu ia sampai di ruang kerja kecilnya, pintu terkunci, tongkat itu ditaruh begitu saja.
Punggungnya lurus.
Matanya tajam.
Elena membuka laptop tersembunyi di balik rak buku. Layar menyala tanpa suara. Satu jaringan privat aktif. Deretan file muncul—laporan, rekaman, alur dana.
Dan notifikasi baru.
Pengawasan aktif. Dua orang di luar rumah.
Elena membaca tanpa ekspresi.
Marcus bukan hanya curiga.
Ia berburu.
Jarinya mengetik cepat.
Biarkan mereka melihat yang salah.
Balasan datang hampir seketika.
Dipahami.
Elena menutup laptop. Permainan berubah arah. Sekarang bukan lagi soal mengumpulkan bukti—melainkan mengendalikan persepsi.
Dan Marcus baru saja masuk ke wilayah yang ia kira miliknya.
...****************...
Sore hari, Selene datang tanpa pemberitahuan.
Langkahnya cepat. Senyumnya dipaksakan.
“Elena, aku dengar Marcus keluar kota,” katanya.
Elena duduk di sofa, wajah tenang. “Ya.”
“Aneh,” lanjut Selene. “Dia tidak bilang apa-apa padaku.”
Elena memiringkan kepala sedikit. “Mungkin bukan hal penting.”
Selene menatapnya lebih lama dari seharusnya.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan pada situasi—melainkan pada Elena.
Ketenangan itu… terlalu kokoh.
“Kalau kau butuh sesuatu—” Selene mulai bicara.
“Aku tidak butuh apa-apa,” potong Elena lembut.
Dan untuk pertama kalinya, Selene tidak punya jawaban.
Ia pergi lebih cepat dari biasanya.
Elena mendengar pintu tertutup.
Sunyi kembali mengambil alih ruangan.
Dan di sanalah ia tersenyum.
Bukan kemenangan.
Bukan ejekan.
Melainkan kepastian.
Marcus mulai melihat bayangan—
tapi ia masih menatap ke arah yang salah.
...****************...
Malam turun lebih cepat.
Di kamar, Elena berdiri di depan cermin. Tongkatnya bersandar di dinding, tak tersentuh. Ia menatap refleksinya sendiri—wanita yang selama ini dianggap lemah, kini berdiri tanpa keraguan.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk:
Target gelisah. Pengawasan berlanjut.
Elena mengetik satu kalimat.
Biarkan dia percaya… dia yang memegang kendali.
Ia mematikan layar.
Di luar sana, Marcus mungkin sedang merasa unggul. Merasa selangkah lebih dekat pada kebenaran.
Padahal kebenaran itu sudah berdiri di tengah ruangan—
menatapnya balik—
dan menunggu saat yang tepat untuk diperkenalkan.
Elena memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang.
Permainan telah berubah.
Dan kali ini—
Marcus tidak hanya sedang mencari jawaban.
Ia sedang berjalan menuju jebakan yang dirancang untuk orang-orang yang terlalu yakin pada dirinya sendiri.
Sementara Elena…
sudah menunggu di garis akhir,
dengan senyum tenang seseorang yang tahu—
mata yang mulai terbuka
sering kali terlambat menyadari
bahwa mereka sedang diarahkan untuk melihat
hal yang salah.