NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Mata yang Mulai Terbuka

Marcus tidak pernah setengah-setengah ketika ia mulai curiga.

Dan pagi itu, seseorang sudah berdiri di seberang jalan rumahnya.

Pria itu tampak seperti warga biasa—jaket abu, ponsel di tangan, sikap santai. Namun matanya terlalu fokus. Terlalu terlatih untuk disebut kebetulan.

Elena melihatnya dari balik tirai.

Ia tidak perlu mendekat.

Tidak perlu memastikan.

Marcus sudah bergerak.

Sudut bibir Elena terangkat tipis. Bukan senyum hangat—lebih seperti pengakuan diam bahwa permainan akhirnya naik tingkat.

“Akhirnya,” gumamnya pelan.

...****************...

Sarapan berlangsung seperti biasa—dan justru itu yang terasa berbeda.

Marcus memperhatikan Elena tanpa malu-malu. Setiap gerakan. Cara ia mengangkat cangkir. Cara kepalanya sedikit miring saat mendengar suara pelayan. Tidak ada celah. Tidak ada kegugupan.

Kesempurnaan itu mengganggunya.

“Elena,” katanya tiba-tiba.

“Ya?” jawabnya tenang.

“Aku harus keluar kota. Dua hari. Rapat mendadak.”

Sendok Elena berhenti sepersekian detik.

Hanya sepersekian.

Namun Marcus melihatnya.

Elena menurunkan sendok itu perlahan. “Hati-hati,” katanya lembut. “Jangan terlalu memaksakan diri.”

Nada itu… tulus.

Atau terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Marcus mengangguk pelan. Dalam kepalanya, rencana sudah terbentuk. Ia ingin melihat apa yang Elena lakukan saat ia merasa tak diawasi.

Ia ingin melihat… siapa Elena sebenarnya.

...****************...

Begitu mobil Marcus meninggalkan halaman, Elena berdiri.

Tongkatnya tetap di tangan—properti yang masih ia jaga di dalam rumah. Pelayan melihatnya lewat dengan ekspresi kasihan yang sama seperti biasanya.

Ilusi masih bekerja.

Namun begitu ia sampai di ruang kerja kecilnya, pintu terkunci, tongkat itu ditaruh begitu saja.

Punggungnya lurus.

Matanya tajam.

Elena membuka laptop tersembunyi di balik rak buku. Layar menyala tanpa suara. Satu jaringan privat aktif. Deretan file muncul—laporan, rekaman, alur dana.

Dan notifikasi baru.

Pengawasan aktif. Dua orang di luar rumah.

Elena membaca tanpa ekspresi.

Marcus bukan hanya curiga.

Ia berburu.

Jarinya mengetik cepat.

Biarkan mereka melihat yang salah.

Balasan datang hampir seketika.

Dipahami.

Elena menutup laptop. Permainan berubah arah. Sekarang bukan lagi soal mengumpulkan bukti—melainkan mengendalikan persepsi.

Dan Marcus baru saja masuk ke wilayah yang ia kira miliknya.

...****************...

Sore hari, Selene datang tanpa pemberitahuan.

Langkahnya cepat. Senyumnya dipaksakan.

“Elena, aku dengar Marcus keluar kota,” katanya.

Elena duduk di sofa, wajah tenang. “Ya.”

“Aneh,” lanjut Selene. “Dia tidak bilang apa-apa padaku.”

Elena memiringkan kepala sedikit. “Mungkin bukan hal penting.”

Selene menatapnya lebih lama dari seharusnya.

Ada sesuatu yang berubah.

Bukan pada situasi—melainkan pada Elena.

Ketenangan itu… terlalu kokoh.

“Kalau kau butuh sesuatu—” Selene mulai bicara.

“Aku tidak butuh apa-apa,” potong Elena lembut.

Dan untuk pertama kalinya, Selene tidak punya jawaban.

Ia pergi lebih cepat dari biasanya.

Elena mendengar pintu tertutup.

Sunyi kembali mengambil alih ruangan.

Dan di sanalah ia tersenyum.

Bukan kemenangan.

Bukan ejekan.

Melainkan kepastian.

Marcus mulai melihat bayangan—

tapi ia masih menatap ke arah yang salah.

...****************...

Malam turun lebih cepat.

Di kamar, Elena berdiri di depan cermin. Tongkatnya bersandar di dinding, tak tersentuh. Ia menatap refleksinya sendiri—wanita yang selama ini dianggap lemah, kini berdiri tanpa keraguan.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk:

Target gelisah. Pengawasan berlanjut.

Elena mengetik satu kalimat.

Biarkan dia percaya… dia yang memegang kendali.

Ia mematikan layar.

Di luar sana, Marcus mungkin sedang merasa unggul. Merasa selangkah lebih dekat pada kebenaran.

Padahal kebenaran itu sudah berdiri di tengah ruangan—

menatapnya balik—

dan menunggu saat yang tepat untuk diperkenalkan.

Elena memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang.

Permainan telah berubah.

Dan kali ini—

Marcus tidak hanya sedang mencari jawaban.

Ia sedang berjalan menuju jebakan yang dirancang untuk orang-orang yang terlalu yakin pada dirinya sendiri.

Sementara Elena…

sudah menunggu di garis akhir,

dengan senyum tenang seseorang yang tahu—

mata yang mulai terbuka

sering kali terlambat menyadari

bahwa mereka sedang diarahkan untuk melihat

hal yang salah.

1
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "badai? jangan-jangan ini sama kayak yg lagi aku pikirin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "udah kebanyakan pikiran, pola makan nggak di jaga, istirahat nggak teratur, ya, jadinya gitu deh"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "bilang aja, emang sengaja nggak di inget"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "pasti lupa itu, udah kelihatan banget"
cimownim
apa yang marscus sembunyi kan?
putrijawa
dia butuh sebuah pembuktian, bukan janji😌
MARDONI
Elena benar-benar beda… cara dia memotong rapat Marcus dengan tenang tapi langsung membalik situasi itu keren banget. Marcus kelihatan kuat, tapi Elena juga sama tajamnya. Dialog mereka di lorong sampai di apartemen itu terasa seperti dua orang yang sama-sama kuat sedang saling membaca.
SarSari_
gak ada ya selain tanda tangan...tanda tangan terus....gak capek tuh tangan..🫣
Serena Khanza: berkas nya banyak kayaknya kak 🤭
total 1 replies
Indira Mr
Datanya hilang, gak bisa tidur .Marcus..😂
Indira Mr
Marcus mencurigai Elena ???
Serena Khanza: mulai curiga dia kak
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
sabar dulu elena, tunggu momonet yang pas untuk yang paling kejam
Serena Khanza: setuju kak
total 1 replies
Hunk
Marcus udah mulai curiga terhadap sikap elena. Tapi entah apa yang akan di lakukan elena. Aku pikir elena adalah gadis paling pintar. Pasti nggak bakal ketahuan.👍
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
kamu jangan terlalu baik jadi orang sayangku /Cry/
Serena Khanza: kadang terlalu baik gampang di manfaatkan ya kak
total 1 replies
Anisa Febriana272
dia kasihan pura2 Buta biar tahu siapa yang jahat, Ellena hebat banget pas rapat, dia jawab pertanyaan itu tanpa emosi😱
Anisa Febriana272: wkwkwkwk, author GK mau ngaku nih🤣
total 4 replies
Tiara Bella
kita tunggu hasilnya....siapa yg menang
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
cantiknya itu fakta ya, masak masih nggak mau menerima kenyataan, mending kasih aku aja /CoolGuy/
Hunk
Wih, keren banget nih Elena.

Catatannya dihilangin dulu, terus dimunculin lagi—kayak sengaja ngejek Marcus 😆
Panda
🤔🤔🤔

tegang tapi belum show

beberapa frasa diulang

masih terlalu subtil
Serena Khanza: dikit lagi tamat
total 2 replies
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
aku tak rela dia mendekatinya /Angry/
Tiara Bella
Selena ternyata ada udang dibalik bawan ya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!